Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wawancara Settingan
Jam makan siang, Cafe Ruang Tunggu
Langit pagi yang cerah tadi mendadak berubah menjadi kelabu pekat siang ini. Andrean sudah duduk sendirian di cafe. Ini bagian dari rencana Alena. Alena akan datang tiga puluh menit —atau mungkin lebih— kemudian.
Andrean beberapa kali mengetuk-ngetukkan jari ke meja sambil sesekali melihat jam tangannya dengan gelisah. Misi ini benar-benar membuat Andrean merasa tegang.
"Jangan terlihat gelisah!" pesan Alena sebelum Andrean meluncur menuju cafe.
"Mana bisa? Dia tau teori the Forbidden Fruit Effect nggak sih? Semakin dilarang malah semakin dilakuin," gumam Andrean ketika mengingat pesan Alena.
Lonceng kecil di pintu masuk cafe berbunyi, tanda ada pelanggan masuk. Darrel Bramastya terlihat berjalan dengan santai menuju meja Andrean.
"Silakan, Mas Darrel," kata Andrean ramah.
"Kita ketemu lagi, Mas..."
"Andrean,"
"Ah! Mas Andrean! Maaf. Otak saya ini di setting hanya untuk mengingat hal-hal penting saja. Bahkan saya tak tahu jarak antara bumi dan matahari. Ahahahaha..."
'Dia pikir gue tau jarak bumi dan matahari?' pikir Andrean.
"Baik. Kita mulai wawancaranya ya, Mas?" tanya Andrean.
"Oh! Oke,"
Andrean: Saya dengar, HighTech sedang mengembangkan aplikasi baru. Bisa tolong berikan sedikit bocoran terkait aplikasi yang sedang dikembangkan?
Darrel: Saya sendiri masih ragu menentukan arahnya.
Andrean mengerutkan kedua alisnya. Meskipun dia sudah menduga Darrel tidak akan benar-benar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun Alena, Andrean tidak menyangka bahwa jawabannya benar-benar diluar dugaannya.
Andrean: Jadi, apakah aplikasi ini akan seviral aplikasi anti-distraksi yang sangat booming hingga sekarang?
Darrel: Tentu. Saya yakin itu.
Andrean tersenyum. Kali ini Andrean cukup puas mendengar jawaban Darrel.
Andrean: Sepertinya Anda sangat yakin bahwa aplikasi ini dapat bersaing dengan aplikasi lainnya yang serupa.
Darrel: Tidak. Saya tidak suka persaingan. Saya lebih suka saling melengkapi. Agar dunia tidak kacau seperti saat ini. Perang sungguh tidak efisien.
Andrean menghela nafas panjang. Dia harus bersabar mengikuti naskah buatan Alena untuk mendapatkan bukti dari Darrel. Andrean sendiri bertanya-tanya bagaimana Darrel akan memberikannya bukti melalui wawancara absurd seperti ini.
Andrean: Saya membaca artikel tentang Anda sebelumnya, bahwa mungkin Anda sedang mengembangkan aplikasi yang berhubungan dengan media. Apakah aplikasi tersebut yang sedang HighTech kembangkan saat ini?
Darrel: Ah! Jangan terlalu percaya apa yang ditulis jurnalis. Terkadang mereka hanya mengarang melalui imajinasi mereka.
Kedua mata Andrean membulat. Sepertinya batas kesabarannya sudah melebihi limit.
"Maaf, Mas Darrel. Gue telat lagi," kata Alena sambil terengah-engah.
"Ah! Alena! Kamu abis olahraga?" tanya Darrel.
"Jogging, Mas," jawab Alena sambil menarik kursi di samping Andrean.
"Ah! Harusnya kamu ngajak saya. Saya baru suka jogging akhir-akhir ini," kata Darrel.
"Boleh. Kapan-kapan bisa diagendakan, Mas," kata Alena.
"Ehem..." Andrean menyadarkan Alena dan Darrel bahwa mereka sedang melakukan sesi wawancara.
"Kita lanjut ya, Mas?" tanya Alena.
"Tentu saja!"
"Saya dengar aplikasi baru HighTech sedang dalam tahap uji coba. Bener nggak sih, Mas?" tanya Alena dengan gaya santainya.
"Mau coba?" tanya Darrel pada Alena membuat Andrean menaikkan kedua alisnya seketika.
"Eh? Boleh, Mas?" tanya Alena.
"Coba bluetooth kamu nyalain. Saya send aplikasi uji cobanya ke kamu," kata Darrel. Alena dengan semangat menyalakan bluetooth ponselnya. Dalam hitungan detik sebuah file .zip mendarat ke dalam ponsel Alena.
Dengan bantuan Darrel, aplikasi uji coba yang sedang dikembangkan HighTech berhasil terpasang di ponsel Alena.
"Media Pulse? Namanya unik, Mas," puji Alena.
"Aplikasi ini cocok buat jurnalis kek Alena gini," kata Darrel sambil tersenyum bangga.
"Oh? Iya? Apa aja fiturnya, Mas?" tanya Alena sambil terlihat sibuk log in ke dalam aplikasi.
"Saya sendiri lupa. Kamu lihat sendiri aja," kata Darrel sambil senyam-senyum.
Alena manggut-manggut sambil sibuk dengan ponselnya. Andrean ikut melongok melihat ke dalam ponsel Alena. Dashboard aplikasi Media Pulse memberikan pilihan menu yang benar-benar dibutuhkan para manusia jurnalistik seperti real-time viewer, viral topic, what's trending, potential scoop dan viewer's hot talks.
"Wah! Ini beneran cocok buat kami, para jurnalis, Mas," puji Alena. Darrel tersenyum lebar.
"Bahkan untuk ukuran aplikasi yang sedang dalam tahap uji coba, aplikasi ini sudah memberikan data yang cukup akurat terkait isu-isu yang sedang viral akhir-akhir ini," tambah Alena. Senyum lebar Darrel masih setia bertengger di wajahnya.
"Terkadang, saya sendiri terpesona dengan kemampuan otak saya yang... luar biasa," kata Darrel sambil terkekeh.
"Genius!" puji Alena sekali lagi.
"Ehem... Adakah kelemahan dari aplikasi ini, Mas?" tanya Andrean, menanyakan pertanyaan yang tidak ada dalam naskah yang Alena buat. Alena menoleh ke arah Andrean dengan cepat.
"Manusia cenderung sulit melihat kelemahannya sendiri. Seperti itulah," jawab Darrel dengan nada santai khas dirinya. Andrean menatap Alena yang tersenyum puas ke arahnya.
"Apakah sudah cukup? Saya harus segera pergi. Ada jadwal meeting," kata Darrel sambil beringsut di kursinya.
"Oh! Cukup, Mas. Terimakasih atas waktunya," kata Alena sambil menjabat tangan Darrel. Andrean melakukan hal yang sama.
"Sama-sama, Lena dan Mas... maaf, siapa tadi?"
"Andrean,"
"Ah! Mas Andrean! Otak saya ini di setting hanya untuk mengingat hal-hal penting saja. Bahkan nama samudera terluas di dunia saja saya tak tahu. Ahahahahaha..." kata Darrel.
'Pasifik!' kata Andrean dalam hati, gemas.
"Ahahahahahaha..." Alena ikut tertawa.
"Sampai jumpa lagi, Lena, Mas Andreas!" pamit Darrel lalu berlalu.
"Andrean. Sepertinya dia sengaja bikin gue geregetan," gumam Andrean saat Darrel berjalan menuju pintu keluar cafe.
"Dia bisa membaca orang. Dan lo tipe yang gampang dibaca," kata Alena yang sudah kembali sibuk denga ponsel dan aplikasi dari Darrel.
"Hah?! Gampang dibaca?"
"Lo tau kenapa dia suka asal jawab pertanyaan dari lo? Ya, karena lo bakal nerima jawaban itu mentah-mentah, tanpa melihatnya dari sudut pandang yang lain," kata Alena.
"Jurnalis-jurnalis lain bilang Darrel itu aneh, susah diwawancara, dan terlalu berbelit-belit. Itu karena mereka setipe kek lo. Nggak bisa melihat jawaban melalui cara pikir yang sama dengan dia," tambah Alena.
Andrean terdiam. Dia merasa apa yang dikatakan Alena tepat sasaran. Dia teringat wawancara dengan Darrel sebelumnya. Andrean tidak dapat menulis artikel berdasarkan hasil wawancara -yang menurutnya- absurd. Berbeda dengan Alena yang entah bagaimana dapat menulis artikel berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber dan jawaban dari pertanyaan yang sama.
Andrean menatap Alena yang masih sibuk dengan ponselnya. Entah mengapa kini Andrean tahu mengapa Alena memberinya julukan robot jurnalistik.
'Gue terlalu lurus. Seperti sebuah sistem yang diatur,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤