NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SANG RATU DI KURSI PENGUASA

BAB 5: SANG RATU DI KURSI PENGUASA

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar megah Alana. Bagi kebanyakan orang, ini hanyalah pagi biasa di hari Senin yang sibuk. Namun bagi Alana, ini adalah pagi pertama dalam tiga tahun terakhir di mana dia tidak perlu bangun terburu-buru untuk menyiapkan sarapan, menyetrika kemeja Raka yang selalu rewel, atau mendengarkan keluhan ibu mertuanya soal lantai yang kurang mengkilap.

Alana bangkit dari tempat tidur. Di depan pintu kamarnya, dua orang pelayan wanita sudah berdiri menunduk dengan rapi.

“Selamat pagi, Nona Alana. Mandi air hangat dengan aroma sandalwood sudah siap. Pakaian untuk hari pertama Anda di kantor juga sudah disiapkan oleh Tuan Julian,” ucap salah satu pelayan dengan suara lembut.

Alana mengangguk pelan. Dia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi yang sangat indah, namun sentuhan air hangat di kulitnya menyadarkannya bahwa ini adalah kenyataan. Sambil berendam, Alana menatap jemarinya. Tidak ada lagi bekas luka bakar karena terkena percikan minyak atau kulit kasar akibat deterjen. Tangannya kini halus, kukunya dipoles cantik dengan warna nude yang elegan.

Setelah bersiap, Alana turun ke ruang makan. Di sana, suasana sudah sangat ramai. Ketujuh kakaknya ternyata sudah berkumpul di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan kelas dunia.

“Selamat pagi, Tuan Putri!” seru Gio sambil mengangkat sendoknya tinggi-tinggi. “Kau terlihat sangat tajam hari ini. Siap untuk memakan hidup-hidup para pengkhianat di kantor?”

Elvan, yang duduk di ujung meja sambil membaca koran finansial, mendongak dan tersenyum bangga. “Duduklah, Alana. Sarapan yang banyak. Menghadapi tikus-tikus kantor membutuhkan energi yang besar.”

Alana duduk di kursi yang telah ditarikkan oleh Arka. “Aku sedikit gugup, Kak. Maksudku, selama ini aku hanya di rumah. Apakah aku bisa memimpin perusahaan itu?”

Bastian, sang kakak kedua, meletakkan cangkir kopinya. “Alana, ingat ini: perusahaan itu sukses karena ide-idemu yang dicuri oleh Raka. Kau adalah otak di balik layarnya selama ini. Sekarang, kau hanya mengambil kembali kursi yang seharusnya memang milikmu. Jika ada yang berani membantahmu, telepon aku. Aku akan mengirim satu kompi pasukan untuk latihan baris-berbaris di lobi kantor mereka.”

“Jangan terlalu ekstrem, Bastian,” sahut Hanif sambil terkekeh. “Gunakan cara yang lebih halus. Alana, ini kunci mobil dan surat-surat aset. Per jam sembilan pagi ini, gedung Ardiansyah Group sudah resmi berganti nama menjadi Adiwangsa Alana Tower.”

Tepat pukul 09.00 WIB, sebuah iring-iringan mobil mewah berhenti di depan gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Di barisan paling depan, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam metalik berkilau di bawah terik matahari.

Para karyawan di lobi gedung berbisik-bisik. Mereka sudah mendengar kabar burung tentang kebangkrutan Raka Ardiansyah semalam, tapi mereka belum tahu siapa pemilik baru perusahaan mereka.

Pintu mobil terbuka. Sepatu hak tinggi bermerek Christian Louboutin menyentuh lantai granit lobi dengan bunyi klak yang tegas. Alana keluar dengan mengenakan power suit berwarna putih tulang yang dipadukan dengan kacamata hitam. Di belakangnya, Elvan dan dua puluh orang pengawal berpakaian hitam mengikuti dengan langkah serempak, menciptakan aura intimidasi yang luar biasa.

Alana berjalan melewati gerbang sensor lobi. Resepsionis yang dulu sering memandang sebelah mata saat Alana datang mengantar bekal untuk Raka, kini berdiri mematung.

“Selamat pagi, Nona... eh, Nona Alana?” suara resepsionis itu bergetar. Dia mengenali wajah itu, tapi auranya sangat berbeda.

Alana tidak berhenti. Dia hanya menoleh sedikit dan memberikan senyum tipis yang dingin. “Mulai hari ini, panggil saya Ibu Direktur.”

Alana langsung menuju lift eksekutif yang hanya bisa diakses oleh petinggi perusahaan. Di dalam lift, Elvan menepuk bahu adiknya. “Kakak akan menunggumu di ruang rapat. Kau pergi ke ruangan lamamu dulu—maksudku, ruangan Raka. Bereskan sampah yang tertinggal di sana.”

Lift berdenting. Pintu terbuka langsung ke lantai paling atas. Di sana, sudah berdiri Santi, sekretaris pribadi Raka yang dulu paling sering menghina Alana jika Alana datang ke kantor. Santi adalah antek Siska yang selalu membantu Raka menyembunyikan perselingkuhannya.

“Alana?! Apa yang kau lakukan di sini? Kau sudah dicerai, kan? Berani sekali kau naik ke lantai ini! Satpam! Mana satpam?!” teriak Santi dengan wajah angkuh.

Alana terus berjalan mendekati meja Santi. Langkahnya tenang, namun tatapannya tajam mengunci mata Santi.

“Santi,” panggil Alana dengan nada rendah. “Kau masih berisik seperti dulu ya?”

“Kau—!” Santi hendak memaki, tapi langkahnya terhenti saat melihat Elvan Adiwangsa muncul di belakang Alana. Santi tentu tahu siapa Elvan—pria yang wajahnya sering muncul di sampul majalah Forbes.

“Tuan... Tuan Adiwangsa?” Santi mendadak pucat.

“Bereskan barang-barangmu, Santi,” ujar Alana sambil meletakkan tasnya di atas meja sekretaris itu. “Kau dipecat. Tanpa pesangon. Dan aku akan memastikan catatan kerjamu tertulis sebagai sekretaris yang membantu penggelapan dana perusahaan untuk selingkuhan bosnya.”

“I-ibu... Ibu Alana, tolong maafkan saya! Saya hanya menjalankan perintah Pak Raka!” Santi langsung jatuh berlutut, mencoba memegang ujung celana Alana.

Alana menjauhkan kakinya dengan rasa jijik. “Pergilah sebelum para pengawalku menyeretmu keluar seperti tumpukan sampah.”

Alana kemudian mendorong pintu ruangan direktur yang sangat besar itu. Ruangan itu masih beraroma parfum Raka yang menyengat. Di atas meja kerja, masih ada foto Raka dan Siska yang berpelukan mesra di sebuah pantai.

Dengan gerakan lambat, Alana mengambil bingkai foto itu, lalu menjatuhkannya ke lantai. PRAKK! Kaca bingkai itu pecah berkeping-keping, tepat di wajah Raka dalam foto tersebut.

Alana duduk di kursi kebesaran direktur. Dia memutar kursi itu menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

“Dulu aku hanya bisa melihat pemandangan ini dari balik pintu saat kau mengusirku karena ada Siska di dalam ruangan ini, Raka,” bisik Alana pada dirinya sendiri. “Sekarang, seluruh kota ini ada di bawah kakiku.”

Tiba-tiba, pintu ruangan itu didobrak kasar dari luar.

“ALANA! APA-APAAN INI?!”

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian penuh renda dan perhiasan emas yang mencolok masuk dengan napas terengah-engah. Itu adalah Ibu Mira, ibu kandung Raka, alias mantan ibu mertua Alana.

Di belakangnya, Raka tampak mengekor dengan wajah kuyu dan pakaian yang tampak kusut—pakaian yang dia pinjam dari temannya karena semua asetnya sudah disita.

“Alana! Dasar menantu durhaka!” teriak Ibu Mira sambil menunjuk-nunjuk wajah Alana. “Raka bilang kau sekarang kaya raya? Kau punya kakak kaya? Bagus kalau begitu! Sekarang suruh kakakmu mengembalikan rumah kami dan berikan Raka modal usaha! Berani-beraninya kau membuat suamimu sendiri luntang-lantung di jalanan!”

Alana memutar kursinya kembali ke depan. Dia menatap mantan ibu mertuanya itu dengan ekspresi datar, seolah sedang melihat drama komedi yang membosankan.

“Ibu Mira,” ucap Alana tenang. “Sepertinya Ibu lupa. Saya bukan lagi menantu Ibu. Saya bukan lagi wanita yang bisa Ibu suruh memasak sampai tengah malam atau Ibu maki-maki setiap hari karena tidak punya perhiasan emas.”

“Kau! Kau bicara apa?! Raka itu suamimu!” seru Mira.

“Ibu, lihat ini,” Alana mengangkat surat cerai yang sudah ditandatangani Raka di bawah tekanan semalam. “Dan ini,” Alana mengangkat sertifikat kepemilikan gedung ini. “Gedung ini milik saya. Perusahaan ini milik saya. Dan kalian... adalah penyusup di properti pribadi saya.”

Raka maju dengan langkah gontai. “Al, tolonglah... Ibu sedang sakit jantung karena stres. Jangan seperti ini. Aku tahu aku salah, tapi bagaimanapun kita pernah bersama selama tiga tahun. Kau tega melihat ibuku tinggal di kontrakan sempit?”

Alana tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu namun menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. “Tega? Raka, saat kau mengusirku di tengah hujan badai semalam, apa kau memikirkan apakah aku punya tempat tinggal? Saat Ibu Mira membuang semua barang-barang peninggalan orang tuaku ke tempat sampah, apa kalian punya rasa tega?”

Alana berdiri, auranya mendominasi ruangan. “Keluar sekarang. Sebelum saya menuntut kalian atas pasal memasuki wilayah pribadi tanpa izin.”

“Kau tidak bisa melakukan ini! Aku akan melaporkanmu ke polisi karena penipuan aset!” teriak Ibu Mira histeris.

“Polisi?” Elvan masuk ke ruangan dengan gaya santai, namun matanya berkilat berbahaya. “Silakan panggil polisi. Kebetulan Kakak kedua kami, Bastian, adalah atasan mereka di wilayah ini. Mau saya bantu hubungkan?”

Mendengar nama Bastian dan melihat sosok Elvan yang menjulang, Ibu Mira langsung terdiam. Nyalinya menciut seketika.

“Raka, bawa ibumu pergi,” perintah Alana dingin. “Jangan pernah injakkan kaki di gedung ini lagi. Dan satu lagi... sampaikan pada Siska, aku punya kejutan kecil untuknya besok pagi.”

Raka hanya bisa menunduk malu. Dia menarik tangan ibunya yang masih mengomel tanpa suara karena ketakutan. Mereka berdua keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, sangat berbeda dengan saat mereka masuk tadi.

Setelah mereka pergi, Alana menghela napas panjang. Dia menatap Elvan. “Baru satu hari, Kak. Dan aku merasa sangat lelah.”

Elvan berjalan mendekat dan mengusap pundak adiknya. “Ini baru pembersihan area, Alana. Besok, kita akan mulai membangun kerajaanmu yang sebenarnya. Dan malam ini, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

Alana mengernyitkan dahi. “Siapa?”

“Seorang rekan bisnis penting yang membantu Satya melacak aset Raka di luar negeri. Namanya Kenzo. Dia sangat tertarik untuk bertemu dengan 'Wanita yang berhasil menjatuhkan Raka Ardiansyah dalam semalam'.”

Alana tidak tahu, bahwa pertemuan dengan pria bernama Kenzo itu nantinya akan membawa babak baru dalam hidupnya—babak di mana dia tidak hanya mendapatkan keadilan, tapi juga sebuah perasaan yang sudah lama dia anggap mati.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!