Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: PENGKHIANATAN SUNYI
Rumah aman itu kini terasa seperti peti mati yang terlalu luas. Julian duduk di kursi kayu, membersihkan senjatanya dengan gerakan mekanis, namun matanya terus melirik ke arah Elara yang duduk diam di ambang jendela.
Wanita itu tidak bergerak selama satu jam. Matanya tidak berkedip, cahaya digital birunya sesekali berdenyut halus.
"Elara, makanlah sesuatu," ucap Julian lembut.
Elara tidak menjawab. Di dalam kepalanya, suara Julian terdengar jauh, seperti transmisi radio yang terganggu statik. Sebaliknya, sebuah suara lain terdengar sangat jernih, seolah-olah pemiliknya berdiri tepat di belakang telinganya.
“Dia mencoba mengalihkan perhatianmu, Elara,” bisik suara Kael melalui sistem saraf optiknya. “Kasih sayang adalah caranya membelenggu instingmu. Kau tidak butuh nutrisi sekarang. Kau butuh sinkronisasi data.”
Elara sedikit memiringkan kepalanya. "Aku sedang tidak lapar, Julian," jawabnya datar.
Julian menghela napas, meletakkan senjatanya. Ia mendekat, mencoba menyentuh bahu Elara, namun Elara menghindar bahkan sebelum tangan Julian sampai.
"Sejak kita kembali dari dermaga, kau... kau berbeda," Julian berbisik, suaranya penuh luka. "Bicaralah padaku. Apa yang dia lakukan pada sistemmu?"
“Katakan padanya kau baik-baik saja,” perintah Kael. “Jangan biarkan dia tahu bahwa aku sedang membantumu melihat pola serangan Baron yang sebenarnya. Dia akan mencoba mematikan aksesku, dan itu akan membuatmu buta lagi. Kau tidak mau kembali ke kegelapan, kan?”
Elara menatap Julian. Wajah pria itu penuh dengan kekhawatiran yang tulus, namun di mata digital Elara, wajah itu kini dipenuhi oleh metadata yang meragukan. Titik-titik merah muncul di sekitar nadi Julian—tanda stres, tanda kebohongan yang tersisa.
"Sistemku berfungsi dengan efisiensi seratus persen, Julian," ucap Elara. "Justru kau yang terlihat tidak stabil. Detak jantungmu meningkat 15 persen sejak kau menyebut nama ibuku."
Julian tersentak mundur. "Kau... kau memindai aku?"
"Aku memindai segala hal yang bisa menjadi ancaman," Elara berdiri, berjalan menuju meja peta. "Kael mengirimkan koordinat baru. Baron tidak ada di galeri besok. Dia akan memindahkan pusat data ke dermaga selatan. Kita harus bergerak ke sana."
Julian mengerutkan kening. "Dermaga selatan? Itu area terbuka, Elara. Itu bunuh diri. Intelijen Moretti yang tersisa mengatakan dia akan tetap di pusat kota."
“Julian menggunakan informasi lama,” suara Kael kembali masuk, dingin dan logis. “Dia ingin membawamu ke pusat kota karena di sana dia punya sekutu. Di dermaga, hanya kau dan aku yang memegang kendali. Dia takut kehilangan kendali atas dirimu, Elara.”
Elara menatap peta itu, lalu menatap Julian. "Informasimu sudah usang, Julian. Aku akan mengikuti koordinat dari Kael."
"Kau lebih mempercayai dia daripada aku?" Julian bertanya, suaranya naik satu oktaf, penuh ketidakpercayaan. "Pria yang baru saja meretas otakmu?"
"Dia tidak meretasku, Julian. Dia memberiku kunci," Elara mengambil jaket taktisnya. "Kau menghabiskan sepuluh tahun menjagaku tetap dalam kegelapan agar kau terlihat seperti cahaya. Kael memberikan aku penglihatan, meskipun itu menyakitkan."
"Elara, dengarkan aku—"
"Tidak. Kau yang dengarkan," Elara berbalik, matanya bersinar intens. "Kau boleh ikut, atau kau boleh tetap di sini. Tapi jangan pernah lagi mempertanyakan apa yang aku lihat. Karena apa yang aku lihat sekarang jauh lebih nyata daripada semua janji yang pernah kau ucapkan."
Elara berjalan melewati Julian menuju pintu. Julian terpaku di tempatnya, menatap punggung Elara yang kini terasa seperti orang asing. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: Kael tidak perlu menggerakkan tangan Elara untuk mengendalikannya. Dia hanya perlu memberikan Elara alasan untuk berhenti mempercayai Julian.
Di dalam mobil menuju dermaga, keheningan di antara mereka terasa mencekam. Julian memegang kemudi dengan tangan gemetar, sementara Elara terus menatap keluar jendela.
“Bagus, Elara,” suara Kael terdengar puas, hampir seperti belaian di dalam benaknya. “Kau melakukan hal yang benar. Sebentar lagi, kau tidak akan membutuhkan siapa pun untuk melindungimu. Kau akan menjadi sistem itu sendiri.”
Elara memejamkan matanya sejenak, menikmati kejelasan yang diberikan Kael. Di kursi pengemudi, Julian meliriknya, ingin bicara namun tertahan oleh dinding es yang telah dibangun Elara.
Julian menyadari pengkhianatan ini bukan terjadi karena Elara berencana menusuknya dari belakang. Pengkhianatan ini terjadi dalam setiap embusan napas, dalam setiap keputusan kecil yang kini diam-diam diserahkan Elara kepada suara di kepalanya.
Julian bukan lagi pasangannya. Julian hanyalah pengawal bagi seorang ratu yang jiwanya sedang dicuri, sedikit demi sedikit, dalam kesunyian.