NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - Beautiful Pain

“Apa? Tempatku bersandar? Apa maksud Kakak?” tanyaku dengan kening berkerut, benar-benar tidak mengerti.

“Lili…” suara Henry terdengar berat, matanya menatapku lebih dalam, seolah berusaha menembus dinding yang selama ini kubangun. “Aku… aku menyukaimu.”

Aku membeku. “Apa? Coba ulangi lagi.” ucapku dengan suara bergetar.

“Aku menyukaimu, Lili.” ulang Henry tanpa ragu.

“Sebagai seorang kakak, kan?” aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, setengah berharap ia hanya bercanda.

“Bukan,” Henry menggeleng pelan. “Aku menyukaimu sebagai seorang pria.”

Jantungku seperti berhenti berdetak. Dunia seolah ikut membisu. Aku terkejut, terlalu terkejut, hingga tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Aku langsung melepaskan tanganku dari genggaman Henry, berdiri, lalu menjauh ke sofa dengan wajah pucat.

“Jangan bercanda, Kak. Nggak lucu.” ucapku lirih namun tajam.

Henry ikut bangkit, duduk di sampingku lagi, bahkan berani menggenggam tanganku sekali lagi. “Aku nggak bercanda, Lili. Aku serius. Aku menyukaimu. Ah bukan… aku mencintaimu.”

Aku terpaku menatapnya. Bagian dari diriku ingin percaya, tapi bagian lain menjerit bahwa semua ini salah. Tidak mungkin. Tidak seharusnya.

Dengan kasar aku menarik kembali tanganku. “Cukup, Kak. Jangan bercanda.” ulangku, kali ini lebih keras.

“Aku nggak bercanda, Lili.” Henry menegaskan dengan nada memohon.

Aku menelan ludah, hatiku sakit. “Aku akan anggap… bahwa aku nggak pernah denger apa yang kamu katakan barusan.”

Tanpa menunggu jawabannya, aku bergegas masuk ke kamar Henry, meraih tasku dengan gerakan tergesa. Aku harus pergi. Sekarang juga.

“Lili, kamu mau ke mana?” Henry menyusul, berdiri menghadang di depan pintu.

“Aku mau pulang.” jawabku tegas, meski suaraku bergetar.

Henry melangkah mendekat, menatapku dengan mata yang penuh rasa sakit. “Lili, percaya sama aku. Aku mencintaimu.” ucapnya sambil memegang kedua pundakku.

“Cukup, Kak!” bentakku. “Kamu mau jadi suami kakakku!”

“Aku nggak mau! Aku nggak mencintai Ana. Aku mencintaimu.” Henry bersuara hampir putus asa.

Hatiku remuk seketika. Kata-katanya seolah sesuatu yang selama ini ingin kudengar, tapi di saat yang bersamaan justru menghancurkan segalanya. Air mata menumpuk di pelupuk mataku, tapi aku tidak boleh menangis di hadapannya. Tidak sekarang.

Dengan kasar kutepis tangannya lalu berjalan keluar.

“Lili…” Henry memanggilku, suaranya bergetar.

Aku tidak menoleh, tidak memedulikan panggilannya. Aku terus melangkah keluar unitnya, masuk ke lift, dan menekan tombol tutup dengan tangan gemetar. Begitu pintu lift menutup rapat, pertahananku runtuh.

Air mata yang kutahan akhirnya tumpah deras. Aku jatuh berjongkok di sudut lift, tubuhku terguncang karena tangisan.

“Kenapa… kenapa harus seperti ini?” bisikku. “Jika benar Kak Henry mencintaiku… bukankah itu seharusnya menyenangkan? Tapi sayangnya… dia akan menikah dengan Kak Ana.”

Aku memeluk diriku sendiri, menunduk semakin dalam.

“Kenapa aku harus menyukai Kak Henry? Kenapa hati ini mengarahkanku padanya? Kenapa…?”

Lift terus meluncur turun, sementara aku terjebak dalam badai perasaan yang semakin tak terkendali.

Aku keluar dari lift sambil buru-buru menghapus sisa air mata di wajahku. Rasanya perih, bukan hanya di mata, tapi juga di hati. Segera kupesan taksi untuk membawaku kembali ke kantor. Aku harus mengambil motorku yang masih tertinggal di sana.

Tak lama, taksi yang kupesan datang. Aku masuk, duduk di kursi belakang, dan menatap kosong pada jalanan sore yang ramai. Suara mesin kendaraan, deru klakson, dan orang-orang yang lalu-lalang di trotoar, semuanya terdengar samar.

“Aku mencintaimu.”

Kata-kata Henry terus terngiang di kepalaku. Rasanya mustahil, seperti mimpi, mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya. Bukan sekadar rasa suka, tapi pernyataan cinta. Cinta seorang pria.

Namun pria itu akan menjadi suami kakakku. Kakak yang selalu mendapatkan segalanya—paras yang cantik, otak yang cemerlang, perhatian penuh dari Papa dan Mama. Sementara aku? Aku selalu menjadi bayangan yang tak dianggap.

Di banyak keluarga, adik biasanya dimanja, sementara kakak belajar mengalah. Tapi keluargaku berbeda. Hanya karena aku tidak sepintar Papa dan Ana, aku diperlakukan seperti orang asing di rumahku sendiri.

Dan kini, satu-satunya harapanku—seseorang yang diam-diam kusukai—juga akan direbut oleh Ana. Rasanya aku tidak bisa menerimanya, tetapi aku pun tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak punya kuasa sedikit pun.

Jika orang tuaku tahu bahwa Henry lebih memilihku daripada Ana, pasti akulah yang akan disalahkan. Mereka akan menuduhku menggoda calon suami kakakku. Padahal… aku bahkan tidak pernah berniat seperti itu. Selama ini aku hanya menyukainya dalam diam.

Taksi berhenti di depan gedung Natura Foods. Dengan langkah tergesa aku menuju basement, mengambil motorku, dan pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam. Angin sore menerpa wajahku, tapi pikiranku jauh melayang. Mengulang kembali setiap kejadian dalam beberapa hari terakhir—kabar mengejutkan dari Mama, perhatian Henry yang tiba-tiba berbeda, dan… pengakuan cintanya barusan.

Tanganku menggenggam stang motor, tapi hatiku tidak berada di jalanan. Pandanganku kosong, hanya lurus ke depan tanpa benar-benar melihat.

Tiba-tiba—

“Tiiiin!”

Suara klakson membuyarkan lamunanku. Sebuah mobil melaju dari arah berlawanan, jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja. Panik, aku langsung membelokkan motorku ke kanan.

Brak!

Motorku oleng, tubuhku terhempas ke aspal. Segalanya terasa berputar.

Sakit. Suara gaduh. Bau aspal yang menyengat.

Lalu… semuanya menjadi gelap.

Samar-samar kudengar suara riuh orang-orang. Seperti ada yang berlarian, suara langkah kaki, juga suara mesin medis yang berdenting pelan.

Perlahan kubuka mataku. Cahaya putih langsung menyilaukan pandanganku. Aku menatap ke atas—langit-langit putih dengan lampu neon, lalu menoleh sedikit dan melihat tirai putih yang menggantung mengelilingi ranjang tempatku berbaring.

“Lili, kamu udah sadar?”

Aku menoleh pelan ke arah suara itu. Henry duduk di sampingku, wajahnya penuh kekhawatiran.

Henry? Kenapa dia ada di sini? Apa aku sedang bermimpi?

“Lili, kenapa kamu diem aja? Kamu bisa ngenali aku, kan?” suaranya lagi.

“Kak Henry?” ucapku lirih, masih ragu.

“Iya, ini aku.” jawabnya cepat, seolah takut aku tidak mempercayainya.

“Ini… di mana, Kak?” tanyaku pelan.

“Di rumah sakit.” jelas Henry.

Aku langsung terkejut. “Apa? Rumah sakit?”

Henry buru-buru menenangkan, “Tenang, ini bukan rumah sakit keluargamu.”

Aku menarik napas lega, tapi rasa bingung tetap melanda. “Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?”

“Tadi kamu kecelakaan. Motormu jatuh.” jawab Henry.

Ingatan itu kembali—jalan sore tadi, mobil yang melaju ke arahku, suara klakson, lalu tubuhku terhempas.

“Terus… kenapa Kakak bisa ada di sini?” tanyaku lagi, heran.

“Pihak rumah sakit yang telepon aku.” ucap Henry singkat.

Aku semakin bingung. “Kok bisa? Memang pihak rumah sakit bisa baca kontak di HP-ku? Kan nama-namanya pakai aksara Korea semua.”

Henry menatapku lama. “Mereka tekan panggilan cepat. Nomor satu.”

Aku langsung membeku. Oh tidak…

“Lili…” Henry mencondongkan tubuh, menatap mataku serius. “Kenapa panggilan cepat nomor satumu justru aku? Bukannya keluarga? Mama, Papa, atau Ana?”

Aku menggigit bibir. Malu. Gugup. Tapi akhirnya aku berbisik, “Karena… bagiku kamu nomor satu.”

Henry terdiam, seolah tidak percaya. “Apa?”

“Hanya kamu yang bisa aku harapkan.” ucapku pelan.

Wajah Henry menegang. Namun sebelum ia sempat menanggapi, aku buru-buru menutupi kata-kataku. “Jangan ge-er. Maksudku… aku melakukan itu karena aku udah anggap Kakak kayak kakakku sendiri. Nggak lebih.”

Padahal hatiku tahu itu bohong. Sejak lama aku tak pernah lagi melihat Henry hanya sebagai kakak. Di mataku, dia adalah pria—satu-satunya pria yang membuatku merasa ingin bertahan di dunia yang sering terasa tidak adil ini.

Henry menatapku lama, lalu akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah… kalau itu maumu.”

Aku memalingkan wajah, menatap tirai putih di samping ranjang. “Kak… sampai kapan aku harus di sini? Aku pengin pulang. Aku nggak suka di sini.”

Henry menatapku khawatir. “Pulang? Kamu habis kecelakaan, Lili. Lihat tuh tanganmu lecet-lecet, pergelangan kakimu juga melepuh karena kena mesin.”

“Ah… tapi aku nggak suka bau obat-obatan ini. Rasanya pengin muntah. Tolong, Kak, aku pengin pulang.” rengekku lirih.

Henry menghela napas panjang, tampak menyerah. “Nggak bisa.”

“Kak…” aku menatapnya dengan mata memohon. “Tolong bilangin ke dokternya. Aku janji hati-hati kalau di rumah. Please, Kak…”

Henry menutup wajahnya sebentar dengan tangannya, lalu menunduk mendekat. “Ya udah… tunggu sebentar. Aku panggil dokter.”

Senyum kecil terukir di wajahku. Aku benar-benar tidak betah di rumah sakit. Membayangkan harus lama di sini saja sudah membuatku pusing.

Beberapa menit kemudian, Henry kembali bersama seorang dokter pria.

“Selamat malam, Mbak Lilia.” sapa dokter itu ramah.

“Malam, Dok.” balasku sopan.

“Bagaimana keadaannya? Apakah merasa pusing atau mual?” tanyanya sambil membuka berkas di tangannya.

“Sedikit, Dok. Tapi jujur saja, kalau saya harus lama-lama di sini, saya malah makin pusing. Tolong izinkan saya pulang, ya, Dok.”

Dokter tersenyum kecil. “Kita lihat dulu, ya.”

Ia mendekat, memeriksaku dengan teliti—denyut nadi, tekanan darah, juga memeriksa luka di tangan dan kakiku.

“Baik,” ucap dokter itu akhirnya. “Kalau Mbak Lilia tetap bersikeras ingin pulang, saya izinkan. Tapi syaratnya, tunggu infusnya habis dulu. Setelah itu, harus ada yang memastikan Mbak istirahat total di rumah.”

Aku tersenyum lega. “Baik, Dok. Terima kasih.”

“Ya sudah, saya permisi dulu.” Dokter itu berpamitan, lalu berjalan keluar.

Henry menunduk sedikit, “Terima kasih, Dok.” sebelum dokter benar-benar pergi.

Begitu tinggal berdua lagi, aku menghela napas lega. “Ye… akhirnya bisa pulang.” ucapku senang, hampir bersorak.

Henry hanya menggelengkan kepalanya sambil menatapku tak habis pikir. “Kamu ini, Lili…”

Setelah infus habis dan semua administrasi selesai, aku akhirnya diperbolehkan pulang. Henry menuntunku sampai ke parkiran, lalu membukakan pintu mobilnya untukku.

“Kak, kamu nggak bilang ke Mama dan Papa, kan?” tanyaku lirih, begitu mobil melaju meninggalkan rumah sakit.

Henry menggeleng singkat. “Nggak.”

Aku menghela napas lega. “Bagus. Kalau mereka tahu, bisa gawat. Mereka pasti marahin aku… bahkan mikir yang nggak-nggak.”

“Tenang,” katanya pelan, menoleh sebentar ke arahku. “Aku nggak bakal bikin kamu susah.”

Aku tersenyum tipis. “Makasih. Oh iya, motorku gimana?”

“Sekarang ada di kantor polisi.” jawabnya singkat.

“Ah…” aku terdiam sebentar.

“Besok kita ambil bareng.” lanjutnya.

“Ya…” gumamku. Lalu aku menoleh padanya. “Kak, jangan antar aku ke rumah, ya. Anterin aku ke rumah Caca aja.”

Aku tidak mau orang rumah melihat kondisiku seperti ini. Mereka pasti penuh dengan pertanyaan, dan aku tidak sanggup menjawab.

Henry menghela napas sebentar sebelum berkata, “Aku akan bawa kamu ke apartemenku.”

“Apa?!” Aku terbelalak kaget.

Dia tetap menatap lurus ke depan, suaranya mantap. “Kalau aku bawa kamu ke rumah Caca, kamu mau bilang apa ke dia? Dia pasti bakal tanya macam-macam.”

Aku terdiam. Bener juga. Caca memang tahu aku menyukai Henry, tapi kalau sampai tahu aku pulang dari apartemennya… aku tak bisa membayangkan reaksinya.

Dengan terpaksa, aku akhirnya mengangguk.

Aku mengirim pesan singkat ke Mama, mengatakan bahwa aku akan menginap di rumah Caca. Balasannya hanya satu kata: iya.

Tanpa tanya, tanpa peduli. Seolah keberadaanku tak pernah penting.

Sesampainya di basement apartemen Henry, ia kembali menuntunku. Tangannya kokoh menopang tubuhku, bahkan sampai masuk ke dalam unitnya.

“Kamu tidur di kamarku. Biar aku tidur di sofa.” ucapnya saat kami masuk.

“Eh? Jangan, Kak. Ini kan apartemenmu, masa kamu yang tidur di sofa?”

“Kaki kamu baru aja kecelakaan. Ada luka juga. Nggak mungkin kamu bisa tidur nyaman di sofa.”

“Tapi… kamu juga pasti nggak nyaman tidur di sofa.”

Henry tersenyum tipis, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit kutebak. “Aku nggak apa-apa. Yang penting kamu istirahat.”

Ia membawaku ke kamarnya dan membantuku duduk di atas tempat tidur. Tempat itu wangi, sederhana tapi terasa hangat. Henry lalu mengambil baju dari dalam lemari, lalu menyerahkannya padaku.

“Gantilah dengan ini. Lalu tidurlah.” Ucapnya, sebelum keluar kamar dan menutup pintu dengan tenang.

Aku menggenggam baju yang ia berikan, memandang pintu yang baru saja tertutup. Hati ini terasa campur aduk. Bahagia, takut, bersalah, sekaligus rindu.

Tidur di kamar Henry… pria yang tadi siang mengucapkan kata cinta untukku.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa berada di tempat yang bukan milikku… tapi entah kenapa justru terasa seperti rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!