NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: HUJAN DI RUMAH

Tiga hari setelah Maya mengubur sketsa galerinya di dalam laci, hujan turun tanpa henti.

Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Sejak pagi, langit kelabu menggantung rendah, dan air jatuh dari atap ke atap, dari talang ke talang, menciptakan suara yang konstan, membosankan, tapi anehnya menenangkan. Di rumah Menteng, semua jendela tertutup rapat. Tirai ditarik setengah, membiarkan cahaya kelabu masuk, menerangi ruangan dengan warna yang tidak bersemangat.

Yuni pulang lebih awal karena anaknya sakit. Pak Rustam sedang tidak jaga, mungkin juga berlindung di suatu tempat dari hujan. Rumah besar itu hanya berisi dua orang—Ardi di ruang kerja di lantai dua, Maya di ruang keluarga di lantai satu.

Mereka sudah tidak bicara sejak dua hari lalu. Bukan bertengkar. Hanya diam. Diam yang tidak lagi nyaman, tapi tidak ada yang tahu bagaimana memecahnya.

Ardi turun pukul dua siang.

Dia tidak lapar, tapi perutnya keroncongan. Di dapur, dia membuka kulkas, mengambil susu kotak, meminumnya langsung. Dingin menyebar di kerongkongan, membuatnya menggigil. Di meja dapur, ponselnya bergetar—pesan dari kantor, dari rekan bisnis, dari nomor tidak dikenal yang terus mengirim ancaman tentang rekaman. Dia tidak membuka satu pun.

Setelah susu habis, dia berjalan ke ruang keluarga.

Maya duduk di sofa kecil dekat jendela, kakinya ditekuk di atas bantal, sebuah buku sketsa terbuka di pangkuannya. Tangannya memegang pensil, bergerak pelan di atas kertas, menciptakan garis-garis yang tidak bisa Ardi lihat dari kejauhan.

Dia tidak menoleh ketika Ardi masuk. Matanya tetap tertuju ke sketsa, seperti Ardi tidak ada di ruangan yang sama.

Ardi berdiri di ambang pintu, tidak tahu harus mendekat atau pergi. Di luar, hujan mengguyur deras, suara air di talang terdengar ritmis.

“Kamu tidak makan siang?” tanya Ardi akhirnya.

“Tidak lapar.” Suara Maya datar, tidak bermusuhan, tapi juga tidak mengundang.

Ardi berjalan masuk, duduk di sofa utama—sofa besar yang biasa mereka tempati berdua ketika masih bisa duduk berdekatan tanpa rasa canggung. Sekarang, sofa itu terasa terlalu luas, terlalu dingin. Dia duduk di ujung, menjaga jarak.

Maya tidak bergerak. Dia terus menggambar, sesekali menghapus, sesekali menebalkan garis.

Ardi menatapnya dari kejauhan. Wajah Maya teduh, matanya fokus, bibirnya sedikit mengerucut—ekspresi yang dulu membuat Ardi ingin menciumnya. Sekarang, ekspresi itu hanya membuatnya sadar bahwa dia tidak lagi diizinkan mendekat.

“Apa yang kau gambar?” tanyanya.

Maya berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Tidak ada. Coretan.”

Ardi tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya duduk, mendengar hujan, mendengar suara pensil di atas kertas, mendengar napas mereka yang sengaja dibuat pelan.

Di luar, angin menderu, membawa dedaunan basah menempel di jendela.

Diam.

Ardi memikirkan Sari, yang sudah tiga hari tidak mengirim pesan. Terakhir kali dia mendengar kabar Sari adalah dari Maya—Maya bilang Sari mengirim pesan, bertanya apakah Maya tahu sesuatu. Maya bilang dia tidak menjawab.

Dia memikirkan Bram, yang akhir-akhir ini lebih sering di rumah. Bukan karena ingin, tapi karena perusahaan sedang goyah. Investor asing mulai bertanya-tanya, dewan komisaris meminta penjelasan, dan Bram harus hadir di setiap rapat, menjawab pertanyaan yang tidak bisa dia jawab karena dia sendiri tidak tahu skandal apa yang sebenarnya terjadi.

Dan dia memikirkan Maya, yang duduk tiga meter darinya, menggambar sesuatu yang tidak akan pernah dia tunjukkan.

“Maya,” Ardi memecah keheningan.

“Hm?”

“Aku minta maaf.”

Maya berhenti menggambar. Dia menatap sketsanya sebentar, lalu meletakkan pensil di samping buku. “Kau sudah bilang itu.”

“Tapi aku belum selesai minta maaf.”

Maya menoleh, menatap Ardi dengan mata yang lelah. “Untuk apa lagi?”

“Untuk semuanya.” Ardi menunduk, menatap tangannya sendiri. “Untuk membuatmu menunggu. Untuk tidak berani. Untuk—untuk menjadi aku.”

Maya tidak menjawab. Dia kembali ke sketsanya, mengambil pensil, melanjutkan garis yang terputus.

“Aku tidak tahu harus bilang apa,” kata Ardi. “Aku tahu aku salah. Tapi aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya.”

“Kau tidak bisa memperbaiki semuanya,” kata Maya pelan. “Kadang, yang bisa kau lakukan hanya menerima bahwa kau telah menghancurkan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.”

Ardi merasakan dadanya sesak. “Apakah itu yang kau rasakan?”

Maya berhenti menggambar. Dia menatap sketsa di pangkuannya—sebuah ruangan kosong, jendela besar, dan hujan di luar. “Aku tidak tahu apa yang aku rasakan.”

Diam lagi.

Di luar, hujan semakin deras. Air mengalir deras di talang, meluap di beberapa titik, menciptakan genangan di taman belakang. Ardi menatap ke luar jendela, melihat daun-daun berguguran, kolam ikan yang hampir meluap, dan langit kelabu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan cerah.

“Kapan terakhir kali kau menggambar?” tanya Ardi.

Maya mengangkat bahu. “Lama.”

“Dulu kau sering menggambar. Sketsa galeri itu. Aku pernah melihatnya.”

Maya menatap Ardi, matanya sedikit terkejut. “Kapan?”

“Beberapa bulan lalu. Aku masuk ke kamarmu, bukumu terbuka.” Ardi menunduk. “Maaf. Aku tidak bermaksud mengintip.”

Maya tidak marah. Dia hanya menatap sketsa di pangkuannya, garis-garis yang tidak pernah selesai. “Itu dulu. Sekarang aku tidak tahu apakah galeri itu masih mimpi atau hanya sampah.”

“Masih mimpi.”

“Kau tidak tahu.” Maya meletakkan pensil. “Kau tidak tahu apa yang aku korbankan untuk sampai di sini. Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu.”

Ardi tidak bisa menjawab.

“Aku menunggu Bram,” lanjut Maya, suaranya pelan. “Tiga tahun. Tiga tahun aku bilang pada diriku sendiri, 'Sabar, nanti Bram selesai dengan proyeknya. Nanti dia akan ingat janjinya.' Tapi tidak pernah. Bram selalu sibuk. Dan aku—aku hanya diam. Karena aku takut kehilangan hidup nyaman yang dia berikan.”

Ardi mendengarkan.

“Lalu kau datang,” kata Maya. “Kau tidak menjanjikan galeri. Kau tidak menjanjikan uang. Tapi kau—kau membuatku merasa tidak sendirian.” Dia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung kertas sketsa. “Aku pikir itu cukup. Ternyata tidak.”

“Maya—”

“Aku tidak menyalahkanmu.” Suaranya pelan. “Aku hanya—aku lelah. Lelah menunggu. Lelah berharap. Lelah menjadi rahasia yang tidak pernah diakui.”

Ardi berdiri, berjalan mendekat, duduk di lantai di depan sofa Maya. Dia menatap wajah Maya dari bawah, matanya basah.

“Aku akan bicara dengan Bram,” katanya. “Hari ini. Besok. Aku janji.”

Maya tersenyum pahit. “Janji yang sama seperti kemarin.”

“Kali ini sungguhan.”

Maya menatap Ardi lama. Di matanya, tidak ada harapan, hanya kelelahan. “Kau tahu, Ardi, aku sudah tidak yakin apakah aku masih ingin mendengar janjimu.”

Ardi merasakan ada yang runtuh di dadanya. “Maksudmu?”

“Maksudku—” Maya berhenti, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Maksudku, aku tidak tahu apakah aku masih bisa percaya. Pada kau. Pada Bram. Pada siapa pun.”

Diam.

Di luar, hujan mulai reda. Suara air di talang tidak lagi deras, hanya tetesan-tetesan kecil yang jatuh dengan ritme tidak teratur. Langit masih kelabu, tapi sedikit lebih terang dari tadi.

Maya mengambil pensil, melanjutkan sketsanya. Ardi tetap duduk di lantai, menatap tangannya yang kosong.

“Kau tahu,” kata Maya tanpa mengangkat wajah, “dulu aku punya banyak mimpi. Bukan hanya galeri. Aku ingin pergi ke Eropa, melihat lukisan-lukisan tua di museum. Aku ingin belajar membuat patung dari pematung terkenal. Aku ingin—” dia berhenti, tersenyum pada dirinya sendiri. “Aku ingin banyak hal.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku hanya ingin—” dia berhenti lagi, mencari kata. “Aku tidak tahu. Aku hanya ingin hujan reda.”

Ardi menatap Maya. Di bawah cahaya kelabu yang masuk lewat jendela, wajahnya terlihat pucat, tapi matanya—matanya masih menyala, meskipun redup.

“Aku akan membuat hujan reda,” kata Ardi.

Maya tertawa kecil. Bukan tertawa lucu, tapi tertawa yang pahit. “Kau tidak bisa mengendalikan hujan, Ardi.”

“Aku bisa mencoba.”

Maya menggeleng, kembali ke sketsanya. Mereka duduk dalam diam—Ardi di lantai, Maya di sofa, jarak tiga meter yang terasa seperti tiga tahun cahaya. Di luar, hujan berhenti. Langit masih kelabu, tapi tidak ada air yang jatuh.

Ardi menatap sketsa Maya dari kejauhan. Sebuah ruangan kosong, jendela besar, dan di luar jendela, hujan. Tidak ada orang. Tidak ada warna. Hanya abu-abu.

“Sketsa itu bagus,” kata Ardi.

Maya mengangkat wajah, menatap sketsanya sendiri. “Tidak. Ini hanya coretan.”

“Aku suka.”

Maya menatap Ardi. Untuk sesaat, matanya tidak lagi kosong. Ada sesuatu di sana—bukan cinta, bukan marah. Tapi sesuatu yang lebih rumit. Seperti dia sedang mengukur apakah Ardi serius, atau hanya bicara untuk mengisi keheningan.

“Kau tahu,” kata Maya pelan, “aku kadang bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika kita tidak pernah—jika kita hanya—aku tidak tahu.”

“Jika kita hanya berteman?”

Maya mengangguk.

Ardi menunduk. “Aku tidak tahu. Mungkin kita tidak akan sedekat ini. Mungkin kau masih di sini, masih menunggu Bram mewujudkan mimpimu. Mungkin aku masih dengan Sari, masih berpura-pura bahagia.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang—” Ardi mengangkat wajah, menatap Maya. “Sekarang aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kau. Meskipun kau marah. Meskipun kau diam. Meskipun kau tidak percaya padaku.”

Maya menatapnya lama. Lalu dia menutup buku sketsa, meletakkannya di samping bantal. Dia berdiri, berjalan ke jendela, membuka tirai lebih lebar. Di luar, hujan benar-benar berhenti. Daun-daun basah bergelimpangan di rumput, kolam ikan tenang, dan langit mulai menunjukkan sedikit warna biru di ufuk barat.

“Hujan reda,” katanya.

Ardi berdiri, berjalan ke samping Maya. Mereka berdiri berjauhan, menatap taman belakang yang basah.

“Aku tidak bisa janji akan berubah,” kata Ardi. “Tapi aku akan mencoba.”

Maya tidak menjawab. Dia hanya menatap ke luar jendela, menikmati keheningan setelah hujan.

Di kejauhan, seekor burung terbang rendah, mencari tempat berteduh. Angin bertiup pelan, membawa bau tanah basah dan dedaunan.

“Ardi,” kata Maya akhirnya.

“Ya?”

“Besok, apa pun yang terjadi—aku tidak akan menyesali ini.”

Ardi menatap Maya. Wajahnya tenang, tidak lagi marah, tidak lagi kosong. Hanya teduh, seperti langit setelah hujan.

“Aku juga,” katanya.

Maya tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, ketika semuanya masih sederhana.

Mereka berdiri di jendela, berdua, dalam keheningan yang tidak lagi nyaman, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tidak ada yang ingin pergi.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!