Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Suasana di ruang tengah mansion Lumiere terasa lebih dingin daripada es di kutub utara. Cahaya lampu kristal memantul pada lantai marmer yang mengilap, namun atmosfernya mencekam.
Prannnggg!
Suara pecahan keramik mahal bergema, memecah kesunyian yang menekan. Sebuah vas bunga dekorasi kecil yang tak sengaja tersenggol Madame jatuh berserakan, namun tak ada yang berani memungutnya. Madame Lumiere berdiri di depan timbangan digital di ruang kesehatan pribadi, matanya menatap angka yang tertera di sana dengan tatapan tak percaya.
"Empat puluh sembilan kilogram?" suara Madame melengking pelan, namun mengandung ancaman yang nyata. "Kau naik satu kilo, Salene. Empat puluh delapan adalah angka ideal yang sudah kita sepakati. Satu kilogram adalah awal dari bencana."
Salene berdiri mematung, kepalanya menunduk. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik gaun tidurnya yang tipis. "Maaf, Madame. Sepertinya beberapa minggu belakangan saya cukup stres dengan kurikulum baru di kelas dua belas. Jadi mungkin salad yang saya..."
"Cukup!" potong Madame tajam. Ia berbalik, menatap putrinya seolah Salene adalah sebuah produk gagal di lini produksi. "Stres bukan alasan untuk menjadi ceroboh. Kau tahu betapa ketatnya Ayahmu dalam menjaga citra keluarga kita. Dia pasti akan marah besar mendengar ini."
Madame menghela napas panjang, lalu menoleh pada kepala pelayan yang berdiri di sudut ruangan. "Pelayan, atur kembali jadwal dietnya. Mulai besok, Salene hanya boleh mengonsumsi chia seed dan air lemon untuk sarapan dan makan malam. Pastikan tidak ada asupan karbohidrat tersembunyi. Aku ingin angka ini kembali ke empat puluh delapan dalam tiga hari."
"Baik, Madame," jawab pelayan itu patuh.
Salene hanya bisa menggigit bibir bawahnya. "Baik, Madame. Maafkan saya."
Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Salene menyandarkan punggungnya di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang rasa sesak yang menghimpit dadanya. Sebulan terakhir ini adalah masa-masa yang paling berbahaya sekaligus paling membahagiakan dalam hidupnya.
Tanpa diketahui Madame, Salene telah menemukan celah di sistem keamanan mansion yang ketat. Setelah jam sepuluh malam, saat Madame sudah berada di ruang kerjanya atau beristirahat, Salene akan mengendap keluar melalui pintu servis di dekat dapur, memanjat pagar kecil di area taman belakang, dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Dan di sana, di ujung jalan yang remang, suara raungan mesin motor Nikolas Martinez selalu menunggunya.
Selama sebulan ini, Salene telah mengenal sisi lain dari London yang tidak pernah ia temukan di buku sejarah seni. Ia telah mencicipi pizza berminyak di pinggir jalan, burger dengan keju yang meleleh, hingga taco pedas yang membuatnya menangis sekaligus tertawa. Hubungannya dengan Nik? Salene menyebutnya "teman pelarian". Mereka berbagi cerita, berbagi makanan, dan berbagi keheningan di bawah lampu jalanan.
Ting.
Ponselnya yang diletakkan di atas nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nik.
From: Nikolas Martinez
Mau aku jemput jam berapa malam ini, Sal? Aku baru saja mengganti oli motor, tarikannya sedang enak. Ada kedai ramen baru di dekat dermaga.
Salene menatap pesan itu dengan perasaan bimbang. Bayangan angka '49' di timbangan tadi kembali menghantuinya. Ia membayangkan kemarahan Madame dan kekecewaan Ayahnya yang jarang pulang itu. Ia tidak boleh ceroboh lagi.
To: Nikolas Martinez
Tidak malam ini, Nik. Aku naik 1kg. Madame baru saja memeriksaku dan dia sangat marah. Sepertinya aku harus fokus menurunkan berat badan beberapa hari ini agar nanti bisa makan pizza lagi tanpamu harus khawatir dengan timbangan.
Hanya butuh beberapa detik bagi Nik untuk membalas.
From: Nikolas Martinez
Satu kilo? Sal, kau bahkan tidak bisa terlihat berbeda meski naik lima kilo. Tapi baiklah, aku mengerti hukum di kerajaanmu. Istirahatlah, Tuan Putri. Kabari aku kalau kau sudah 'legal' untuk makan enak lagi.
Salene tersenyum tipis membaca balasan itu. "Tuan Putri," bisiknya pelan. Sebutan itu biasanya terasa seperti ejekan dari orang lain, tapi dari mulut Nik, itu terdengar seperti sebuah identitas yang ingin ia lepaskan sekaligus ia peluk.
Malam semakin larut. Salene berbaring di tempat tidurnya yang luas, menatap bayangan pohon di luar jendela yang menari-nari di dinding kamarnya. Perutnya mulai terasa keroncongan karena hanya diberikan sup encer saat makan malam tadi, tapi pikirannya justru melayang pada motor BMW hitam milik Nik.
Ia teringat bagaimana rasanya memeluk pinggang Nik saat motor itu melaju kencang menembus angin malam. Bagaimana aroma jaket kulit Nik seolah-olah menjadi oksigen baginya saat ia merasa tercekik oleh aturan Madame.
Salene menyadari satu hal: satu kilogram yang ia dapatkan bukan hanya berasal dari makanan. Itu adalah berat dari kebahagiaan yang ia curi. Itu adalah berat dari rahasia yang ia simpan. Dan bagi Salene, satu kilogram itu jauh lebih berharga daripada seluruh emas yang ada di brankas keluarga Lumiere.
Ia memejamkan mata, membayangkan suatu hari nanti ia bisa makan apa pun yang ia mau tanpa harus berdiri di atas timbangan digital yang dingin itu. Namun untuk saat ini, ia harus kembali menjadi porselen yang sempurna. Ia harus kembali ke angka 48, demi mempertahankan sandiwaranya.
"Hanya tiga hari, Salene," gumamnya pada diri sendiri. "Tiga hari air lemon, dan setelah itu... kau bisa kembali menjadi manusia bersama Nik."
Di sisi lain kota, Nikolas Martinez sedang duduk di atas motornya di balkon markas, menatap ke arah distrik Mayfair. Ia tahu Salene sedang berjuang di balik tembok tingginya. Ia tahu satu kilogram itu adalah beban mental bagi gadis itu. Nik menyalakan mesin motornya, suaranya menderu rendah di keheningan malam, seolah mengirimkan pesan rahasia yang hanya bisa didengar oleh frekuensi hati Salene.
"Jangan terlalu lama bersembunyi di balik porselenmu, Sal," bisik Nik pada angin. "Karena aspal jalanan ini akan merindukan tawamu."
🌷🌷🌷🌷