"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAPU TANGAN BIRU TUA DAN RAHASIA BUS MALAM
Suasana kantin kantor siang itu cukup riuh, namun meja di sudut tempat Dina, Manda, dan Maulana duduk terasa memiliki atmosfernya sendiri. Aroma uap soto dan tumisan sayur menyeruak, tapi selera makan Dina seolah tertinggal di tumpukan berkas di mejanya.
Maulana, yang sejak tadi menyimak cerita Manda tentang kondisi Dina, meletakkan sendoknya. Ia menatap Dina dengan pandangan yang tenang namun tajam. Sebagai rekan kerja yang juga mengenal karakter Dina yang keras kepala dalam memendam luka, Maulana merasa perlu angkat bicara.
"Lebih baik kamu kos, Din. Supaya pikiranmu tenang," ucap Maulana tanpa basa-basi. Suaranya rendah, namun tegas.
Dina tertegun, tangannya yang sedang mengaduk es teh manis terhenti. Ia menghela napas panjang, sebuah reaksi refleks yang selalu muncul setiap kali topik tentang "keluar dari rumah" dibahas.
"Kalau aku kos, aku bakal dianggap nggak bertanggung jawab. Mereka bakal bilang aku kabur dari kewajiban di rumah," jawab Dina perlahan. Bayangan wajah ayahnya yang memaki dan telunjuk ibu tirinya yang selalu menghakimi langsung terlintas di benak. "Aku nggak mau mereka punya alasan lagi buat makin merendahkan aku."
Manda yang duduk di sebelah Dina menyenggol lengannya pelan. "Din, tanggung jawab itu ada batasnya. Kamu bukan robot yang harus menerima semua pukulan cuma buat membuktikan kalau kamu 'anak baik'."
Dina memaksakan senyum tipis, jenis senyum yang sering ia gunakan untuk menutupi retakan di hatinya. "Aku masih kuat dan tahan, kok. Lagipula, kalau aku pergi sekarang, situasinya bakal makin kacau. Aku lebih milih telinga merah kena makian daripada dicap anak durhaka yang melarikan diri."
Maulana menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Kuat itu bukan berarti harus membiarkan diri sendiri dihancurkan setiap hari, Din. Ada bedanya antara bertahan karena tanggung jawab dan bertahan karena kamu merasa nggak punya pilihan. Kamu punya pilihan."
"Aku cuma nggak mau menambah masalah, Lan," sahut Dina lagi, suaranya mulai bergetar namun ia mencoba tetap terlihat tegar di depan teman-temannya. "Di rumah itu, setidaknya aku masih punya status sebagai anak, meskipun cuma di atas kertas. Kalau aku pergi, aku bener-bener nggak punya siapa-siapa lagi."
"Kamu punya kita," potong Manda cepat. "Jangan pernah merasa sendirian sampai kamu rela jadi keset di rumah sendiri. Kita dukung apa pun keputusanmu, tapi tolong, jangan jadikan 'kata orang' sebagai alasan buat menyiksa dirimu sendiri."
Dina menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan meja kantin yang mengilap. Di sana, ia melihat seorang gadis yang profesional di kantor, namun hancur lebur di dalam. Pertanyaan Maulana dan dukungan Manda mulai menggoyahkan tembok pertahanan yang ia bangun dengan susah payah. Ia memang kuat, tapi ia juga manusia yang punya batas lelah.
"Nanti aku pikirkan lagi," ucap Dina akhirnya, sebuah kalimat yang ia gunakan untuk mengakhiri perdebatan yang mulai menyesakkan dadanya.
Maulana hanya mengangguk, ia tahu tidak bisa memaksa Dina saat itu juga. "Pikirkan pelan-pelan. Ketenangan itu mahal harganya, Din. Kadang, pergi bukan berarti kalah. Pergi itu artinya kamu mulai sayang sama dirimu sendiri."
Percakapan itu berakhir seiring dengan bunyi bel tanda jam istirahat usai. Dina bangkit dari kursinya, merapikan kemejanya, dan kembali memasang topeng profesionalismenya. Namun jauh di dalam pikirannya, kata-kata Maulana tentang "ketenangan" mulai berbisik, bersaing dengan suara makian yang menunggunya di rumah nanti malam.
Dina melangkah menjauh dari kantin, namun ia tidak langsung menuju ruangannya. Kakinya membimbingnya ke toilet lantai dua yang biasanya lebih sepi. Begitu pintu tertutup dan ia berdiri di depan cermin, pertahanannya runtuh seketika. Kalimat "aku masih kuat" yang ia ucapkan di depan Manda dan Maulana tadi terasa seperti racun yang mencekik tenggorokannya sendiri.
Di depan cermin, ia melihat pantulan seorang gadis yang hancur. Matanya memerah, menahan beban pengkhianatan sepuluh kali, makian orang tua, dan rasa sepi yang tak berujung. Ia mencuci mukanya berkali-kali, mencoba membasuh jejak kesedihan itu dengan air dingin, namun isaknya tetap lolos. Hatinya tidak sekuat kata-katanya. Hatinya sedang menjerit minta diselamatkan.
Setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri, Dina keluar dari toilet dengan napas yang masih tersengal. Ia menyeka pipinya dengan punggung tangan, namun sisa air mata masih tertinggal di sudut matanya.
"Ini, pakai saja."
Sebuah suara bariton yang tenang mengejutkannya. Seorang pria berdiri tak jauh dari pintu toilet, menyodorkan sebuah sapu tangan katun berwarna biru tua yang bersih dan rapi.
Dina mendongak, terperangah. "Mas Rama? Terimakasih," ucap Dina pelan sambil menerima sapu tangan itu dengan ragu.
Rama adalah manajer operasional yang dikenal pendiam namun sangat jeli. Ia jarang mencampuri urusan pribadi bawahannya, tapi kehadirannya selalu memberikan kesan berwibawa sekaligus mengayomi.
Rama tidak langsung pergi. Ia menyandarkan bahunya ke dinding lorong, menatap Dina dengan tatapan yang tidak menghakimi, melainkan penuh selidik yang tulus.
"Masalah pekerjaan atau rumah?" tanya Rama singkat, namun pertanyaannya menghunjam tepat ke pusat luka Dina.
Dina terdiam sejenak, meremas sapu tangan lembut di genggamannya. Harum maskulin tipis dari kain itu entah mengapa memberikan sedikit rasa aman yang asing baginya. "Hanya... sedikit kelelahan, Mas," jawab Dina, mencoba kembali ke mode profesionalnya yang retak.
Rama menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis—jenis senyum yang seolah mengatakan bahwa dia tahu Dina sedang berbohong. "General Affair kita biasanya bisa menangani mesin genset yang meledak tanpa berkedip. Kalau sampai matamu merah seperti itu, ini pasti bukan soal laporan pengadaan barang."
Dina menunduk, tak sanggup menatap mata Rama yang terlalu jujur.
"Dina," panggil Rama lagi, kali ini suaranya lebih lembut. "Kadang, mengakui kalau kita sedang tidak baik-baik saja itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda kalau kita masih manusia. Jadi, mana yang sedang mengganggumu? Kantor yang berisik, atau rumah yang tidak lagi terasa seperti rumah?"
Pertanyaan itu membuat dada Dina kembali sesak. Selama ini, orang-orang hanya mengasihaninya atau memakinya. Tapi Rama bertanya seolah-olah ia punya hak untuk memilih bebannya sendiri.
Dina terpaku, napasnya seolah tertahan di kerongkongan. Sapu tangan di genggamannya terasa hangat, namun kata-kata Rama jauh lebih membakar kesadarannya. Selama ini, Dina merasa dirinya adalah bayangan yang pandai bersembunyi di balik tumpukan berkas dan senyum formal. Ia mengira tidak ada yang benar-benar melihatnya—kecuali sebagai mesin kerja atau objek kasihan.
"Aku sering memperhatikan perubahan kamu, meski mungkin kamu nggak sadar," lanjut Rama, suaranya rendah namun stabil, menciptakan ruang privasi di lorong kantor yang sepi itu. "Di kantor kamu terlihat begitu tegar, seolah nggak ada beban yang bisa menjatuhkanmu. Tapi di luar... kamu kelihatan hancur."
Dina mendongak, matanya yang masih sembap bertemu dengan tatapan Rama yang tenang. Ada kejujuran yang menyakitkan di sana.
"Kita pernah satu bus beberapa waktu lalu," Rama mengaku pelan, ada kilas penyesalan di matanya. "Aku melihatmu di sana, menatap jendela dengan pandangan paling sedih yang pernah aku lihat. Aku nggak berani nyamperin karena aku tahu kamu sedang butuh ruang. Aku cuma berusaha memastikan orang-orang di sekitar nggak salah memandangmu, atau setidaknya... memastikan kamu sampai dengan aman."
Dina tertegun. Jadi, malam itu, saat ia merasa dunianya runtuh dan ia berbisik pada pantulan wajahnya di kaca bus, Rama ada di sana. Pria ini melihat kerapuhannya yang paling dalam tanpa ia sadari. Bukan sebagai atasan yang menilai kinerja, bukan sebagai pria yang ingin menjadi pahlawan, tapi sebagai seseorang yang diam-diam menjaga martabatnya dari kejauhan.
"Kenapa, Mas?" bisik Dina lirih. "Kenapa peduli?"
Rama menghela napas, senyum tipis tersungging di bibirnya—bukan senyum kasihan, tapi senyum pengertian. "Karena aku tahu rasanya harus memakai topeng setiap hari agar dunia nggak menganggap kita lemah. Tapi Dina, topeng itu berat. Kalau kamu terus memakainya sendirian, suatu saat kamu akan lupa wajah aslimu seperti apa."
Dina menunduk, meremas sapu tangan biru tua itu. Untuk pertama kalinya, rasa hangat yang menjalar di dadanya bukan berasal dari amarah atau sakit hati, melainkan dari kenyataan bahwa ada seseorang yang melihat "hancur"-nya tanpa menganggapnya sebagai sebuah "aib".
"Terima kasih sudah nggak nyamperin waktu itu, Mas," ucap Dina tulus. "Aku... aku memang belum siap dilihat siapa pun saat itu."
"Sekarang kamu sudah di kantor," Rama meluruskan posisinya, kembali ke sikap profesionalnya namun dengan sorot mata yang jauh lebih lunak. "Cuci mukamu sekali lagi. Sapu tangannya simpan saja, bawa pulang kalau perlu. Dan ingat, kalau kamu butuh dinding yang nggak akan menghakimi, pintuku selalu terbuka. Bukan sebagai manajer, tapi sebagai teman seperjalanan di bus yang sama."
Rama mengangguk kecil lalu melangkah pergi, meninggalkan Dina yang masih berdiri di depan pintu toilet. Lorong itu kembali sunyi, tapi perasaan Dina tidak lagi sekosong tadi pagi. Ia menatap sapu tangan di tangannya—sebuah kain sederhana yang kini terasa seperti tameng kecil untuk menghadapi dunia.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib