Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Suara hati Ervana
Gelap, aku berusaha mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menerangi tempat ini. Aku pikir, tempat ini adalah kamar bernomor 14 yang penuh kenangan buruk. Perlahan, aku membuka mataku. Tidak ada lagi kegelapan, aku melihat hamparan taman bunga yang begitu memanjakan mata. Aku di mana? Perasaan takut dan tak nyaman mulai menguasaiku. Aku mengenakan gaun panjang berwarna putih yang entah kenapa begitu kusukai. Ini terlihat lebih menarik daripada seragam pasien bernomor 14 yang lusuh itu.
Aku melangkah pelan, seperti terjebak antara kehidupan dan kematian. Sayup-sayup, aku mendengar suara tangisan ibu dan kakak sulungku yang kerap menjadi penyebab rasa sakitku. Kenapa mereka menangis? Aku bahkan tidak menemukan alasan yang paling tepat atas pertanyaanku ini.
Beberapa saat kemudian, aku melihat hal lain yang membuat dadaku terasa sesak. Senyum kemenangan Renita, aku bahkan tidak tau kenapa dia tersenyum seperti itu. Tunggu! Sebenarnya, aku di mana? Aku sendirian di tempat ini, namun mataku seperti melihat potongan-potongan adegan yang berlarian di kepalaku. Aku bahkan melihat pertengkaran antara ayah dan kakak sulungku, tentang ucapan yang begitu menyakitkan itu.
Satu kalimat seperti menghantam indera pendengaranku. Mati karena menenggak racun? Kalimat yang keluar dari bibir ayahku membuatku nyaris runtuh. Apakah aku telah meninggal dan saat ini terjebak dalam neraka? Bukan, yang aku tau neraka berisi kobaran api besar yang membuat kulit seperti terkelupas. Tempat ini terlalu indah untuk disebut neraka. Aku berusaha mencerna semua kejadian luar biasa ini sebelum suatu kebenaran menghantam dadaku lebih keras. Aku ingat, aku adalah pasien rumah sakit jiwa yang memilih bunuh diri karena tidak kuat menahan segala rasa sakit, fisik maupun batin. Aku terlalu tersiksa di tempat terkutuk itu. Ema, aku membenci wanita licik itu lebih dari siapapun. Belakangan aku mengingat jika wanita jahat itu adalah orang kepercayaan Renita yang sengaja menyiksaku karena rasa sayangnya pada anak pungut itu. Huh, kebencianku pada Renita sepertinya sudah mengakar dalam kalbu. Ia memfitnahku, membuat aku dibenci dan tak punya tempat aman di rumahku sendiri. Gadis itu terlihat sangat lembut di hadapan keluargaku, padahal ia tak lebih dari rubah. Aku ingat sekali ketika terjadi kebakaran di rumahku, Renita mengaku bahwa dialah yang menolong ibu yang terjebak di kobaran api padahal akulah yang mengorbankan keselamatanku sendiri demi menyelamatkan wanita yang melahirkanku itu. Kaki kananku melepuh, namun tak seorangpun menyadarinya. Sampai saat ini semua orang tau jika Renita adalah permata keluarga Moses sedangkan aku hanyalah remahan sampah busuk yang sampai kapanpun tidak pernah menang melawannya.
Mungkin aku harus menjelaskan satu hal agar semua orang berhenti menganggap Renita adalah pahlawan bagi keluargaku. Semua orang berpendapat bahwa Renita adalah dewi penolong Kevin Baskara yang saat itu hampir meregang nyawa di bawah jembatan kota karena sebuah kecelakaan kerja. Bukan, bukan Renita yang menolong pria angkuh itu. Aku yang pertama kali menemukan pria itu, tergeletak dengan luka besar yang menutupi dahinya. Mati-matian aku menopang tubuh pria itu melewati jembatan lalu memesankan sebuah taksi untuknya. Jika ada yang bertanya kenapa aku bisa menemukan pria itu, aku ingin bercerita bahwa aku seringkali menghabiskan waktu di tempat itu ketika ayah menghukumku. Ah, pria itu semakin kejam dan aku tidak tau apa penyebabnya. Luka cambukan di punggungku seperti terbakar ketika bergesekan dengan baju rumahan yang kukenakan. Samar-samar, aku mendengar suara pertolongan dan pemandangan yang kulihat kemudian membuat jantungku berdetak lebih kencang. Kevin, putra mahkota keluarga Baskara, pria yang paling kukagumi, yang diam-diam kudoakan. Ah, aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku mencintai pria itu. Bagaimana bisa pria itu terbaring lemah di bawah sana?
Aku berlari secepat kilat, mengabaikan rasa sakit bekas cambukan di kakiku. Yang ingin kulakukan sekarang adalah menolong pria pujaanku itu.
"To-tolong". Pintanya lirih ketika mendengar langkah kakiku. Ia bahkan belum sempat melihat wajahku ketika matanya terpejam erat. Pria itu tidak sadarkan diri! Ya Tuhan kepanikan menguasaiku dalam sekejap.
Ceritaku memang sangat berantakan, aku berusaha mengingat semuanya. Tubuh lemah itu lalu diletakkan di sebuah brankar rumah sakit lalu didorong dengan sangat hati-hati oleh para petugas. Aku tebak mungkin karena mereka terlalu takut membuat tubuh berharga itu semakin kesakitan. Seorang petugas kesehatan yang melihat keadaanku yang sangat kacau lalu menawarkan diri untuk memeriksaku. Aku sedikit bimbang, namun wanita itu paruh baya itu meyakinkanku, mengatakan bahwa lukaku mungkin akan semakin parah ketika dibiarkan. Dengan perasaan gamang aku mengikuti langkah kaki wanita itu. 30 menit kemudian, aku keluar dengan perasaan lebih lega namun rasa panik tak sepenuhnya hilang. Aku masih memikirkan keadaan Kevin Baskara. Seorang petugas kesehatan yang mengenalku sebagai gadis yang membawa Kevin sontak menunjukkan ruang rawatnya padaku. Aku melangkahkan kakiku dengan ringan, walaupun sedikit gugup. Ya Tuhan,Kevin Baskara terlihat semakin tampan. Aku menarik pelan pintu kaca itu, berusaha untuk tidak menimbulkan suara berisik yang mungkin akan mengganggunya. Namun, pemandangan yang kulihat di sana sukses membuatku tersenyum kecut. Kevin Baskara sedang bersama Renita, adik angkat yang selalu lebih unggul dariku.
"Aku akan menikahimu Renita, terima kasih karena telah menyelamatkanku. Aku berhutang nyawa padamu". Aku tertawa getir sebelum meninggalkan tempat itu. Berbagai pertanyaan berkeliaran di kepalaku. Bagaimana bisa Renita berada di tempat ini? Huh, apa yang ia katakan sehingga Kevin menjanjikan hal itu? Mereka akan menikah? Ya Tuhan, ini memang menyakitiku tapi aku berusaha ikhlas.
Masih di tempat yang sama, aku masih terjebak di tengah ladang bunga yang begitu indah.
"Lupakan mereka, kau hanya perlu menjaga kewarasanmu sendiri". Aku berusaha menghibur diriku sendiri walaupun rasa sakit itu kerap hadir.
Di depan sana, kulihat seorang wanita tua tengah memetik bunga, wajahnya sungguh tidak asing tapi aku lupa di mana aku bertemu dengannya.
"Permisi". Ucapku dengan suara bergetar. Aku sedikit bimbang, bagaimana kalau wanita tua ini adalah orang jahat? Saat ia mengangkat wajahnya, tubuhku sontak menegang. Hei, bukankah itu adalah nenekku dari pihak ayah? Wanita tua yang kerap menghinaku dengan kalimat tajamnya.
"Pergilah, di sini bukan tempatmu. Jangan sampai kau menyusahkan". Tepat sekali dugaanku. Tapi, bukankah ia telah meninggal dunia? Bagaimana mungkin aku bertemu dengannya? Apakah ini surga? Teka-teki ini benar-benar menyiksaku.
"Kau membiarkan anak pungut itu menang? Cih, cucu perempuanku ini memang sangat bodoh".
"Apa maksudmu, Nek?" Tanyaku dengan suara bergetar. Separuh dari diriku menyuruhku lari, namun aku seperti tak punya tenaga untuk itu.
"Kau pikir kenapa aku tidak menyukaimu? Kau terlalu pasrah dan mudah diinjak-injak oleh anak sialan itu. Coba saja kau secerdas Lucas mungkin aku akan melakukan apapun untuk menjagamu. Pulanglah dan rebutlah posisimu. Nenek tidak pernah benar-benar membencimu. Aku hanya mencintaimu dengan cara yang lain". Wanita tua itu mengelus rambutku dengan sayang sebelum bayangannya hilang dibawa angin.