NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Bertemu Celine.

“Arth, apa aku boleh menggunakan kartu ini untuk membeli keperluan Audrey?”

Isi dari Sebuah pesan yang Andrea kirimkan kepada calon suaminya. Hari ini adalah akhir pekan. Ia pun mendapat jawdal libur bekerja. Rencananya, gadis itu akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan Audrey kecil yang telah menipis.

Arthur sendiri sedang tidak berada di rumah. Pria itu kembali pada kebiasan lamanya. Bekerja meski akhir pekan.

“Gunakan semau mu, Rea. Beli apapun yang kamu inginkan. Jangan lupa membeli keperluanmu juga. Kartu itu milikmu.”

Andrea membaca balasan yang Arthur kirim dengan mencibir.

“Pria itu, ternyata watak aslinya baru kelihatan setelah mengenal lebih jauh.”

Andrea kemudian memasukkan ponsel dan dompet ke dalam sebuah tas selempang.

Gadis itu kemudian menghampiri Audrey yang sedang berada di dalam box bayi.

“Sayang. Anak mama Rea.” Ucap Andrea yang kemudian terkekeh sendiri. Jujur ia merasa aneh memanggil dirinya mama. Namun, sang calon suami otoriter nya tak suka mendengar bantahan.

Bayi mungil itu hanya menanggapi dengan tertawa, sesekali menggerakkan tangan dan kakinya.

“Cepat besar ya, sayang. Biar mama punya teman yang di ajak belanja.”

Melihat wajah bayi mungil itu, selalu membuat Andrea teringat dengan mendiang Audrey.

“Nona apa kabar disana? Lihatlah, putrimu, ah bukan. Maksudku, putri kita sekarang sudah berusia enam minggu. Dia sangat cantik. Secantik nona.”

Menjeda ucapannya, gadis itu menghela nafas panjang.

“Apa suatu saat nanti, kamu akan bertanya tentang ibumu, nak? Jika aku jelaskan, bagaimana jika kamu bertanya tentang ayahmu? Aku harus menjawab apa?”

Andrea pun larut dalam lamunan. Gadis itu memikirkan jauh kedepan. Padahal ia tak tau apa yang akan terjadi esok hari.

“Mbak Rea, saya sudah selesai. Mbak jadi pergi?” Sus Rini datang, dan membuat lamunan Andrea buyar. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya.

“Mm, ya sudah, sus. Aku pergi dulu ya. Titip Audrey.”

“Sayang, mama pergi dulu, ya. Jangan nakal sama sus Rini.” Tak lupa gadis itu mengecup pipi bayi mungil itu.

Sus Rini tersenyum melihat interaksi Andrea dengan Audrey kecil. Mereka terlihat sangat cocok. Seperti ibu dan anak sungguhan.

🍃🍃🍃

Andrea mendorong troli belanja secara perlahan. Sesekali gadis itu berhenti ketika melihat keperluan Audrey yang di carinya. Dan memasukkan kedalam kereta dorong itu.

“Ah, maaf.” Ucapnya ketika tanpa sengaja menyenggol seseorang di sampingnya.

“Tidak apa-apa.” Jawab orang itu.

Andrea merasa tidak asing dengan suara itu. Dan benar saja, ia mengenali orang itu.

“Kamu? Ah, bukannya kamu pengasuh keponakannya Arthur?” Orang itu ternyata juga mengenal Andrea. Siapa lagi jika bukan Celine.

Andrea menghela nafas pelan.

“Apa kamu membeli keperluan Audrey?”

“Ya.”

“Apa kamu mengingat aku?” Tanya ibu satu anak itu lagi.

“Ya, anda temannya tuan Arthur kan?” Ucap Andrea malas.

“Mm. Lebih tepatnya aku sahabat Arthur.” Celine meralat ucapan gadis itu.

‘Dan aku calon istri Arthur.’ Jawab Andrea dalam hati.

“Maaf jika aku salah.” Ucapnya kemudian.

“Ah, tidak masalah. Apa kamu belanja sendirian? Arthur tidak ikut? Bukannya waktu itu kalian pergi bersama?”

‘Apa dia tidak bisa bertanya satu persatu?’

“Ar—maksudku tuan Arthur sedang bekerja.”

“Ah, Arthur memang penggila kerja. Dia melampiaskan kesendiriannya dengan bekerja.” Ucap Celine kemudian.

“Oh, ya. Omong-omong, apa kamu tau jika Arthur sedang dekat dengan seorang gadis? Apa dia memiliki kekasih?”

“Maksud anda?” Andrea berpura-pura tidak mengerti ucapan wanita itu. Padahal, ia tau betul siapa yang di maksud oleh ibu satu anak itu.

“Beberapa waktu lalu, aku datang ke kantornya Arthur. Kamu tau, aku tanpa sengaja memergoki dia sedang bersama seorang gadis.” Jelas Celine dengan bersedekap dada.

“Mungkin itu rekan kerja tuan Arthur.” Jawab Andrea dengan mengedikan bahu.

“Rekan kerja? Jelas-jelas aku melihat gadis itu duduk di pangkuan Arthur. Aku tidak tau, bagaimana reaksi tante Daisy jika tau kelakuan putranya seperti itu.”

‘Mama Daisy akan langsung menikahkan kami, jika tau hal itu.’

“Benarkah? Tuan Arthur mempunyai kekasih?” Gadis itu berpura-pura terkejut.

“Hmm. Aku—

Ponsel di dalam tas Andrea tiba-tiba berdering. Gadis itu pun mohon ijin untuk menjawab panggilan itu.

Seringai terbit di bibir gadis manis itu. Pria yang sedang mereka bicarakan kini menghubunginya.

‘Panjang umur sekali dia.’

“Hallo, tuan?” Ucap Andrea yang sengaja mengeraskan suaranya.

“Apa maksudmu, Rea?”

Andrea tau, pria itu tak suka lagi mendengar panggilan itu.

“Aku sedang membeli keperluan nona kecil. Ada yang bisa aku bantu?” Gadis itu tak menanggapi protes calon suaminya.

Terdengar helaan nafas panjang dari seberang panggilan.

“Kamu masih berbelanja?”

“Ya.”

“Tolong belikan aku peralatan mandi, dan juga underwear.”

Mata Andrea membulat sempurna mendengar ucapan Arthur. Bagaimana bisa pria itu dengan mudah memintanya membelikan barang pribadi seperti itu.

“Disini ada nona Celine. Apa perlu aku memintanya yang memilihkan?”

Andrea sedikit menjauh, dan berbisik.

“Rea.” Pria itu terdengar menggeram. “Apa kamu rela orang lain memilih barang pribadi suamimu?”

Pipi Andrea memanas mendengar ucapan pria itu.

“Kita belum sah.”

“Aku tidak perduli. Aku akan mengirimkan merk barang-barang yang aku perlukan. Dan juga uangnya. Aku akan mentransfernya.”

“Arth—.”

Panggilan terputus begitu saja. Membuat Andrea menggerutu.

“Astaga.” Gadis itu terlonjak, saat membalik badan, Celine telah berada di belakangnya.

‘Apa wanita ini mendengar ucapanku?’

“Kamu memanggil majikanmu dengan namanya? Apa aku tidak salah dengar?”

‘Astaga, kenapa wanita ini begitu suka ikut campur urusan orang lain?’

Ingin rasanya Andrea mengamuk pada wanita di hadapannya itu.

“Mungkin anda salah dengar.”

“Tidak. Pendengaran ku masih bagus. Aku yakin itu. Tunggu. Aku ingat, waktu itu kamu juga bersikap tidak sopan saat di restoran. Seenaknya memasukkan tagihan makan mu pada milik Arthur. Dan sekarang, kamu memanggil dia dengan nama saja? Padahal kamu baru bekerja dengannya.” Nada suara Celine terdengar tak percaya.

“Bagaimana Arthur bisa mempekerjakan gadis seperti dirimu?”

Hilang sudah kesabaran Andrea. Gadis itu menarik dan membuang nafas panjang.

“Maaf nyonya, bagi anda aku memang tidak sopan. Tetapi, bagi Ar—maksudku bagi tuan Arthur, itu tidak masalah. Anda mungkin sahabatnya, merasa diri paling tau tentang pria itu, tetapi anda harus ingat, seberapa pun dekat persahabatan kalian, anda belum tentu tau semua tentangnya.”

Andrea pun mendorong troli ke samping wanita itu. Namun, saat berada tepat di sisi Celine, gadis itu kembali berbicara.

“Anda tau, bahkan dia meminta ku membelikan barang-barang pribadinya. Apa anda tau ukuran pinggang tuan Arthur? Tidak, kan?” Gadis itu mencebikan bibirnya. “Sayang sekali. Aku yang baru mengenalnya saja sudah tau.”

Tanpa mendengar jawaban dari Celine. Andrea berlalu begitu saja. Ia tidak ingin semakin tersulut amarah. Karena dirinya bukan gadis yang bisa menahan sabar terlalu lama.

Sementara, Celine hanya mampu menganga di tempatnya.

.

.

.

Bersambung.

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!