Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Sisi Tangguhnya
Ogi mematung sambil masih memandangi Arisa. Namun semua itu berakhir saat Arisa menoleh ke arahnya. Buru-buru Ogi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ayo, Kang! Kita ke bawah!" ajak Arisa.
"Eh, nggak mau telepon papanya dulu, Neng?" tanya Ogi.
"Oh iya bener. Aku hampir lupa, Kang. Jadi ini tebingnya ya?" tanggap Arisa.
"Iya, Neng. Hati-hati ya, jangan terlalu ke ujung, nanti jatuh atuh," kata Ogi memperingatkan.
"Iya, Kang!" Arisa mengangguk sambil tersenyum. Dia segera menghubungi ayahnya.
Benar saja, Arisa bisa mendapatkan sinyal saat ada di tebing itu. Obrolannya berjalan lancar dengan ayahnya di telepon. Bahkan Ogi juga dibiarkan menyapa sang ayah.
Setelah itu, Ogi dan Arisa menemui Eyang Imas di kebun. Wanita tua itu tampak sedang sibuk menyiram bunga, dan dia tidak sendirian di sana. Ada dua wanita tua lain yang juga melakukan hal sama seperti Eyang Imas.
"Eh, Ogi! Neng Arisa... Kenapa ke sini?" sapa Eyang Imas ramah.
“Abdi ngiringan Neng Arisa néangan sinyal atuh, Eyang. Sakalian wé kami ka kebon néangan Eyang. Ieu Neng Arisa resep pisan kana kebon kembang Eyang, (Aku temanin Neng Arisa cari sinyal atuh, Eyang. Sekalian aja kami ke kebun cari Eyang. Ini Neng Arisa dia suka banget sama kebun bunga Eyang,)" jelas Ogi.
Sementara itu Arisa menatap Ogi dari samping. Sambil memasang ekspresi malasnya, karena dia tidak mengerti sedikit pun bahasa Ogi.
"Aku nggak ngejek Eneng kok," bisik Ogi yang paham betul maksud dari ekspresi Arisa.
Arisa mendengus sambil memutar bola matanya.
"Benarkah itu? Bagus kalau begitu? Ayok kau bawa dia keliling kebun ini, Gi!" suruh Eyang Imas.
"Tapi, Eyang... Aku kan nggak tahu apa-apa sama bunga yang ada di sini," ucap Ogi.
"Kau nggak harus tahu bunga apa untuk mengajakku keliling," sahut Arisa.
"Nah, tuh dengar kan. Sana pergi! Kalau mau petik bunganya juga nggak apa-apa ya. Petik sebanyak yang kamu mau ya, Neng..." kata Eyang Imas.
"Makasih, Eyang!" tanggap Arisa antusias.
Ogi lantas menemani Arisa berkeliling kebun. Kala itu keduanya juga mendapat sapaan dari Eyang Retno dan Eyang Yanti.
"Mereka satu geng ya?" bisik Arisa.
Ogi mengangguk. "Mereka temenan sejak SD loh. Sama kayak aku dan Dadang. Hebat kan?" tanggapnya yang juga berbisik. Ia dan Arisa bicara sambil terus melangkah.
"Bikin iri saja ya. Aku seumur hidup nggak pernah temenan sekuat itu. Kalau ada pun, biasanya pergi atau nggak bertahan lama," ungkap Arisa.
"Kalau begitu anggap saja mulai sekarang kau punya." Ogi tersenyum sembari menarik kerah bajunya. Mengajukan dirinya untuk jadi teman Arisa.
"Boleh juga. Tapi awas ya jatuh cinta sama aku," goda Arisa.
Wajah Ogi seketik bersemu merah. Dia langsung menyembunyikannya dengan cara membuang muka. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang tanpa alasan.
"Lihat! Ada mawar putih!" seru Arisa, tepat saat melihat hamparan bunga mawar putih yang rimbun dan lebat.
"Awas, Neng! Hati-hati sama--"
"Aw!"
Belum sempat Ogi memperingatkan, Arisa sudah merintih kesakitan. Karena tergesa-gesa, jarinya tak sengaja tertusuk duri mawar.
"Baru aja aku mau bilangin atuh, Neng. Mana tangannya?" Ogi bergegas memeriksa jari Arisa yang terluka.
"Nggak apa-apa, Kang. Cuman luka kecil doang ini," ujar Arisa santai.
"Biar kecil, tapi tetap sakit kan?" Ogi hendak membasuh luka Arisa dengan air yang mengalir di pinggir kebun. Namun belum sempat dia melakukannya, Arisa menarik tangannya dan mengelap jarinya yang terluka dengan baju.
"Ya ampun, Neng! Kenapa dilap pakai baju atuh," tegur Ogi.
"Kang Ogi jangan lebay deh. Kalau kepalaku kejatuhan kelapa, baru Kang Ogi boleh panik. Sekarang bantu aku ambil bunga mawarnya ya," balas Arisa.
Senyuman tipis mengembang di wajah Ogi. Saat itu dia sadar, ternyata Arisa juga punya sisi tangguh dalam dirinya.