NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Janji Pahit

Pagi itu, Universitas Nusantara tampak lebih sibuk dari biasanya. Terik matahari yang mulai memanjat langit Jakarta menyinari koridor-koridor terbuka, memantul di kaca-kaca jendela fakultas ekonomi. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang berlalu-lalang, sebuah pemandangan yang tak lazim menarik perhatian beberapa pasang mata.

Denzel Shaquille berdiri di samping sedan hitam milik keluarga Ramiro, namun ia tidak sedang membukakan pintu untuk Leah. Sebaliknya, ia berdiri menghadap Seraphina yang baru saja keluar dari gedung perpustakaan. Denzel mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku—penampilan yang sedikit lebih kasual dari biasanya, namun tetap memancarkan aura ketegasan yang sama.

Dari balik pilar koridor yang hanya berjarak beberapa meter, Leah Ramiro berdiri mematung. Ia sengaja bersembunyi di sana, mengamati interaksi itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan.

"Nona Seraphina," suara Denzel terdengar cukup jelas di telinga Leah. "Sesuai pesan saya semalam, apakah jadwal Anda sore ini masih kosong? Saya ingin mengajak Anda mengunjungi pameran artefak di pusat kota."

Seraphina tampak tersentak, wajahnya memerah dalam sekejap. Matanya melebar, memancarkan binar kebahagiaan yang begitu murni hingga Leah merasa jantungnya diremas oleh rasa bersalah.

"Tuan Denzel... maksudku, Denzel... kau serius?" tanya Seraphina dengan suara bergetar karena kegembiraan. "Aku pikir kau hanya bercanda semalam. Tentu! Tentu saja aku mau!"

Denzel mengangguk pelan, sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir menyerupai tarikan otot yang dipaksakan—muncul di bibirnya. "Baiklah. Saya akan menjemput Anda di depan gerbang utama pukul empat sore. Saya sudah mendapatkan izin dari Tuan Zefan."

Leah memejamkan mata rapat-rapat saat mendengar nama kakaknya disebut. Ia tahu Denzel berbohong soal "izin" itu; Denzel pasti telah mengatur segalanya agar terlihat sebagai instruksi resmi, padahal itu adalah bentuk kepatuhan terhadap "permintaan" Leah.

Dia melakukannya, batin Leah. Dia benar-benar melakukannya demi aku.

Seharusnya Leah merasa lega. Bukankah ini yang ia inginkan? Dengan Denzel yang terlihat memiliki hubungan dengan Seraphina, Jeff Chevalier tidak akan lagi memiliki alasan untuk menghina Denzel sebagai "peliharaan yang terlalu dekat dengan majikan". Denzel akan memiliki pelindung sosial, dan Leah akan terbebas dari beban rasa bersalah karena memonopoli waktu pria itu. Namun, saat melihat Seraphina yang hampir melompat kegirangan dan Denzel yang tetap berdiri dengan kaku, Leah merasakan sebuah kekosongan yang amat besar menghisap jiwanya.

"Terima kasih, Denzel! Sampai jumpa nanti!" Seraphina melambaikan tangan dan berlari kecil menuju kelasnya, meninggalkan Denzel sendirian di area parkir.

Denzel tidak langsung masuk ke mobil. Ia memutar tubuhnya perlahan, matanya yang tajam langsung menangkap keberadaan Leah di balik pilar. Ia tahu Leah ada di sana sejak awal. Ia selalu tahu di mana Leah berada.

Denzel berjalan mendekati Leah. Langkah kakinya yang berat di atas aspal terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran mereka. Saat ia sampai di depan Leah, ia menundukkan kepalanya sedikit—sebuah tanda hormat yang kini terasa seperti tamparan bagi Leah.

"Janji saya sudah saya penuhi, Leah," ucap Denzel rendah. Suaranya tidak mengandung emosi, dingin seperti es di tengah gurun. "Saya akan pergi dengan Nona Seraphina sore ini. Apakah ini membuat Anda merasa lebih 'lega'?"

Leah menelan ludah yang terasa pahit. Ia mencoba memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang pucat. "Iya, Denzel. Aku... aku sangat senang. Sera gadis yang baik. Kau akan menyukainya jika kau memberinya kesempatan."

Denzel menatap Leah cukup lama, sebuah tatapan yang seolah-olah menembus seluruh topeng kepura-puraan yang Leah bangun. Di mata Denzel, Leah melihat kesedihan yang begitu dalam, sebuah luka yang ia sendiri yang torehkan.

"Jika itu yang Anda yakini, maka biarlah begitu," sahut Denzel. "Saya akan menjalankan tugas baru ini dengan sebaik mungkin. Anda tidak perlu lagi merasa bersalah atas waktu atau perasaan saya. Semuanya sudah saya serahkan pada Nona Seraphina, sesuai keinginan Anda."

Denzel kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil, meninggalkan Leah yang masih berdiri di bawah bayangan pilar. Leah merasakan tangannya bergetar. Kalimat Denzel—Semuanya sudah saya serahkan pada Nona Seraphina—terdengar seperti sebuah janji perpisahan yang pahit. Ia merasa seperti baru saja menyerahkan kunci pelindung hatinya kepada orang lain, dan sekarang ia dibiarkan sendirian menghadapi badai.

Sore harinya, pukul empat tepat, Leah melihat dari jendela kamarnya saat sedan hitam itu bergerak menuju gerbang utama untuk menjemput Seraphina. Ia melihat Denzel yang biasanya hanya memandang ke depan, kini membukakan pintu untuk Seraphina dengan gerakan yang sangat sopan. Seraphina tampak sangat cantik dengan gaun bunga-bunganya, dan Denzel terlihat seperti pria ideal yang diimpikan oleh setiap gadis.

Namun Leah tahu rahasianya. Ia tahu bahwa bahu tegap itu sebenarnya sedang menahan beban yang luar biasa. Ia tahu bahwa mata yang memandang Seraphina itu sebenarnya kosong.

Aku melakukan ini untuk keselamatannya, Leah meyakinkan dirinya sendiri untuk yang keseribu kalinya. Jeff akan berhenti mencurigainya. Zefan akan mendapatkan investasinya. Denzel akan aman.

Namun, saat mobil itu menghilang dari pandangan, Leah merosot ke lantai kamarnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sebuah janji pahit telah dibuat. Denzel telah setuju untuk menjadi pengkhianat bagi hatinya sendiri demi mematuhi perintah Leah. Dan Leah, sang pemberi perintah, menyadari bahwa "kebebasan" yang ia berikan pada Denzel sebenarnya adalah penjara baru bagi mereka berdua.

Malam itu, di pusat kota, di tengah gemerlap lampu pameran artefak kuno, Denzel berjalan di samping Seraphina. Ia mendengarkan Seraphina bicara tentang dinasti kuno dan simbol-simbol kesetiaan, namun telinganya hanya menangkap suara detak jantungnya sendiri yang seolah-olah berteriak memanggil nama Leah.

Seraphina sesekali menyentuh lengan Denzel, sebuah kontak fisik yang seharusnya membuat pria mana pun merasa beruntung. Namun bagi Denzel, setiap sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang mengingatkannya pada pengkhianatannya. Ia tersenyum saat Seraphina bercanda, ia mengangguk saat Seraphina bertanya, dan ia berperan sebagai kekasih yang sempurna.

"Kau sangat baik, Denzel," bisik Seraphina saat mereka berdiri di depan sebuah relik emas yang melambangkan janji abadi. "Aku tidak menyangka kau akan benar-benar mengajakku keluar."

Denzel menatap relik itu. "Janji adalah sesuatu yang harus ditepati, Nona Seraphina. Terutama janji yang dibuat untuk menjaga seseorang."

Seraphina tersenyum, mengira janji yang dimaksud adalah janji Denzel untuk mengajaknya berkencan. Padahal, Denzel sedang bicara tentang janji pahitnya pada Leah—janji untuk menjauh, janji untuk melepaskan, dan janji untuk hancur secara perlahan agar Leah tetap utuh.

Sepanjang kencan itu, Denzel merasakan beban ganda yang hampir membuatnya gila. Ia menyakiti dirinya sendiri dengan setiap kata manis yang ia ucapkan pada Seraphina, dan ia menyakiti Seraphina dengan memberikan harapan palsu yang tidak akan pernah bisa ia penuhi dengan tulus. Namun di atas segalanya, ia melakukannya demi "jaga"-nya pada Leah. Jika ini adalah satu-satunya cara untuk membentengi Leah dari kecemburuan Jeff dan tekanan Zefan, maka Denzel akan meminum racun ini hingga tetes terakhir.

Saat ia mengantar Seraphina pulang, gadis itu mencium pipinya singkat sebelum turun dari mobil. Denzel tetap mematung di kursi kemudi setelah Seraphina menghilang di balik pintu rumahnya. Ia mengusap pipinya, tempat bekas bibir Seraphina menempel, dan ia merasakan jijik pada dirinya sendiri.

Ia memacu mobilnya kembali ke kediaman Ramiro. Saat melewati taman depan, ia melihat jendela kamar Leah masih menyala. Leah pasti sedang menunggunya kembali. Bukan sebagai kekasih yang merindu, tapi sebagai majikan yang ingin memastikan bahwa "proyeknya" berjalan lancar.

Denzel memarkir mobil, lalu berdiri di bawah cahaya lampu taman yang temaram. Ia mendongak ke arah jendela Leah. Di balik tirai yang tipis, ia bisa melihat siluet Leah yang berdiri di sana. Mereka saling menatap melalui jarak dan kaca, dalam keheningan yang sarat akan rasa sakit yang tak terkatakan.

Janji pahit itu telah dimulai. Sandiwara telah dipentaskan. Dan bagi Denzel Shaquille, mulai malam ini, setiap napas yang ia hirup adalah sebuah kebohongan yang ia dedikasikan untuk keselamatan wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!