NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pembalikan Takhta

Raungan mesin Lamborghini Aventador berwarna hitam dop itu terdengar seperti jeritan monster purba yang sedang mengamuk di tengah hutan beton. Bramasta tidak memedulikan aturan parkir, tanda larangan, atau tatapan kaget para petugas keamanan kampus yang biasanya ia hormati. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan lobi utama dengan rem yang mencit memekakkan telinga, meninggalkan jejak ban hitam yang tebal di atas aspal mulus, seolah-olah ia sedang menandai wilayah perangnya.

Bram keluar dari mobil dengan aura yang sanggup memadamkan api mana pun. Langkah kakinya yang panjang dan mantap menghantam lantai granit lobi dengan irama yang mengancam—setiap ketukan sepatunya seolah-olah adalah vonis mati bagi siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Matanya yang tajam, yang biasanya dingin dan terkendali sempurna, kini berkilat-kilat oleh amarah yang gelap dan pekat. Ia baru saja mendengar tawa Aluna bersama Rio melalui alat sadap di gelang emas itu, dan setiap sel di tubuhnya menuntut untuk segera menemukan gadis itu dan menyeretnya pulang ke dalam sangkar emasnya.

Namun, rencananya untuk segera melakukan "eksekusi" otoritas terhambat oleh realitas kegilaan yang ia ciptakan sendiri. Begitu sosoknya yang gagah, maskulin, dan sangat berkuasa itu tertangkap mata oleh massa mahasiswi yang sedang berkumpul, situasi menjadi kacau dalam hitungan detik. Kerumunan yang tadinya sibuk bergosip di depan lift langsung berbalik arah layaknya gelombang tsunami yang menemukan muara baru yang lebih menarik.

"Itu Tuan Bramasta! Dia benar-benar di sini!"

"Pak Bram! Tolong lihat ke sini sebentar, saya punya sesuatu untuk Anda!"

"Pak, saya mahasiswi tingkat akhir, bolehkah saya minta kartu nama Anda?"

Bram menggeram rendah, sebuah suara guttural yang keluar dari dasar tenggorokannya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol seperti tali baja yang siap putus. Ia terkepung. Puluhan tangan mahasiswi yang kehilangan akal sehat mencoba menyentuh lengan jas mahalnya, puluhan kamera ponsel mengarah tepat ke wajahnya dari jarak yang sangat tidak nyaman. Ia merasa seperti seekor singa yang sedang dicabuti bulunya oleh sekawanan hyena yang lapar. Di saat ia hampir kehilangan kesabaran dan nyaris memerintahkan tim keamanannya untuk bertindak kasar demi membuka jalan, sebuah tangan yang ramping namun memiliki genggaman yang sangat tegas tiba-tiba menarik lengan jasnya dengan sentakan yang kuat dan penuh percaya diri.

"Lewat sini, Pak. Cepat, sebelum mereka benar-benar mengunci pintu lobi utama!" suara itu terdengar sangat tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk histeris yang memekakkan telinga di sekeliling mereka.

Bram, yang dalam kondisi terdesak dan sangat butuh privasi untuk segera mencari Aluna, secara refleks mengikuti tarikan tangan itu. Mereka menyelinap melalui koridor sempit di balik area administrasi, melewati pintu-pintu kantor dekanat yang tertutup bagi umum. Begitu mereka sampai di sebuah lorong buntu yang relatif sepi dan terlindungi oleh deretan loker besi, Bram mengatur napasnya yang memburu bukan karena lelah fisik, melainkan karena amarah yang tertahan di ubun-ubun.

Ia menoleh ke arah "penyelamatnya" dengan tatapan waspada dan menyelidik. Seorang mahasiswi berdiri di sana. Gadis ini sangat cantik—namun kecantikannya bertipe klasik, elegan, dan dewasa, sangat berbeda dengan mahasiswi lain yang tampak haus perhatian dan berperilaku genit. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuhnya dan rok pensil hitam yang sangat sopan namun menonjolkan bentuk tubuhnya yang ideal. Rambutnya digelung rapi ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih. Tidak ada binar memuja, gila, atau genit di matanya; yang ada hanyalah ketenangan yang profesional, cerdas, dan sedikit... menantang.

Gadis itu adalah Clara.

"Terima kasih," ujar Bram singkat, suaranya masih parau oleh emosi yang meluap. Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat tarikan massa tadi.

Bram hendak melangkah pergi untuk melanjutkan pencariannya menuju area tangga darurat yang ia curigai, namun tangan Clara tidak melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Bram. Genggaman itu tidak terasa menggoda atau centil, melainkan fungsional, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa "aset berharga" ini tidak terlepas kembali ke kerumunan gila di luar sana.

"Tetap di posisi ini sebentar, Pak Bramasta. Jika Anda keluar sekarang melalui koridor utama, mereka akan melihat Anda dari kaca lobi dan Anda akan terkepung lagi. Tunggu satu menit sampai mereka bubar mencari Anda ke arah kantin atau parkiran," ujar Clara tanpa sedikit pun melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Bram. Ia berdiri sedikit di depan Bram, bertindak sebagai tameng manusia yang berjaga-jaga jika ada mahasiswi lain yang berbelok ke lorong sepi itu.

Bram terdiam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada orang asing—seorang wanita muda—yang berani menggenggam tangannya begitu lama tanpa gemetar ketakutan atau mencoba merayunya dengan cara murahan. Ia membiarkan tangan itu tetap di sana, karena logikanya mengakui bahwa saran gadis ini benar, meski hatinya masih berteriak ingin menemukan Aluna sekarang juga.

Sementara itu, di ujung lorong yang berseberangan dengan pintu tangga darurat, Aluna dan Rio baru saja keluar. Sisa tawa Aluna masih terlihat jelas di sudut bibirnya, sebuah binar kebahagiaan yang jujur, ringan, dan langka yang baru saja ia rasakan. Ia merasa bebannya sedikit terangkat setelah menertawakan kegilaan dunia kampus bersama Rio. Namun, tawa itu mati seketika. Seolah-olah nyawanya dicabut paksa dari tubuhnya dalam satu sentakan dingin.

Mata Aluna membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia melihat pemandangan beberapa meter di depannya. Di sana, di tengah lorong yang sepi dan remang-remang, berdiri Daddy-nya. Pria yang seharusnya berada di puncak gedung pencakar langit miliknya, kini berdiri di kampusnya. Dan yang membuat darah Aluna mendidih, membuat dadanya terasa sesak oleh api yang membakar, adalah pemandangan di tangan Bram: Tangan seorang mahasiswi cantik sedang menggenggam erat pergelangan tangan Bram.

Dunia Aluna seolah berhenti berputar. Tawa riangnya berganti menjadi tatapan yang sedingin es kutub. Rasa bersalah karena tadi bersembunyi dengan Rio menguap tanpa bekas, digantikan oleh api cemburu yang begitu hebat hingga sanggup menghanguskan seluruh kewarasannya. Selama ini ia mengira hanya dialah yang bisa menyentuh Bram sesuka hati, hanya dialah pusat semesta pria itu. Melihat tangan wanita lain di sana terasa seperti sebuah pengkhianatan paling nyata yang pernah ia saksikan.

Tanpa sepatah kata pun, Aluna melangkah maju. Langkah kakinya tidak lagi ragu atau takut pada Anwar yang mungkin mengintai di belakang. Ia mengabaikan Rio yang memanggil namanya dengan nada khawatir. Aluna menerjang masuk ke ruang antara Bram dan Clara seperti sebuah badai yang tak terhentikan.

SET!

Aluna menyambar pergelangan tangan Bram dengan sangat kasar, menyentaknya hingga genggaman Clara terlepas secara paksa. Ia berdiri tegak di depan Bram, memunggungi Daddy-nya, dan menatap Clara dengan pandangan penuh permusuhan, matanya berkilat-kilat seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup di tempat.

"Ayo pulang, Daddy! Sekarang!" perintah Aluna. Suaranya tidak lagi manja atau memohon; itu adalah suara penuh otoritas, suara seorang ratu yang sedang mengamankan wilayahnya dari penyusup asing.

Bram tertegun. Ia yang tadinya datang dengan amarah yang siap meledak karena mengetahui Aluna bersama Rio, kini justru terpaku melihat perubahan drastis pada gadisnya. Aluna menarik lengan Bram dengan kekuatan yang tak terduga dari tubuh mungilnya, menyeret pria bertubuh kekar itu untuk mengikutinya menuju pintu keluar samping.

"Aluna, tunggu dulu—" Bram mencoba bicara, namun suaranya terdengar canggung di tengah situasi yang berbalik 180 derajat ini.

"Diam, Daddy! Aku bilang pulang ya pulang!" Aluna membentak tanpa menoleh sedikit pun. Ia benar-benar tidak peduli lagi pada wibawa Bram di depan umum atau pada mahasiswa yang mungkin sedang menonton dari kejauhan.

Sebelum mereka benar-benar menjauh, Bram sempat menoleh ke arah Clara yang masih berdiri tenang di tempatnya, sama sekali tidak tampak terganggu oleh ledakan kemarahan Aluna.

"Terima kasih atas bantuannya tadi," ujar Bram singkat, suaranya kembali formal dan berwibawa.

Clara hanya memberikan anggukan kecil yang sangat sopan dan anggun, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya yang dipoles lipstik berwarna nude. Matanya menatap kepergian mereka dengan binar yang sulit diartikan—bukan binar memuja seperti mahasiswi lainnya, melainkan binar ketertarikan seorang pemain catur yang baru saja menemukan kepingan yang paling menarik di atas papan.

Aluna terus menyeret Bram melewati koridor, mengabaikan Rio yang masih mematung dengan tatapan bingung dan sedih di dekat pintu tangga darurat. Ia juga mengabaikan kerumunan mahasiswi di lobi yang kini terpaku melihat sang "Hot Daddy" diseret paksa oleh gadis kecilnya yang sedang murka besar.

Bram, yang tadinya berniat memberi pelajaran keras pada Aluna karena telah membuatnya cemburu dengan Rio, kini justru merasakan perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Ia melihat punggung Aluna yang bergetar hebat karena amarah. Ia merasakan cara Aluna mencengkeram tangannya hingga kuku gadis itu memutih dan membekas di kulitnya.

Tiba-tiba, Bram menyadari satu hal yang membuatnya ingin tersenyum di tengah situasi ini. Ia telah berhasil. Strateginya menunjukkan diri di kampus telah membuahkan hasil yang jauh melampaui ekspektasinya. Ia tidak perlu lagi memarahi Aluna karena dekat dengan Rio. Karena sekarang, Aluna-lah yang merasakan racun posesif yang sama dengannya. Aluna-lah yang kini merasa terancam dan takut kehilangan "miliknya".

Begitu mereka sampai di dalam Lamborghini dan pintu tertutup rapat, Aluna langsung menekan tombol pengunci pintu dengan kasar. Ia berbalik dan menatap Bram dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena amarah cemburu yang meledak-ledak.

"Siapa dia, Daddy?! Kenapa dia memegang tanganmu begitu lama?! Kenapa Daddy diam saja saat dia menyentuhmu?!" teriak Aluna, suaranya menggema di dalam kabin mobil yang sempit dan kedap suara.

Bram hanya menatap Aluna dengan tenang, sebuah senyuman pemenang yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. "Dia hanya mahasiswi yang membantuku mencari jalan keluar dari kerumunan gila itu, Aluna. Dia membantuku menemukanmu yang sedang... asyik tertawa dengan pria bernama Rio itu di tangga darurat."

"Aku tidak peduli! Aku benci dia! Aku benci cara dia menatapmu!" Aluna memukul dashboard mobil dengan tangannya yang kecil. "Dan Daddy... Daddy bilang Daddy hanya mencintaiku, tapi Daddy membiarkan wanita lain menggandeng tangan Daddy di depanku?!"

"Aku tidak menggandengnya, dia yang menarikku untuk menyelamatkanku dari massa," jawab Bram santai, ia menyalakan mesin mobil yang menderu halus. "Tapi jika kau begitu marah... bukankah itu artinya kau menyadari bahwa siapa pun bisa mengambilku darimu jika kau tidak menjagaku dengan baik di rumah?"

Aluna terdiam, napasnya masih memburu. Isakannya mulai terdengar, sebuah tangis cemburu yang sangat dalam dan menguras tenaga. Bram menarik Aluna ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu di dadanya yang bidang. Ia tahu, mulai detik ini, sangkar emasnya telah tertutup dengan sendirinya dari dalam. Aluna tidak akan lagi lari ke arah Rio atau siapa pun, karena sekarang Aluna terlalu sibuk menjaga wilayahnya agar tidak disentuh oleh wanita-wanita seperti Clara.

"Jangan menangis lagi, Sayang. Aku hanya milikmu selamanya," bisik Bram dengan nada yang paling manipulatif sekaligus penuh kemenangan. "Tapi ingat, lain kali jika kau bersembunyi lagi dengan pria lain di tempat sepi, aku mungkin tidak akan menolak bantuan wanita cantik seperti dia lagi."

Aluna meremas kemeja Bram dengan kuat, seolah-olah tidak ingin melepaskannya sedetik pun bahkan jika badai datang. Di balik jendela mobil yang gelap, di koridor kampus, Clara masih berdiri menatap ke arah tempat parkir dengan senyum penuh rahasia, sementara Rio menunduk lesu di tangga darurat. Perang kepemilikan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya dan destruktif.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!