NovelToon NovelToon
Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.

Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.

Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pukul lima sore. Langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga yang muram. Afisa melangkah keluar dari lobi gedung kantornya dengan bahu yang terasa sangat berat. Di dalam tasnya, draf serah terima kasus untuk tim Semarang sudah setengah jadi, sementara di kepalanya, kalimat jujur untuk Bintang masih nol besar.

Ia menekan tombol kunci mobil di tangannya, namun langkahnya mendadak terhenti beberapa meter sebelum mencapai kendaraannya.

Di sana, bersandar pada kap mobil SUV hitamnya yang familier, berdiri seorang pria dengan jaket hoodie abu-abu. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan, dan kantung matanya terlihat sangat jelas—bekas lembur brutal di IGD yang belum tuntas dibayar dengan tidur.

"Bintang?" gumam Afisa nyaris tak terdengar.

Pria itu mendongak, matanya yang sayu seketika berbinar saat menangkap sosok Afisa. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba mengulas senyum meski terlihat sangat lelah.

"Hai, Associate," sapa Bintang suaranya serak. "Maaf ya, aku nekat ke sini. Tadi aku bangun tidur jam empat sore, terus kepikiran bubur yang aku titip di pintu apartemen kamu sudah dingin atau belum. Jadi aku pikir, lebih baik aku jemput sumber masalahnya langsung di sini."

Afisa terpaku di tempatnya. Rasa bersalah yang sejak pagi menghimpit dadanya kini terasa meledak. Ia melihat Bintang—pria yang rela menahan kantuk luar biasa hanya untuk memastikan ia baik-baik saja—sementara ia sendiri sedang memegang tiket untuk meninggalkan pria itu.

"Bin... kamu harusnya tidur. Kamu pucat banget," ucap Afisa, suaranya bergetar. Ia mendekat, menyentuh lengan Bintang yang terasa hangat.

Bintang terkekeh pelan, meraih tangan Afisa dan mengecup punggung tangannya singkat. "Tidurku nggak akan nyenyak kalau belum lihat calon istriku Tadi sidangnya lancar?"

Afisa mengangguk kaku. "Lancar, Bin. Tapi..."

"Tapi apa? Kliennya galak lagi?" Bintang membukakan pintu mobil untuk Afisa dengan gerakan gentleman yang tidak pernah berubah. "Masuk, yuk. Aku sudah pesan tempat makan dekat sini. Kamu pasti belum makan siang yang bener, kan?"

Afisa masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang berkecamuk. Aroma maskulin bercampur antiseptik khas Bintang memenuhi kabin, membuatnya semakin sesak. Ia melirik tas kerjanya di pangkuan. Surat itu ada di sana. Surat yang akan meruntuhkan binar di mata Bintang dalam sekejap.

Bintang mulai menjalankan mobilnya perlahan. "Oh iya, Fis. Tadi Mama telepon lagi. Katanya dia sudah lihat beberapa vendor di Semarang buat acara kita kalau memang kamu mau konsep intimate di sana. Tapi aku bilang, kita fokus di Jakarta saja dulu ya?"

Telinga Afisa berdenging. Semarang. Nama kota itu disebut Bintang dengan nada yang begitu ringan, seolah hanya sebuah opsi liburan, bukan sebuah paksaan mutasi.

"Bin, berhenti sebentar," bisik Afisa tiba-tiba.

Bintang menoleh heran, namun tetap meminggirkan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi. "Kenapa, sayang ? Kamu mual? Atau ada yang ketinggalan di kantor?"

Afisa tidak menjawab. Ia membuka ritsleting tasnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan amplop cokelat yang sudah mulai lecek karena terlalu sering ia remas. Ia menyodorkannya ke hadapan Bintang tanpa berani menatap mata pria itu.

"Apa ini, sayang ? Undangan dari Kaila lagi?" tanya Bintang mencoba bercanda.

"Baca, Bin. Tolong baca sampai habis."

Bintang menerima amplop itu, dahinya berkerut. Ia mulai membaca baris demi baris. Suasana di dalam mobil mendadak senyap, hanya menyisakan suara mesin yang menderu halus. Afisa bisa merasakan perubahan atmosfer di sekitarnya. Senyum di wajah Bintang perlahan memudar, digantikan oleh ketegangan yang membuat Afisa ingin melarikan diri saat itu juga.

"15 Januari... Semarang?" Bintang bergumam pelan, suaranya terdengar sangat jauh. Ia menoleh ke arah Afisa, matanya yang tadi lelah kini tampak terluka. "Dua minggu lagi, Fis? Kamu... kamu sudah tahu ini sejak kapan?"

Pertanyaan itu meluncur pelan, namun bagi Afisa, itu terdengar seperti vonis hakim yang tak bisa diganggu gugat. Ekuilibrium mereka kini benar-benar berada di tepi jurang.

Afisa menunduk dalam, jari-jarinya saling bertautan dengan gelisah. Ia tidak berani menatap mata Bintang yang kini pasti sedang menuntut kejujuran. "Baru tadi malam, Bin. Waktu aku pulang dari rumah kamu... aku baru buka email dan surat fisiknya ada di meja apartemen."

Hening kembali menyergap kabin mobil. Bintang tidak langsung marah, namun hembusan napasnya yang berat terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan melalui kaca depan mobil yang mulai berembun.

"Semalam..." Bintang mengulang kata itu dengan nada getir. "Semalam saat aku melamar kamu? Semalam saat kita kirim foto ke grup keluarga dan semua orang merayakannya? Kamu sudah tahu ini, tapi kamu diam saja?"

"Aku nggak bermaksud diam, Bin!" Afisa akhirnya menoleh, matanya berkaca-kaca. "Kamu lagi bahagia banget, keluarga kamu juga. Terus pagi ini kamu langsung ke IGD, berjuang sama nyawa orang. Bagaimana bisa aku kasih tahu kabar ini di tengah situasi kayak gitu?"

Bintang memijat pangkal hidungnya, rasa lelah fisiknya kini bercampur dengan luka di hati yang sulit ia deskripsikan. "Fis, aku bukan orang asing. Aku calon suamimu. Masalah sekecil atau seberat apa pun, harusnya aku yang pertama tahu. Bukan aku yang terakhir tahu lewat surat lecek ini di pinggir jalan."

"Aku takut, Bin!" tangis Afisa pecah. "Aku takut kalau aku bilang ini, binar di mata kamu bakal hilang. Aku takut kamu bakal bosan atau menyerah karena jarak. Aku baru saja menemukan 'rumah' aku lagi, dan sekarang aku harus pergi dua tahun ke Semarang. Aku juga hancur!"

Bintang terdiam mendengar isakan Afisa. Pelan namun pasti, egonya yang terluka luluh melihat wanita yang ia cintai gemetar karena ketakutan. Ia meraih tangan Afisa, menggenggamnya erat meski hatinya masih terasa sesak.

"Dua tahun, Fis... Itu bukan waktu yang sebentar," bisik Bintang, kali ini suaranya melunak. "Tapi yang bikin aku lebih sakit bukan soal Semarangnya. Tapi soal kamu yang masih nggak percaya kalau aku bisa jadi tempat kamu berbagi beban. Kamu masih merasa harus menghadapi semuanya sendirian, seolah-olah aku nggak ada di sini."

Afisa terisak lebih keras, menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. "Maaf, Bin. Maafkan aku..."

Bintang mengecup puncak kepala Afisa, membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Di tengah remang lampu jalanan Jakarta, Bintang menyadari bahwa Ekuilibrium mereka sedang diuji sebelum benar-benar dimulai. Janji sudah diucapkan, namun jarak kini benar-benar membentang nyata di depan mata.

"Kita akan cari jalan keluarnya, Fis. Entah itu pernikahan yang dipercepat, atau LDR yang harus kita jalani dengan disiplin tinggi," ujar Bintang mantap, meski ia sendiri belum tahu bagaimana caranya. "Tapi janji sama aku... jangan pernah sembunyiin apa pun lagi. Jarak Jakarta-Semarang itu kecil, tapi jarak karena ketidakterbukaan itu yang bisa mematikan kita."

Di bawah langit Jakarta yang jingga muram, Afisa menyadari satu hal: Bintang memang benar-benar cahayanya. Dan meski ia harus pergi ke kota di mana Tugu Muda berdiri, ia tahu ke mana arah jalan pulangnya.

1
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
lama nya upp nua
byyyycaaaa: up siangan ya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
Afisa sama bintang nikah sirih tor. yok tor bikin pesta nikahan Afisa semeriah mungkin bikin fita datang nikahan Afisa tor
byyyycaaaa
nanti ada saatnya,si Afisanya takut hamil,🌚
byyyycaaaa: updetnya besok lagi ya guys🙏🤗
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin hamil tor
byyyycaaaa
Guntur cocoknya sama authornya 🌚
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin jadian guntur sama citra ator
byyyycaaaa: ada fotonya afisa dan juga Bintang 🤭
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
trus bikin fita nyesal. dan citra nikah sama guntur dong biar guntur bahagia sama citra
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun: no tor citra sama guntur
total 2 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
alhamdulilah udah pecah telorr dongg. bikin anak junior bintang🤣🤣🤣
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin Afisa pecah telor sama bintang Thor. eh Thor tentang fita gi mana tor
byyyycaaaa: nanti di ceritain sama Guntur ya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kapan Afisa pergi nikahan kaila
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun: ayo Thor bikin malam pertama Afisa sama bintang gk sabar. pengen liat nanti Afisa sukses muka fita gi mana yah hehe
total 2 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
nikah nikah nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!