NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tidak Kembali, Tapi Mengajarkan

Beberapa minggu berlalu tanpa kabar darinya. Tidak ada pesan yang terlewat, tidak juga notifikasi yang sengaja kuabaikan. Semuanya benar-benar sunyi, seperti dua jalur yang akhirnya memilih arah berbeda tanpa perlu saling menoleh ke belakang.

Aneh rasanya.

Dulu aku pikir, kehilangan akan selalu datang bersama rasa sakit yang tajam. Tapi yang kurasakan sekarang justru berbeda. Tidak ada luka baru, tidak ada air mata yang jatuh tiba-tiba. Yang ada hanyalah ruang kosong yang pelan-pelan diisi oleh pemahaman.

Aku tidak lagi bertanya, “Kenapa dia pergi?”

Pertanyaanku berubah menjadi, “Apa yang sebenarnya kupelajari?”

Aku duduk di kamar, membuka kembali halaman-halaman lama di buku catatan. Tulisan tentang rindu, jarak, ketergantungan, ketakutan, harapan. Semuanya seperti potongan diriku yang tertinggal di masa lalu. Aku membaca satu per satu, dan menyadari bahwa cerita ini tidak pernah benar-benar tentang dia.

Cerita ini selalu tentang aku.

Tentang caraku menaruh harapan pada orang yang belum tentu siap menampungnya. Tentang caraku menyebut perhatian sebagai cinta, hanya karena aku haus akan kedekatan. Tentang caraku bertahan terlalu lama di ruang yang membuatku terus meragukan nilai diriku sendiri.

Aku menulis lagi, lebih pelan, lebih tenang:

"Tidak semua yang datang harus tinggal. Ada yang hanya mampir untuk mengajarkan kita bagaimana caranya melepaskan."

Kalimat itu terasa sederhana, tapi berat. Karena di dalamnya ada pengakuan bahwa tidak semua hubungan diciptakan untuk selamanya. Beberapa hanya hadir sebagai pelajaran, bukan tujuan.

Aku teringat caranya tertawa.

Caranya mengetik pesan.

Caranya membuatku merasa diperhatikan, meski tanpa janji.

Semua itu nyata. Tidak palsu. Tidak sia-sia. Tapi juga tidak cukup untuk membuat kami tetap berada di titik yang sama.

Dan di situlah aku berhenti menyalahkan.

Aku berhenti menyalahkan diriku karena terlalu dalam.

Aku berhenti menyalahkan dia karena tidak bisa membalas perasaanku dengan kadar yang sama.

Aku berhenti mencari siapa yang salah, karena akhirnya aku mengerti: tidak semua perpisahan butuh penjahat.

Ada perpisahan yang terjadi hanya karena dua orang tumbuh ke arah yang berbeda.

Malam itu, aku keluar rumah sebentar. Berjalan tanpa tujuan, membiarkan angin menyentuh wajah, membiarkan pikiranku melambat. Lampu-lampu jalan masih sama, kota ini tidak berubah. Tapi aku berubah.

Aku tidak lagi berjalan sambil berharap bertemu seseorang.

Aku berjalan karena ingin berjalan.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sedang kehilangan siapa pun. Aku hanya sedang melanjutkan hidup versi yang lebih jujur.

Aku sadar, ada hubungan yang tidak kembali, tapi justru meninggalkan sesuatu yang lebih penting dari kehadiran: kesadaran. Kesadaran bahwa aku berhak dicintai tanpa harus mengecilkan diri. Bahwa aku pantas mendapatkan seseorang yang tidak membuatku terus menebak-nebak posisiku. Bahwa aku tidak perlu menunggu di tempat yang tidak pernah benar-benar memintaku untuk tinggal.

Aku kembali ke kamar, menutup pintu, dan duduk di tepi kasur. Tidak ada kesedihan yang menekan dada. Yang ada hanya rasa tenang yang asing—tenang karena tidak lagi berharap pada sesuatu yang tidak pasti.

Di buku catatan, aku menulis halaman baru:

"Aku tidak kehilangan dia. Aku hanya menemukan diriku yang sempat hilang saat terlalu sibuk mencintai."

Dan di titik itu, aku tersenyum.

Bukan karena cerita ini berakhir bahagia.

Tapi karena akhirnya aku mengerti maknanya.

Ada orang yang tidak kembali,

tapi justru mengajarkan kita cara pulang ke diri sendiri.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!