Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Di Bawah Pengawasan
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya dipecah oleh denting halus tuts keyboard. Akhirnya, Emrys menutup laptopnya dengan gerakan perlahan. Cahaya biru dari layar yang tadi menerangi sudut ruangan padam, menyisakan keremangan lampu tidur yang hangat namun memberikan kesan melankolis.
Emrys bangkit dari sofa, langkah kakinya tidak terdengar sama sekali di atas karpet bulu yang tebal. Ia berjalan mendekati tempat tidur, berdiri tepat di sisi Gaby. Matanya yang tajam menatap wajah gadis itu yang kini sudah terlelap. Sisa-sisa tangis tadi masih meninggalkan jejak kemerahan di kelopak mata Gaby yang tertutup rapat, membuatnya tampak sangat rapuh di tengah kemewahan kamar yang dingin ini.
Emrys perlahan menunduk. Tangan kirinya bertumpu pada kasur, menciptakan tekanan yang membuat posisi tubuhnya mengurung separuh tubuh Gaby. Aroma sabun yang sama kini menguar dari tubuh mereka berdua. Dengan gerakan yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan kekakuannya di dalam mobil tadi. Tangan kanannya terangkat untuk menyibak anak rambut yang menutupi dahi Gaby.
Ibu jarinya sempat terhenti sejenak di pelipis gadis itu. Ada kilat emosi yang sulit diartikan di mata Emrys. Antara rasa protektif yang meluap dan keinginan untuk memonopoli keberadaan Gaby sepenuhnya. Baginya, pemandangan Gaby yang tidur di ranjangnya adalah sebuah ketenangan sekaligus peringatan bahwa mulai detik ini, ia tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun bagi Gaby untuk menjauh lagi.
Tanpa suara, Emrys menarik dirinya kembali. Ia berjalan memutar ke sisi lain ranjang yang masih kosong. Dengan gerakan yang sangat tenang namun pasti, ia naik ke atas ranjang dan menyusup ke balik selimut sutra yang sama.
Ia tidak langsung berbaring sepenuhnya. Sejenak, ia menoleh ke arah Gaby yang membelakanginya, memastikan napas gadis itu tetap teratur. Setelah merasa yakin bahwa "miliknya" benar-benar aman dalam jangkauan lengannya, Emrys merebahkan kepalanya di bantal. Ia memejamkan mata dengan tenang, membiarkan kegelapan malam London menelan mereka berdua dalam satu ruangan yang kini terasa seperti benteng yang tak tertembus.
.
.
.
Gaby terbangun saat cahaya matahari London musim semi menyusup malu-malu melalui celah gorden otomatis yang terbuka sebagian. Ia mengerjapkan mata, sesaat merasa linglung dengan aroma cedarwood yang begitu pekat di bantalnya, sebelum ingatan semalam menghantamnya telak.
Pagi hari di penthouse terasa sangat sunyi. Saat Gaby membuka mata, sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin. Emrys telah bangun jauh lebih awal. Di atas sofa, Gaby tidak menemukan gaun perak yang semalam ia kenakan, melainkan sebuah setelan tweed berwarna krem yang sangat formal dan tertutup, lengkap dengan syal sutra senada. Sebuah pesan visual yang jelas. Tidak ada lagi pakaian eksperimental untuk hari ini.
Setelah mandi dan berpakaian dengan perasaan campur aduk, Gaby melangkah ke ruang makan. Emrys sudah di sana, duduk tegap dengan kemeja putih yang lengannya digulung sedikit, tampak sangat berwibawa di balik iPadnya. Pelayan segera menyajikan poached egg dan teh hangat untuk Gaby tanpa suara.
"Kau masih marah?" tanya Gaby pelan, suaranya hampir tenggelam oleh denting sendok perak.
Emrys tidak menjawab. Ia bahkan tidak mendongak, hanya menyesap kopinya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Sarapan itu berlangsung dalam keheningan yang mencekam, hanya ada suara denting porselen dan deru napas yang tertahan.
Perjalanan menuju Oxford pun tak jauh berbeda. Gaby duduk di samping Emrys yang kini sibuk dengan tabletnya. Atmosfer di dalam Bentley itu terasa begitu berat hingga Gaby hanya bisa menatap keluar jendela, melihat pemandangan London yang melesat cepat.
Begitu mobil berhenti tepat di gerbang ikonik Oxford, Emrys akhirnya menoleh. Matanya yang tajam mengunci pandangan Gaby.
"Anak buahku akan mengawasimu dari jarak jauh. Jaga sikapmu, Gaby. Jangan membuatku harus menjemputmu di tempat seperti semalam lagi," ucapnya dingin sebelum kunci pintu mobil terbuka secara otomatis.
Gaby turun dengan langkah gontai. Begitu mobil Bentley itu menjauh, Emilia dan Sabrina langsung muncul dari balik pilar batu kapur, menghampirinya dengan raut wajah cemas sekaligus penasaran.
"Gaby! Oh my God, kau tidak apa-apa?" Emilia memegang kedua bahu Gaby, memeriksanya dari ujung kepala sampai kaki.
"Kau bahkan tidak menggunakan makeup sama sekali!" seru Sabrina sembari mengernyit melihat wajah polos Gaby yang tampak sedikit pucat.
Tanpa banyak bicara, mereka menarik Gaby menuju bangku taman yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman ivy. Sabrina, dengan cekatan, mengeluarkan pouch kecil dari tasnya. Dengan sentuhan ahlI, ia mulai memoles wajah Gaby dengan concealer dan lip tint berwarna nude untuk menutupi kesan lelah di wajah sahabatnya itu.
"Sekarang sudah lebih baik. Kau terlihat seperti manusia lagi," ujar Sabrina puas setelah menyelesaikan riasan naturalnya.
"Sekarang jawab pertanyaanku, Gaby," desak Emilia, matanya memicing penuh selidik. "Apa Mr. Kaito menghukummu dengan sangat berat? Kau menghilang dari radar semalam setelah dia datang."
Gaby terdiam sejenak. Ingatan tentang bagaimana Emrys menggendongnya, mengurungnya di dalam kamar, hingga ia tidur di ranjang yang sama dengan pria itu berputar di kepalanya. Namun, ia tidak sanggup menceritakan detail yang terasa begitu intim sekaligus menyeramkan itu.
"Aku baik-baik saja," bohong Gaby sembari memaksakan senyum tipis. "Dia hanya mengomeliku selama dua jam nonstop dan memintaku langsung tidur. Begitu saja."
Sabrina dan Emilia saling berpandangan, tampak ragu. namun akhirnya memilih untuk tidak bertanya lebih jauh saat bel kuliah pertama berbunyi, menandakan hari kedua mereka di Oxford dimulai dengan pengawasan bayangan yang tidak terlihat.
Meskipun Gaby mencoba berbohong, aura kegelisahannya tidak bisa disembunyikan.
.
.
.
Suasana kelas Fashion Innovation yang biasanya tenang mendadak berubah riuh rendah saat pintu kayu besar di depan ruangan terbuka. Dosen utama, Profesor Adler, masuk diikuti oleh seorang pria yang sangat dikenal Gaby. Melvin Jabulani-Blackwood.
Melvin tampil sangat kontras dengan lingkungan akademik Oxford yang kaku. Ia mengenakan blazer oversized hitam dengan aksen perak di kerahnya, rambut putih pucatnya ditata sedikit berantakan namun tetap terlihat mahal.
Suasana di dalam aula kuliah yang megah itu seketika berubah. Profesor Adler berdeham, merapikan jubah akademiknya sebelum memberikan gestur formal ke arah pria di sampingnya.
"Good morning, everyone. I trust you’ve all settled in. For this semester’s digital innovation module, we are privileged to be joined by a distinguished guest practitioner who will be overseeing your practical projects. I suspect his reputation within the London underground circuit precedes him, " ujar Profesor Adler dengan nada bangga yang kental.
( Selamat pagi, semuanya. Saya harap kalian semua sudah menyesuaikan diri. Untuk modul inovasi digital semester ini, kita beruntung dapat bergabung dengan seorang praktisi tamu terkemuka yang akan mengawasi proyek-proyek praktikum kalian. Saya menduga reputasinya di kalangan dunia bawah tanah London mendahuluinya.)
Melvin melangkah maju. Cahaya dari jendela gotik Oxford menyinari fitur wajahnya yang tegas. Ia memberikan senyum tipis, namun sorot matanya yang tajam langsung mengunci posisi Gaby di barisan tengah.
"Good morning. It is a pleasure to be back within these walls, " ucap Melvin. Suaranya berat, dengan aksen Received Pronunciation yang sempurna namun tetap memiliki tekstur edgy khas London modern.
( Selamat pagi. Senang rasanya bisa kembali di dalam tembok ini.)
"I’m not here to lecture you on the archives of the past. My objective is far more surgical. I am here to demonstrate how one might effectively dismantle the established conventions of the fashion industry to create something truly avant-garde. I expect nothing less than absolute creative rebellion from each of you, " lanjutnya dengan kepercayaan diri yang mutlak.
( Saya tidak di sini untuk memberi kuliah tentang arsip masa lalu. Tujuan saya jauh lebih terarah. Saya di sini untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat secara efektif membongkar konvensi industri mode yang sudah mapan untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar avant-garde. Saya mengharapkan tidak kurang dari pemberontakan kreatif absolut dari masing-masing Anda.)
Gaby meremas tali tasnya di bawah meja. Kalimat Melvin terdengar seperti undangan sekaligus tantangan. Di luar ruangan, ia bisa merasakan kehadiran dua pasang mata dari pengawal Emrys yang berjaga di koridor, menciptakan kontras yang menyesakkan antara kebebasan kreatif yang ditawarkan Melvin dan pengawasan ketat yang dipaksakan oleh kakaknya.
Melvin mulai berjalan menuruni tangga teater kuliah, mendekat ke arah barisan mahasiswa. "Shall we begin? I’d like to see if your visions are as sharp as your surroundings, " bisiknya, berhenti tepat di depan meja Gaby, memberikan tekanan pada kata-katanya yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
( Haruskah kita mulai? Saya ingin melihat apakah penglihatanmu setajam lingkungan sekitarmu.)
Gaby menahan napas, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. Aroma spicy dari parfum Melvin yang begitu modern terasa sangat kontras dengan wangi debu buku dan kayu tua di aula Oxford ini. Dari sudut matanya, Gaby melihat bayangan dua pria di balik jendela koridor sedikit bergeser. Pengawal Emrys jelas sedang mencatat interaksi ini.
"Open your portfolios," perintah Melvin dengan suara yang menggema di seluruh ruangan, namun matanya tetap tertuju pada meja Gaby. "I want to see raw concepts. Not something you’ve polished to please your tutors, but something that reflects who you are when no one is watching."
( Aku ingin melihat konsep mentah. Bukan sesuatu yang telah kamu poles untuk menyenangkan tutormu, tetapi sesuatu yang mencerminkan siapa dirimu saat tidak ada yang melihat.)
Melvin mengetuk pelan meja Gaby dengan jari-jarinya yang mengenakan cincin perak minimalis. "Miss Gabriella, shall we start with yours? Or are you too occupied with the audience you brought in the hallway?"
( Nona Gabriella, haruskah kita mulai dengan Anda? Atau Anda terlalu sibuk dengan penonton yang Anda bawa di lorong?)
Wajah Gaby memanas. Sindiran Melvin tentang pengawalnya sangat tajam. Dengan tangan sedikit gemetar, Gaby membuka tablet digitalnya dan menampilkan sketsa gaun yang sempat ia corat-coret semalam sebelum insiden pelarian itu. Sebuah desain yang terinspirasi dari struktur arsitektur gotik Oxford namun menggunakan material transparan yang futuristik.
Melvin terdiam sejenak, mengamati layar tersebut. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Impressive. You have a penchant for structures that imprison while revealing. Quite poetic, given your current circumstances," komentarnya, suaranya kembali merendah, penuh makna ganda yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
( Mengesankan. Anda memiliki kecenderungan pada struktur yang memenjarakan sekaligus mengungkapkan. Cukup puitis, mengingat keadaan Anda saat ini.)
"But this," lanjut Melvin sambil menunjuk bagian detail bahu, "needs more defiance. Don't let the fabric succumb to gravity. Make it fight back."
( Butuh lebih banyak penolakan. Jangan biarkan kain menyerah pada gravitasi. Buatlah ia melawan balik.)
Saat Melvin baru saja akan memberikan koreksi lebih lanjut, pintu aula terbuka sedikit. Salah satu pengawal Emrys melangkah masuk, tidak berbicara, hanya berdiri tegak di dekat pintu belakang seolah-olah dia adalah bagian dari furnitur ruangan. Atmosfer kelas mendadak menjadi kaku. Profesor Adler tampak bingung, namun Melvin hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan.
"It seems we have a VIP guest in the back," ujar Melvin tanpa menoleh. Ia kembali menatap Gaby, kali ini dengan intensitas yang lebih dalam. "Don't let them intimidate your vision, Gaby. In fashion as in life the moment you start designing for your captor, you lose your soul."
( Sepertinya kita punya tamu VIP di belakang.Jangan biarkan mereka mengintimidasi visi Anda, Gaby. Dalam mode seperti dalam kehidupan, saat Anda mulai mendesain untuk penawan Anda, Anda kehilangan jiwa Anda.)
Gaby melirik ke arah pengawal itu, lalu kembali ke Melvin. Ia merasa seperti ditarik oleh dua kekuatan besar. Emrys yang melindunginya dengan cara yang menyesakkan, dan Melvin yang menawarinya kebebasan dengan cara yang berbahaya.
"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.
"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."
(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)