NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penumpang Gelap di Negeri Besi

Wilayah Barat tidak lagi terlihat seperti Kekaisaran Berline yang dikenal Elara dalam buku-buku sejarah. Dari balik jubah sihir Invisibility yang menguras mananya, Elara menatap pemandangan dari atas bukit perbatasan.

Langit Berline tidak lagi biru bersih; ada garis-garis asap hitam tipis yang membumbung dari bangunan-bangunan kotak raksasa yang mereka sebut pabrik.

"Tetap tenang, Elara. Fokus pada detak jantungmu," bisiknya pada diri sendiri.

Ia mulai merayap mendekati pos pemeriksaan CIO. Elara terkejut melihat tidak ada penyihir yang menjaga gerbang. Sebagai gantinya, ada menara-menara besi dengan lampu sorot raksasa yang berputar-putar, membelah kegelapan malam dengan cahaya buatan yang menyilaukan.

Saat sebuah truk logistik berat lewat—sebuah kendaraan besi tanpa kuda yang menderu dan mengeluarkan bau minyak—Elara menggunakan sihir levitasi ringan untuk menempel di bagian bawah sasis kendaraan tersebut. Tubuhnya bergetar hebat akibat deru mesin yang asing. Selama perjalanan menuju pusat kota, ia melihat hal yang mustahil: jalanan yang dulunya berlumpur kini dilapisi batu hitam rata (aspal), dan lampu-lampu jalan menyala tanpa ada satu pun kristal mana di dalamnya.

"Dunia macam apa ini?" batinnya ngeri.

Ia menyadari bahwa Berline bukan lagi sebuah kerajaan; ini adalah mesin raksasa yang sedang bernapas.

Truk itu berhenti di sebuah kompleks militer yang dijaga ketat. Elara melepaskan pegangannya dan menyelinap ke balik bayangan gudang. Di sana, ia melihat barisan peti kayu bertanda tengkorak dan tulisan

"PRODUK KIMIA - MUDAH MELEDAK".

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki yang teratur. Bukan langkah ksatria yang berat, melainkan langkah bot kulit yang ringan. Elara menahan napas saat dua prajurit CIO lewat.

Mereka tidak bicara soal sihir atau kehormatan; mereka bicara soal "kuota produksi" dan "kalibrasi laras".

Elara melihat salah satu dari mereka memegang senjata yang telah menghancurkan pasukan Aliansi. Dari jarak sedekat ini, benda itu tampak jauh lebih menakutkan—dingin, mekanis, dan tanpa jiwa.

Sementara itu – Di Kerajaan Arthemis, Selatan

Di wilayah Selatan yang hijau dan subur, kehidupan berjalan selambat aliran sungai. Di sebuah pasar budak di pinggiran ibu kota, kerumunan wanita bangsawan sedang memilih pria-pria yang akan dijadikan pelayan atau pekerja ladang. Udara di sini dipenuhi aroma melati, sangat kontras dengan bau belerang di Barat.

Namun, di sebuah sudut gang yang gelap, jauh dari pengawasan para penjaga istana, sebuah gosip mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan.

"Kau sudah dengar?" bisik seorang pelayan pria muda kepada temannya saat mereka sedang mencuci pakaian di sungai.

"Dengar apa? Tentang Ratu yang akan menaikkan pajak gandum?"

"Bukan. Tentang apa yang terjadi di balik pegunungan Ergest," si pelayan pria merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar.

"Katanya, di Barat, ada sebuah negeri di mana pria tidak lagi membungkuk. Mereka bilang pria di sana memakai seragam baja dan memegang kekuatan petir yang bisa menjatuhkan penyihir wanita paling kuat sekalipun hanya dengan satu kedipan mata."

Temannya tertawa kecil, meski ada nada ragu di wajahnya.

"Itu hanya dongeng para pedagang yang mabuk. Tidak ada pria yang bisa menandingi afinitas mana para wanita. Kita lahir lemah, dan kita akan mati lemah. Begitulah kehendak alam."

"Tapi bagaimana jika itu bukan dongeng?" pria pertama merogoh saku bajunya dan memperlihatkan secarik kertas kecil yang kusam—selebaran yang ditemukan di kaki gunung.

"Lihat gambar ini. Ini bukan simbol dewa. Ini simbol organisasi bernama CIO. Mereka bilang... 'Kekuatan bukan berasal dari darah, tapi dari alat'."

Gosip itu masih kecil. Ia belum menjadi api, hanya asap tipis yang tertiup angin. Di istana, para Ratu masih menyesap teh mereka, yakin bahwa pegunungan Ergest akan melindungi mereka selamanya. Mereka tidak tahu bahwa "alat" yang dibicarakan para pelayan itu sedang dikembangkan untuk mengakhiri supremasi biologis yang telah bertahan selama ribuan tahun.

Kembali ke Berline

Elara berhasil menyelinap ke dalam salah satu laboratorium alkimia. Di tengah ruangan, di bawah lampu gantung yang terang benderang, ia melihat sebuah benda yang membuatnya mematung. Itu adalah sebuah peluru raksasa, jauh lebih besar dari yang ditemukan Kaelen, dengan ujung runcing dan sirip di bagian belakangnya.

"Apakah ini... roket yang mereka ceritakan?" Elara berbisik.

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu menyala lebih terang. Sebuah suara dingin terdengar dari pengeras suara di sudut ruangan.

"Sihir Invisibility tingkat 4. Sangat mengesankan untuk ukuran penyihir Federasi. Tapi sayangnya, sensor panas kami tidak peduli pada seberapa transparan tubuhmu."

Elara berbalik dengan cepat, tongkat sihirnya bersinar biru. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan jas laboratorium putih dan kacamata hitam. Di belakangnya, selusin prajurit CIO telah menodongkan senapan mereka.

"Selamat datang di masa depan, Nona Mage," ucap pria itu. "Saya harap Anda membawa kartu identitas, karena prosedur kami untuk penyusup sangatlah... tidak sopan."

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!