Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1: Akhir Di Panggung Eksekusi
Lantai batu di penjara bawah tanah Kekaisaran Valtia itu terasa begitu dingin, seolah sedang menyedot sisa-sisa kehangatan dari tubuh Rubellite. Di sudut sel yang lembap, ia meringkuk memeluk lututnya yang gemetar.
"Apakah... aku memang tidak pantas untuk dicintai sedikit pun?" bisiknya pada kegelapan. Suaranya serak, hancur oleh keputusasaan.
Tap. Tap. Tap.
Gema langkah kaki sepatu bot yang berat memecah keheningan. Seorang penjaga dengan seringai merendahkan berdiri di balik jeruji besi.
"Hey, lihatlah dirimu, Putri Palsu," ejek sang penjaga. Suara tawanya bergema kasar, menusuk telinga.
"Jangan membuang air matamu sekarang. Kau harus menyimpannya untuk di atas panggung eksekusi nanti. Kau akan mati sebentar lagi."
Wajah Rubellite yang semula tenang seketika pucat pasi. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Selama ini, ia hanya mendambakan sepercik kasih sayang, sebuah pengakuan bahwa ia ada. Namun, takdir justru menyeretnya ke ambang maut sebagai pendosa yang tak dimaafkan.
Tubuh lemahnya diseret paksa keluar dari kegelapan penjara. Cahaya matahari yang menyilaukan menyambutnya, namun tidak membawa kehangatan. Di sepanjang jalan menuju panggung pemenggalan, lautan rakyat telah menunggu.
"Dasar penipu!"
"Mati saja kau, putri pembawa sial!"
Hujan makian dan batu mulai menghujani tubuhnya. Satu lemparan keras menghantam keningnya, membuat cairan merah kental mengalir menutupi pandangannya.
"Mata yang dulunya bersinar terang bak permata itu kini mulai meredup dan kehilangan cahayanya."
Di tengah pandangannya yang mulai kabur oleh darah, Rubellite mendongak, menatap langit yang seolah-olah sedang menertawakan kemalangannya. Namun, bayangan besar menutupi cahaya matahari. Di sana, berdiri sosok agung dengan jubah kebesaran yang berkibar ditiup angin dingin. Sang Kaisar, penguasa Valtia—ayahnya.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Rubellite merangkak mendekat, jemarinya yang gemetar berusaha menggapai ujung jubah sang ayah.
"Ayahanda..." suaranya parau, tercekik oleh isak tangis. "Hamba memohon... hamba tidak melakukan noda yang mereka tuduhkan.
Tidakkah ada sedikit pun ruang bagi kejujuran hamba di dalam hati Baginda?"
Alih-alih uluran tangan atau tatapan iba, yang ia terima adalah kilatan kemurkaan.
PLAK!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Rubellite hingga kepalanya terhentak ke lantai kayu yang kasar. Rasa panas menjalar di wajahnya, namun itu tak sebanding dengan rasa hancur yang merobek jiwanya. Baginya, tamparan itu bukan sekadar luka fisik, melainkan lonceng kematian bagi harapan terakhirnya untuk dicintai.
Seluruh perjuangannya selama bertahun-tahun untuk mendapatkan pengakuan, perhatian, dan kasih sayang, musnah seketika dalam satu ayunan tangan.
Rubellite mengalihkan pandangannya yang basah ke arah tribun kerajaan, tempat keluarga kekaisaran duduk menyaksikan. Ia mencari secercah belas kasihan pada wajah saudara-saudaranya. Namun, ia hanya menemukan tatapan sinis yang penuh rasa jijik.
"Bahkan sang Kakak, yang dulu pernah berjanji akan selalu melindunginya, kini melemparkan sepasang sarung tangan—hadiah yang pernah dirajut Rubellite dengan penuh cinta—ke arahnya. Benda itu mendarat di genangan darah, sementara sang Kakak memalingkan wajah seolah melihat kotoran yang paling menjijikkan di muka bumi."
Di saat itulah, dunia Rubellite benar-benar runtuh. Tidak ada lagi tempat baginya untuk pulang.
"pandangan Rubellite benar-benar kosong. Detak jantungnya yang semula berpacu liar, kini terasa datar. Bagian di dalam dirinya yang selama ini masih berharap, telah mati."
Sang Kaisar berbalik, suaranya menggelegar dingin, memerintah para ksatria yang berjaga di sisi panggung.
"Bungkam mulut pengkhianat ini segera. Jahit mulutnya agar tak ada lagi dusta yang keluar untuk mencemari udara kekaisaran ini!"
Titah kejam itu membuat kerumunan terkesiap, namun tak ada yang berani melawan. Saat para penjaga mencengkeram tubuhnya dan ia dipaksa berlutut di bawah bayang-bayang bilah pisau yang dingin, sebuah suara menggelegar membelah riuh rendah kerumunan.
Suara seorang pria misterius dengan nada sedih berteriak.
"Berhenti! Apapun yang terjadi, aku tetap mempercayainya!"
Rubellite tersentak. Suara itu... Namun, sebelum ia sempat menoleh, suara gesekan logam yang tajam terdengar. Rasa dingin yang luar biasa menjalar di lehernya, diikuti kegelapan total yang abadi.