Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Maya
Darah Maya mendidih mendengar cerita dari Vello yang sudah diperlakukan dengan kejinya oleh Bryan dan juga teman-temannya.
Dia tahu siapa Bryan yang di maksud Vello. Dia adalah Bryan Lewis, putra dari orang terkaya dan paling di segani dikampus.
Bryan merupakan teman satu angkatan Vello di kampus. Vello sering menceritakan, jika Bryan kerap mengganggunya dan juga sering membuat ke onaran dikampus.
Tak sekali dua kali, Bryan berusaha berbuat kurang ajar dengan merayu dan bahkan memberikan iming-iming uang, agar tujuannya tercapai.
Tapi Vello menolak dengan tegas apa yang di tawarkan Bryan. Mungkin karena itulah, Bryan merasa marah dan berbuat hal kejam.
"Aku sekarang hancur kak! Aku hancur!" Tangis Vello kembali pecah.
"Kita harus melaporkan ini pada polisi, dia harus menerima hukuman yang setimpal!"
"Tapi kak, bagaimana bisa kita melaporkan dia ke polisi. Dia orang yang berkuasa di kota ini, tidak ada yang bisa melawannya kak!"
"Kau jangan khawatir, kakak akan berusaha sekuat tenaga kakak memperjuangkan keadilan untukmu!
Kakak akan mencari cara, agar dia bisa di hukum dengan berat," ucap Maya penuh tekad.
**
Maya membawa Vello ke Rumah Sakit untuk menjalani Visum.
Setelahnya, Maya membuat laporan ke polisi dengan menyertakan bukti percakapan Vello dengan Zeryn dan an juga bukti Visum.
Maya benar-benar berharap, jika dia bisa mendapatkan keadilan untuk adiknya.
"Kami sudah menerima laporan dari anda, nona. silahkan kembali ke rumah dan tunggu kabar selanjutnya dari kami."
"Baik, Pak. Kami tunggu kabar proses hukum selanjutnya."
Setelah dari kantor polisi, Maya masih terus berusaha mencari bantuan dari beberapa temannya yang merupakan sarjana hukum dan berprofesi sebagai pengacara.
“Aku sebenarnya mau bantu, May,” ujar salah satu temannya dengan wajah serba salah. “Tapi… Bryan Lewis itu bukan orang sembarangan.”
“Ini soal kejahatan,” balas Maya menahan emosi. “Ini soal korban!”
Temannya terdiam, lalu menghela napas panjang. “Justru itu. Aku tidak sanggup berurusan dengan keluarganya.”
Satu per satu orang yang awalnya menyatakan siap membantu, mulai mundur begitu mendengar nama Bryan Lewis.
Maya sudah hafal pola itu. Tatapan menghindar, suara yang melemah, dan kalimat penolakan yang dibungkus alasan profesional.
Mereka cukup tahu konsekuensi apa yang akan diterima jika berurusan dengan keluarga Lewis, yang memang disegani di negara itu.
Hingga akhirnya, Maya menemui Max, teman masa kecilnya yang sebenarnya masih keluarga Lewis.
Maya menunggu Max di sebuah kafe kecil. Tangannya saling menggenggam di atas meja, jelas menahan gugup.
Saat Max datang, ia langsung tersenyum kecil. “Sudah lama kita tidak bertemu, May.”
Maya berdiri, lalu duduk kembali dengan napas berat. “Maaf aku menghubungimu tiba-tiba.”
Max menatapnya lebih saksama. “Kau tidak akan mencariku kalau bukan karena sesuatu yang serius.”
Maya terdiam sesaat, lalu berkata pelan tapi tegas, “Adikku… Vello. Dia diperlakukan sangat kejam oleh Bryan.”
Ekspresi Max berubah. Senyum itu lenyap seketika. “Bryan?”
“Iya,” jawab Maya tanpa ragu. “Aku tahu dia masih keluargamu. Kalau kau tidak mau terlibat, aku akan mengerti.”
Max menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang. “Ceritakan semuanya.”
Maya pun menceritakan semuanya—dari pelecehan, ancaman, hingga bukti yang sudah mereka kumpulkan.
Selesai mendengar, Max mengepalkan tangannya. “Apa yang dia lakukan tidak bisa dimaafkan.”
Maya menatapnya penuh harap. “Aku hanya ingin keadilan. Tidak lebih.”
Max mengangguk pelan. “Aku akan membantu.”
“Kau serius?” suara Maya bergetar.
“Iya,” jawab Max mantap. “Aku tidak peduli dia Bryan Lewis atau siapa pun. Kalau dia bersalah, dia harus bertanggung jawab.”
Meskipun sebelumnya Vello merasa ragu untuk meminta bantuannya, namun karena tak memiliki pilihan lain, mau tidak mau Maya harus meminta bantuannya.
Dan beruntung, Max mau membantu Maya dan mengurus kasus yang menimpa Vello.
Berkat bantuan Max, kasus yang dilaporkan Maya tempo hari akhirnya mendapatkan respons dan mulai diproses oleh kepolisian.
*