Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.Rencana Donni
“Mana mungkin. Mereka sama sekali tidak mirip.” ucap Lora cepat, menyangkal ucapan david.
Ia menyilangkan tangannya.
“Lagi pula mana mungkin pria tidak memiliki hati seperti dia bisa memiliki anak.” lanjutnya dingin.
David menghela napas kecil.
“Terlepas dari patah hati yang dia lakukan kepadamu di masa lalu, dia adalah pria yang sangat baik. Meskipun caranya sedikit kejam.” jelas David dengan nada tenang.
"Aku yakin pasti ada alasan di balik keputusannya meninggalkanmu dulu."lanjutnya lagi .
Namun Lora langsung menatapnya tajam.
“Tidak usah mempengaruhiku. Aku tidak memandang kebaikan apa pun darinya sekarang.” ucap Lora.
“Yang aku pandang hanyalah hartanya.” lanjutnya dingin.
Tanpa menunggu jawaban David, Lora segera masuk ke dalam kamar mandi.
Tatapanmu tidak bisa berbohong,kamu masih mencintai tuan Devon."gumam David yang kemudian berjalan keluar dari kamar tersebut.
Air hangat masih mengalir dari shower.Devon yang sedang bermain air langsung menoleh dengan wajah cerah saat melihatnya.
“Queen! Lihat! Epon membuka baju Epon sendiri mengikuti Gea dan Gian!” ucap Devon dengan bangga.
Ia berdiri di sana hanya mengenakan celana bokser bergambar Spongebob yang sedikit kebesaran.
“Epon juga sudah bisa mengoleskan sabun ke tubuh Epon sendiri dengan merata, persis seperti yang Queen lakukan. Epon pintar, kan Queen?” ucapnya penuh harap.
Lora menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Benar. Epon memang begitu pintar. Queen bangga pada Epon.” ucap Lora memujinya.
Namun dari samping—
Gea melirik Lora dengan tatapan sinis khas anak kecil yang cemburu.
“Iiih… dasar pilih kasih. Epon saja dipuji, tapi anaknya…” gumam Gea pelan.
Ia mengumpat kecil sambil menatap Lora dengan tatapan julid khas bocah kecil yang kesal.
“Gea… sttt.” ucap Lora cepat.
Ia menekan bibir Gea dengan jari telunjuknya.
“Kamu sudah berjanji tidak akan mengatakan hal-hal yang membuat orang-orang curiga.” ucap Lora berbisik.
Ia lalu mendekat sedikit.
“Sttt… demi uang kita, demi cemilanmu, dan demi mainan baru kita, kita harus bersatu.” bisik Lora lagi dengan nada rahasia.
Gea langsung mengerucutkan bibirnya, namun akhirnya mengangguk.
Semalam, Lora memang sudah menjelaskan semuanya kepada Gea dan Gian.
Dengan bahasa yang sangat sederhana—bahkan seperti bahasa bayi—agar kedua anak itu bisa memahaminya.
Ia menjelaskan kenapa ia harus menikah dengan Devon, kenapa ia harus meninggalkan mereka berdua bersama dengan Lestari dan kenapa mereka harus merahasiakan hubungan mereka.Lora tidak ingin anak-anaknya merasa ia meninggalkan mereka.
Setelah penjelasan panjang dan berbagai janji kecil tentang cemilan serta mainan baru, akhirnya Gea dan Gian setuju.
_______
Di rumah sakit, Donni duduk di ranjang perawatan dengan wajah tegang saat seorang dokter selesai memasangkan gips di lengannya. Retakan pada tulang lengannya membuat tangan itu harus ditopang rapat oleh balutan keras berwarna putih. Rasa nyeri masih terasa menjalar hingga ke bahunya setiap kali ia sedikit saja menggerakkan lengan itu. Donni menggertakkan giginya menahan sakit. Ia benar-benar tidak menyangka kekuatan tangan Lora sebesar itu. Perempuan itu terlihat ramping, tetapi tenaga yang ia keluarkan tadi benar-benar di luar dugaan. Beruntung hanya retakan tulang. Jika benar-benar patah, mungkin rasa sakitnya akan jauh lebih mengerikan daripada yang ia rasakan sekarang.
Sinta berdiri di samping ranjang dengan tangan terlipat di dada, wajahnya masih dipenuhi amarah. Vely dan Vino berdiri tak jauh dari sana, sama-sama menatap Donni dengan rasa penasaran. “Sekarang katakan apa yang akan kamu perbuat dengan Lora, Mas, dengan orang-orang suruhanmu itu?” tanya Sinta akhirnya. Vely dan Vino ikut mengangguk, menunggu jawaban Donni dengan penuh harap.
Donni menyeringai tipis meski wajahnya masih menahan nyeri. “Dia berlagak sok hebat di depanku tadi, maka aku akan menguji kehebatannya itu dengan orang-orangku. Dia akan merasakan lebih sakit dari apa yang aku rasakan ini.” ucap Donni dingin.
Sinta sedikit mengernyit. “Maksudmu kamu akan menyuruh orang-orangmu itu untuk mengeroyoknya, Mas?”
“Tentu saja. Aku akan menyuruh mereka mematahkan tangan perempuan itu nanti.” jelas Donni tanpa ragu.
Mendengar itu, senyum puas langsung muncul di wajah Vely. “Bagus. Aku sangat setuju dengan idemu, Mas. Perempuan rendahan itu harus dibuat menderita agar ia sadar siapa yang sebenarnya berkuasa.” ucap Sinta dengan nada penuh kepuasan.
“Iya, aku juga sangat setuju dengan ide Kakak,” sambung Vely cepat, matanya berbinar penuh kebencian. “Perempuan hina itu memang tidak akan takut jika hanya sekadar ancaman belaka. Aku juga sudah sangat muak dengan sikapnya yang semena-mena kepada kita. Mulutnya yang selalu membanggakan Devon adalah pewaris resmi membuatku sangat-sangat ingin mencabik-cabiknya. Aku bahkan siap membantu jika Kak Donni dan Kak Sinta butuh sesuatu untuk menyingkirkan Lora dari mansion ataupun kantor.”
Donni menatap Vely beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika kamu bergabung di perusahaan? Aku akan meletakkanmu di divisi Crisis Management Team.”
“Crisis Management?” ucap Vely mengulanginya dengan ragu. “Aku tidak yakin aku bisa berada di sana. Aku bahkan belum selesai dengan skripsi kuliahku.” jelasnya.
Donni tersenyum tipis. “Tenang saja. Aku tidak akan mempermasalahkan itu. Jika kamu mau, aku bisa meletakkanmu sebagai kepala tim di sana. Bagaimana?”
Ucapan itu langsung membuat Vino mengerutkan kening.
“Benar. Jika kamu juga berada di kantor, Lora pasti akan merasa terancam dengan keberadaanmu. Dengan begitu dia tidak akan nyaman berada di sana dan keluar dengan sendirinya karena tidak tahan.” lanjut Sinta, langsung menyetujui ide suaminya.
“Tapi, Kak… Vely bahkan tidak punya pengalaman kerja apa pun. Bagaimana jika nanti dia membuat kekacauan di perusahaan?” ucap Vino mencoba menentang keputusan itu.
Donni langsung menatapnya sinis. “Kamu saja yang sudah berpengalaman dan lulusan luar negeri sering membuat kekacauan, bahkan tidak pandai dalam membuat proposal.” ketus Donni.
“Tapi, Kak… itu—”
“Sudah. Tidak perlu meragukan kemampuan istrimu. Kakak yakin dia juga sama pintarnya dengan Lora. Lagipula ini hanya soal berbicara di depan publik. Anak jurusan komunikasi sepertinya pasti sangat pandai akan hal itu. Benar, bukan?”
“Tentu saja, Kak. Aku sangat pandai dalam mengolah kata dan tampil di kamera.” ucap Vely cepat, berusaha menunjukkan dirinya pantas mendapatkan posisi itu.
“Baiklah. Besok kamu bisa bekerja di perusahaan.” ucap Donni akhirnya memutuskan.
Sinta langsung meraih tangan Vely dengan wajah senang. “Kakak sangat percaya denganmu.” ucapnya sambil tersenyum lebar. Pembelaan Vely dan sikap manisnya selama beberapa hari terakhir perlahan membuat hati Sinta luluh. Ia mulai menerima keberadaan Vely di rumah itu.
"Ternyata tidak sia-sia aku menjilat dan bersikap baik kepadanya beberapa hari ini. Sepertinya benar, berkuliah di jurusan komunikasi sangat berguna untukku. "batin Vely dengan rasa puas.
Di sisi lain, di kantor, Lora masih duduk diam di kursinya. Setelah pekerjaan menumpuk yang terakhir kali diberikan Delia kepadanya selesai, tidak ada lagi pekerjaan yang diberikan padanya. Ia hanya duduk memperhatikan para karyawan lain yang sibuk mengolah laporan dan menyusun keuangan perusahaan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kepercayaan Delia.
Karena bosan, Lora akhirnya berdiri dan mulai berjalan mengelilingi ruangan. Matanya memperhatikan setiap meja kerja di divisi itu, berharap ia bisa menemukan sesuatu yang mencurigakan atau setidaknya informasi yang bisa ia gunakan.
Namun setiap langkahnya justru disambut tatapan tajam yang tidak bersahabat.
Beberapa karyawan mulai berbisik-bisik.
“Dia hanya beban tim. Percuma lulusan UI terbaik jika kerjaannya hanya berlenggok ke sana kemari dengan membanggakan dirinya sebagai istri Devon yang kini mengalami cacat mental itu.”
“Sungguh benar-benar tidak berguna. Suami istri sama saja, tidak ada yang bisa diandalkan.”
“Aku sangat menantikan dia keluar dari perusahaan ini. Wajahnya yang songong membuatku begitu muak melihatnya.”
“Kenapa harus perempuan tidak berguna itu yang masuk ke divisi kita? Bukannya berkurang pekerjaan kita, justru semakin menumpuk dibuatnya.”
Bisik-bisik penuh hinaan itu sudah menjadi musik sehari-hari bagi Lora. Ia bahkan sudah tidak tertarik meladeni mereka satu per satu lagi. Ia tahu semua ini adalah cara Delia untuk mengusirnya dari perusahaan. Namun sayangnya bagi Delia, Lora sudah terlalu kebal terhadap perlakuan seperti ini.
Langkahnya akhirnya berhenti ketika ia mendekati meja di sudut ruangan tempat Steven duduk. Namun belum sempat ia menyapanya, tiba-tiba kaki seorang perempuan dengan sengaja melintang di jalur langkahnya.
Lora yang tidak menyadari itu langsung tersandung.
Keseimbangannya hilang.
“Aaakkkhh—”
.
.
.
💐💐💐Bersambung.💐💐💐
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤