Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyadarkan Juno
Anjas tak bisa diam lagi sekarang setelah mendengar kalau Sintia sudah kurang ajar memasukkan darah haid nya ke dalam kue bahkan mengoleskan itu ke beberapa tempat di ruangan Anjas, dia bahkan harus mengganti beberapa barang di ruangannya yang menurut Suro masih terdapat pengaruh dari guna guna Sintia.
"Pak, Sintia masih belum memberikan jadwal untuk besok, dia langsung pergi begitu saja tanpa memberikan apapun" ucap Zayn yang masih berada di ruangan Anjas.
"Saya juga masih mengingatnya, kamu catat baik baik karena saya buru buru ada meeting hari ini, nanti saya akan minta pak Gunawan mengurusnya" jawab Anjas
"Baik pak, untuk hari ini anda ada dua meeting di luar, satu dengan pak Alif pukul sembilan pagi dan sore nanti dengan pak Raka" jawab Zayn
"Untuk siang nanti saya mau kamu menyiapkan beberapa camilan anak anak, saya akan jemput anak dan istri saya ke sini untuk di perkenalkan pada karyawan" ucap Anjas
"Baik pak, Bu Imel dari redaksi hot gosip juga menghubungi kantor ini pak, ingin klarifikasi hubungan bapak dengan artis Mariska katanya" jawab Zayn
"Tidak perlu klarifikasi apapun, katakan kalau saya tidak punya hubungan apapun dengan dia, kenal saja tidak" balas Anjas
"Baik pak, saya permisi ke meja saya" jawab Zayn keluar setelah menerima beberapa catatan jadwal Anjas yang akan dia salin ke bukunya.
"Untung pak Anjas ini cerdas, dia bisa hafal jadwalnya meskipun si Sintia tidak memberikan buku miliknya, dia pikir pak Anjas akan menelepon dia mungkin, dasar perempuan murah, mana mau pak Anjas dengan perempuan diskonan sana sini" gumam Zayn segera mencatat
"Zayn, kak Anjas ada di dalam?" tanya Juno
"Ada pak, sedang bersiap untuk meeting dengan pak Alif" jawab Zayn
"Kamu jangan lupa menyiapkan kopi tanpa gula untuk pak Anjas setiap pagi, dia tidak pernah melewatkan itu" ucap Zayn
"Baik pak"
Juno masuk ke dalam ruangan Anjas, dia melihat Anjas sedang memeriksa berkas dengan serius sambil sesekali melihat ke arah jam tangan miliknya karena dia tidak mau terlambat.
"Kak Ais tidak akan kemanapun kak" ledek Juno
"Kamu, ko kakak tidak tahu kamu masuk ke ruangan kakak" ucap Anjas meledek
"Di kira makhluk halus kali" gerutu Juno
"Kak..."
"Apa"
"Artis Mariska kirim DM ke Juno, dia minta ketemuan"
"Terus"
"Juno bilang pikir pikir dulu karena Juno yakin dia akan membicarakan tentang kak Anjas" jawab Juno
"Kalau begitu kamu tolak saja, kakak tidak mau kamu di permainkan akting buruknya dia" ucap Anjas
"Tapi Juno mau ketemu dia kak" rengeknya membuat Anjas menatapnya malas.
"Jangan"
"Sebentar saja, kak Anjas meeting dengan pak Alif dan Juno ngobrol dengan Mariska" bujuk Juno
Anjas hanya bisa menghela nafasnya, dia tahu pasti juno menyukai Mariska tapi Anjas tidak bisa membiarkan itu, Mariska juga bukan tanpa pegangan, dia punya susuk di beberapa bagian tubuhnya bahkan bedak yang dia pakai juga merupakan bedak yang sudah di jampi jampi oleh dukun.
"Juno, kamu ingin melihat bagaimana wujud seorang Mariska?" tanya Anjas
"Iya, dia cantik dan begitu membuat Juno tak bisa berpaling" jawab Juno
"Sini"
Anjas meminta adiknya itu mendekat, dia menatap Juno dengan serius dan membacakan sesuatu di wajah Juno yang tiba tiba memejamkan matanya setelah di pegang oleh Anjas.
"Setelah membuka mata, kamu akan melihat rupa asli dari orang orang yang memakai susuk ataupun bedak gaib" bisik Anjas lalu menepuk pundak Juno
Juno membuka matanya dan tiba tiba saja dia melihat Anjas begitu bercahaya, ada ketertarikan tapi Anjas mengusap rambut Juno supaya ketertarikan Juno pada Anjas menghilang. Ya, bukan hanya perempuan yang akan tertarik pada diri Anjas tapi juga laki laki akan melihat anak seperti seorang sosok yang berkharisma.
"Kak..."
"Pergilah, kamu mau bertemu dia di mana?" tanya Anjas
"Di restoran Winata"
"Kakak juga meeting di sana, ayo berangkat bersama"
"Benarkah? Juno boleh pergi?" tanya Juno dengan mata berbinar dan Anjas mengangguk, dia tidak mau membuat adiknya itu sedih jadi Anjas akan membiarkan Juno menghadapi kenyataan secara langsung.
Mereka berangkat bersama, Zayn merasa senang dia bisa terpilih jadi sekertaris Anjas karena jabatan pertamanya hanyalah seorang staf dari divisi pemasaran.
Sampai di restoran mereka berpisah, Anjas berada di meja nomor tiga bersama Alif dan Zayn, sementara Juno berada di meja nomor lima masih menunggu Mariska. wajahnya terlihat sumringah karena dia akan melihat perempuan idamannya, tapi saat sosok Mariska muncul di balik pintu restoran. Juno mengernyitkan alisnya karena dia melihat sesuatu yang aneh di wajah Mariska.
"Apa gue salah lihat ya, apa gue sedang kena halusinasi" gumam Juno sementara Anjas mulai tersenyum melihat Juno terus menggosok matanya.
"Kak Juno" panggil Mariska melambaikan tangannya dengan suara yang di lembut lembutkan.
Mata Mariska juga melirik ke arah Anjas yang sama sekali tidak melihat ke arahnya, di meja satu dan empat sudah ada wartawan gosip yang memang sedang menunggu dari sebelum Anjas datang dengan kamera tersembunyi yang mereka bawa.
"Kak Juno" panggilnya karena Juno hanya menatap wajah Mariska dengan wajah pucat.
"Ma... Mariska itu..."
"Kenapa kak?" tanya Mariska mengusap pipinya.
"Itu... di pipi kamu..."
"Ada apa?'
"Ada ulat kecil merayap sama cacing" jawab Juno merinding dan menjauh dari Mariska.
"Mana? tidak ada ko, mungkin kamu berhalusinasi" ucap Mariska
"Tidak, aku paling benci sama cacing, ihh... kak Anjas!" teriak Juno menutup matanya
"Tidak ada cacing kak, coba kamu lihat dulu"
Juno kembali memastikan, tapi yang di lihatnya masih sama, ada banyak ulat di pipi Mariska dan cacing di bagian keningnya, bahkan baunya juga begitu menyengat.
"Hueekk.. jauh jauh, aku tidak mau cacing itu melompat dan menempel padaku!" teriak Juno
"Cacing apa? ulat apa? Kak Juno pasti salah lihat" keluh Mariska
"Tidaklah, jauh jauh aku takut cacing! Kak Anjas! tolong Juno sebelum Juno pingsan!" teriak Juno berjongkok di bawah meja tempat dia duduk.
Anjas tahu Juno begitu takut dengan cacing karena dulu Juno pernah membeli mie ayam yang di dalamnya ada cacing besar sampai membuat Juno muntah dan di rawat di rumah sakit karena Shok.
"Hiks.. Kak Anjas!" teriaknya lagi
"Pak... pak Anjas" ucap Mariska saat Anjas terburu buru menghampiri Juno yang semakin ketakutan bahkan hampir muntah.
"Juno lihat kakak, jangan takut di sini ada kakak" bujuk Anjas menuntun Juno ke arah mejanya.
"Kak Juno"
"Pergi kamu! Jangan meracuni adik saya lagi, kamu sudah membuat dia menderita dan sudah membuat adik saya kehilangan banyak uang cuma karena membiayai operasi gunung kamu yang jelek itu!" bentak Anjas membuat semua orang terkejut
"Biaya apa? Saya tidak pernah meminta uang dari kak Juno"
"Sudah cukup, kamu juga sudah membuat nama saya jelek bahkan istri saya sampai menangis karena mengira saya selingkuh dengan kamu, padahal kenyataannya kamu memeras adik saya dan berpura pura mencintai dia!" bentak Anjas sengaja berbohong supaya wartawan di sana membuat berita lain dan nama Mariska jadi jelek