Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: MALAM PERTAMA
Kamar tamu di rumah Menteng jarang dipakai.
Ardi tidak ingat kapan terakhir kali dia masuk ke ruangan ini. Mungkin ketika pamannya dari Bandung menginap tahun lalu, atau ketika sepupunya datang dari Surabaya. Sekarang, dia berdiri di ambang pintu dengan koper kecil di tangan, menatap ruangan yang terasa asing meskipun berada di rumah yang sama.
Kamar ini lebih kecil dari kamarnya. Tempat tidurnya single, bukan king size. Sprei berwarna krem, bukan abu-abu gelap yang dia pilih sendiri. Tidak ada meja kerja, hanya meja kecil di sudut dengan cermin bundar yang berdebu. Bau pengharum ruangan menyengat—mungkin Bu Lastri, ART baru yang mulai hari ini, mencoba membuat kamar ini terasa lebih ramah.
Ardi meletakkan kopernya di lantai, duduk di tepi tempat tidur. Kasurnya keras, bantalnya tipis. Di luar, hujan masih turun, tapi sudah tidak sederas tadi. Suara air di talang terdengar ritmis, yang membuat tenang.
Tapi dia tidak tenang.
Ponselnya bergetar di saku celana. Dia mengeluarkannya, berharap itu Maya, tapi hanya notifikasi dari grup kantor. Puluhan pesan yang belum dia baca. Beberapa menyebut namanya, beberapa menyebut kata "skandal", beberapa hanya mengirim stiker bertanya-tanya.
Dia mematikan layar, membaringkan diri di tempat tidur. Langit-langit kamar ini putih polos, tidak ada lampu hias seperti di kamarnya. Tidak ada lukisan abstrak yang Maya pilihkan untuk kamarnya dulu—lukisan yang sekarang digantung di dinding yang sama, mengingatkannya pada Maya setiap kali dia terbangun.
Dia menutup mata, berusaha menenangkan napasnya. Tapi setiap kali udara masuk, yang menyeruak ke hidungnya bukan aroma sabun mandi Maya dari bantal—melainkan bau pengharum ruangan yang asing, anehnya begitu dekat, seakan ikut menempel di kulitnya.
Sekitar satu jam kemudian, Ardi keluar dari kamar tamu.
Rumah terasa berbeda di malam hari. Biasanya, jam segini dia akan di ruang keluarga, menonton TV dengan Maya, atau di kamarnya, mengerjakan laporan sambil Maya membaca di sampingnya. Kadang mereka tidak bicara, hanya duduk berdekatan, menikmati keheningan bersama.
Sekarang, lorong lantai dua sunyi. Lampu hanya menyala di ujung lorong, dekat tangga. Dua pintu di kanan-kiri tertutup rapat. Pintu kamar Bram, dan pintu kamar Maya.
Ardi berjalan pelan ke arah dapur, berusaha tidak menimbulkan suara. Di tangga, dia berpapasan dengan Bu Lastri, wanita paruh baya yang baru datang siang tadi, menggantikan Yuni.
Bu Lastri menatapnya sekilas, lalu menunduk. "Selamat malam, Mas Ardi."
"Selamat malam."
"Mau pesan sesuatu, Mas?"
"Nggak. Cuma ambil air."
Bu Lastri mengangguk, berjalan naik ke lantai dua. Ardi menatap punggungnya, bertanya-tanya apakah Bu Lastri sudah tahu. Mungkin semua orang sudah tahu. Mungkin Pak Rustam tahu, Bu Lastri tahu, tetangga tahu, seluruh Jakarta tahu.
Di dapur, Ardi membuka kulkas, mengambil botol air mineral. Dia minum langsung dari botolnya, berdiri di depan kulkas yang terbuka, menikmati dingin yang menerpa wajahnya. Di dalam kulkas, dia melihat makanan kesukaan Maya—yogurt stroberi, keju cottage, sayuran organik yang selalu Maya beli setiap minggu. Semuanya masih ada, tersusun rapi seperti tidak ada yang berubah.
Tapi semuanya sudah berubah.
Dia menutup kulkas, berbalik—dan Maya berdiri di ambang pintu dapur.
Ardi terkejut. Botol air di tangannya hampir jatuh. "Kamu—kau belum tidur?"
Maya mengenakan daster panjang berwarna biru tua, rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya tanpa riasan. Di bawah lampu dapur yang redup, dia terlihat lebih muda, lebih rapuh, lebih seperti Maya yang dulu—Maya yang menangis di kamar mandi di malam pertama dia datang ke rumah ini.
"Aku juga tidak bisa tidur," katanya.
Mereka berdiri berjauhan. Ardi di dekat kulkas, Maya di ambang pintu. Jarak tiga meter terasa seperti tiga tahun cahaya.
"Kau sudah makan?" tanya Ardi.
"Tidak lapar."
"Aku juga."
Maya berjalan masuk, membuka lemari, mengambil gelas. Gerakannya lambat, seperti orang yang kelelahan tapi tidak bisa berhenti. Dia mengisi gelas dengan air dari dispenser, meminumnya sedikit, lalu meletakkan gelas di meja.
"Malam ini aneh," katanya tanpa menatap Ardi. "Rumah ini terasa kosong."
"Karena Yuni pergi."
"Bukan." Maya menggeleng. "Karena kita tidak bicara. Karena Bram tidak bicara. Karena semuanya diam."
Ardi mendekat, berdiri di seberang meja. "Apa yang kau harapkan? Bram baru tahu. Dia butuh waktu."
"Waktu untuk apa? Untuk memaafkan? Untuk melupakan?" Maya menatap Ardi, dan untuk pertama kalinya malam ini, Ardi melihat matanya. Bukan marah, bukan menyesal. Tapi kosong. Kosong dengan cara yang membuatnya takut.
"Aku tidak tahu," jawab Ardi jujur.
Maya tertawa kecil. Bukan tertawa lucu, tapi tertawa lelah. "Kita tidak pernah tahu, kan? Dari awal kita tidak pernah tahu apa yang kita lakukan."
Dia berjalan ke jendela dapur yang menghadap ke belakang rumah. Di luar, lampu taman masih menyala, menerangi kolam ikan yang basah oleh hujan. Air di kolam naik, hampir meluap.
"Aku pikir aku bisa mengendalikan ini," kata Maya pelan. "Aku pikir aku cukup pintar untuk bersembunyi, cukup kuat untuk tidak jatuh cinta. Tapi aku salah."
Ardi mendekat, berdiri di sampingnya. "Kau menyesal?"
Maya diam lama. Di luar, angin menderu pelan, membawa dedaunan basah ke permukaan kolam.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku menyesal karena Sari terluka. Aku menyesal karena Bram terluka. Tapi kalau aku harus mengulang semuanya—" dia berhenti, menelan ludah, "—aku tidak tahu apakah aku akan memilih berbeda."
Ardi merasakan dadanya sesak. "Maya—"
"Tapi aku juga tidak tahu apakah ini cinta." Suara Maya tiba-tiba berubah, menjadi lebih dingin. "Atau hanya—aku hanya takut sendirian."
Ardi membeku. "Apa maksudmu?"
Maya menoleh, menatap Ardi dengan mata yang sama kosongnya. "Aku takut sendirian, Ardi. Aku takut tidak punya tempat pulang. Aku takut menjadi Maya yang dulu—yang tidur di kos-kosan sempit, yang hutangnya tidak pernah lunas, yang tidak punya siapa-siapa."
Ardi merasakan ada yang salah dengan kata-kata Maya, tapi dia tidak bisa menangkapnya. "Kau punya aku."
"Aku punya kamu sekarang." Maya kembali menatap kolam di luar. "Tapi suatu hari, kamu akan lelah. Kamu akan sadar ini semua salah. Kamu akan pergi. Dan aku akan sendirian lagi."
Ardi meraih tangan Maya, menggenggam erat. "Aku tidak akan pergi."
Maya tidak melepaskan, tapi juga tidak membalas genggaman itu. Dia hanya berdiri diam, membiarkan tangan Ardi menggenggam jari-jarinya yang dingin.
"Kau bilang itu ke Sari juga," katanya pelan. "Kau bilang kau tidak akan pergi. Tapi kau tetap pergi."
Ardi tidak bisa menjawab. Karena itu benar. Dia pernah bilang hal yang sama ke Sari, dan sekarang Sari menangis sendirian di apartemennya, membenci mereka berdua.
"Kita mungkin tidak akan bertahan," kata Maya. "Tapi malam ini, aku tidak mau sendirian."
Ardi menatap Maya, mencari kebohongan di matanya. Tapi yang dia lihat hanya kelelahan. Kelelahan yang sama yang dia rasakan di tulang-tulangnya, di setiap otot yang lemas, di setiap napas yang terasa terlalu berat.
Dia mendekat, meraih pinggang Maya, menariknya perlahan. Maya tidak melawan. Dia membiarkan Ardi memeluknya, membiarkan kepalanya bersandar di dada Ardi, membiarkan aroma sabun mandi yang familiar menyelimutinya.
"Aku takut," bisik Maya.
"Aku juga."
"Apa yang akan terjadi besok?"
"Aku tidak tahu."
Maya mengangkat wajah, menatap Ardi. Di matanya, untuk sesaat, Ardi melihat sesuatu yang bukan kelelahan. Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang lebih rumit—campuran antara cinta dan keputusan yang sudah dia buat.
"Apa kita melakukan hal yang benar?" tanyanya.
Ardi tidak menjawab. Dia menunduk, mencium kening Maya, lalu keningnya, lalu pelipisnya. Maya menutup mata, membiarkan bibir Ardi menyentuh kulitnya dengan lembut, tanpa tergesa.
Mereka berdiri di dapur yang sunyi, di rumah yang terasa seperti bukan rumah lagi, di malam pertama dari banyak malam yang akan terasa berat. Di luar, hujan sudah reda, tapi langit masih gelap, dan tidak ada bintang yang terlihat.
Maya menarik napas panjang, lalu melepaskan pelukan itu perlahan. "Kau harus kembali ke kamar tamu."
Ardi mengangguk. "Aku tahu."
"Besok akan berat."
"Aku tahu."
Maya berjalan ke pintu, berhenti di ambang. "Ardi."
"Ya?"
"Kalau besok—kalau Bram minta kita berhenti. Kalau dia minta kau memilih antara aku atau semuanya. Apa yang akan kau lakukan?"
Ardi menatap Maya. Di bawah lampu dapur yang redup, bayangan Maya terlihat panjang di lantai, menjalar ke arahnya seperti tangan yang meraih.
"Aku sudah memilih," katanya. "Sejak awal."
Maya tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, ketika mereka pertama kali berduaan di ruang keluarga, ketika tangan mereka bersentuhan untuk pertama kali. Senyum yang membuat Ardi lupa bahwa semuanya salah.
"Pilihan yang bodoh," katanya.
"Aku tahu."
Dia pergi, meninggalkan Ardi sendirian di dapur.
Ardi kembali ke kamar tamu dengan langkah berat.
Di lorong lantai dua, dia berhenti di depan pintu kamar Maya. Tidak ada suara dari dalam. Mungkin Maya sudah tidur. Mungkin dia hanya duduk di tepi ranjang, seperti Ardi dulu, menatap kosong ke dinding.
Dia mengangkat tangan, ingin mengetuk. Ingin masuk, duduk di samping Maya, bicara tentang apa pun yang bukan tentang Bram, bukan tentang Sari, bukan tentang skandal yang akan menghancurkan mereka.
Tapi tangannya tidak jadi mengetuk.
Dia berjalan ke kamar tamu, membuka pintu, masuk ke ruangan yang masih berbau pengharum menyengat. Di atas meja kecil, ponselnya berkedip—ada pesan masuk.
Dia mengambilnya, membaca.
Nomor tidak dikenal:
Mas Ardi, saya pikir Mas Ardi perlu tahu. Yuni tidak bekerja sendirian. Ada yang menyuruhnya merekam. Saya tahu siapa. Tapi untuk tahu, Mas Ardi harus bayar. 500 juta. Transfer ke rekening ini. Saya kasih waktu sampai besok malam. Kalau tidak, rekaman yang lebih panjang akan sampai ke media.
Ardi membaca pesan itu tiga kali. Jari-jarinya gemetar saat menyalin nomor rekening yang dikirim. Dia membuka aplikasi banking, melihat saldo di rekening pribadinya. Cukup. Lebih dari cukup.
Tapi bukan uangnya yang membuatnya takut.
Ada yang menyuruhnya merekam.
Siapa? Yuni tidak mungkin melakukan ini sendiri. Dia ART baru, tidak punya motif. Pasti ada orang di baliknya. Sari? Mungkin. Tapi Sari bilang dia tidak akan lapor ke Bram. Apakah ini cara Sari membalas dendam? Atau ada orang lain?
Ardi duduk di tepi tempat tidur, ponsel di tangan, membaca pesan itu berulang kali. Lampu kamar tamu terasa terlalu terang, terlalu menyilaukan. Dia mematikannya, membiarkan ruangan gelap, hanya diterangi layar ponsel yang redup.
Di luar, angin menderu lagi. Hujan mungkin akan turun kembali.
Ardi membuka pesan dari Maya yang dikirim siang tadi: Bram sudah sampai. Aku di ruang keluarga.
Lalu pesan dari Sari beberapa hari lalu: Aku nggak akan bilang apa-apa ke siapapun. Tapi jangan harap aku akan diam kalian bahagia.
Dan pesan dari Bram: Ardi, besok pagi rapat jam 8. Jangan telat.
Semua pesan itu mengarah ke satu titik yang sama. Semua orang tahu. Semua orang punya bukti. Dan semua orang menunggu—menunggu dia jatuh, menunggu dia membuat kesalahan, menunggu dia membayar harga dari pilihannya.
Dia mematikan ponsel, membaringkan diri di tempat tidur yang keras. Langit-langit kamar tamu gelap, tidak terlihat apa-apa. Tapi di dalam kepalanya, semuanya terlihat terlalu jelas.
Wajah Sari yang menangis di apartemen. Wajah Maya yang kosong di dapur. Wajah Bram yang pucat di ruang keluarga. Dan suara dari nomor tidak dikenal itu, yang terus berbisik di kepalanya: Ada yang menyuruhnya merekam. Saya tahu siapa.
Ardi menutup mata, mencoba tidur. Tapi di rumah yang dulu terasa aman, sekarang dia tidak bisa memejamkan mata tanpa membayangkan semua orang yang akan dia hancurkan.
Jika kalian suka dengan ceritanya,jangan lupa disave ya agar ngga ketinggalan updatean terbarunya oke...,aku juga minta dukungan kalian likenya ya