Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali ke Korea
Pagi harinya, Haerim keluar dari kamar mandi dan melirik cermin—tubuhnya penuh bekas kemerahan.
Wajahnya memerah.
Aku pikir Alexey nggak akan seganas itu, gumamnya sambil menyentuh lehernya. Ternyata sedikit aja dipancing... benar-benar agresif.
Ia menutup wajah, malu.
Alexey bangun dan memeluk Haerim dari belakang sambil menghirup aroma rambutnya.
"Sudah wangi," gumamnya di telinga Haerim.
"Lihat! Gara-gara kamu, aku nggak berani keluar sekarang!" protes Haerim sambil menunjuk bekas-bekas di tubuhnya lewat cermin.
"Itu salah kamu."
"HAH?! Kok salahnya aku?!" Haerim menoleh kesal.
Alexey memutar tubuh Haerim menghadapnya.
"Baiklah, aku yang salah," ucapnya sambil mengangkat alis. "Tapi kenapa sekarang baru nyesel? Tadi malam kan... enak."
"Tadi malam kan enak..." gumam Haerim tanpa sadar.
"Apa yang kamu katakan?" goda Alexey sambil tersenyum tipis.
"Gak! Gak! Aku nggak ngomong apa-apa!" Haerim cepat menutup mulutnya, wajahnya merah padam. "Intinya... kamu jahat! Sekarang aku nggak bisa keluar gara-gara bekas merah ini!"
Ia memukul dada Alexey pelan sambil menunduk malu.
Alexey mengangkat Haerim dan mendudukkannya di meja rias.
"Tidak ada yang akan melihatnya," ucapnya sambil menatap mata Haerim. "Hanya aku yang boleh lihat. Dan aku... suka."
Haerim tersenyum senang, lalu dengan berani melumat bibir Alexey cukup lama hingga napas mereka berdua memburu. Setelah puas, ia melepaskannya dan menepuk dada Alexey pelan.
"Kalau gitu, kamu mandi sekarang. Ini udah siang."
Alexey tidak pergi—ia malah menciumi leher dan bahu Haerim dengan intensif.
"Kamu nggak bisa nyuruh aku pergi... setelah nyium aku kayak gitu," bisiknya di kulit Haerim.
Haerim terkekeh geli. "Jangan pakai alasan buat ambil kesempatan..."
Tapi Alexey terus menciuminya hingga Haerim mendesah pelan, tangannya mencengkeram bahu pria itu.
"Kenapa... semalam kamu berhenti?" tanya Haerim gelisah sambil menatap mata Alexey. "Apa kamu benar-benar nggak mau... menyentuhku lebih?"
Alexey berhenti, menatap wajah Haerim serius.
"Kamu masih sangat muda," ucapnya lembut sambil mengusap pipi Haerim. "Dan aku belum selesai dengan semua urusan ini. Aku janji... akan memiliki kamu seutuhnya setelah semuanya selesai."
Haerim mengalungkan tangannya di leher Alexey dan membenamkan wajah pria itu di dadanya.
"Sekarang aku bisa tenang," bisiknya lembut. "Karena ternyata... aku nggak menyukai orang secara sepihak."
"Aku yang lebih dulu suka sama kamu," bisik Alexey di dada Haerim.
"Kapan?" tanya Haerim sambil mengangkat wajah Alexey agar menatapnya.
"Saat melihat wajah dinginmu menatapku... pertama kali aku masuk kelas."
"Jangan ingatkan itu lagi!" rengek Haerim sambil memukul bahu Alexey malu. "Memalukan tau..."
"Temani aku mandi," bisik Alexey.
"Aku sudah mandi tadi."
Alexey mendekatkan bibirnya ke telinga Haerim. "Kalau begitu aku akan membuat kamu mandi lagi."
Sebelum Haerim sempat protes, Alexey sudah mengangkatnya dan membaringkannya di ranjang lalu berbaring di sisinya. Matanya menatap Haerim tenang. "Lepaskan jubah mandinya."
Haerim langsung menarik jubahnya rapat-rapat. "A—"
"Semalam kamu berani," goda Alexey.
Wajah Haerim memerah padam. "Semalam lampunya dimatikan!"
"Lakukan seperti semalam," kata Alexey.
Haerim menarik napas panjang, lalu perlahan melepaskan jubah mandinya. Tangannya bergerak ragu ke arah Alexey dan ia berhenti sebentar, matanya melebar. "Ini... bagaimana aku melakukannya semalam?" gumamnya tidak percaya pada diri sendiri.
"Lakukan seperti semalam, sayang."
Haerim menundukkan wajahnya dan melakukan apa yang diminta. Alexey memejamkan mata perlahan, napasnya berubah.
"Kamu sangat pintar," bisiknya.
Setelah Alexey sampai untuk kesekian kalinya, Haerim melepaskannya dan duduk tegak. Alexey mengambil tisu, membersihkan sudut bibir Haerim dengan pelan, lalu mengecupnya sekilas. "Sekarang kita mandi."
"Dimandikan," koreksi Haerim manja.
Alexey menatapnya sebentar. "Apapun itu, untuk kamu."
Haerim tersenyum puas dan mengecup bibirnya sekilas. "Kamu sangat memanjakan aku." Ia mendongak dengan ekspresi percaya diri. "Pasti kamu sudah kecintaan banget sama aku."
"Tentu saja." Alexey menggendongnya tanpa basa-basi dan melangkah ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berpakaian mereka keluar dari kamar hotel, Dimitri sudah menunggu di depan. "Apa Nona sedang sakit sampai memakai jaket setebal itu?"
Haerim langsung menarik penutup kepala jaketnya lebih rendah.
"Dia sedang menyembunyikan—" Haerim cepat menutup mulut Alexey dengan tangannya.
"Aku tidak terbiasa cuaca ekstrem Moskow," potongnya buru-buru. "Makanya pakai jaket tebal."
Dimitri mengangguk, tapi tersenyum tipis.
"Silakan, mobilnya sudah siap." Dimitri mempersilakan mereka.
Alexey meraih tangan Haerim dan mereka masuk ke dalam mobil. Tak lama mereka sudah tiba di bandara.
"Kita pulang ke Korea?" tanya Haerim. "Tidak melanjutkan penangkapan Seo-hoon?"
"Tidak. Seo-hoon pasti sudah pergi dari negara ini."
Haerim menghela napas panjang. "Baru juga mau tahu bagaimana misi orang elite... sudah harus pulang." Ia cemberut.
"Kamu sudah bolos kelas seminggu."
Sementara itu di Korea Selatan, waktu sudah sore. Dosen Lisa baru pulang dari kampus dan melewati gang sepi, tiga orang preman berdiri menghalangi jalan.
"Hei cantik, mau pergi kemana?" salah satunya menyeringai.
Lisa tidak menjawab dan buru-buru berjalan cepat melewati mereka.
Tapi preman itu mengikuti dari belakang dengan langkah santai.
"Jangan terburu-buru, nanti bisa terjatuh," ucap salah satunya sambil tertawa.
Lisa mulai berlari, mereka langsung mengejar.
BRUK!
Lisa terpeleset dan jatuh. Kakinya terkilir.
"Auww..." ringisnya kesakitan sambil memegangi pergelangan kaki.
"Lihat kan? Baru aja gue bilang jangan terburu-buru."
Ketiga preman mendekat, menyeringai jahat.
"Gimana kalau kita bersenang-senang aja?" ucap salah satunya sambil jongkok di depan Lisa.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Lisa ketakutan sambil mundur.
Saat preman itu hendak meraih wajah Lisa, SRETT! TACK! sebilah pisau menancap di lengannya.
"AKHHH!" teriaknya sambil mundur, memegangi lengan yang berdarah.
Lisa menoleh ke belakang, Hunter baru turun dari mobil dengan santai, tangan di saku. "Tikus kecil ini mencoba ganggu kamu?" tanyanya datar sambil melangkah mendekat.
"Tuan..." panggil Lisa dengan mata berkaca-kaca, lega.
"Siapa kamu?!" bentak salah satu preman sambil mengeluarkan pisau lipat. "Berani cari urusan sama kita?!"
Hunter dengan tenang melangkah maju dan menendang keras preman yang berjongkok di depan Lisa, pria itu terpental hingga tersungkur beberapa meter.
"BAJINGAN!" teriak salah satu preman melihat temannya tersungkur lalu menyerang Hunter dengan pisau.
Hunter menangkap tangannya dan mematahkannya dengan sekali gerakan, KRAK!
"SIALAN! SAKIT!" jerit preman itu sambil berlutut.
Hunter mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan menodongkannya ke preman yang tersisa. "Pergi... atau mati," ancamnya dingin.
Preman itu langsung pucat, membantu kedua temannya berdiri dan kabur terbirit-birit.
Lisa menatap Hunter dengan mata membulat. Kenapa dia punya pistol? Bukannya dia pengusaha? Kakak Alexey? batinnya bingung sambil masih duduk di tanah.