Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni di Bawah Bayang-Bayang Maut
Lampu neon di selasar kantor Polres Surabaya berpendar pucat. Menciptakan suasana steril yang kontras dengan gejolak di dada Adnan. Ia melangkah di samping Reza, sang Kapolres, menuju ruang Unit Cyber Crime. Namun, langkah mereka terhenti di depan pintu lift utama.
Seorang wanita berdiri anggun di sana, menyandang tas kulit desainer yang elegan. Kontras dengan seragam cokelat polisi yang berseliweran di sekitarnya. Setelan power suit berwarna biru tua menyelimuti tubuhnya yang tegap dan jelita. Tampak indah dan memesona bagi setiap mata para prajurit yang sekedar lewat, lalu tanpa sengaja meliriknya.
"Clarissa?" Adnan mengerutkan dahi, tampak agak kaget dengan kehadiran Clarissa.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Adnan dan kehadiran Clarissa, seolah memecah keheningan batinnya dari ribuan bayang-bayang luka oleh Arini. Seolah menjadi angin segar sejenak. Setelah berkecamuknya kejadian-demi kejadian yang ia terima.
Clarissa Mahendra menoleh, senyum tipisnya muncul, merekah bagai buah delima yang siap untuk dipetik. Namun matanya memancarkan kecemasan yang nyata. Sebelum ia menjawab, Reza sudah lebih dulu melangkah maju dengan tawa kecil yang dipaksakan.
"Ah, Nan. Aku lupa memberitahumu kalau Clarissa juga sudah di sini sejak sejam lalu. Dia yang melaporkan adanya pergerakan mencurigakan di salah satu anak perusahaan logistik Mahendra Group yang ternyata searah dengan lokasi penemuan Jo dan Bima," jelas Reza.
Adnan menatap keduanya bergantian, "Kalian... sudah saling hubungi?"
"Nan, kita bertiga ini dari almamater yang sama," Clarissa mendekat, aroma parfum oud-nya yang mahal. Seketika memudarkan bau karbol kantor polisi.
"Kamu di Arsitektur, aku di Bisnis, dan Reza... si anak Teknik Sipil yang tiba-tiba membelot jadi polisi lewat jalur perwira. Kita pernah satu tim di senat mahasiswa, ingat?"
Reza mengangguk, menyandarkan bahunya di pilar, "Dunia ini sempit, Nan. Aku menghubungi Clarissa karena Mahendra Group punya akses CCTV di jalur Margomulyo. Aku tidak menyangka dia akan datang sendiri ke sini."
Nostalgia singkat itu terasa seperti oase di tengah gurun bagi Adnan. Namun ia segera menarik dirinya kembali ke realita yang berdarah. Di ruang kerja pribadi Reza yang tertutup rapat. Mereka bertiga duduk mengelilingi meja kayu besar. Aroma kopi pahit menyeruak, menemani suasana yang kini berubah menjadi sangat teknis.
"Reza sudah menceritakan semuanya padaku, Nan," suara Clarissa merendah, penuh empati.
Menatap Adnan dengan perasaan iba yang begitu dalam. Tapi dari sorot mata Clarissa, jelas tergambar di sana. Pernah ada sosok lelaki yang ulet akan suatu presisi gambar arsitektur di dalam kelas yang pernah ia kenal dan selalu ia kagumi.
"Tentang pengkhianatan Arini, tentang Bagaskara, dan tentang hilangnya data di ponselmu. Aku sangat menyesal soal Jo dan Bima. Mereka orang baik." Ucap Clarissa terselip maksud samar dari kosakata berbelasungkawa di sana.
Adnan hanya mengangguk kaku, "Data itu kuncinya, Cla. Tanpa rekaman semalam. Aku tidak punya pijakan hukum untuk menghancurkan mereka tanpa terlihat seperti suami yang paranoid."
Clarissa membuka laptop tipisnya. Jemarinya yang lentik menari di atas keyboard, "Penghapusan data di perangkatmu itu dilakukan dengan remote wipe tingkat profesional. Tapi, mereka lupa satu hal. Mahendra Group memiliki kemitraan dengan penyedia server enkripsi yang sering digunakan oleh perusahaan keamanan swasta, termasuk yang menyuplai perangkat Jo dan Bima."
Clarissa memutar layar laptopnya ke arah Adnan dan Reza, "Ada satu web-portal forensik rahasia bernama Aethelgard. Ini adalah backdoor untuk memulihkan cache yang belum sempat tertimpa data baru di server pusat. Jika kita masuk sekarang, kita bisa menarik kembali fragmen pesan dan video yang mereka hapus semalam."
Selama tiga puluh menit berikutnya, ruangan itu sunyi senyap, hanya terdengar suara ketikan Clarissa. Adnan menahan napas saat sebuah bilah proses berwarna hijau di layar mencapai 100%. Pop-up muncul, deretan file video MP4 dan tangkapan layar percakapan WhatsApp mulai bermunculan satu per satu.
"Ketemu," bisik Clarissa dengan suara halus dan tersenyum manis.
Adnan melihat layar itu dengan mata yang memerah. Di sana, video pengkhianatan fisik Arini dan Bagaskara kembali muncul dalam resolusi tinggi. Pesan-pesan Jo yang melaporkan setiap gerak-gerik mereka juga kembali utuh. Pesan dari mertuanya dan pesan dari Mamanya juga ada di sana.
"Reza, ini bukti autentiknya," Adnan menggeser laptop itu ke arah sang Kapolres.
"Ini bukan hanya perselingkuhan, ini motif. Mereka membunuh Jo dan Bima karena dua orang ini memegang bukti ini."
Reza menatap layar dengan wajah mengeras. Sebagai polisi, ia telah melihat banyak hal buruk, namun pengkhianatan sedalam ini tetap membuatnya muak.
"Ini cukup, Nan. Aku akan memerintahkan tim IT-ku untuk mengunduh semuanya secara resmi sebagai barang bukti. Kita punya dasar kuat sekarang."
Saat waktu menunjukkan pukul delapan malam, Adnan berdiri untuk berpamitan. Ia harus kembali ke rumah sakit sebelum Arini mencurigai durasi kepergiannya. Saat di depan lobi Polres, Clarissa menahan lengan Adnan sebentar.
"Nan, dengarkan aku," ucap Clarissa serius, “Untuk beberapa hari ke depan, kamu harus menjadi aktor yang lebih hebat dari Arini. Tetaplah menjadi suami yang hangat. Jangan biarkan dia tahu kalau kamu sudah memegang bukti ini. Apalagi soal kematian Jo dan Bima. Biarkan dia merasa kemenangannya mutlak."
"Dia harus merasa aman agar dia melakukan kesalahan berikutnya," tambah Reza yang berdiri di belakang mereka.
"Anak buahku yang paling terlatih, tim intelijen berpakaian sipil, sudah mulai bergerak. Mereka akan memantau rumah sakit, rumahmu, dan studio Bagaskara 24 jam penuh tanpa mereka sadari."
Clarissa menatap mata Adnan dalam-dalam, "Mainkan peranmu, Adnan. Jadilah arsitek yang sedang membangun jebakan, bukan suami yang sedang meratapi luka. Aku akan terus memantau pergerakan finansial Bagaskara. Pria seperti dia tidak mungkin bergerak sebersih ini tanpa dukungan dana dari pihak lain."
Adnan mengangguk, merasakan kekuatan baru mengalir ke dalam dirinya. Dukungan dari dua sahabat lamanya ini. Satu dengan otoritas hukum dan satu dengan kekuatan informasi membuatnya merasa tidak lagi sendirian.
"Terima kasih, Cla. Terima kasih, Rez," ucap Adnan tulus.
“Sementara aku akan menjadi Adnan sang suami yang begitu mencintai istrinya. Walau sebenarnya setiap memandang Arini. Perutku terasa mual ingin muntah saja. Rez, aku serahkan penyelidikan lebih lanjut pada timmu, aku percaya kalian ahlinya,” ucap Adnan seraya berpamitan.
Ia masuk ke dalam mobilnya, memacu kendaraan kembali menuju rumah sakit. Di sepanjang jalan, Adnan berlatih mengatur ekspresi wajahnya. Ia harus kembali menyuapi ular itu dengan kasih sayang palsu. Sementara di balik sakunya, ia membawa kunci menuju gerbang neraka bagi istrinya sendiri.
Peperangan yang sesungguhnya belum berakhir, namun kali ini, Adnan tahu pasti siapa yang akan berdiri paling akhir di atas reruntuhan itu. Adnan berjanji dalam hatinya, akan mengusut tuntas semuanya. Demi kesetiaan almarhum Jo dan Bima. Agar pengorbanan mereka tak akan sia-sia.