💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — NADIA MENYERANG HALUS
Ballroom hotel itu belum ramai, namun persiapannya sudah bising seperti sarang lebah. Staf berlalu-lalang membawa daftar tamu, vendor dekorasi sibuk mengukur presisi backdrop, dan tim PR berdiskusi sengit soal susunan kursi VIP.
Alinea berdiri di dekat meja registrasi. Ia memerhatikan keriuhan itu dengan ketenangan yang dipaksakan—sebuah topeng yang ia pakai sejak matahari terbit.
Dua hari menuju Gala.
Dua hari sejak pertengkaran yang meruntuhkan segalanya.
Arsenio berdiri tak jauh darinya, sedang memberikan instruksi kepada event organizer. Nada suaranya profesional. Tegas. Efisien. Seolah-olah malam itu tidak pernah terjadi. Seolah-olah tidak ada retakan yang menganga di antara mereka.
Namun, Alinea tahu. Hubungan mereka sekarang tak ubahnya gelas kristal yang retak tipis tampak masih utuh dan mewah dari jauh, tapi jika disentuh salah sedikit saja, ia akan hancur berkeping-keping.
“Alinea?”
Suara itu lembut. Terlalu manis.
Alinea menoleh. Nadia berdiri di sana dengan gaun putih minimalis dan rambut yang jatuh rapi. Senyumnya sempurna, begitu juga tatapannya—di permukaan.
Namun di balik kehangatan itu, ada mata yang sedang membedah setiap inci kekurangan Alinea.
“Aku dengar kamu sekarang intens banget ya persiapannya,” lanjutnya.
Alinea tersenyum sopan. “Namanya juga acara besar.”
“Iya sih,” Nadia terkekeh pelan. “Tapi pasti capek ya… apalagi kalau perannya sementara.”
Kalimat itu meluncur ringan. Nyaris terdengar seperti candaan santai di tengah hiruk-pikuk ballroom.
Tapi bagi Alinea, setiap katanya terasa tajam. Seperti sembilu yang sengaja diselipkan di balik tawa renyah, siap menyayat tepat di titik yang paling rapuh.
“Peran sementara?”
Nadia mengangkat bahu kecil. “Oh? Aku kira kamu tahu.”
Nada suaranya seolah tulus.
Seolah tidak sengaja membocorkan rahasia.
“Kontrak kalian kan cuma sampai gala ini selesai?”
Dada Alinea sesak. Oksigen di sekitarnya mendadak tipis.
Ia tidak pernah membocorkan detail kesepakatan itu pada siapa pun. Seharusnya, itu rahasia yang terkunci rapat.
Tapi di depan Nadia, Alinea merasa telanjang. Rahasianya baru saja dipamerkan dengan cara yang paling elegan.
“Siapa yang bilang?” tanyanya datar.
Nadia tersenyum. “Lingkaran kecil Arsenio itu sempit, Alinea. Orang-orang dekat pasti tahu.”
Orang-orang dekat.
Berarti Mama Arsenio?
Atau… Arsenio sendiri yang pernah menyebutnya di depan Nadia?
Alinea menahan ekspresi.
“Kamu salah informasi.”
“Semoga saja,” balas Nadia ringan. “Cuma ya… kasihan juga kalau kamu sudah terlanjur merasa lebih.”
Kali ini tidak ada lagi lapisan gula.
Itu serangan terbuka. Langsung menghantam harga diri Alinea di titik paling rendah.
Nadia baru saja menanggalkan topeng manisnya, menyisakan tatapan yang dingin dan menghakimi—seolah Alinea tak lebih dari sekadar pajangan yang salah tempat.
Alinea menegakkan bahu. “Terima kasih perhatiannya.”
Ia berbalik secepat mungkin, sebelum Nadia sempat menangkap kilatan di matanya yang mulai memanas.
Nadia tidak mengejar. Ia tidak perlu melakukannya.
Benih keraguan itu sudah berhasil ia tanam, dan ia cukup berdiri diam untuk melihatnya tumbuh merusak segalanya.
Menjelang siang, para tamu penting mulai berdatangan untuk gladi bersih. Termasuk Mama Arsenio.
Perempuan itu melangkah masuk dengan aura dingin yang tertata rapi. Mengenakan jas pastel dan tas mahal, tatapannya selalu terasa seperti penggaris—terus-menerus mengukur setiap inci kekurangan orang lain.
“Alinea,” sapanya singkat.
“Ma.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan hangat. Hanya jarak.
Mama Arsenio memandangnya dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menghakimi. “Gaunnya nanti malam jangan terlalu sederhana. Kamu berdiri di samping CEO, bukan menghadiri arisan.”
Kalimat itu terdengar seperti saran. Namun, nadanya adalah evaluasi yang dingin.
“Saya sudah siapkan beberapa opsi,” jawab Alinea tenang.
“Pastikan tidak memalukan.”
Lagi. Kata itu kembali terucap.
Memalukan.
Kata yang sejak awal menghantui posisi Alinea di sini. Mama Arsenio kemudian beralih begitu saja, melangkah menuju Arsenio yang baru saja selesai berbicara dengan timnya.
Bagi mereka, Alinea hanyalah variabel yang bisa diperbaiki, sementara Arsenio adalah pusat gravitasi yang harus selalu dijaga citranya.
“Kamu yakin semua ini sudah terkendali?” tanyanya.
“Tentu.”
“Termasuk… situasinya?”
Tatapan Mama mengarah sekilas ke Alinea.
Arsenio mengangguk. “Semua sesuai rencana.”
Alinea merasakan sesuatu bergeser di dadanya.
Semuanya berjalan sesuai rencana. Bukan sesuai perasaan. Bukan pula hasil keputusan bersama. Hanya... rencana.
Ia tidak berkata apa-apa, membiarkan keheningan itu menelan suaranya. Namun dari sudut ruangan, Nadia memerhatikan segalanya dengan tenang. Menikmati setiap retakan yang mulai membelah fondasi mereka.
Sore itu, sebuah unggahan muncul di media sosial salah satu sosialita.
Foto Arsenio dan Alinea saat konferensi pers beberapa minggu lalu.
caption pendek: “Kadang yang paling sementara terlihat paling meyakinkan. Tapi dunia bisnis selalu tentang kesepakatan, bukan perasaan.”
Tidak ada nama yang disebut. Tidak ada tuduhan langsung. Namun, kolom komentar mulai berisik—dan semua orang tahu ke arah mana telunjuk itu mengarah.
Kolom komentar mulai ramai.
“Kontrak doang ya ternyata?”
“Pantes keliatan formal banget.”
“PR relationship?”
Dalam hitungan jam, narasi itu menyebar.
Tim PR Arsenio panik.
“Pak, ini bisa jadi isu sebelum gala.”
Arsenio menatap layar tablet dengan wajah mengeras.
“Tracking sumbernya.”
“Belum jelas, tapi lingkarannya dekat dengan Nadia.”
Tentu saja. Arsenio menekan rahangnya kuat-kuat.
Ia bukan orang yang mudah terpancing oleh gosip murahan. Tapi ia tahu, ini bukan sekadar rumor yang lewat. Ini adalah serangan terstruktur yang dirancang untuk menjatuhkan.
Dan yang membuat tangannya mengepal di balik saku adalah satu kenyataan pahit: sasaran utamanya bukan hanya citra perusahaannya.
Tapi Alinea.
Malam itu, apartemen terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Alinea duduk di sofa dengan ponsel di tangan. Ia sudah membaca semuanya. Komentar-komentar itu sebenarnya tidak terlalu kreatif, tapi cukup tajam untuk menyayat.
Kontrak.
Sementara.
Properti.
Ia tertawa kecil—sebuah tawa getir yang pecah di tengah keheningan. Seolah seluruh dunia baru saja bersekongkol untuk menegaskan ketakutan terbesarnya.
Arsenio keluar dari ruang kerja.
“Kamu sudah lihat?”
“Sudah.”
“Jangan dibaca terlalu dalam.”
Alinea menoleh pelan. “Karena memang tidak dalam?”
Arsenio mendesah. “Ini permainan sosial.”
“Permainan siapa?”
Ia tidak menjawab langsung.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Nadia?” tanya Alinea.
Arsenio terdiam beberapa detik.
“Kemungkinan besar.”
Alinea mengangguk kecil.
Jadi benar.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
“Karena dia terbiasa berada di posisi itu.”
“Di samping kamu?”
Arsenio tidak menyangkal.
Mama sejak awal memang lebih menyukai Nadia. Latar belakang keluarga. Pendidikan. Lingkaran sosial. Semuanya cocok.
Rapi. Strategis. Dan yang paling menyakitkan bagi Alinea, Nadia tidak perlu dipoles untuk menjadi pantas.
“Kamu bisa klarifikasi,” kata Alinea.
“Klarifikasi apa?”
“Bahwa ini bukan kontrak.”
Sunyi.
Itulah masalahnya.
Hubungan mereka dimulai dari kontrak. Dan sampai detik ini, tidak pernah ada kata untuk mendefinisikannya ulang.
Mereka masih berjalan di atas hitam di atas putih. Tanpa ada yang berani melangkah ke area abu-abu bernama perasaan. Semuanya tetap sesuai prosedur, tapi entah mengapa, prosedur itu kini terasa mencekik.
Arsenio menatapnya. “Kalau saya klarifikasi sekarang, itu seperti mengakui isu itu valid.”
“Jadi kita diam saja?”
“Saya akan tangani secara internal.”
“Internal tidak menghentikan komentar publik.”
Nada suara Alinea tetap tenang.
Tapi matanya tidak.
“Alinea, ini bukan tentang perasaan.”
“Buat kamu mungkin tidak.”
Kalimat itu menggantung.
Arsenio berjalan mendekat.
“Apa kamu percaya gosip itu?”
Alinea tersenyum tipis.
“Saya percaya awalnya memang kontrak.”
Arsenio membeku.
“Sekarang?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu lebih berat dari yang ia kira.
Alinea menatapnya lama.
“Sekarang saya tidak tahu.”
Itu jawaban paling jujur.
Dan paling menyakitkan.
Keesokan paginya, Mama Arsenio datang lagi tanpa pemberitahuan.
“Aku tidak suka isu ini,” katanya langsung pada Arsenio.
“Kami sedang menanganinya.”
“Kami?” Mama mengangkat alis.
“Atau kamu?”
Alinea berdiri tak jauh dari mereka.
Mama melanjutkan, suaranya cukup keras untuk didengar.
“Kalau memang hanya kesepakatan sementara, jangan biarkan publik salah paham.”
Itu bukan saran.
Itu tekanan.
Alinea menelan ludah.
“Ma,” Arsenio memperingatkan.
“Apa? Aku hanya realistis.”
Mama menatap Alinea. “Dunia ini tidak ramah pada posisi yang tidak jelas.”
Posisi yang tidak jelas.
Sama seperti statusnya sekarang—mengambang di antara kenyataan dan sandiwara.
Nadia masuk beberapa menit kemudian, membawa sebuah kotak kecil. Langkahnya tenang, seolah dia adalah pemilik sah ruangan itu, sementara Alinea hanyalah tamu yang waktu kunjungnya hampir habis.
“Ma, aku bawakan bros yang kemarin Tante suka.”
Seolah semuanya hanya kebetulan. Seolah tidak ada api yang sengaja dibesarkan di balik layar.
Mama tersenyum pada Nadia. Begitu hangat, begitu tulus.
Kontras sekali dengan tatapan dingin yang baru saja ia lemparkan pada Alinea. Di ruangan itu, garis pemisahnya menjadi sangat jelas: siapa yang dianggap keluarga, dan siapa yang hanya dianggap tamu.
“Aku selalu bilang, stabilitas itu penting,” Mama melanjutkan, entah pada siapa. “Hubungan yang jelas, latar belakang yang setara, visi yang sama.”
Alinea merasakannya dengan jelas.
Ini bukan lagi sekadar sindiran.
Ini adalah deklarasi perang. Perang kelas sosial yang tak kasatmata namun mematikan.
Dan di sana, ia berdiri tepat di tengah medan tempur. Sendirian. Tanpa perisai, tanpa pembelaan, dan tanpa kepastian di pihak mana Arsenio akan berdiri.
Setelah mereka pergi, Arsenio berdiri diam cukup lama.
“Aku tidak akan membiarkan ini berlarut,” katanya akhirnya.
Alinea tertawa kecil. “Ini baru mulai.”
Arsenio menatapnya.
Arsenio melihat sesuatu yang berbeda di mata Alinea. Bukan sekadar luka, tapi kesadaran yang pahit.
Alinea akhirnya paham. Ia bukan sedang menghadapi satu perempuan cemburu. Ia sedang menghadapi sebuah sistem.
Lingkaran sosial. Standar keluarga yang kaku. Dan sebuah sejarah panjang yang tidak pernah—dan mungkin tidak akan—ia miliki. Di sana, ia merasa seperti orang asing yang mencoba masuk ke rumah yang pintunya sudah terkunci rapat dari dalam.
“Nadia tidak akan berhenti,” kata Alinea pelan.
“Saya tahu.”
“Ini bukan cuma tentang gala, kan?”
Arsenio menggeleng pelan.
Arsenio menyadarinya sekarang. Selama ini ia merasa bisa mengendalikan segalanya: pasar, investor, bahkan media. Namun, di hadapan Alinea yang kini menatapnya dengan kesadaran penuh, ia merasa kalah.
Ia tidak pernah benar-benar menghadapi perang seperti ini. Sebuah perang tanpa senjata api, yang hanya menggunakan bisikan sebagai peluru dan senyuman sebagai luka. Perang sosial yang menyerang reputasi secara perlahan, menghancurkan martabat tanpa perlu bersuara keras.
Ia menatap Alinea, menyadari bahwa perempuan itu sedang berdiri di medan tempur yang tidak akan pernah bisa ia menangkan sendirian.
Dan Arsenio sadar—jika ia tidak mengambil sikap sekarang, Alinea akan selamanya berdiri sendirian.
Kali ini, taruhannya bukan lagi soal etiket atau body language yang sempurna. Ini soal keberanian untuk menyatakan di depan dunia: Alinea bukan sekadar kontrak. Dia adalah pilihan.
Gala tinggal satu hari lagi. Medan perangnya sudah ditentukan, dan Arsenio tahu, ia tidak boleh lagi menjadi penonton di barisan depan kehancuran wanitanya.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨