NovelToon NovelToon
Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amha Amalia

Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?

Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.

Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.

=-=-=

"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.

"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.

"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.

=-=-=

Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?

=-=-=

Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.

LOVE YOU~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan

*

Waktu terus berlalu, langit yang begitu cerah kini berganti gelap memperlihatkan benda langit yang begitu indah. Bulan purnama sempurna, bintang-bintang yang begitu ramai menghiasi langit malam.

Raya mengayuh sepedanya dengan santai melewati pinggiran jalan. Sesekali bersenandung menikmati pemandangan kota yang indah. Jarak rumahnya dengan rumah Pipit hampir dua kilometer. Pipit sendiri sudah menawari ingin mengantar pulang dengan mengendarai motor, namun Raya menolak dan lebih memilih mengayuh sepedanya.

*

Di kejauhan Jessie mengendarai mobil Porsche 911 mode atap terbuka dengan kecepatan penuh, membiarkan angin menerpa wajah, suasana hatinya belum membaik, ia menyalakan musik secara acak pada mobilnya. Lagu yang menyayat hati berputar seolah mengerti dirinya sedang tidak baik-baik saja.

"Kenapa Papa gak bisa ngertiin gue? Papa selalu sibuk ke Luar Negeri, ninggalin istrinya buat jaga gue? Cih... Gue gak suka sama dia. Dia merebut Papa." Gumam Jessie menahan kesal.

"Untuk apa kaya kalau kesepian? Gue cuma ingin di perhatikan, bukan pergi lama lalu datang sejenak hanya untuk memarahi. Gue kangen sama Mama yang selalu ada buat gue, andai aja Mama disini."

*

Pandangan Raya menatap kagum pada cahaya pemandangan di langit, ribuan Bintang bersinar terang. Mata Raya membelalak, ia melihat sesuatu jatuh dari langit. Apakah itu Bintang jatuh? Terlintas dalam pikiran ucapan Pipit mengenai do'a akan di kabulkan saat melihat Bintang jatuh. Ia terkekeh sendiri tidak percaya, itu lelucon yang lucu.

"Dasar Pipit. Apa mungkin aku jadi kaya? Jika iya, pasti langsung heboh satu dunia xixii." Raya terkekeh sendiri.

Tanpa Raya sadari, ia mengayuh sepeda hampir menengah karena terlalu fokus mendongak menatap Bintang jatuh.

"Hah?!"

Jessie yang sedang melaju kecepatan penuh begitu terkejut, ia menekan klakson. Raya pun terkejut ingin menghindar.

BRAK!

Terlambat! Mobil milik Jessie sudah menabrak sepeda Raya hingga Raya terpental, sedangkan Jessie hilang kendali, ia menabrak trotoar dan membuat mobilnya terguling beberapa meter ke depan. Jessie pun terpental keluar mobil karena dia tidak memakai sabuk pengaman.

Mobil Jessie meledak, suaranya begitu kencang dan menggema di area sekitar. Jessie dan Raya terpental, terbaring beriringan di aspal dengan banyak darah keluar dari kepala, hidung serta lecet di sekujur tubuh. Tangan mereka bersentuhan. Sedikit memiliki kesadaran, mereka melirik satu sama lain dengan ekor matanya. Tatapan yang lemah, bibir sulit berucap, hati pun seolah membisu. Perlahan mereka berdua kehilangan kesadaran penuh.

*

*

Jessie dan Raya segera di larikan ke rumah sakit terdekat oleh warga sekitar. Kedua brankar tempat berbaring di dorong cepat menuju ruang perawatan darurat.

"Astaga, dia kan Nona Jessie." Seru salah satu Dokter pria setelah mendekat.

"Anda mengenalnya, Dokter Burhan?" Tanya Dokter lainnya.

"Iya, dia putri Tuan Ardi. Orang berpengaruh di kota ini. Cepat siapkan ruang VIP." Jawab Dokter Burhan memberi perintah "Hubungi keluarganya."

"Lalu siapa gadis ini?" Perawat lain bertanya melirik Raya yang terbaring di brankar belakang mereka.

Dokter Burhan meliriknya, melihat sebuah tas di atas brankar "Saya tidak tahu. Pasti ada identitas dalam tasnya. Mungkin Ponsel." Jelas Dokter Burhan "Lakukan saja tindak Operasi yang terbaik, urusan administrasi belakangan yang terpenting nyawa pasien."

Para perawat mengangguk. Menuruti Dokter Burhan yang menjabat sebagai kepala Dokter.

Operasi di lakukan, kondisi Jessie dan Raya tidak bisa di katakan baik. Mereka terluka parah dan banyak darah keluar, semua Dokter juga perawat melakukan tindakan operasi untuk menghentikan pendarahan.

Seorang wanita paruh baya berlari tergesa memasuki area rumah sakit menenteng tas tidak terlalu besar.

"Selamat datang Bu, ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis itu bertanya sopan saat melihat wanita itu menghampiri.

"Maaf, tadi saya dapat telfon dari rumah sakit ini jika anak saya baru saja kecelakaan. Dimana anak saya?" Tanya wanita itu, raut wajah sangat cemas.

"Mohon maaf, dengan saudara siapa dan siapa anak ibu? Soalnya ada dua pasien yang kecelakaan." Tanya Resepsionis sopan.

"Saya Indah Puspita, anak saya Raya Azzahra."

Resepsionis yang berjaga mengerti "Baik Bu Indah, Apa ini Handphone dan Tas anak ibu?" Dia memberikan tas beserta Handphone milik Raya.

"Iya benar, ini punya anak saya." Seru Bu Indah, ia semakin cemas padahal tadi berharap salah orang.

"Anak ibu ada di ruang Operasi." Jelas Resepsionis, membuat wanita itu membelalak "Mohon untuk di isi data pasien terlebih dahulu, masalah pembayaran bisa dibicarakan nanti." Ia menyerahkan berkas serta bolpoin padanya.

Bu Indah langsung menerima dan segera mengisi data pasien lengkap.

Saat dia fokus mengisi data, dua orang paruh baya mendatangi Resepsionis. Berdiri di samping Bu Indah.

"Pak, Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Resepsionis sopan sambil mengatupkan kedua tangan.

"Kami orangtua Jessie Cassandra, Dokter Burhan memberitahu jika anak kami kecelakaan." Ujar Tuan Ardi.

"Tuan, anak anda sedang menjalani operasi." Ujar Resepsionis.

"Apa?! Lukanya separah itu?" Pekik Nyonya Linda.

"Maaf saya tidak bisa mengkonfirmasi, anda bisa menanyakan langsung pada Dokter yang bersangkutan." Jelas Resepsionis.

"Dimana ruangannya?" Tanya mereka bersamaan dengan Bu Indah yang sudah selesai mengisi data.

Sedangkan orangtua Jessie tidak perlu mengisi data, karena Jessie selalu rutin kontrol kesehatan di rumah sakit itu, jadi sudah pasti datanya lengkap.

Resepsionis itu melirik orangtua Raya dan Jessie bergantian "Pasien atas nama Raya Azzahra ada di ruang Operasi nomor tujuh, sedangkan atas nama Jessie Cassandra di ruang Operasi nomor satu." Jelasnya dengan amat sopan "Kedua ruangan ada di lantai empat."

"Terimakasih."

Mereka segera bergegas menuju lantai empat. Tuan Ardi dan Nyonya Linda menuju Lift, sedangkan Bu Indah berniat menuju tangga.

"Bu, anda mau kemana?" Tanya Nyonya Linda, ia mendengar Resepsionis mengatakan ruangan yang mereka tuju ada di lantai empat. Tapi tak mengerti kenapa arah wanita itu tidak menuju lift.

"Saya ingin menaiki tangga." Ujar Bu indah, dia tidak terbiasa menaiki lift.

"Astaga, itu melelahkan jika naik tangga. Kita naik lift bareng saja." Ajak Nyonya Linda, belum sempat Bu Indah menolak, dia kembali berucap "Anda ingin cepat sampai kan? Ayo bareng kami saja. Lagipula kita sama turun di lantai empat. Tidak apa kan Mas jika dia bareng?" Dia melirik suaminya meminta pendapat.

"Iya." Balas Tuan Ardi mengangguk.

"Terimakasih." Bu Indah sedikit menunduk, ia memang ingin cepat sampai untuk menemui putrinya.

Setelah itu, mereka bertiga bergegas menaiki lift menuju lantai empat. Setelah berada di lantai empat, Bu Indah tidak lupa berterimakasih pada mereka lalu mencari ruangan operasi nomor tujuh.

Ruang Operasi berurutan, paling depan nomor satu dan paling ujung nomor tujuh. Masih ada beberapa ruang operasi tergantung penyakit pasien.

Lampu depan ruang Operasi berwarna hijau, menandakan jika di dalam sedang ada operasi. Waktu terus terjalan, jam berganti jam hingga tak terasa tiga jam berlalu namun operasi tak kunjung usai.

"Kenapa lama sekali? Apa Jessie baik-baik saja?" Wajah Nyonya Linda terlihat cemas, ia meremas kedua jari yang terasa dingin.

"Ini salahku. Seharusnya aku tidak lepas kendali dan memarahinya, mungkin dia tidak akan pergi mengebut di jalanan." Tuan Ardi mengusap wajahnya kasar, ia sangat merasa bersalah. Ia tahu jika dirinya memang kurang memperhatikan Jessie, terlalu sibuk bekerja, dia akan pulang jika Jessie membuat masalah.

Tuan Ardi memanjakan Jessie, setiap Jessie berbuat masalah pasti langsung ia bereskan secara bersih. Namun ia tetap memarahi Jessie jika berbuat hal yang membahayakan keselamatan orang lain.

Setelah menunggu beberapa jam, lampu ruang Operasi berubah warna merah menandakan operasi telah berhenti. Jantung Tuan Ardi berdegup cepat, pikirannya was was takut terjadi hal buruk pada darah dagingnya.

Dokter Burhan keluar dengan baju operasi berlumuran darah, ia yang memimpin jalannya Operasi anak dari kenalannya.

"Dokter Burhan, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Tuan Ardi to the point.

"Syukurlah, operasinya berjalan lancar." Dokter Burhan menjelaskan, kedua orangtua Jessi merasa sedikit lega "Pendarahan memang bisa kami hentikan, tapi kondisinya masih kritis."

Degh!

Bagai tersambar petir, hati Tuan Ardi terasa sangat nyeri. Dalam kondisi seperti ini, wajahnya sama sekali tidak mencerminkan Penguasaha yang hebat. Dia seperti seorang ayah yang rapuh.

"Untuk sementara kami akan memindahkan Nona Jessie di ruangan VIP. Kami akan terus mengontrol kondisinya." Ujar Dokter Burhan bersikap profesional.

"Lakukan yang terbaik Dok." Pinta Nyonya Linda, matanya berkaca-kaca.

"Pasti Nyonya." Dokter Burhan mengangguk.

Disisi lain tepatnya di depan ruang Operasi nomor tujuh juga terjadi hal yang sama. Bu Indah baru saja menerima penjelasan dari Dokter, air matanya keluar begitu saja tanpa ijin.

"Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat." Ucap Dokter sedikit tua dengan tegas.

"Tapi anak saya akan baik-baik saja kan Dok?" Tanya Bu Indah penuh harap.

"Saya tidak bisa menganalisis sekarang, tapi saya akan melakukan yang terbaik. Prinsip saya sebagai Dokter adalah keselamatan pasien nomor satu." Balas Dokter itu.

Bu Indah mengangguk paham, ia juga tidak bisa berbuat apapun selain memanjatkan do'a untuk kesembuhan anak tunggalnya.

...----------------...

1
rhenha 123
lanjut thor
•🌻 𝓼𝓾𝓷𝓯𝓵𝓸𝔀𝓮𝓻𝓼 🌻•
yaa tak kirainn chatstory🥲 KAPANN BUAT CS LGII THORR🤧
Amha amalia: lagi pengin buat novel kakak😌😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!