NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 17 — “Harga Diri Itu Mahal, Sayangnya Kamu Tidak Punya”

Ruang tamu rumah Bu Ratna siang itu panas. Bukan karena cuaca.

Karena mulut.

Karena nada.

Karena tatapan yang seperti pisau.

Pipit berdiri di tengah ruangan. Tangannya dingin. Tapi wajahnya berusaha tetap tenang. Sementara di hadapannya, Bu Ratna duduk dengan posisi bersandar, dagu terangkat tinggi, seperti hakim yang sudah menjatuhkan vonis bahkan sebelum sidang dimulai.

Bagas berdiri di samping ibunya. Diam. Terlalu diam.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Bu Ratna menarik napas panjang, lalu mulai.

“Pipit… kamu ini sebenarnya sadar nggak sih kamu berdiri di rumah siapa?”

Hening.

“Apa kamu pikir masuk ke rumah saya itu cuma perkara datang, duduk, senyum-senyum manis, terus merasa pantas jadi istri Bagas?”

Nada suaranya naik. Tajam. Tidak ada jeda.

“Kamu itu datang bawa apa? Modal apa? Nama keluarga kamu siapa? Saya bahkan harus tanya orang dulu buat tahu latar belakang kamu. Dan tahu apa yang saya dengar?”

Ia menatap Pipit dari ujung kepala sampai kaki.

“Biasa. Sangat biasa.”

Bagas bergeser sedikit. “Bu…”

Tapi Bu Ratna mengangkat tangan.

“Diam dulu, Bagas! Mama belum selesai.”

Pipit menggigit bibirnya. Tapi Bu Ratna belum berhenti. Dan memang tidak berniat berhenti.

“Kamu pikir cinta itu cukup? Kamu pikir dengan bilang kamu sayang sama Bagas, semuanya selesai? Hidup ini bukan sinetron sore, Pipit! Ini dunia nyata. Ada harga diri. Ada nama baik. Ada martabat keluarga.”

Suara Bu Ratna semakin keras.

“Dan kamu berdiri di sini tanpa satu pun hal yang bisa kamu banggakan selain perasaan. Perasaan tidak bisa bayar listrik! Perasaan tidak bisa angkat derajat keluarga!”

Setiap kalimat seperti tamparan.

Pipit masih diam.

Bu Ratna berdiri sekarang. Lebih dekat.

“Kamu tahu kenapa saya tidak pernah benar-benar terima kamu? Karena dari awal kamu sudah tidak selevel.”

Bagas mengangkat wajah. “Bu, jangan begitu…”

“Lalu harus bagaimana, Bagas? Mama harus pura-pura buta? Mama harus tepuk tangan lihat kamu pilih perempuan yang bahkan keluarganya tidak jelas arah hidupnya ke mana?”

Kata-kata itu bukan sekadar keras.

Itu merendahkan.

Pipit akhirnya bicara, suaranya pelan tapi tegas.

“Bu Ratna… saya tidak pernah merasa lebih dari siapa pun. Tapi saya juga tidak pernah merasa lebih rendah.”

Bu Ratna tertawa kecil. Sinis.

“Tidak merasa lebih rendah? Pipit, tolong sadar diri. Kamu datang ke sini bukan sebagai orang yang setara. Kamu datang sebagai orang yang berharap diterima.”

Pipit menatap Bagas.

Bagas tetap diam.

Dan di situlah hatinya retak.

Bu Ratna melanjutkan, tanpa belas kasihan.

“Kamu tahu apa yang paling membuat saya tidak suka? Kamu itu terlalu percaya diri. Datang dengan wajah tenang, seperti merasa pantas. Padahal kamu harusnya tahu diri. Harusnya kamu datang dengan kesadaran bahwa kamu sedang meminta masuk ke keluarga yang jauh di atas kamu.”

Setiap kata menekan.

“Dan satu lagi, Pipit. Jangan pernah berpikir saya tidak tahu kamu pelan-pelan mempengaruhi Bagas. Sejak kamu hadir, anak saya berubah. Dia mulai melawan. Mulai berani membantah.”

Ia menoleh tajam ke arah Bagas.

“Kamu itu bukan membawa kedamaian. Kamu membawa perpecahan.”

Kalimat itu seperti palu.

Bagas akhirnya bicara, nadanya menahan emosi.

“Bu, cukup. Pipit tidak pernah menghasut saya.”

Bu Ratna langsung menatap tajam.

“Kamu membela dia? Di depan Mama?”

Bagas terdiam lagi.

Dan Pipit melihat semuanya.

Melihat bagaimana keberanian Bagas hanya muncul setengah jalan.

Bu Ratna kembali ke Pipit.

“Saya kasih kamu kesempatan hari ini untuk jujur. Kamu sebenarnya apa? Kamu mencintai Bagas? Atau kamu melihat Bagas sebagai tangga?”

Pipit tersentak.

“Saya tidak pernah—”

“Jangan potong saya!”

Suara Bu Ratna menggema.

“Di luar sana banyak perempuan pintar yang tahu cara naik kelas. Mereka cari laki-laki mapan, keluarga terpandang, lalu pelan-pelan masuk dan mengubah semuanya. Kamu pikir saya tidak bisa baca pola?”

Air mata Pipit mulai berkumpul, tapi ia tahan.

“Saya tidak pernah mengincar apa pun selain Bagas.”

“Kalau begitu kamu naif,” potong Bu Ratna cepat. “Naif dan tidak realistis. Karena dunia tidak berjalan atas dasar cinta polos seperti itu.”

Ia mendekat lagi.

“Dan saya tidak akan pernah menyerahkan anak saya pada seseorang yang bahkan tidak punya posisi yang jelas.”

Kalimat itu pelan. Tapi lebih kejam.

Rika, yang sedari tadi duduk di sudut ruangan sebagai tamu, ikut bersuara.

“Bu Ratna memang keras, Pipit. Tapi beliau hanya ingin yang terbaik untuk Bagas.”

Nada Rika lembut. Tapi isinya menusuk.

“Kadang cinta saja memang tidak cukup.”

Pipit menoleh ke arah Rika.

Ia tahu perempuan itu dari dulu tidak pernah benar-benar menyukainya.

Bu Ratna mengangguk.

“Dengar itu. Bahkan orang lain bisa melihatnya. Kamu terlalu kecil untuk dunia Bagas.”

Kalimat itu yang akhirnya membuat sesuatu di dalam Pipit patah.

Ia mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi suaranya tidak gemetar lagi.

“Bu Ratna, sejak awal saya tidak pernah datang membawa daftar tuntutan. Saya tidak pernah minta diakui. Saya tidak pernah minta dimuliakan. Saya hanya datang dengan niat baik.”

Ia menatap langsung.

“Tapi kalau setiap niat baik dianggap strategi, setiap cinta dianggap ambisi, lalu apa lagi yang bisa saya lakukan?”

Bu Ratna menyilangkan tangan.

“Kamu bisa mundur.”

Sunyi.

Bagas menoleh cepat. “Bu!”

“Iya, mundur. Kalau kamu benar-benar mencintai Bagas, kamu harus tahu kapan kamu jadi beban.”

Kalimat itu menghancurkan.

“Cinta bukan soal bertahan mati-matian kalau keberadaan kamu justru membuat hidupnya rumit.”

Bagas berdiri tegang.

“Pipit bukan beban.”

“Kalau bukan, kenapa sejak dia datang kamu jadi sering membantah Mama?”

Bagas tak mampu menjawab.

Dan itu lebih menyakitkan dari semua makian.

Pipit tersenyum kecil. Pahit.

“Jadi intinya, Bu Ratna tidak pernah melihat saya sebagai manusia. Hanya sebagai ancaman.”

Bu Ratna menjawab tanpa ragu.

“Betul.”

Jawaban yang jujur. Tanpa topeng.

“Karena saya tahu betul bagaimana dunia bekerja. Dan saya tidak mau anak saya jatuh karena memilih dengan hati, bukan dengan kepala.”

Pipit menarik napas panjang.

“Kalau begitu, Bu… mungkin memang saya tidak akan pernah cukup di mata Ibu.”

Ia menoleh pada Bagas.

“Dan mungkin itu tidak akan pernah berubah.”

Bagas menatap Pipit, ada penyesalan di sana. Tapi juga ketakutan.

Ketakutan untuk benar-benar berdiri.

Dan Pipit akhirnya sadar.

Yang paling melukai bukan omelan sepanjang kereta api dari Bu Ratna.

Bukan tuduhan.

Bukan hinaan.

Tapi diamnya Bagas di saat ia paling membutuhkan suara.

Bu Ratna duduk kembali, puas.

“Saya tidak butuh drama. Saya hanya butuh keputusan yang dewasa.”

Pipit mengangguk pelan.

“Baik, Bu.”

Bagas terkejut. “Pipit, jangan…”

Pipit menatapnya.

“Bagas… cinta itu tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga dirinya.”

Suaranya lembut. Tapi tegas.

“Dan saya tidak mau setiap hari hidup dengan perasaan bahwa saya adalah kesalahan.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa kosong.

Bu Ratna tidak menyangka Pipit akan menjawab setenang itu.

Tanpa teriak.

Tanpa memohon.

Tanpa marah.

Dan justru itu yang membuat kalimat Pipit terasa lebih menghantam.

Pipit melangkah ke arah pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti.

“Saya tidak pernah datang untuk menjual diri saya demi nama belakang siapa pun. Saya datang karena saya mencintai Bagas.”

Ia menoleh sedikit.

“Tapi kalau cinta saya dianggap transaksi, maka mungkin memang saya yang salah alamat.”

Pintu terbuka.

Dan untuk pertama kalinya, Bu Ratna tidak punya kalimat lanjutan.

Bagas berdiri terpaku.

Antara ibu.

Dan perempuan yang ia cintai.

Dan hari itu, tidak ada yang benar-benar menang.

Yang ada hanya harga diri yang diinjak.

Dan cinta yang mulai retak.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!