novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam metalik melesat masuk ke dalam gang sempit itu dengan kecepatan tinggi. Ban mobil itu berdecit keras saat melakukan rem mendadak, hampir saja menabrak tumpukan sampah di dekat para preman. Lampu depannya yang sangat terang langsung menyinari gang, membuat para preman itu silau dan menutupi mata mereka.
( ANJAYY!! SIAPA LAGI INI?! MAU IKUTAN RAMPOK APA GIMANA?!) teriak Lyra dalam hati, masih memegang pecahan botol kacanya dengan tangan gemetar.
Pintu pengemudi terbuka dengan cepat. Seorang pria turun dengan gerakan yang sangat taktis dan tenang. Begitu dia berdiri di bawah sorot lampu, Lyra langsung mengenali postur tegap itu. Itu adalah pria yang sama yang dia lihat sore tadi saat pengejaran kriminal di dekat kafe.
Magnus.
Dia tidak memakai seragam lengkap seperti tadi sore, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku dan celana kain gelap, tapi aura otoritasnya tetap terasa mencekik.
"Kalian punya waktu tiga detik untuk menjatuhkan senjata dan menjauh dari wanita itu," suara Magnus terdengar rendah, namun sangat dingin dan penuh ancaman. Tidak ada teriakan, tapi perintahnya terasa absolut.
Para preman itu saling pandang, mencoba sok berani. "Heh, siapa lo? Ini bukan urusan lo, mending pergi sebelum mobil bagus lo ini gue hancurin!"
Magnus tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya berjalan maju dengan tenang, seolah pisau lipat di tangan preman itu cuma mainan anak-anak. Saat salah satu preman mencoba mengayunkan tinjunya, Magnus dengan gerakan secepat kilat menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya sampai terdengar suara krak kecil, dan membantingnya ke aspal dalam satu detik.
Dua preman lainnya yang melihat temannya tersungkur langsung ciut nyalinya. Mereka tahu mereka berhadapan dengan orang yang salah.
"PERGI!!" bentak Magnus sekali lagi, kali ini dengan nada yang menggetarkan tembok gang.
Tanpa pikir panjang, para preman itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan teman mereka yang masih merintih di tanah. Magnus tidak mengejar mereka; fokus utamanya adalah memastikan keamanan warga sipil di depannya.
Magnus berbalik ke arah Lyra. Dia melihat cewek itu masih berdiri mematung, memegang pecahan botol, dengan penampilan yang sangat tidak biasa: piyama satin dan sandal hotel di tengah gang kumuh London.
"Sudah aman. Kamu bisa turunkan botol itu sekarang," ucap Magnus pelan, suaranya berubah jadi lebih lembut.
Lyra menarik napas panjang, baru sadar kalau dia tadi hampir saja kena serangan jantung. Dia menjatuhkan pecahan botol itu ke tanah.
" ANJAYY... Makasih ya, Pak Polisi. Sumpah, gue kira gue bakal mati konyol di sini gara-gara piyama sialan ini," ceplos Lyra dengan gaya asbun-nya, meskipun mukanya masih pucat pasi.
Magnus mengernyitkan alis, sedikit bingung dengan bahasa yang baru saja dia dengar, tapi dia bisa menangkap rasa terima kasih di baliknya. Dia mendekat, matanya menatap tajam ke arah pergelangan tangan Lyra yang memar bekas cengkeraman Pharma yang sekarang makin terlihat jelas di bawah lampu mobil.
"Kamu terluka," kata Magnus sambil menunjuk memar itu. "Dan... kenapa kamu ada di sini dengan pakaian tidur?"Lyra mendengus kasar, lalu memungut tasnya yang tadi tergeletak di aspal sambil menepuk-nepuk debunya dengan dramatis. Dia menatap Magnus dengan wajah yang dibuat seolah-olah dia adalah korban tragedi paling menyedihkan di abad ini.
"Pak Polisi, lo nggak bakal percaya apa yang baru aja terjadi sama gue," mulai Lyra dengan nada bicara yang mulai naik satu oktav. "Gue ini asisten dokter di Delphi, tahu nggak? Harusnya malam ini gue ada di Istana Buckingham, makan kaviar sambil dengerin simfoni."
Magnus hanya diam, melipat tangan di depan dadanya yang bidang sambil terus mengawasi sekitar, tapi matanya tetap fokus mendengarkan ocehan Lyra.
"Tapi ternyata bos gue si Pharma itu lebih milih dengerin hasutan tante-tante gatel yang nempel sama dia dari tadi!" Lyra mengibaskan tangannya ke udara dengan emosi. "Gue diturunin di tengah jalan, Pak! Di tengah kemacetan London yang dingin ini, cuma gara-gara gue nggak mau liat mereka adegan drama murahan di dalem mobil! Bayangin, gue dipaksa ikut, terus dibuang gitu aja kayak bungkus gorengan!"
Lyra menunjuk piyama satinnya dengan ekspresi yang sangat nelangsa. "Liat nih! Gue pake piyama! Piyama, Pak! Mana ada asisten dokter dibuang di gang preman cuma pake baju tidur begini? ANJAYY emang si Pharma itu! Kalau bukan karena gue mau nyari ilmu di sini, udah gue suntik mati dia dari tadi!"
Magnus yang tadinya pasang muka tembok, hampir saja menarik sudut bibirnya. Dia belum pernah ketemu cewek yang habis mau dirampok tapi masih sempat-sempatnya ngomel panjang lebar soal bosnya dengan gaya yang sangat... unik.
"Pharma Andriend?" tanya Magnus singkat. Namanya memang cukup terkenal di kalangan elit London.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia si raja egois itu!" sahut Lyra asbun. "Dia lebih mentingin gengsinya di depan istana daripada keselamatan asistennya sendiri. Emang ya, makin tinggi gelar, makin rendah rasa kemanusiaannya. Padahal gue udah tantrum di mobil biar nggak usah ikut, eh dipaksa, pas udah di jalan malah ditendang keluar!"
Lyra menghela napas panjang, lalu menatap Magnus dengan mata besar yang minta dikasihani. "Terus sekarang gue nyasar, mau dirampok, dan sandal hotel gue udah kotor semua. Lengkap banget penderitaan gue malam ini."
Magnus menatap pergelangan tangan Lyra yang memar lagi. Dia tahu itu bukan luka baru karena preman tadi. "Naiklah ke mobil. Saya antar kamu kembali ke hotelmu."
"Eh, beneran Pak?" Lyra langsung berubah ceria, tapi sedetik kemudian dia ragu. "Mobilnya bagus banget, Pak. Nggak apa-apa piyama gue yang kena debu gang ini duduk di situ?"
"Tidak masalah," jawab Magnus singkat sambil membukakan pintu depan untuk Lyra. "Saya tidak bisa membiarkan wanita dengan piyama berkeliaran di distrik ini sendirian. Itu berbahaya."
(ANJIRRR, GUE DIANTERIN POLISI KEREN PAKE SEDAN MEWAH!!) jerit Lyra dalam hati kegirangan. (MAMPUS LO PHARMA!! LO KE ISTANA SAMA TANTE GATEL, GUE DIANTERIN SAMA INSPEKTUR PALING GANTENG SE-LONDON!!)Lyra baru saja mau duduk manis di jok kulit sedan hitam itu ketika Magnus berujar sambil menghidupkan mesin.
"Sebenarnya," kata Magnus dengan suara baritonnya yang tenang, "saya juga sedang dalam perjalanan menuju istana untuk urusan pengamanan Gala Dinner. Tapi tadi saat lewat area ini, perasaan saya tidak enak. Jadi saya memutuskan untuk patroli kecil dulu di sekitar sini."
Lyra langsung menoleh, matanya membelalak dramatis. "HAH?! Jadi Bapak juga mau ke sana? Wah, emang bener ya, instinct polisi itu nggak bohong. Coba kalau Bapak nggak 'iseng' patroli ke gang ini, mungkin besok pagi berita utamanya bukan soal pesta Ratu, tapi soal asisten dokter yang tewas mengenaskan dalam balutan piyama satin!"
Magnus hanya melirik sekilas, tangannya dengan lihai memutar setir keluar dari gang sempit itu. "Itulah tugas saya. Tapi membiarkan seseorang diturunkan di pinggir jalan dengan pakaian seperti ini... itu tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab bagi seorang pria."
" ANJAYY!! Emang bener banget, Pak! Bapak denger itu?" Lyra menunjuk ke arah jalanan seolah-olah Pharma ada di sana. "Ini nih contoh pria sejati! Bukan yang bisanya cuma maksa-maksa terus buang orang sembarangan!"
Lyra menyandarkan punggungnya ke jok mobil yang empuk, merasa sangat kontras dengan suasana di mobil Pharma tadi yang penuh hawa "setan".
"Tapi serius Pak, Bapak mau ke istana pake mobil biasa begini? Nggak pake motor polisi yang 'ngeng ngeng' itu?" tanya Lyra asbun, tangannya sibuk membetulkan kuncir rambutnya yang makin acak-acakan.
"Ini mobil dinas penyamaran," jawab Magnus singkat. "Dan karena saya sudah hampir terlambat ke istana, saya tidak bisa mengantar kamu ke hotel dulu. Hotelmu searah dengan istana?"
Lyra meringis. "Waduh, hotel gue justru arah baliknya, Pak. Dekat Chelsea."
Magnus terdiam sejenak, lalu menatap jam di pergelangan tangannya. "Kalau begitu, hanya ada satu pilihan. Kamu ikut saya ke area parkir VIP istana, saya akan minta anak buah saya mengantar kamu pulang setelah saya masuk ke dalam. Tidak aman jika saya menurunkan kamu lagi untuk mencari taksi di jam segini."
(ANJIRRR!!) Lyra hampir lompat dari kursi. (GUE TETEP KE ISTANA?! PAKE PIYAMA?! SAMA INSPEKTUR MAGNUS?!)
"E-eh... Bapak serius? Nanti kalau Pharma liat gue turun dari mobil Bapak, dia bisa kena serangan jantung mendadak loh Pak. Walaupun sebenernya gue seneng sih liat dia mampus," ceplos Lyra sambil nyengir lebar.
Magnus tidak menanggapi lelucon Lyra, tapi dia mempercepat laju mobilnya. "Biarkan saja dia melihat. Keselamatan warga sipil lebih penting daripada ego atasanmu."