NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 Berita yang Mengubah Segalanya

Senin pagi, dua minggu setelah kompetisi coding nasional di mana Arka berhasil meraih juara dua, kehidupan keluarga Mahardika dipenuhi kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Piala perak dengan ukiran "National Coding Competition for Gifted Children 2nd Place" berdiri bangga di ruang keluarga. Di sampingnya ada foto Arka tersenyum lebar sambil memegang trofi, diapit Reyhan dan Alya yang memeluknya dengan bangga.

Pagi itu, Reyhan sedang sarapan bareng Arka. Alya belum turun, padahal biasanya dia udah sibuk di dapur dari jam enam.

"Ayah, kapan kita bisa ikut kompetisi lagi?" tanya Arka sambil nyendok sereal.

Reyhan tersenyum. "Masih ada beberapa kompetisi tahun ini, Nak. Tapi kamu nggak harus ikut semua. Ayah nggak mau kamu kelelahan."

"Tapi aku suka kompetisi! Aku ketemu banyak temen baru yang pinter-pinter!"

"Ayah tau. Tapi kamu juga harus istirahat, main, jadi anak kecil. Nggak harus terus-terusan kompetisi."

Arka mengangguk. "Oke, Ayah. Eh, Ayah... kenapa Mama belum turun? Biasanya Mama udah siapin sarapan sekarang."

Reyhan melirik jam. Setengah tujuh. Biasanya Alya udah di dapur dari jam enam. "Mungkin Mama capek. Ayah cek dulu, ya."

Dia naik ke kamar, ngetuk pintu kamar mandi yang tertutup. "Alya? Kamu baik-baik aja?"

Nggak ada jawaban.

Jantung Reyhan langsung deg-degan. "Alya, aku masuk, ya."

Dia buka pintu dan menemukan Alya duduk di lantai kamar mandi. Wajahnya pucat, keringat dingin di dahi.

"ALYA!" Reyhan langsung berlutut. "Kamu kenapa? Sakit?"

Alya geleng lemah. "Cuma... pusing. Dan mual. Dari tadi pagi aku muntah-muntah."

Reyhan cemas setengah mati. "Udah berapa hari?"

"Tiga hari. Tapi hari ini paling parah."

"Kita ke dokter sekarang."

"Rey, nggak usah. Mungkin cuma masuk angin"

"Nggak ada tawar-menawar." Reyhan bantu dia berdiri, tuntun ke ranjang. "Kamu istirahat. Aku yang urus Arka, terus aku antar kamu ke dokter. Jangan bantah."

Alya terlalu lemah buat bantah. Dia cuma bisa berbaring sambil pejam mata.

Pukul Sembilan Pagi Klinik

Abis anter Arka sekolah dengan penjelasan kalau Mama lagi kurang enak badan, Reyhan bawa Alya ke klinik langganan.

Dokter periksa lengkap. Tekanan darah, suhu, banyak tanya.

"Bu Alya, kapan terakhir haid?" tanya dokter profesional.

Alya diem. Mikir. "Saya... lupa, Dok. Mungkin udah lebih sebulan?"

Reyhan tatap Alya, lalu tatap dokter. Matanya melebar. "Dok... maksudnya..."

"Saya akan tes kehamilan dulu buat mastiin." Dokter senyum. "Gejalanya mengarah ke sana. Mual pagi, pusing, telat haid."

Alya dan Reyhan saling pandang. Terkejut. Cemas. Tapi di balik itu semua... ada secercah harapan.

Lima belas menit kemudian, dokter kembali. Senyumnya lebar.

"Selamat, Pak Reyhan, Bu Alya. Ibu positif hamil. Usia kehamilan sekitar 6-7 minggu."

Dunia berhenti.

Reyhan rasanya lemes. Dia duduk di kursi, napas sesak. "Hamil... Alya hamil..."

Alya nangis. Entah shock, bahagia, atau takut. Mungkin campur aduk.

Dokter kasih mereka waktu buat nyerna.

"Saya resepin vitamin dan obat anti-mual. Bu Alya harus banyak istirahat, hindari stres, makan teratur meskipun mual. Dan..." Dokter tatap Reyhan serius. "Bapak harus support istri. Trimester pertama paling rawan."

Reyhan ngangguk, masih syok. "B-baik, Dok. Makasih."

Di Mobil Parkiran Klinik

Mereka duduk di mobil. Mesin mati. Hening.

Alya akhirnya bersuara, "Rey... kamu marah?"

Reyhan nengok, bingung. "Marah? Kenapa aku harus marah?"

"Karena... karena kita nggak rencana punya anak lagi sekarang."

Reyhan raih tangan Alya, genggam erat. "Alya, aku nggak marah. Aku... terkejut. Banget. Tapi aku nggak marah."

"Terus... kamu senang?"

Reyhan diem lama. Nyoba pahamin perasaannya sendiri. "Aku... takut."

"Takut kenapa?"

"Takut aku nggak bisa jadi ayah yang baik. Buat Arka aja aku masih belajar. Sekarang ada baby lagi... aku takut nggak cukup baik."

Air mata Alya jatuh. "Rey... kamu udah jadi ayah yang sangat baik buat Arka. Kamu akan jadi ayah yang baik juga buat baby ini."

Reyhan tatap perut Alya yang masih datar. "Di sana... ada baby kita?"

Alya ngangguk sambil nangis.

Perlahan, Reyhan ulurkan tangan. Sentuh perut Alya lembut. Penuh hati-hati. Penuh kagum.

"Baby kita," bisiknya, suara bergetar. "Anak kedua kita."

Dia tarik Alya ke pelukan. Hangat. Erat.

"Makasih," bisiknya di telinga Alya. "Makasih udah kasih aku kesempatan jadi ayah lagi. Kesempatan buat ngelakuin dengan benar dari awal."

Alya nangis di pelukannya. "Rey... kamu nggak takut lagi?"

"Masih takut. Tapi... aku juga senang. Sangat senang."

Mereka berpelukan lama di parkiran, ngebiarin berita besar itu meresap pelan-pelan.

Sore Hari Ngomong ke Arka

Mereka mutusin buat ngasih tau Arka hari itu juga. Nggak ada yang perlu disembunyiin.

Abis makan malam, mereka bertiga duduk di sofa.

"Arka, Ayah sama Mama mau ngomong sesuatu yang penting," kata Reyhan sambil rangkul Arka.

Arka tatap mereka serius. "Ada apa? Mama sakit?"

"Mama nggak sakit, sayang." Alya senyum. "Mama cuma... lagi ada baby di perut Mama."

Hening.

Arka diem. Tatap mereka. Tatap perut Alya. "Baby? Aku... mau punya adik?"

Reyhan ngangguk. "Iya, Nak. Kamu mau jadi kakak."

Ekspresi Arka berubah. Dari kaget, jadi... senang? Atau bingung? Susah dibaca.

"Arka... kamu senang?" tanya Alya hati-hati.

Arka diem lama. Lalu tanya polos, "Baby-nya bakal pinter kayak aku?"

Reyhan ketawa. Pertanyaan yang sangat khas Arka. "Mungkin iya, mungkin nggak. Tapi yang pasti... kamu bakal jadi kakak yang baik buat dia."

"Aku... bisa ngajarin dia coding?"

"Bisa. Nanti, kalau dia udah gede dikit."

Arka diem lagi. Lalu tiba-tiba maju, peluk perut Alya lembut. "Halo, adik. Aku kakak kamu. Namanya Arka. Nanti kalau kamu udah lahir, aku ajarin kamu banyak hal!"

Reyhan dan Alya saling pandang. Mata mereka berkaca-kaca.

"Aku sayang kamu, adik." Bisik Arka ke perut Alya. "Dan aku janji bakal jadi kakak yang baik."

Alya nangis. Haru banget.

Reyhan peluk mereka berdua. Istri dan anak pertamanya. Sambil rasain dada penuh cinta dan syukur.

Keluarga kita bertambah. Keluarga yang dulu hancur, sekarang makin utuh.

Malam Hari

Abis Arka tidur, Reyhan dan Alya berbaring di ranjang. Berhadapan. Tangan saling taut.

"Rey," bisik Alya.

"Ya?"

"Kamu... beneran senang?"

Reyhan senyum. Usap pipi Alya lembut. "Senang. Sangat senang. Masih takut, tapi senang."

"Takut apa?"

"Takut aku nggak bisa jadi ayah yang baik. Takut aku ulangi kesalahan orang tua aku dulu."

Alya tatap dia lembut. "Rey, kamu nggak akan kayak mereka. Kamu udah buktiin sama Arka. Kamu ayah luar biasa. Perhatian, sayang, peduli. Itu lebih dari cukup."

"Tapi baby ini... aku bakal ada dari awal. Nggak kayak Arka yang aku telat lima tahun. Aku bakal ada waktu dia lahir, waktu dia nangis pertama, waktu dia senyum pertama. Aku nggak mau gagal."

Alya tarik tangan Reyhan, letakin di perutnya. "Rey, kamu nggak akan gagal. Karena kamu punya aku. Kita jalanin ini bareng. Kayak kita jalanin semuanya bareng."

Reyhan rasain air matanya jatuh. "Alya... makasih. Makasih udah percaya aku. Makasih udah kasih aku keluarga ini."

"Kita yang makasih sama kamu, Rey. Kamu udah jadi suami dan ayah yang kami impikan."

Mereka diem. Nyaman. Tangan Reyhan masih di perut Alya. Ngerasain hangat. Ngerasain awal kehidupan baru di sana.

"Rey."

"Ya?"

"Aku sayang kamu."

Reyhan cium dahinya lembut. "Aku juga sayang kamu. Sangat sayang."

Rabu Pagi Berita Tak Terduga

Dua hari setelah tahu soal kehamilan, ponsel Reyhan berdering pas dia meeting. Layar nunjukin "Ibu".

Dia angkat ragu. "Halo, Bu."

"Reyhan." Suara ibunya dingin, kayak biasa. "Aku denger anakmu menang kompetisi coding nasional?"

Reyhan kaget. Dari mana ibunya tahu?

"Iya, Bu. Arka juara dua."

"Arka... nama bagus. Aku mau ketemu cucuku."

Jantung Reyhan deg-degan. "Bu... sekarang belum waktunya."

"Kenapa? Aku kakek-neneknya. Aku berhak ketemu dia."

"Bukan gitu, Bu. Cuma... aku belum siap."

"Kamu belum siap, atau kamu nggak mau aku ketemu dia karena takut aku perlakuin dia kayak aku perlakuin kamu dulu?"

Hening.

Rahang Reyhan mengeras. "Iya, Bu. Aku takut. Aku nggak mau Arka ngerasain apa yang aku rasain dulu. Aku nggak mau dia merasa... cinta itu bersyarat."

Ibunya diem lama. Lalu suaranya beda. Lebih lembut. Jarang banget.

"Reyhan... aku tahu aku bukan ibu yang baik buat kamu. Aku terlalu fokus sama prestasi, sama kesuksesan, sampai aku lupa... kamu cuma anak kecil yang butuh pelukan."

Reyhan membeku. Ibunya baru pertama kali ngaku salah.

"Tapi cucuku... aku nggak mau kehilangan kesempatan kenal dia. Aku nggak mau ulangi kesalahan yang sama. Please... kasih aku kesempatan."

Reyhan pejam mata. Tarik napas. "Bu... aku harus diskusi sama Alya dulu. Ini bukan keputusan aku sendiri."

"Oke. Tapi Reyhan... aku serius. Aku mau jadi nenek yang baik. Aku mau perbaiki kesalahan aku."

"Aku kabarin, Bu."

Tutup telepon. Reyhan duduk. Pikiran kacau.

Ibu mau ketemu Arka. Ibu mau berubah. Tapi... bisa dipercaya?

Malam Hari Diskusi Sama Alya

Reyhan ceritain semuanya ke Alya abis Arka tidur.

"Dia bilang... mau jadi nenek yang baik. Mau perbaiki kesalahan." Reyhan geleng. "Tapi aku nggak tahu. Bisa percaya nggak."

Alya duduk sampingnya, pegang tangannya. "Rey... aku ngerti kamu takut. Tapi mungkin dia beneran mau berubah."

"Atau mungkin dia cuma penasaran sama Arka karena dia genius. Mau pamer ke temen-temennya."

"Mungkin." Alya akui. "Tapi Rey, orang bisa berubah. Kamu buktinya. Enam tahun lalu kamu ninggalin aku. Sekarang kamu suami dan ayah terbaik."

Reyhan diem.

"Gimana kalau kita coba?" usul Alya. "Kita undang mereka ke rumah. Di lingkungan kita. Dengan aturan kita. Kalau mereka masih sama kayak dulu, kita batasi. Tapi kalau mereka beneran mau berubah... Arka berhak punya kakek-nenek."

Reyhan tatap Alya. Kagum. "Kamu selalu lebih bijak dari aku."

Alya senyum. "Bukan lebih bijak. Cuma aku percaya sama kamu. Aku percaya kamu nggak akan biarin siapa pun termasuk orang tua kamu nyakitin Arka."

Reyhan tarik Alya ke pelukan. "Kamu benar. Oke. Aku undang mereka. Tapi dengan aturan ketat."

"Good." Alya tepuk perutnya. "Sekarang... kamu siap jadi ayah dua anak?"

Reyhan ketawa. Nervous, tapi excited. "Nggak. Tapi aku bakal berusaha."

"Itu cukup, Rey. Itu udah lebih dari cukup."

[Bersambung]

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!