Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 18 - Obsesi
Steven mengepalkan tangannya—menggertakkan gigi setelah mendengar ancaman Abi, yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan Steven dan melakukan apa saja pada siapa pun yang dianggap berpotensi membuat Steven meninggalkan pekerjaannya sebagai anggota NOVA.
Itu bukan terjadi satu atau dua kali. Steven bahkan kehilangan banyak teman tongkrongannya karena Abi merasa mereka memengaruhi Steven untuk meninggalkan latihan dan kegiatan syuting lainnya. Padahal, Steven sendirilah yang mendatangi teman-teman lamanya hanya untuk menghibur diri.
“Gue lagi nggak mau berantem, Bang,” ucap Steven, mencoba menahan diri.
“Dan gue nggak ngajak lo berantem,” balas Abi santai, seolah menganggap Steven remeh.
Steven menepis tangan Abi dari tangan Alexa dengan kasar. “Dia nggak ada urusannya sama lo,” katanya, membela Alexa.
“Tapi dia berurusan sama lo.”
Steven tak mengindahkannya. Ia menatap Alexa dan memberi isyarat dengan matanya agar Alexa segera pergi dari sana. Bagaimanapun, Steven tidak ingin melibatkan Alexa dalam masalahnya—terlebih lagi memperlihatkan pertengkarannya dengan Abi.
Sayangnya, Alexa justru membalas tatapan Steven dengan bingung. Entah kenapa, pikirannya kosong. Terlalu banyak hal yang tidak ia mengerti, dan keterlibatannya tanpa pemahaman itu membuatnya terasa linglung.
“Kamu katanya mau pulang, pulang saja. Jangan pikirkan ucapan dia.” Steven menunjuk ke arah Abi.
Alexa mengangguk dan akhirnya berbalik pergi.
“Punya rumah? Bukannya orang tua lo sudah meninggal semua, Alexa?” Lagi-lagi Abi menghentikannya.
“Itu urusan keluarganya. Jangan ikut campur!” Steven menegur cepat.
“Bukannya lo yang lebih dulu ikut campur?” Abi menyeringai. “Lo kira nggak ada yang tahu kalau lo sama dia kabur dari penggemar di stasiun, terus lo ada di rumahnya? Lo selamat dari rumor itu karena gue yang klarifikasi.”
“Soal itu makasih.” Seburuk apa pun Steven, dia tahu cara berterima kasih.
Alexa tak jadi melangkah. Dia sama sekali tidak tahu soal rumor yang beredar. Begitu jarangnya ia membuka berita di ponsel atau televisi membuatnya buta akan apa pun yang terjadi di luar.
Abi melirik Alexa dengan seringai kecil, menunjukkan betapa muaknya dia melihat wajah Alexa muncul di hadapannya—setelah dia susah payah meluruskan gosip yang hampir menjatuhkan reputasi NOVA.
“Gue cukup heran, Stev. Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa lo milih terlibat dalam kehidupan anak pembunuh?” sindir Abi.
Mendengar itu, Alexa langsung menunduk menatap lantai. Jantungnya seperti terlilit rantai—begitu menyesakkan. Kalimat itu menyakitinya bukan karena tuduhan—melainkan karena fakta itu terlalu benar. Ayahnya pembunuh. Kebenaran yang tak punya satu kata pun sebagai pembelaan.
“Apa maksud lo?” Kepala Steven terasa mendidih.
Senyum kecil Abi membuat Steven semakin muak. Abi tampak tenang, tetapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seolah tak peduli siapa yang terluka.
“Ya kali lo nggak ngerti. Ayahnya membunuh empat korban, termasuk ibunya, bukan?”
Diperjelas.
Dan itu mencekik Alexa.
Steven mencengkeram kerah baju Abi dengan kuat—ancaman yang nyata. Ia tak sanggup melihat Alexa hanya menunduk tanpa bisa membela diri atas fakta yang menghantamnya begitu telanjang.
Trauma Alexa jelas belum sembuh—atau mungkin tak akan pernah sepenuhnya sembuh. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menerima semua yang telah ia alami, dan Abi seperti menabur garam di luka yang masih basah. Terlebih, Abi hanyalah orang asing yang sama sekali tak berhak mengomentari hidup Alexa.
“Kok lo yang marah?” ejek Abi.
Satu pukulan mendarat di wajah Abi. Steven mendorong tubuhnya hingga punggung Abi membentur dinding lorong sebelum ambruk ke lantai.
“BANGUN LO, BANGSAT!” teriak Steven.
Orang-orang mulai berdatangan karena teriakan itu. Abi hanya meringis kesakitan, darah mengalir dari hidungnya.
“Ada apa ini?”
Alih-alih melerai, mereka justru mengangkat ponsel, merekam pertengkaran dua idola papan atas yang bisa menggemparkan media mana pun.
Alexa melangkah mundur, menyembunyikan diri agar tak ada yang tahu ia terlibat dalam pertengkaran itu. Napasnya tak teratur. Ucapan Abi tentang keluarganya membuatnya ngeri membayangkan jika semua orang kelak juga ‘hanya’ melihatnya sebagai anak seorang pembunuh.
Tak memedulikan siapa pun di sekelilingnya, Steven kembali memukuli Abi hingga Abi balas melawan. Perkelahian itu memancing teriakan histeris ketika wajah mereka mulai babak belur.
Keributan tersebut membuat banyak staf berdatangan, dan tak lama kemudian manajer mereka berhasil melerai.
“SIALAN LO!” maki Abi.
Steven tak membalas. Saat Daffa, manajernya, menariknya menjauh, Steven melirik sudut tempat terakhir kali Alexa berdiri.
Kosong.
“Aku mau pergi.” Steven melepaskan diri dari Daffa.
“STEV!” Daffa hendak memarahinya.
Tak membiarkan Steven pergi, Abi juga melepaskan diri dari manajernya dan menarik kerah belakang baju Steven hingga tubuh Steven terjatuh ke lantai. Kepalanya terbentur cukup keras, membuatnya meringis sambil memegangi bagian belakang kepala.
Cekcok antara Steven dan Abi bukan hal baru. Mereka kerap menunjukkan hubungan buruk di depan publik, bahkan media sering meliputnya, penggemar juga hanya berpikir itu hanya lelucon di antara keduanya. Namun kali ini, kekerasan benar-benar terjadi.
“Selesaikan masalah, bukan kabur!” ucap Abi sok dewasa.
Steven bangkit masih memegangi belakang kepalanya dengan bantuan Daffa.
“Oke. Kalau gitu, gue selesai.” Steven merogoh sakunya dan melempar kartu akses ruang latihan tepat ke wajah Abi.
Mata Abi membelalak. “Apa maksudnya?”
“Gue keluar dari NOVA. Kalau perlu konferensi pers, nggak masalah. Gue bakal ngumumin sendiri.”
Lorong mendadak hening. Semua mata tertuju pada Steven dengan tatapan tak percaya. Tak pernah ada yang menyangka kalimat seperti itu keluar dari mulut NOVA. Daffa bahkan membatu mendengar itu.
“Nggak begitu cara nyelesain masalah!” bentak Abi.
“Terus gimana? Sebelum band ini besar, gue udah bilang gue nggak mau ikut debut. Dari awal, lo yang terobsesi sama band ini tanpa pernah tanya ke anggota lain apa mau mereka.”
Steven berbalik dan pergi.
Dia tahu semua anggota NOVA ada di antara kerumunan. Tak satu pun bersuara untuk membela—dan itu keputusan yang tepat. Jika tidak, ambisi untuk mendapatkan pembelaan akan semakin menghancurkannya dan Abi.
Tidak ada penyesalan.
Steven tidak menyesal mengumumkan keputusannya keluar dari NOVA di depan umum.
Bagaimanapun, sebagai orang asing, Abi sudah terlalu menyakiti Alexa. [ ]