NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:945
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Dia menggoda

Pagi di luar masih diselimuti kabut tipis. Jalanan batu yang membentang di depan rumah toko milik Valeria tampak lengang. Lampu-lampu jalan belum sepenuhnya padam, menyisakan cahaya kekuningan yang temaram. Udara dingin khas pinggiran kota merayap masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat.

Di kamar atas, Valeria terbangun lebih awal. Namun semalaman ia tidak benar-benar terlelap. Bayangan kejadian ia berciuman dengan Rodrigo seperti hantu yang terus menerus menghantui pikirannya. Ciuman itu. Hangat. Mendadak. Membingungkan.

Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari, napasnya tercekat.

“Kenapa aku tidak mendorongnya lebih keras!” gumamnya lirih.

Di sofa bawah, Rodrigo menggeliat pelan. Luka di perutnya masih berdenyut setiap kali ia bergerak. Ia mengerang pelan ketika rasa nyeri itu kembali menyadarkannya sepenuhnya. Selain rasa sakit, ada dorongan lain yang membuatnya harus bangun.

Ia berjalan perlahan menaiki tangga kayu yang sedikit berderit. Tangannya menahan sisi perutnya, langkahnya tertatih.

Sementara itu, Valeria baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, meneteskan air di bahunya.

Ia mengenakan jubah handuk putih yang terikat seadanya karena terburu-buru.

Rambutnya dibalut dengan handuk kecil di kepala.

Klik.

Pintu terbuka tanpa ketukan. Rodrigo berdiri di ambang pintu.

Keduanya membeku.

Mata Valeria membulat sempurna. Refleks, ia menjerit.

“HAAAHHH!”

Jantungnya hampir melompat keluar. Ia spontan memeluk tubuhnya sendiri dan menarik jubah handuknya lebih rapat, memastikan penutup itu benar-benar aman. Tangannya bergerak cepat, wajahnya memerah padam karena malu.

“Rodrigo! Apa kau tidak punya sopan santun?!” suaranya bergetar antara marah dan malu.

Rodrigo terpaku. Pandangannya sempat terseret ke arah yang membuatnya menegang saat ini, lalu dengan susah payah ia memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.

“Sial!” gumamnya nyaris tak terdengar.

“M..... maafkan aku. Aku hanya ingin ke kamar mandi,” katanya kaku.

“Kau bisa mengetuk pintu dulu!” balas Valeria, suaranya meninggi. “Ini kamarku!”

Rodrigo menghela napas panjang, mencoba menguasai diri. “Aku pikir kau masih tidur.”

“Lalu itu alasan untuk masuk tanpa izin?”

Valeria mundur beberapa langkah, masih memegang erat jubahnya. Ia bahkan memastikan kait bagian depan terikat lebih kuat, jemarinya gemetar karena campuran malu dan kesal.

“Kau tidak waras,” ucapnya tegas. Ia mencebik sambil memalingkan wajahnya.

Rodrigo menatapnya sekilas, tatapan yang sulit diartikan. Ada penyesalan, ada sesuatu yang lain yang berusaha ia tekan dalam-dalam.

“Menyingkir, aku tidak bisa menahannya.”

Ia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar itu tanpa berkata lagi. Pintu kamar mandi tertutup dengan bunyi keras.

Di dalam, Rodrigo menyalakan keran dengan kasar. Ia menatap bayangannya di cermin.

“Tenangkan dirimu, sialan dia terlalu cantik dan menggoda. Jika seperti itu aku yakin. Aku tidak akan bisa menahan diri!” desisnya pelan.

Ia mengepalkan tangan di sisi wastafel. Kenangan semalam dan pemandangan baru saja berputar di kepalanya. Ia mengumpat pelan, mencoba mengabaikan pikirannya sendiri.

“Kenapa kau masih bisa membuatku seperti ini, Valeria!” pria itu menggerakkan gigi.

Sementara di luar, Valeria berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ia duduk di tepi ranjang, menekan dada sendiri yang masih berdebar.

“Dia benar-benar tidak tahu diri, pria tidak waras!” gumamnya, namun pipinya kembali menghangat ketika mengingat bagaimana Rodrigo terlihat sama terkejutnya.

Di luar, kabut mulai menipis. Suara kendaraan pertama terdengar melintas. Hari akan segera dimulai, dan toko kue itu akan kembali dibuka. Namun di dalam kamar itu, ketegangan di antara dua mantan kekasih itu belum juga mereda.

Toko kue Valeria di lantai bawah masih tertutup, tirai jendelanya setengah terbuka. Aroma mentega dan gula dari adonan semalam masih samar tercium.

Di dalam kamar, suasana terasa jauh lebih panas dibanding udara pagi di luar.

Pintu kamar mandi terbuka.

Rodrigo keluar dengan wajah lebih terkendali, meski rahangnya masih tampak menegang. Ia menghindari tatapan Valeria yang berdiri di dekat lemari, kini sudah mengenakan pakaian sederhana, blus lengan panjang dan rok selutut. Rambutnya masih setengah kering.

Valeria melipat tangan di dada.

“Lain kali,” katanya dingin, “jangan pernah masuk tanpa izin.”

Rodrigo mengangguk singkat. “Aku sudah minta maaf.”

“Itu bukan pertama kalinya kau seenaknya.”

Kalimat itu membuat Rodrigo berhenti melangkah. “Apa maksudmu?”

Valeria menatapnya tajam. “Semalam. Kau menciumku tanpa izin.”

Ruangan mendadak hening. Rodrigo menarik napas panjang. “Kau tidak benar-benar menghentikanku. Dan aku melihat kau menikmatinya.”

Wajah Valeria langsung memerah, antara marah dan tersinggung. “Itu bukan alasan!” suaranya bergetar. “Tubuhku bereaksi bukan berarti aku mengizinkanmu!”

Rodrigo terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari yang ia duga. Ia berjalan lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. “Benarkah? Jadi kau menyalahkan aku?”

Valeria menatapnya, sedikit terkejut mendengar pengakuan yang begitu cepat.

“Itu salah kita berdu” lanjut Rodrigo lebih pelan. “Aku hanya kehilangan kendali.”

“Dan kau pikir aku tidak?” balas Valeria lirih.

Rodrigo menatapnya tajam. “Aku sudah berusaha melupakanmu, Rodrigo. Berusaha membangun hidupku sendiri di sini. Toko ini semua ini aku bangun dengan susah payah.”

Ia menunjuk ke bawah, ke arah toko.

“Lalu kau datang. Terluka. Masuk ke hidupku lagi. Dan semalam ” ia menggeleng pelan. “Kau membuat semuanya kacau.”

Rodrigo mengepalkan tangan. “Aku tidak akan pernah berhenti memikirkanmu.”

Valeria tertawa kecil, pahit. “Kau punya tunangan.”

Nama itu tidak perlu disebut. Keduanya tahu. Rodrigo menutup mata sejenak. “Jangan membahas dia, aku tidak mencintainya.”

“Selalu begitu,” potong Valeria cepat. “Selalu ada alasan. Selalu ada pembenaran.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Dari luar terdengar suara seseorang lewat, langkah kaki menyusuri trotoar batu. Kota mulai hidup, tapi di kamar itu waktu terasa berhenti.

“Aku akan turun,” kata Valeria akhirnya. “Aku harus membuka toko.”

Ia berjalan melewati Rodrigo. Saat bahunya hampir bersentuhan, ia berhenti sejenak.

“Dan Rodrigo,” ucapnya tanpa menatap. “Jangan pernah mengira aku menggodamu. Apa yang terjadi baru saja murni karena kau tidak sopan.”

Rodrigo menelan ludah, menahan ego yang ingin membalas. “Aku tidak berpikir kau menggodaku,” jawabnya pelan. “Aku hanya masih terlalu menginginkanmu.”

Langkah Valeria terhenti sepersekian detik. Namun ia tidak menoleh. Ia membuka pintu kamar dan turun ke lantai bawah. Setiap anak tangga berderit pelan di bawah langkahnya.

Rodrigo berdiri sendiri di kamar itu. Cahaya pagi kini masuk lebih terang melalui jendela. Ia mengusap wajahnya kasar.

“Sial,” gumamnya.

Di bawah, Valeria membuka tirai toko kue. Sinar matahari pucat menembus kaca, menerangi etalase kosong yang sebentar lagi akan dipenuhi roti dan kue.

Tangannya masih sedikit gemetar saat ia mulai menyalakan oven. Hatinya lebih berantakan daripada dapurnya.

Oven mulai menghangat, mengusir sisa dingin pagi yang menyelinap lewat celah jendela. Valeria mengikat celemeknya dengan gerakan cepat, seolah simpul yang ia buat bisa sekalian mengikat hatinya agar tidak berantakan.

Ia menuang adonan ke loyang dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

“Fokus,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini hanya pagi biasa.”

Bel pintu kecil di atas daun pintu berbunyi pelan ketika Rodrigo turun dari tangga. Suara langkahnya lebih pelan dari biasanya, mungkin karena luka di perutnya, mungkin juga karena ia tak ingin memicu pertengkaran baru. Valeria tidak menoleh.

“Apa kau butuh bantuan?” tanya Rodrigo akhirnya.

Sendok kayu di tangan Valeria berhenti bergerak. “Kau sakit,” jawabnya datar. “Lebih baik kau beristirahat.”

“Aku tidak selemah itu.”

Valeria mendengus kecil. “Kau bahkan tidak bisa turun tangga tanpa meringis.”

Rodrigo menahan komentar balasan. Ia berjalan mendekat ke meja kerja, menjaga jarak yang wajar. Aroma vanila dan mentega memenuhi ruang, bercampur dengan ketegangan yang belum selesai.

“Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman,” katanya lebih pelan. “Tadi di atas.”

Valeria akhirnya menoleh. Tatapannya tidak sekeras tadi, tapi masih menyisakan bara.

“Rodrigo, kau masuk ke kamarku tanpa izin. Itu bukan hal kecil.”

“Aku tahu.” Ia mengangguk. “Dan soal semalam aku juga tidak seharusnya—”

“Ya,” potong Valeria cepat. “Tidak seharusnya.”

Hening sejenak. Di luar, sebuah bus merah melintas, bayangannya bergerak cepat di kaca etalase. Seorang wanita tua berjalan pelan sambil membawa anjing kecilnya. Dunia terus berjalan, seolah tidak peduli dengan dua orang yang terjebak masa lalu di dalam toko kecil itu.

Rodrigo bersandar ringan pada meja, wajahnya sedikit pucat.

“Kau membenciku?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Valeria terdiam.

Ia kembali mengaduk adonan, lebih lambat kali ini.

“Kalau aku membencimu,” jawabnya akhirnya, “aku tidak akan mengobati lukamu.”

Rodrigo menatapnya lekat.

“Tapi itu bukan berarti aku sudah memaafkan semuanya.”

Angin pagi meniup lonceng kecil di pintu hingga berbunyi pelan. Valeria mengambil loyang dan memasukkannya ke dalam oven, lalu menutup pintu dengan hati-hati.

“Aku tidak tahu kenapa kau datang lagi ke hidupku dalam keadaan seperti ini,” lanjutnya lebih lirih. “Tapi aku tidak mau menjadi pilihan kedua. Tidak lagi.”

Rodrigo menghela napas berat.“Kau tidak pernah jadi pilihan kedua.”

Valeria menoleh tajam. “Kau bertunangan.”

Rodrigo terdiam. Luka di perutnya seolah ikut berdenyut lebih kuat saat nama tak terucap itu kembali menjadi tembok di antara mereka.

“Pertunangan itu!” ia berhenti, mencari kata. “Aku bisa saja membatalkannya!”

Deg!

Valeria tersenyum tipis, getir. “Apa kau gila?”

Bel pintu tiba-tiba berbunyi lebih jelas.

Seorang pelanggan pertama masuk pria paruh baya dengan mantel panjang. Valeria langsung berubah. Wajahnya ramah, senyumnya profesional.

“Selamat pagi. Toko baru saja buka, tapi croissant akan siap beberapa menit lagi,” katanya lembut.

Rodrigo memperhatikan perubahan itu dengan diam. Cara Valeria berdiri, berbicara, tersenyum, ia tampak kuat. Mandiri. Jauh berbeda dari gadis yang dulu ia kenal.

Saat pelanggan itu memilih roti dan membayar, Valeria bekerja cekatan. Seolah tak ada badai di dalam dirinya.

Setelah pria itu pergi, suasana kembali hening.

Rodrigo berbicara pelan, hampir seperti pengakuan.

“Aku datang bukan untuk merusak hidupmu.”

“Lalu untuk apa?” tanya Valeria tanpa menatapnya.

Rodrigo menatap jendela, ke arah jalan yang mulai ramai.

“Aku tidak tahu,” katanya jujur. “Mungkin aku hanya ingin melihat apakah masih ada tempat untukku di hidupmu.”

Valeria mematung. Beberapa detik terasa sangat panjang. Akhirnya ia menoleh, tatapannya lembut tapi tegas.

“Jangan membahasnya,” katanya pelan.

Rodrigo tidak bisa membantah. Di luar, matahari mulai naik lebih tinggi, menyinari papan nama toko kue kecil itu.

Huruf-huruf emasnya berkilau diterpa cahaya pagi. Dan di dalam, dua hati yang pernah saling memiliki kini berdiri berhadapan dipisahkan oleh pilihan, waktu, dan luka yang belum benar-benar sembuh.

1
ArhanDyy ArhanDyy
pasti nyesek banget tuh si Valeria
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!