NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekalahan di Broken Reed Bend

Mereka berangkat sebelum fajar.

Kabut masih tebal di atas sungai ketika Shou Wei tiba di dermaga belakang kompleks rumah lelang. Perahu yang menunggu di sana lebih baik dari perahu Han Lu sebelumnya—lebih panjang, lambungnya diperkuat logam tipis, dan di bagian bawah sudah dipasang dua stability plates kecil khas pengiriman barang bernilai. Tidak mencolok, tapi jelas bukan milik pemburu sungai biasa.

Han Lu sudah ada di sana.

Guo Fen memeriksa tali dan tombak kait.

Dan bersama mereka berdiri dua orang lain yang tidak dikenal Shou Wei.

Yang pertama pria setengah baya bertubuh tegap, berwajah keras, dengan pedang lurus di punggung dan lengan kiri dibalut pelindung kulit hitam. Aura qi di tubuhnya jauh lebih stabil daripada rogue cultivators yang pernah dilihat Shou Wei. Setidaknya Foundation Establishment yang matang.

Yang kedua seorang wanita tinggi berusia sekitar tiga puluhan, rambutnya diikat ketat, membawa tombak pendek dan tiga jarum panjang di sabuk. Tatapannya dingin dan hemat gerak.

Han Lu melihat Shou Wei datang dan mengangkat dagu.

“Dua orang rumah lelang,” katanya. “Qiao Sen dan Ming Yue. Jangan tanya terlalu banyak. Mereka dibayar untuk memastikan kita tidak mati terlalu cepat.”

Qiao Sen hanya mengangguk satu kali.

Ming Yue melirik Shou Wei dari atas ke bawah. “Ini bocahnya?”

“Ya.”

“Kelihatan ringan. Bagus. Kalau harus ditarik keluar sungai, tidak terlalu merepotkan.”

Itu mungkin lelucon.

Mungkin juga tidak.

Shou Wei naik ke perahu tanpa membalas. Di bawah jubahnya, marker kayu dan fragmen logam hitam disimpan terpisah, dibungkus dua lapis kain. Tidak ada yang tahu ia membawa keduanya kecuali Lan Xue.

Atau setidaknya, begitulah yang ia kira.

Perahu mulai bergerak.

Tidak ada yang banyak bicara selama perjalanan pertama. Langit perlahan memutih. Sungai melebar, lalu menyempit lagi saat mereka meninggalkan jalur utama menuju cabang utara. Han Lu memegang kemudi belakang. Guo Fen di depan. Qiao Sen duduk diam seperti patung, tapi satu tangannya selalu dekat ke gagang pedang. Ming Yue justru berdiri, seimbang di perahu sempit seolah tanah dan air tak terlalu berbeda baginya.

Shou Wei menggunakan waktu itu untuk menenangkan napas.

Tarik.

Tahan.

Turunkan.

Putar.

Lepaskan.

Kabut qi pagi masuk tipis. Darah naga di tubuhnya tenang, namun setiap kali arus sungai mengubah arah, ada getaran samar dari marker kayu di balik bajunya. Ia bisa merasakan mereka mendekati jalur yang sama.

Semakin dekat ke Broken Reed Bend, udara makin berat.

Bukan hanya karena lumpur dan air rawa.

Ada sesuatu yang lain.

Seolah ada yang mengundang shou untuk menyelam tetapi tidak tahu itu apa. Ada yang aneh... ada tanda-tanda yang tidak jelas. Shou wei mengbaikannya.

Jejak qi yang sudah dibangunkan lebih dulu.

Han Lu juga merasakannya. Wajahnya mengeras. “Kita terlambat.”

Guo Fen mendecak. “Aku bilang bocah pasar itu akan bergerak cepat.”

Ming Yue menoleh sedikit. “Wei Kuan?”

Han Lu mengangguk.

Qiao Sen akhirnya angkat suara untuk pertama kali, tenang dan berat. “Kalau dia sudah memicu sesuatu, kita ambil orang dan mundur. Jangan paksakan rahasia yang belum siap dibawa.”

Kalimat itu jelas bukan untuk Han Lu saja.

Itu juga untuk Shou Wei.

Tapi sebelum siapa pun sempat menanggapi, perahu mereka keluar dari dinding buluh dan pemandangan Broken Reed Bend terbuka di depan.

Lambung kapal tua itu kini lebih runtuh dari sebelumnya.

Bagian kanan hampir tenggelam penuh.

Air di sekitarnya membentuk pusaran kecil-kecil yang tidak wajar, seolah sesuatu di bawah permukaan sedang menarik dan melepas arus secara ritmis.

Dan di atas tebing miring sebelah kiri, dekat rongga batu yang setengah tertutup akar, berdiri tiga sosok.

Wei Kuan.

Dua pria bayaran berpakaian gelap.

Salah satunya memegang rantai besi dengan kait melengkung.

Yang satu lagi membawa busur pendek.

Di kaki mereka, di depan rongga batu, tampak garis-garis cahaya redup membentuk lingkaran setengah aktif di atas batu basah.

Jantung Shou Wei berdetak lebih keras.

Mereka sudah menemukan entry point.

Wei Kuan menoleh saat perahu mereka muncul. Tidak ada kejutan di wajahnya. Seolah ia memang sudah memperkirakan salah satu pihak akan datang.

“Kalian terlambat,” katanya dari atas tebing.

Han Lu berdiri di perahu dan membalas kasar, “Belum cukup terlambat untuk menguburmu.”

Wei Kuan tersenyum tipis. “Aku menghargai semangat itu.”

Lalu matanya jatuh ke Shou Wei.

Dan untuk pertama kalinya, senyumnya benar-benar hilang.

Karena di saat yang sama, marker kayu di bawah baju Shou Wei bergerak dingin.

Dan marker kayu milik Wei Kuan, yang tergantung di sabuknya, menyala samar.

Keduanya saling mengenali.

Ming Yue langsung melompat turun ke tepian batu, disusul Qiao Sen. Han Lu dan Guo Fen juga bergerak. Hanya Shou Wei yang berhenti setengah langkah, memandang lingkaran cahaya di depan rongga batu.

Itu bukan formasi lengkap.

Hanya pembukaan awal.

Tapi jelas dibangun dengan:

satu marker kayu,beberapa fragmen jalur,dan qi air yang dipaksa bangun dari pusaran bawah.Masalahnya, Wei Kuan tidak benar-benar tahu cara menstabilkannya.

Shou Wei langsung melihat itu.

Simpul kiri terlalu tegang.

Jangkar bawah belum sinkron.

Kalau dipaksa terus, pintu bisa terbuka...

atau meledak.

“Awas!” teriaknya.

Terlambat.

Salah satu pria bayaran Wei Kuan menanam kait besi ke pinggir lingkaran batu, mencoba menarik salah satu node keluar lebih cepat.

Seluruh tebing bergetar.

Air di bawah lambung kapal meledak ke atas.

Dan pertarungan pun pecah.

Pria pemanah di sisi Wei Kuan menembak lebih dulu. Tiga anak panah hitam melesat rendah, bukan ke Han Lu atau Qiao Sen, melainkan ke kaki-kaki mereka—anak panah penahan, ingin memecah formasi maju. Ming Yue berputar di udara dan memukul dua anak panah dengan tombak pendeknya, tapi satu lagi menghantam batu dan meledak menjadi jaring kawat tipis yang menjebak langkah Guo Fen.

Han Lu menerjang pria rantai tanpa menunggu. Tombak kait menghantam besi kait lawan, memercikkan api kecil. Guo Fen mengumpat sambil merobek jaring itu dengan paksa. Qiao Sen melangkah lebih tenang, pedangnya keluar setengah dan qi di sekeliling tubuhnya menekan udara seperti bilah tak terlihat.

Wei Kuan sendiri tidak langsung turun.

Ia justru mundur setengah langkah ke lingkaran batu dan mengangkat tiga bendera formasi kecil dari lengan bajunya.

Shou Wei langsung mengerti.

katanya cepat. “Dia menutup medan!”

Tiga bendera itu jatuh ke batu basah dan menyala sekaligus.

Kabut dari sungai mendadak naik seperti dinding.

Bukan kabut alam lagi.

Kabut array.

Pandangan pecah.

Suara jadi teredam.

Han Lu yang tadi hendak menekan pria rantai mendadak kehilangan arah lawan sepersekian detik. Cukup untuk menerima sabetan kait di bahu. Darah langsung menyembur.

Guo Fen meraung dan menghantam jaring putus, tapi pria pemanah sudah berpindah posisi di balik kabut. Satu anak panah menghantam pahanya. Tidak dalam, tapi cukup membuatnya pincang.

Ming Yue mencoba menerobos langsung ke arah Wei Kuan, namun kabut menyesatkan jarak. Tombaknya hanya menembus bayangan. Sesaat kemudian, dua jarum hitam dari sisi lain hampir mengenai lehernya kalau Qiao Sen tidak menebas udara dan memecah lintasan qi jarum itu.

Shou Wei berdiri di pinggir pertarungan, jantung berdetak keras.

Ini bukan duel pasar.

Ini bukan bentrokan scraps.

Ini pertarungan sungguhan.

Dan tim mereka... kalah inisiatif.

Wei Kuan memilih medan lebih dulu.

Memicu entry point lebih dulu.

Menempatkan bendera kabut lebih dulu.

Mereka datang untuk menyusul.

Ia datang untuk membuka.

Shou Wei memaksa dirinya fokus.

Kabut array Wei Kuan bukan terlalu kuat.

Masih kasar.

Masih bergantung pada qi air liar dari sekitar.

Kalau dia bisa memotong jangkar kirinya, seluruh dinding kabut akan miring.

Tapi untuk mencapai titik itu, ia butuh mendekat.

Terlalu dekat.

Sementara di depannya, Han Lu dan Guo Fen sudah mulai didorong mundur. Qiao Sen memang kuat—setiap tebasannya membelah kabut dan memaksa pria rantai mundur—namun ia harus melindungi tiga orang yang jelas lebih lemah darinya. Ming Yue bergerak cepat, tapi medan basah dan kabut buatan membuat keunggulannya tidak penuh.

Dan tepat saat mereka masih bertahan, sesuatu yang lebih buruk bangun dari bawah.

Pusaran di kaki tebing menggelembung.

Lalu kepala berlendir besar menerobos air.

River Gnawer tua itu kembali.

Bukan sendiri.

Di belakangnya muncul bayangan kedua, lebih kecil tapi lebih cepat, menyapu air seperti ular hitam tebal. Dua beast sungai sekaligus terbangun oleh resonansi entry point yang dipaksa terbuka.

Guo Fen memaki keras. “SIAL!”

River Gnawer besar langsung menghantam tepi batu tempat mereka berdiri. Satu sapuan ekornya membuat Guo Fen terpental sampai menghantam lambung kapal tua yang tersisa. Pria itu jatuh berguling dan tidak langsung bangun.

Han Lu berusaha menahan beast kecil dengan tombak kait, tapi pria rantai Wei Kuan memotong dari samping. Han Lu nyaris kehilangan leher kalau tidak menunduk tepat waktu. Kait besi merobek pipinya sampai darah mengalir ke leher.

Shou Wei melihat semuanya dengan dingin yang semakin berat di dada.

Mereka kalah.

Bukan karena lemah sepenuhnya.

Tapi karena datang terlambat, masuk ke medan yang sudah disiapkan, dan masih harus menghadapi beast yang dibangunkan lawan.

Qiao Sen akhirnya mengeluarkan pedangnya penuh.

Qi tajam meledak.

Tebasan lurusnya membelah kabut dan memaksa pria pemanah mundur sambil muntah darah.

Tapi tepat saat itu Wei Kuan menekan satu bendera terakhir ke batu dan entry point di tebing berdenyut lebih terang.

Kabut makin tebal.

Arah makin kacau.

Shou Wei tahu kalau ini terus dibiarkan, mereka bukan hanya kalah.

Mereka akan habis.

Ia mengambil keputusan.

Dengan satu gerakan cepat, ia mengeluarkan marker kayu dan fragmen logam hitam dari balik bajunya, lalu mendorong qi ke keduanya sekaligus.

Darah naga di tubuhnya bangkit.

Sisik samar muncul sebentar di bawah lengan baju.

Marker dan fragmen itu langsung beresonansi.

Air di sekitar kaki tebing membentuk lengkung kecil.

Kabut Wei Kuan goyah sepersekian detik.

“Qiao Sen! Kiri bawah!” teriak Shou Wei.

Veteran itu langsung menangkap maksudnya.

Satu tebasan qi menghantam jangkar kiri bawah kabut.

Bendera formasi di sana retak.

Kabut pecah setengah.

Untuk sesaat, medan jadi jelas.

Dan di saat yang sangat singkat itulah semua orang melihat hal yang sama:

di dalam rongga batu di tebing, di balik entry point yang separuh terbuka, ada kilatan biru gelap seperti air yang memantulkan langit malam di siang hari.

Rahasia itu nyata.

Semua orang langsung bergerak lebih ganas.

Wei Kuan sendiri akhirnya turun.

Bukan ke Qiao Sen.

Bukan ke Han Lu.

Langsung ke Shou Wei.

Ia tahu sekarang.

Bocah ini benar-benar memegang potongan yang melengkapi jalurnya.

“Kau seharusnya tinggal di pasar kecil,” katanya dingin.

Dua bendera formasi kecil meluncur dari lengan bajunya ke tanah. Pola kabut tipis membentuk jebakan setengah lingkar di sekitar Shou Wei. Pria rantai juga bergerak serong, memotong jalur mundur.

Shou Wei mundur satu langkah, mengaktifkan pelat kabut kecil dari kitab kuno. Lapisan blur tipis muncul. Tidak cukup untuk melawan formasi tempur penuh, tapi cukup untuk membuat satu langkahnya terlihat salah arah.

Wei Kuan tetap lebih cepat.

Satu garis qi dari ujung benderanya merobek blur itu seperti kertas basah.

Shou Wei mengangkat fragmen logam hitam, mencoba memancing resonansi balik ke entry point.

Bisa.

Tapi terlalu lambat.

Pukulan qi Wei Kuan menghantam dadanya seperti kayu basah dilempar batu besar.

Napasnya putus.

Tubuhnya terpental ke batu tebing.

Rasa logam langsung memenuhi mulut.

Itu bukan luka parah.

Tapi cukup untuk membuatnya sadar sejelas-jelasnya:

dia masih terlalu lemah.

Segala mata, segala analisis, segala utility marks...

tak ada artinya kalau lawan cukup cepat dan cukup kuat untuk menembus sebelum ia selesai berpikir.

Wei Kuan melangkah maju, marker kayu di sabuknya menyala samar. Matanya dingin sekali sekarang.

“Berikan.”

Shou Wei mencoba bangun.

Qi di dadanya kacau.

Darah naga ingin melonjak, tapi tubuhnya belum siap memakainya penuh.

Di sisi lain, Han Lu sudah berlutut satu kaki, Guo Fen masih terengah di dekat kapal, Ming Yue berdarah di lengan, dan bahkan Qiao Sen mulai terdorong mundur oleh kombinasi dua bayaran dan beast sungai.

Tim mereka benar-benar dikalahkan.

Dan saat Wei Kuan mengangkat satu bendera kecil terakhir—jelas untuk memaksa marker Shou Wei bereaksi atau memotongnya dari entry point—Shou Wei tahu dalam satu napas lagi semuanya bisa berakhir sangat buruk.

Lalu bayangan turun dari atas.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada ledakan.

Hanya tekanan.

Tekanan berat dan dingin jatuh ke seluruh tebing seperti langit menekan dari atas.

Semua orang membeku sepersekian detik.

Beast sungai merendahkan kepala.

Kabut sisa langsung pecah.

Air di bawah pusaran tenggelam mendadak rata seolah takut bergerak.

Di antara Shou Wei dan Wei Kuan kini berdiri seorang pria berjubah abu-abu gelap.

Wajahnya biasa.

Terlalu biasa.

Sehingga justru membuatnya menyeramkan.

Ia memegang tombak hitam pendek tanpa hiasan. Aura qi di tubuhnya sangat dalam, sangat stabil, dan jauh di atas siapa pun di tebing itu. Bahkan Qiao Sen yang sejak tadi paling kuat di pihak mereka langsung mundur setengah langkah dan menunduk sedikit.

“Senior Mo,” katanya.

Jadi ini orang rumah lelang.

Wei Kuan benar-benar kehilangan warna untuk pertama kalinya.

Pria berjubah abu-abu itu tidak menatap siapa pun lama. Hanya bicara satu kalimat, suaranya datar seperti batu tenggelam.

“Tugas saya melindungi anak itu. Siapa pun yang maju lagi, mati.”

Tidak keras.

Tidak meledak.

Tapi begitu jelas sampai bahkan River Gnawer besar mundur sedikit ke air.

Shou Wei yang masih setengah terhuyung menatap punggung pria itu.

Lan Xue.

Ternyata ia benar-benar menempatkan bayangan untuknya.

Bukan pengawal biasa.

Bukan orang yang disebut-sebut di depan.

Tapi pisau tersembunyi yang baru muncul saat segalanya hampir terlambat.

Wei Kuan menggertakkan gigi. “Blue River Auction House menaruh penjaga setingkat ini hanya untuk bocah?”

Pria berjubah abu-abu itu tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia melangkah satu kali.

Hanya satu.

Tapi qi dari langkah itu saja sudah membuat batu tebing retak halus.

Pria rantai dan pemanah langsung mundur hampir bersamaan.

Beast sungai menyelam setengah tubuh ke air.

Qiao Sen mengambil kesempatan itu dan menarik Han Lu mundur.

Ming Yue menyeret Guo Fen yang masih setengah pusing.

Shou Wei sendiri memaksa tubuhnya berdiri penuh, meski dadanya masih terasa seperti dipukul batu.

Pertarungan selesai.

Bukan karena mereka menang.

Tapi karena mereka diselamatkan dari kekalahan yang akan berubah jadi pembantaian.

Wei Kuan melihat semua itu. Matanya gelap dan sangat hidup sekarang. Ia menatap Shou Wei cukup lama, lalu menatap entry point yang masih berdenyut di rongga batu. Dalam satu detik, ia harus memilih:

melawan pengawal tingkat tinggi rumah lelang dan mati,

atau mundur dengan tangan masih cukup utuh untuk kembali lain waktu.

Ia memilih benar.

“Retreat,” katanya pendek.

Dua bayaran segera mundur ke samping tebing. Wei Kuan sendiri melangkah terakhir, matanya tetap pada Shou Wei.

“Kau beruntung,” katanya dingin.

Shou Wei berdiri dengan darah di bibir. “Hari ini.”

Sudut bibir Wei Kuan bergerak sedikit. “Ya. Hari ini.”

Lalu ia pergi, menghilang ke kabut buluh bersama dua orangnya sebelum siapa pun mencoba mengejar.

Pria berjubah abu-abu baru menoleh setelah mereka benar-benar hilang.

“Bodoh,” katanya.

Tidak jelas itu untuk siapa.

Mungkin untuk semua orang di tebing.

Han Lu tertawa pendek meski wajahnya penuh darah. “Kalau tidak bodoh sedikit, kami takkan datang ke sini.”

Pria itu tidak tertawa.

Tidak memperkenalkan diri.

Tidak memberi penjelasan.

Ia hanya memandang entry point yang masih berdenyut samar, lalu berkata, “Titik ini tidak stabil. Bawa semua yang bisa dibawa. Kita pulang.”

Tak seorang pun membantah.

Mereka pulang dalam keadaan kalah.

Itu fakta yang tak bisa ditutupi dengan apa pun.

Mereka tidak merebut entry point.

Tidak menembus rongga batu.

Tidak menangkap Wei Kuan.

Tidak membuka rahasia sungai.

Yang mereka dapat hanya:

tubuh penuh luka,satu bukti bahwa entry point itu nyata,dan kesadaran telanjang bahwa tanpa pengawal bayangan rumah lelang, mereka mungkin sudah mati di tebing itu.Di perahu pulang, tidak banyak suara.

Guo Fen duduk membungkus pahanya sambil mengumpat pelan setiap beberapa napas.

Han Lu menutup luka pipinya dengan kain.

Ming Yue tetap diam seperti biasa, tapi bahunya ditahan terlalu kaku.

Qiao Sen mengemudi perahu dengan wajah seperti batu.

Pria berjubah abu-abu berdiri di buritan tanpa bicara satu kata pun.

Shou Wei duduk di tengah, memegangi dada yang masih nyeri.

Ia tidak malu karena kalah.

Ia juga tidak marah pada Han Lu, Ming Yue, atau Qiao Sen.

Ia hanya melihat kenyataan dengan sangat jelas:

matanya cukup baik untuk melihat peluang.

tapi kekuatannya belum cukup untuk menahannya.

Di dunia kultivasi, itu berarti satu hal:

suatu hari nanti, kalau ia tidak tumbuh lebih cepat dan lebih keras, orang lain akan terus datang, membaca setengah langkahnya, lalu memukulnya jatuh sebelum ia bisa membuka apa yang ada di depan mata.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!