NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Kehancuran Cermin Suci

Langit di atas Lembah Racun Kematian tidak lagi berwarna hijau zamrud yang tenang. Cahaya emas yang menyilaukan dari Cermin Matahari Suci milik Sekte Pedang Langit membelah kabut racun, menciptakan lubang raksasa di atmosfer lembah. Cahaya itu murni, panas, dan menghancurkan segala bentuk energi negatif—seharusnya ia menjadi pemusnah bagi kultivator iblis mana pun.

​Namun, di tengah pilar cahaya suci itu, Li Chen berdiri tegak.

​Tubuhnya yang kini memiliki pola sisik hitam halus memancarkan aura yang jauh lebih pekat daripada miasma lembah. Inti Emas Sembilan Cakra di dalam tubuhnya berputar dengan frekuensi yang menyebabkan ruang di sekitarnya bergetar. Setiap partikel cahaya suci yang menyentuh kulitnya bukannya membakar, malah terserap masuk ke dalam pori-porinya, diubah secara paksa menjadi bahan bakar kegelapan.

​"Mustahil!" Penatua Ling berteriak dari atas pedang terbangnya. "Cermin Matahari Suci adalah pusaka tingkat Surga! Cahayanya seharusnya membakar habis meridianmu!"

​Li Chen mendongak. Matanya yang merah menyala dengan pupil bintang perak menatap langsung ke arah Penatua Ling. "Cahaya ini... terlalu lemah untuk menerangi kegelapan di dalam diriku."

Li Chen melesat ke atas. Ia tidak lagi membutuhkan pedang terbang; kekuatan murni dari Inti Emasnya memungkinkannya untuk berjalan di udara seolah-olah ada tangga tak kasat mata. Setiap langkahnya meninggalkan retakan hitam di udara, sebuah fenomena yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memahami hukum ruang.

​"Serang dia! Jangan biarkan dia mendekati Cermin!" perintah Penatua Ling kepada dua ahli ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) lainnya di sampingnya.

​Dua penatua itu, Penatua Huo yang menguasai elemen api dan Penatua Feng yang menguasai elemen angin, menyerang secara bersamaan.

​"Badai Api Pemusnah Jiwa!"

​Pusaran api raksasa setinggi seratus meter terbentuk, diperkuat oleh hembusan angin yang tajam seperti ribuan belati. Serangan gabungan dua ahli Jiwa Baru ini sanggup meratakan sebuah kota dalam sekejap.

​Li Chen berhenti di depan badai api itu. Ia merentangkan tangan kanannya, telapak tangannya terbuka lebar.

​"Seni Penelan Bintang: Mulut Kehampaan!"

​Sebuah lubang hitam kecil muncul di telapak tangan Li Chen. Dalam hitungan detik, lubang itu membesar, menciptakan daya tarik gravitasi yang begitu kuat hingga badai api raksasa itu mulai terdistorsi. Api dan angin itu terhisap masuk ke dalam tangan Li Chen seperti air yang mengalir ke lubang pembuangan.

​"Terima kasih atas energinya," gumam Li Chen. Wajahnya memerah sesaat saat ia memproses energi api yang panas, namun ia segera mengarahkannya ke pedang Penelan Surga.

​Bilah pedang patah itu kini diselimuti api hitam yang membara.

​Li Chen muncul di depan Penatua Huo dalam sekejap mata. Kecepatannya melampaui kemampuan persepsi indra penatua tersebut.

​SRAK!

​Tebasan horizontal Li Chen membelah perisai api Penatua Huo seolah-olah itu hanya kertas basah. Pedang patah itu menembus dada sang penatua.

​"Kau... bagaimana mungkin seorang Inti Emas..." Penatua Huo terbelalak. Ia merasakan Jiwa Baru-nya di dalam Dantian sedang dicengkeram oleh tangan-tangan kegelapan.

​"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang akan menjadi nutrisiku," desis Li Chen.

​Li Chen menarik pedangnya, dan bersamaan dengan itu, ia menarik keluar Jiwa Baru Penatua Huo—sebuah sosok bayi kecil bercahaya yang merupakan esensi hidup sang penatua. Li Chen membuka mulutnya dan menelan bayi cahaya itu bulat-bulat.

​BOOM!

​Ledakan energi terjadi di dalam tubuh Li Chen. Aura di sekelilingnya meledak, menghancurkan awan di sekitarnya. Penatua Feng dan Penatua Ling mundur dengan wajah penuh horor. Mereka baru saja melihat seorang ahli Jiwa Baru dibunuh dan dikonsumsi seperti ternak.

​"Iblis! Dia benar-benar iblis!" teriak Penatua Feng, mencoba melarikan diri.

​"Tidak ada yang pergi dari sini," suara Li Chen bergema dari segala arah.

​Li Chen melemparkan pedangnya ke arah Penatua Feng. Pedang itu melesat, membelah ruang dan muncul tepat di leher sang penatua sebelum ia sempat berteleportasi. Satu lagi nyawa Jiwa Baru berakhir.

​Kini hanya tersisa Penatua Ling dan Cermin Matahari Suci yang masih memancarkan cahaya di atas sana.

​Penatua Ling gemetar hebat. Ia menggigit lidahnya, memuntahkan darah esensi ke arah Cermin Matahari Suci untuk mengaktifkan mode penghancuran diri pusaka tersebut. "Jika aku harus mati, aku akan membawamu dan seluruh lembah ini bersamaku! Ledakan Matahari!"

​Cermin raksasa itu mulai bergetar hebat. Cahayanya berubah dari emas menjadi putih menyilaukan, suhunya meningkat hingga ribuan derajat. Seluruh makhluk di Lembah Racun, termasuk Mo Gui dan Yue Yin di bawah, merasakan ancaman kepunahan.

​"Li Chen! Lari!" teriak Yue Yin dari bawah.

​Namun Li Chen tidak lari. Ia justru terbang menuju pusat cermin tersebut.

​"Nak, ini terlalu berbahaya! Energi dari pusaka tingkat Surga yang meledak bisa menghancurkan Inti Emasmu!" Kaisar Pedang memperingatkan dengan panik.

​"Senior, ingat apa yang kau katakan? Kegelapan adalah asal usul segala cahaya," Li Chen memejamkan matanya. "Jika aku tidak bisa menelan matahari ini, bagaimana aku bisa menelan surga?"

​Li Chen menempelkan kedua tangannya pada permukaan cermin yang membara. Kulit tangannya mulai terbakar, menyingkap sisik hitam di bawahnya yang bersinar ungu.

​"Gerbang Keenam: Penjara Bintang Abadi!"

​Sebuah pusaran kegelapan raksasa keluar dari tubuh Li Chen, membungkus Cermin Matahari Suci sepenuhnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti gerhana matahari total di tengah langit. Kegelapan itu mulai meremas cahaya putih di dalamnya.

​Suara retakan besar terdengar di seluruh lembah. KRAK!

​Cermin Matahari Suci hancur. Namun, alih-alih meledak ke luar, seluruh energinya dipaksa meledak ke dalam—tepat ke arah meridian Li Chen.

​"ARGHHHHHHHHH!"

​Raungan Li Chen menggetarkan pegunungan. Cahaya putih dan hitam berperang di dalam tubuhnya. Rambut peraknya memanjang, dan di punggungnya tumbuh dua sayap bayangan yang membentang lebar. Tekanan energinya melonjak drastis.

​Inti Emas Tahap Menengah... Tahap Akhir... Puncak!

​Li Chen berdiri di udara yang sunyi. Sisa-sisa Cermin Matahari Suci kini hanya berupa debu logam yang jatuh seperti salju perak. Penatua Ling terjatuh dari pedangnya, kultivasinya hancur karena serangan balik dari pusaka yang hancur.

​Li Chen mendarat di depan Penatua Ling yang sekarat.

​"Pedang Langit... akan... membalas..." rintih Penatua Ling dengan sisa napasnya.

​Li Chen menginjak dada Penatua Ling. "Biarkan mereka datang. Semakin banyak mereka mengirim orang, semakin cepat aku akan menghancurkan gerbang sekte kalian."

​Dengan satu hentakan, Li Chen mengakhiri hidup Penatua Ling. Ia kemudian berbalik ke arah pondok Mo Gui.

​Yue Yin dan Mo Gui berdiri di sana, menatap Li Chen dengan ekspresi yang sangat berbeda. Yue Yin menatapnya dengan campuran rasa syukur dan ketakutan akan sosok baru Li Chen, sementara Mo Gui menatapnya dengan pemujaan yang gila.

​"Hehe... Hehehe! Karya seni yang sempurna! Seorang Inti Emas yang mampu menelan Jiwa Baru dan pusaka tingkat Surga!" Mo Gui menari-nari di atas kerangka kura-kura.

​Li Chen berjalan mendekati Yue Yin. Sayap bayangannya menghilang, dan pola sisik di kulitnya meredup. Ia kembali tampak seperti pemuda biasa, namun matanya tetap memiliki kedalaman yang tak berdasar.

​"Racunmu sudah stabil," kata Li Chen, suaranya kembali tenang. "Sekarang, kita punya cukup energi dan batu energi dari mayat-mayat ini untuk melakukan perjalanan ke makam leluhurmu."

​Yue Yin mengangguk pelan. "Li Chen... kau bukan lagi orang yang sama dengan yang kutemui di Puncak Azure."

​Li Chen menatap tangannya yang masih berasap karena energi matahari. "Orang itu sudah mati di dasar Lembah Kabut, Yue Yin. Yang tersisa hanyalah bayangan yang akan menelan siapa pun yang menghalangi jalan kita."

​Malam itu, kehancuran Cermin Matahari Suci mengirimkan gelombang kejut ke seluruh Benua Tengah. Sekte Pedang Langit kehilangan tiga penatua Jiwa Baru dalam satu malam—sebuah penghinaan yang belum pernah terjadi dalam seribu tahun.

​Namun di Lembah Racun Kematian, Li Chen sudah bersiap. Ia tahu bahwa pertempuran berikutnya tidak akan dilakukan oleh utusan, melainkan oleh para pemimpin sekte itu sendiri.

​"Senior," tanya Li Chen kepada Kaisar Pedang saat mereka bersiap berangkat. "Berapa banyak lagi yang harus aku telan untuk mencapai ranah Jiwa Baru?"

​"Banyak, Nak. Tapi setelah apa yang kau lakukan malam ini, kau telah membangunkan sesuatu yang jauh lebih tua daripada sekadar ranah kultivasi. Kau telah membangunkan rasa lapar dari 'Iblis Bintang' yang sebenarnya."

​Li Chen tersenyum. Sebuah senyuman yang menjanjikan kehancuran bagi surga.

​"Bagus. Aku benci merasa kenyang."

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!