Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Nadia menatap Dira lama.
“Kamu mau tahu yang sebenarnya?”
Dira tidak menjawab. Tapi tatapannya tidak menghindar.
Nadia tersenyum tipis. Bukan bangga. Bukan juga sepenuhnya menyesal.
“Saya selingkuh.”
Udara di antara mereka terasa menegang.
“Tapi bukan sesederhana yang dia ceritakan.”
Dira tetap diam.
“Andreas itu gila kerja. Pagi berangkat sebelum saya bangun. Pulang tengah malam saat saya lagi kerja. Kadang kami tinggal satu rumah… tapi seperti dua orang asing.”
Ia tertawa kecil, pahit.
“Dan ibunya.”
Nadia menghela napas panjang.
“Ibunya terus menuntut saya punya keturunan. Setiap kali bertemu, pertanyaannya selalu sama. ‘Kapan punya anak?’ Seolah-olah itu cuma soal mau atau tidak mau.”
Tatapannya berubah lebih dalam.
“Padahal dia tahu saya model. Kontrak saya jelas. Saya tidak bisa hamil selama beberapa tahun karena pekerjaan. Dan itu sudah saya jelaskan sebelum menikah.”
Dira terdiam.
“Siang atau malam saya kerja. Fashion show, pemotretan, event luar kota. Andreas juga sibuk dengan kantornya. Kami tidak punya waktu. Tidak punya ruang untuk benar-benar duduk dan bicara.”
Nadia mengangkat bahu pelan.
“Awalnya saya cuma merasa kesepian. Lalu merasa tidak didengar. Lama-lama… merasa sendirian dalam pernikahan sendiri.”
Ia menatap Dira lurus.
“Dan ya. Saya salah. Saya dekat dengan orang lain. Harusnya saya memilih pergi dulu sebelum mencari pelarian.”
Suasana sunyi beberapa detik.
“Tapi Andreas tidak pernah mau melihat bagian itu. Di ceritanya, saya hanya perempuan yang berkhianat.”
Dira merasakan dadanya terasa berat.
Nadia tidak menyangkal kesalahannya.
Tapi juga tidak sepenuhnya menerima seluruh beban cerita.
“Dia marah besar waktu tahu. Tapi dia tidak pernah bertanya kenapa saya bisa sampai sejauh itu.”
Nada suaranya kini lebih tenang.
“Saya tidak datang untuk membela diri. Saya hanya tidak ingin kamu mendengar satu versi saja.”
Ia melangkah mundur sedikit.
“Andreas bukan laki-laki jahat. Dia hanya terlalu sibuk membuktikan dirinya… sampai lupa membangun rumah tangganya.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan untuk pertama kalinya, Dira merasa—
Masalah ini bukan tentang siapa yang benar atau salah.
Tapi tentang dua orang yang sama-sama gagal menjaga jarak agar tidak berubah menjadi jurang.
Nadia berhenti tepat sebelum menuruni anak tangga teras.
Ia menoleh sekali lagi pada Dira.
Wajahnya tidak lagi setegang tadi.
“Sudah ya,” katanya pelan.
Lalu, dengan nada yang terdengar hampir santai—namun entah kenapa justru terasa lebih mengganggu—ia menambahkan,
“Nanti bilang ke Andreas… mantan istrinya datang.”
Ada jeda sepersekian detik.
“Biar dia tahu saya tidak sembunyi-sembunyi.”
Dira tidak menjawab.
Nadia tersenyum tipis. Bukan ramah. Bukan juga bermusuhan.
Lalu ia berbalik dan berjalan pergi.
Langkahnya mantap.
Seolah ia tidak sedang meninggalkan bekas apa pun.
Padahal Dira merasa seperti baru saja melihat sisi lain dari rumah yang ia tempati.
Pintu tertutup.
Kunci terpasang.
Sunyi.
Dira bersandar di balik pintu, napasnya tidak teratur.
“Mantan istrinya datang…”
Kalimat itu terngiang.
Bukan sekadar informasi.
Tapi seperti tanda bahwa masa lalu itu nyata. Bukan cuma cerita semalam sebelum tidur.
Ia berjalan pelan ke ruang tamu.
Sofa yang tadi pagi ia rapikan kini terasa asing.
Empat tahun.
Nadia pernah tinggal di sini selama empat tahun.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar.
Dira duduk.
Pikirannya berputar.
Andreas bilang ia dikhianati.
Nadia bilang ia selingkuh—tapi juga merasa ditinggalkan.
Keduanya mungkin benar.
Keduanya juga mungkin sama-sama salah.
Dira: Tadi ada tamu
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari Andreas:
Andreas: Siapa yang datang?
Dira menatap layar lama.
Ia bisa memilih diam.
Ia bisa menunda.
Tapi semalam mereka sepakat tentang kejujuran.
Jarinya mulai mengetik.
Dira: Mantan istrimu datang
Balasan datang cepat.
Andreas: Apa?
Dira: Tadi dia ke sini
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu muncul:
Andreas: Dia ngapain?
Dira menelan ludah.
Dira: Katanya ada dokumen yang belum selesai. Dan…
Ia berhenti mengetik.
Haruskah ia menuliskan semuanya sekarang?
Tentang pengakuan.
Tentang cerita yang berbeda.
Tentang ibu Andreas.
Tentang anak.
Layar menunjukkan Andreas sedang mengetik.
Hilang.
Mengetik lagi.
Akhirnya pesan masuk:
Andreas: Kamu nggak perlu dengar apa-apa dari dia
Nada itu lagi.
Protektif.
Atau defensif?
Dira menarik napas dalam.
Dira: Dia cuma bilang nanti bilang ke kamu… mantan istrimu datang
Hening beberapa detik.
Lalu satu pesan lagi masuk.
Andreas: Aku pulang lebih cepat hari ini
Tidak ada emotikon.
Tidak ada penjelasan.
Dira meletakkan ponselnya pelan di meja.
Hari itu baru setengah jalan.
Tapi ia merasa seperti sudah melewati berminggu-minggu emosi.
Di kantor, Andreas menatap layar dengan rahang mengeras.
Nadia datang ke rumah.
Bertemu Dira.
Mengatakan apa?
Ia berdiri dari kursinya.
Masa lalu yang belum benar-benar selesai…
Ternyata tidak menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
Sore itu Andreas pulang dengan wajah yang jelas tidak tenang.
Begitu pintu tertutup, ia langsung bertanya,
“Dia datang?”
Dira tidak berdiri. Ia tetap duduk di sofa.
“Iya.”
“Apa yang dia mau?”
Nada suaranya kali ini tidak sekadar tegang. Ada kewaspadaan di sana.
Dira menatapnya lurus.
“Katanya mau urus beberapa berkas yang belum selesai.”
Andreas mengerutkan kening.
“Berkas apa?”
“Itu yang ingin aku tanyakan ke kamu.”
Sunyi.
Dira melanjutkan, suaranya tenang tapi jelas menyimpan sesuatu.
“Beberapa hal yang belum selesai memangnya apa? Emang semua belum selesai?”
Andreas terdiam sesaat.
“Secara hukum sudah selesai,” jawabnya pelan. “Aset sudah dibagi.”
“Jadi?”
“Ada satu properti yang proses balik namanya agak lama. Dan beberapa dokumen pajak yang masih atas nama bersama. Itu saja.”
Dira menyilangkan tangan.
“Itu saja?”
Andreas mengangguk.
“Dia minta apa lagi?” tanya Dira tiba-tiba.
“Apa maksudmu?”
“Di pengadilan dia sudah dapat bagiannya, kan?
Nada Dira tidak tinggi.
Tapi tajam.
Andreas menatapnya beberapa detik.
“Andreas,” lanjutnya pelan, “kalau memang cuma tanda tangan dokumen, kenapa nggak lewat pengacara? Kenapa harus datang sendiri?”
Pertanyaan itu menggantung.
Andreas mengusap wajahnya.
“Dia memang sering begitu. Kalau ada yang belum jelas, dia datang langsung.”
“Ke rumah yang dulu dia tinggali.”
Kalimat itu membuat Andreas menatap Dira cepat.
“Kamu cemburu?”
“Aku realistis.”
Itu jawaban yang lebih jujur daripada penyangkalan.
Dira berdiri sekarang.
“Aku cuma nggak mau nanti tiba-tiba ada cerita baru. Tambahan aset. Klaim apa pun. Atau… alasan lain.”
“Dira. Semua sudah selesai secara hukum. Nggak ada yang bisa dia minta lagi.”
“Tapi dia tetap datang.”
Keduanya saling menatap.
Bukan soal cinta.
Bukan soal cemburu.
Ini soal rasa aman.
“Aku akan hubungi pengacara besok,” kata Andreas akhirnya. “Biar semuanya jelas. Kalau memang ada berkas, kita urus resmi. Nggak perlu datang ke sini lagi.”
Kata “kita” membuat Dira sedikit melunak.
“Kita?” ulangnya pelan.
“Iya. Kamu istriku sekarang. Kamu berhak tahu semuanya.”