Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang tak Searah
...****************...
Pagi ini kami berangkat kerja bersama lagi.
Senyum ceria di wajah Linda sudah kembali, seolah pertengkaran kemarin tak pernah terjadi. Ia duduk di kursi sebelahku, sibuk memainkan ponselnya, sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu dari radio.
Aku menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari halaman rumahnya.
Jalan raya terlihat macet. Kendaraan merayap perlahan. Suasana di dalam mobil terlalu sunyi untuk pikiranku yang sedang penuh.
Aku menarik napas, lalu memecah keheningan.
“Sayang…” kataku pelan.
“Kamu kapan mau aku kenalkan ke ibu dan bapak?”
Linda langsung menoleh.
“Hah?” alisnya terangkat.
“Buat apa?”
Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.
“Kita harus menikah, sayang.”
“Emang kamu nggak mau selamanya sama aku?”
Ia tertawa kecil, tapi bukan tawa senang.
“Enggak,” jawabnya ringan.
“Aku udah bilang kan, aku nggak akan menikah. Sampai kapan pun.”
Dadaku mengeras.
“Jangan gitu,” kataku, nada suaraku mulai turun.
“Aku mau sama kamu. Kalau kamu nggak mau menikah, terus aku gimana?”
Mobil masih bergerak pelan di tengah kemacetan, sementara percakapan kami justru semakin cepat.
“Enggak,” katanya lagi, lebih tegas.
“Aku nggak mau.”
“Kalau memang kamu pengin menikah, cari perempuan yang bisa kamu ajak menikah.”
Aku menelan ludah.
“Aku nggak mau. Titik.”
Kalimat itu seperti palu yang diketukkan tepat di dadaku.
“Aku udah cukup senang begini,” lanjutnya santai.
“Aku puas begini.”
“Aku menikmati ini, sayang.”
Ia mendekat, mengecup pipiku singkat.
Cupp.
Tanganku mencengkeram setir lebih kuat.
Aku tidak membalas ciumannya. Bukan karena marah. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar sadar Kami berada di mobil yang sama, tapi sedang melaju ke arah yang berbeda.
Linda ingin menikmati hari ini.
Aku ingin memikirkan esok.
Dan di antara deru mesin dan klakson yang saling bersahutan, aku mulai bertanya pada diriku sendiri
berapa lama cinta bisa bertahan
jika tujuan akhirnya tidak pernah sama?
...----------------...
Malam ini kami pulang ke rumah masing-masing.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pembahasan lanjutan. Hanya diam yang menggantung di antara kami.
Aku merebahkan tubuh di kasur. Lampu kamar sudah kumatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari layar ponsel. Musik mengalun pelan di telingaku. Jemariku sibuk menggulir media sosial, mencoba mengalihkan pikiran dari percakapan di mobil tadi pagi.
Tentang menikah.
Tentang masa depan.
Tentang “titik”.
Tiba-tiba layar ponselku menyala.
Hana calling…
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku mengangkatnya.
“Raka… belum tidur?”
“Belum. Baru siap-siap,” jawabku pelan. “Kenapa?”
“Aku nggak bisa tidur,” suaranya terdengar lirih.
“Aku kesepian… boleh VC nggak?”
Mataku terbelalak.
VC?
Refleks aku langsung duduk. Merapikan rambut yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Mengusap wajah. Mengatur posisi lampu supaya tidak terlalu gelap.
Aku menekan tombol video call.
Wajah Hana muncul di layar. Tanpa make-up. Ia tetep mengenakan hijab. Mata itu terlihat lelah… tapi jujur.
“Kenapa nggak bisa tidur?” tanyaku.
“Hmmm… kesepian,” katanya sambil tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Biasanya kan rutinitas malam aku pasti dipijitin suamiku… sekarang nggak ada lagi.”
“Biasanya suka ngobrol sebelum tidur… sekarang nggak ada lagi.”
Ia menarik selimutnya sampai ke dada.
“Jadi aku gangguin kamu nggak apa-apa?”
Aku terdiam sepersekian detik.
“Gapapa,” jawabku akhirnya. “Aku temenin ya. Mau gimana? Mau cerita?”
“Iyaaa,” katanya pelan, suaranya sedikit manja.
“Aku ceritain suamiku ya. Nanti kalau capek ngoceh aku pasti cepet tidur. Hiii…”
Aku tersenyum kecil.
“Iya boleh. Mau cerita apa? Aku dengerin.”
Hana tertawa pelan.
“Suamiku tuh penyabar banget sama aku. Aku mau ngomel gimana sama dia ya dia nggak balas. Dia itu sabar banget… banget.”
Aku hanya diam, memperhatikan setiap detail wajahnya yang bercerita penuh kenangan.
“Dulu dia pernah selingkuh, aku pukuli loh!” katanya tiba-tiba, tertawa kecil.
“Aku tendang, cubit, segala macem deh pokoknya. Sampai aku gertak bawa pisau! Hahaha…”
Aku ikut tersenyum kaget. “Serius kamu?”
“Iyaaa!”
“Terus pisaunya dia tahan. Dia sembunyikan entah di mana. Paginya pas aku mau masak malah pusing nyari pisau, nggak ketemu-temu! Wkwkwk…”
Ia tertawa lagi. Tapi di balik tawa itu, aku bisa melihat ada rindu yang begitu dalam.
“Dia nggak marah?” tanyaku pelan.
“Nggak,” jawabnya cepat.
Suasana mendadak hening.
Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.
“Raka…” suaranya mengecil.
“Aku tuh kadang marah banget sama dia karena ninggalin aku duluan.”
“Padahal masih banyak banget yang belum selesai…”
Aku tak tahu harus menjawab apa.
Di layar ponselku ada seorang perempuan yang masih sangat mencintai suaminya. Yang belum selesai berduka. Yang hanya butuh ditemani… bukan digantikan.
Sementara di sisi lain, ada Linda yang tidak pernah ingin menjadi istri.
Aku menelan ludah.
“Han…” panggilku pelan.
“Iya?”
“Aku di sini. Kamu nggak sendirian.”
Hana tersenyum tipis.
“Makanya aku telpon kamu…”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, terasa berat di dadaku.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa bukan hanya sedang mendengarkan cerita Hana.
Aku sedang perlahan masuk… ke dalam ruang kosong yang ditinggalkan suaminya.
Hana menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
“Suamiku dulu selingkuhnya sama seorang yang dia suka sejak masa SMP loh,” katanya pelan, seolah takut kenangan itu ikut mendengar.
“Jadi menurutku… dia masih penasaran. Atau mungkin cinta yang nggak kesampaian itu?”
Ia tertawa kecil, hambar.
“Makanya aku marah banget, Ka. Aku bilang ke dia… kenapa kamu menikah sama aku kalau masa lalu mu belum selesai?”
Dadaku terasa mengencang.
Kalimat itu… terlalu dalam.
“Terus dia jawab apa?” tanyaku hati-hati.
Hana tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka.
“Dia cuma diem. Terus bilang, ‘Aku salah. Tapi aku pulang ke kamu. Aku pilih kamu.’”
“Dan bodohnya aku… aku percaya. Aku selalu percaya.”
Ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
“Aku tuh bukan marah karena dia selingkuh doang, Ka. Aku marah karena ngerasa aku cuma jadi pelabuhan. Bukan tujuan.”
Aku terdiam lama.
Kata-katanya menampar pikiranku sendiri.
Pelabuhan.
Tujuan.
Bayangan Linda muncul begitu saja di kepalaku.
Tentang penolakannya pada pernikahan.
Tentang kalimat aku puas begini.
Tentang hubungan yang nyaman tapi tanpa arah.
“Ka…” panggil Hana lirih.
“Iya, Han?”
“Kamu pernah nggak sih ngerasa… berjuang sendirian di hubungan?”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ada jawaban jujur di sana.
Tapi ada juga kebohongan yang selama ini kupakai untuk bertahan.
“Pernah,” jawabku akhirnya. Singkat.
Hana mengangguk pelan, seolah mengerti lebih dari yang ku ucapkan.
“Makanya aku capek, Ka. Sekarang aku cuma pengen tenang. Nggak pengen ada yang ngejar-ngejar. Nggak pengen ada yang sok perhatian.”
“Aku cuma pengen… ditemani. Kayak gini aja.”
Ia menatap layar. Menatapku.
Dan entah kenapa, tatapan itu bukan tatapan seorang perempuan yang ingin dicintai.
Melainkan tatapan seseorang yang takut sendirian.
“Kalau capek, tidur ya,” kataku lembut.
“Aku di sini.”
Hana tersenyum kecil.
“Jangan pergi dulu. Temenin aku bentar lagi aja.”
Aku mengangguk.
Malam makin larut.
Cerita Hana mengalir pelan, makin tak beraturan.
Suaranya perlahan melemah.
Hana terdiam sebentar. Kukira ia sudah tertidur.
Ternyata tidak.
“Ka…” suaranya kembali terdengar pelan.
“Iya?”
“Aku akhirnya ngalah.” Ia menarik napas panjang.
“Setelah sekian lama… hampir delapan tahun. Atau lebih, entahlah. Rasanya lama banget.”
Aku diam, membiarkannya melanjutkan.
“Aku pernah minta pisah. Berkali-kali.”
“Tapi dia nggak mau, Ka.”
Suaranya tidak lagi terdengar marah. Lebih seperti seseorang yang sudah lelah mengulang cerita yang sama.
“Dia bilang dia cinta aku. Apalagi udah ada anak-anak. Mana mungkin dia ninggalin anak-anaknya cuma demi perempuan itu?”
“Ya… dia masih bisa mikir waras sih.”
Ia tersenyum tipis.
“Terus suatu hari aku capek banget. Aku bilang ke perempuan itu… udah nggak usah diam-diam. Nggak usah sembunyi-sembunyi. Kalau mau, aku nikahkan aja kalian berdua.”
Aku spontan mengernyit.
“Kamu ngomong gitu?”
“Iya,” jawabnya, ada sedikit nada bangga.
“Aku bilang, kalau memang dia lebih bahagia sama kamu, ya sudah. Tapi jangan gantung aku.”
Ia terkekeh pelan.
“Eh tau nggak? Ujungnya mereka malah bertengkar. Perempuan itu maunya nikah sama suamiku. Maunya aku ditinggal. Maunya suamiku lepas tanggung jawab.”
“Dari situ suamiku sadar…”
Hana berhenti sejenak.
“Sadar bahwa yang tulus itu ya aku. Istrinya.”
Kalimat itu meluncur pelan, tapi berat.
Aku bisa melihat kebanggaan kecil di matanya.
Bukan karena menang. Tapi karena merasa dipilih.
“Pelajaran terpenting banget dalam hidup itu, Ka…” lanjutnya lirih.
“Selesaikan dulu masa lalu mu sebelum melangkah ke masa depan.”
“Jangan sampai punya dua hati.”
Aku tercekat.
Jangan sampai punya dua hati.
Kalimat itu seperti diarahkan tepat kepadaku.
Di satu sisi ada Linda hubungan yang nyaman, tanpa komitmen. Di sisi lain ada Hana luka lama yang perlahan membuka ruang untukku.
Aku menelan ludah.
“Hana…” panggilku pelan.
“Kamu kuat ya.”
Ia tersenyum, tapi kali ini senyumnya rapuh.
“Bukan kuat, Ka. Terpaksa.”
“Perempuan kalau sudah jadi istri dan ibu… pilihannya cuma dua. Bertahan atau hancur.”
Hening.
“Aku cuma nggak mau kamu nanti kayak gitu,” katanya tiba-tiba.
“Kayak gimana?”
“Menikah tapi masih bawa masa lalu.”
“Atau… jalan sama seseorang tapi hatinya nggak utuh.”
Matanya menatapku lurus lewat layar.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa seperti sedang diinterogasi oleh kebenaran.
Aku tidak menjawab.
Karena aku sendiri belum tahu hatiku sedang di mana.
Hana tersenyum kecil lagi, kali ini lebih ringan.
“Terus mereka itu akhirnya putus ya, Ka,” katanya sambil terkekeh pelan.
“Dalam hatiku bilang… kenapa nggak dari dulu aku tantang begitu ya? Haduh… wkwkwk.”
Aku ikut tersenyum tipis.
“Tapi, Ka…” suaranya berubah lembut.
“Cinta yang sempat mati itu perlahan tumbuh lagi.”
Aku terdiam.
“Aku mencintai suamiku karena Allah. Karena kebaikannya dia. Dia selalu mengutamakan aku dan anak-anaknya.”
“Itulah kenapa aku bisa bertahan… sampai waktu terakhirnya dia kemarin.”
Kalimat terakhirnya jatuh pelan.
“Boleh tanya?” tanyaku hati-hati.
“Suami meninggal kenapa?”
Hana menunduk sedikit. Mata itu kembali berkaca-kaca.
“Ia sakit, Ka.”
“Ia perokok aktif…” 🥹
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Kadang hidup memberi hukuman yang tidak bisa ditawar.
Hening.
Aku bisa mendengar napasnya. Bisa melihat kesedihan yang belum sepenuhnya sembuh.
Tak terasa sudah dua jam kami berbicara.
Dua jam yang terasa seperti masuk ke lembaran hidup orang lain.
Tanganku refleks meraih ponsel satunya yang tergeletak di samping bantal.
Layar menyala.
Tiga panggilan tak terjawab.
Dari Linda.
Dan satu pesan masuk.
> “Sayang… apa kamu udah tidur? Kok nggak telp aku 🥹”
Jantungku berdegup lebih keras.
Di layar satu, ada Hana yang masih menatapku pelan, rapuh, butuh ditemani. Di layar satunya lagi, ada Linda yang menunggu kabar dariku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar berada di antara dua dunia.
“Ka… kamu ngantuk ya?” tanya Hana pelan.
Aku cepat menggeleng.
“Nggak kok.”
Tapi pikiranku sudah bercabang.
Jangan sampai punya dua hati.
Kalimat Hana tadi terngiang lagi.
Dan ironisnya…
malam ini aku sedang membuktikan betapa sulitnya memiliki satu hati yang utuh.
Aku mematikan layar notifikasi itu.
Tidak ku balas. Tidak juga kubuka lagi.
Besok…
Besok saja aku jawab: ketiduran.
Kebohongan kecil.
Tapi entah kenapa dadaku terasa berat saat keputusan itu kuambil.
Hana kembali bersuara.
“Kamu setel musik ya, Ka…”
“Aku dengerin sambil tidur.”
Aku mengangguk, meski tahu ia tidak bisa melihat anggukan kecilku.
“Kamu mau cerita juga boleh,” lanjutnya lirih.
“Tapi kamu temenin aku sampai tidur ya, Ka.”
Aku menghela napas pelan.
“Iya, Han. Aku temenin.”
Kupilih lagu yang lembut, instrumental pelan.
Nada-nada itu mengalir seperti angin malam, tidak memaksa, hanya menemani.
Di layar, Hana menyenderkan kepalanya ke bantal. hijabnya sedikit berantakan. Matanya setengah terpejam. Tidak ada riasan, tidak ada senyum dibuat-buat. Hanya seorang perempuan yang lelah, kehilangan, dan mencoba bertahan.
“Aneh ya, Ka…” katanya pelan.
“Aku baru bisa tidur kalau ada suara.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin karena dulu kamu nggak pernah benar-benar sendiri.”
Ia terdiam.
Lalu mengangguk kecil.
“Ka…”
“Iya?”
“Makasih ya. Kamu baik.”
Kata baik itu jatuh sederhana.
Tapi entah kenapa dadaku kembali sesak.
Aku tidak bercerita apa-apa malam itu.
Aku hanya ada.
Mendengarkan napasnya yang perlahan teratur.
Melihat matanya akhirnya terpejam.
Mendengar musik yang terus berputar pelan.
Saat kupastikan ia tertidur, aku mematikan volume perlahan. Tidak menutup panggilan. Tidak juga beranjak.
Aku hanya menatap layar kosong itu cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri.
Siapa sebenarnya yang sedang aku jaga malam ini?
Hana…
atau diriku yang perlahan mulai tersesat.