Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KATA YANG TERTAHAN
Minggu pagi.
Udara masih dingin. Matahari baru naik pelan.
Kevin sudah bangun sejak subuh.
Padahal nggak ada alarm.
Jantungnya?
Deg.
Deg.
Deg.
“Cuma ke taman kota,” gumamnya sambil duduk di tepi kasur.
Cuma.
Tapi kenapa rasanya kayak mau sidang akhir hidup?
Ia berdiri di depan kamar Cantika.
Anaknya masih tidur, wajahnya damai banget.
Kevin tersenyum tipis.
“Ayah cuma takut kamu berharap terlalu tinggi, Cantik…”
Takut.
Takut Siska datang cuma karena rasa bersalah.
Takut luka lama kebuka.
Takut Cantika harus ngerasain ditinggal dua kali.
“Udah lah. Satu jam doang.”
Jam sembilan mereka sampai di Taman Kota.
Suasana rame.
Anak-anak lari-larian.
Penjual es krim teriak.
Balon warna-warni beterbangan.
Cantika langsung loncat turun dari mobil.
“Ayah! Ayunan!”
Kevin cuma bisa geleng sambil senyum.
Ia duduk di bangku panjang dekat area bermain.
Jam 09.12.
Belum ada pesan.
Jantungnya mulai nggak karuan.
Dan lalu…
Sosok itu muncul.
Siska.
Dress putih sederhana. Rambut diikat setengah.
Cantik. Tapi jelas gugup.
Langkahnya pelan.
Tatapan mereka ketemu.
Waktu seperti melambat.
“Hai,” suara Siska hampir berbisik.
“Hai,” jawab Kevin singkat.
Canggung?
Banget.
Tiba-tiba—
“TANTE!!!”
Cantika lari kecil, wajahnya bersinar kayak matahari pagi.
Siska langsung jongkok.
Cantika peluk dia tanpa ragu.
“Kangen!”
Pelukan itu bikin dunia berhenti.
Siska balas peluk. Tangannya gemetar.
“Aku juga kangen…” suaranya serak.
Kevin berdiri beberapa langkah dari mereka.
Hatinya?
Campur aduk.
Cantika mundur sedikit.
“Tante janji nggak hilang lagi?”
Kalimat itu…
Menusuk.
Siska menelan ludah.
“Tante nggak mau hilang.”
“Tapi tante nggak bisa selalu ada,” lanjutnya pelan.
Cantika cemberut. “Kenapa orang dewasa ribet banget sih?”
Kevin hampir ketawa.
Siska ikut senyum kecil.
Mereka duduk bertiga di bangku.
Cantika di tengah.
Tangan kanan pegang Kevin.
Tangan kiri pegang Siska.
Aneh.
Tapi… hangat.
Angin sore lewat pelan.
Beberapa menit cuma diam.
Lalu Siska buka suara.
“Dia ceria banget.”
“Iya,” jawab Kevin. “Cerewet juga.”
“Ayah!” Cantika protes.
Siska ketawa kecil.
Kevin refleks nengok.
Sudah lama banget dia nggak dengar tawa itu dari jarak sedekat ini.
“Kevin…” Siska mulai.
“Apa?”
“Makasih.”
Kevin menatap lurus ke depan.
“Ini bukan soal kamu. Ini soal dia.”
Siska mengangguk.
“Dia sering tanya tentang aku?”
Kevin diam beberapa detik.
“Sering.”
Mata Siska berkaca-kaca.
“Dia bilang kamu mirip dia.”
Siska tersenyum tipis.
“Dia juga bilang gitu waktu di rumah sakit.”
Sunyi lagi.
Lalu Siska nekat.
“Kamu masih marah?”
Kevin tertawa kecil. Tanpa senyum.
“Menurut kamu?”
Siska nunduk. “Aku tahu aku salah.”
“Kamu pergi,” Kevin suaranya rendah tapi berat.
“Kamu milih ninggalin.”
“Aku mikir aku nggak kuat!” Siska spontan.
“Dan kamu pikir aku kuat?” Kevin balas cepat.
Cantika nengok. “Ayah marah?”
Kevin langsung lembut lagi.
“Nggak, Sayang.”
Siska mengecil.
“Aku nggak mau Cantika ngerasa ditinggal dua kali,” lanjut Kevin pelan.
Kalimat itu bikin Siska terdiam.
“Aku nggak akan ninggalin dia lagi,” bisiknya.
“Jangan janji kalau belum siap.”
Siska menatap Kevin.
“Sekarang aku siap.”
Tatapan mereka bertahan lebih lama dari biasanya.
Tiba-tiba—
“Ayo ayunan! Tante ikut!”
Cantika sudah narik tangan mereka.
Di area ayunan, Cantika duduk duluan.
Kevin dorong pelan.
Siska duduk di ayunan sebelah, awalnya kaku.
Tapi saat Cantika ketawa keras…
Siska ikut tersenyum.
Kevin berdiri di tengah dua ayunan itu.
Pemandangan itu…
Terlalu sempurna.
Seperti keluarga.
Yang seharusnya.
“AYAH FOTO!”
Kevin ambil ponsel.
Ia memotret Cantika dan Siska yang lagi tertawa.
Saat lihat layar…
Dadanya bergetar.
Mereka terlihat cocok.
Cantika turun dan lari beli balon.
Tinggal Kevin dan Siska.
Jarak cuma satu langkah.
“Aku nggak mau lari lagi,” kata Siska pelan.
Kevin menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Aku udah terlalu lama nyesel.”
“Nyesel nggak otomatis bikin semuanya balik.”
“Aku tahu.”
“Tapi kalau masih ada sedikit ruang… aku mau berjuang.”
Sunyi.
Angin lewat lagi.
Cantika datang bawa dua balon.
“Satu buat Ayah! Satu buat Tante!”
Mereka ambil.
Cantika berdiri di tengah lagi.
“Aku seneng hari ini.”
Kevin dan Siska saling pandang.
Mungkin… mereka juga.
Jam hampir habis.
“Tante pulang?” tanya Cantika.
“Iya, Cantik.”
“Kapan ketemu lagi?”
Siska melirik Kevin.
Kevin tarik napas panjang.
“Nanti kita atur.”
Bukan janji.
Tapi bukan penolakan.
Cantika peluk Siska lama banget.
“Cantika anak hebat ya,” bisik Siska.
“Iyaaa.”
Siska berdiri. Tatap Kevin.
“Kalau kamu nggak bisa maafin aku… aku ngerti.”
Kevin diam.
“Tapi kalau masih ada ruang… aku nggak akan nyerah.”
Kevin nggak jawab.
Siska akhirnya pergi.
Cantika melambai sampai sosok itu hilang.
Di mobil.
“Ayah…”
“Iya?”
“Ayah suka tante nggak?”
Kevin lihat jalan di depan.
Lalu kaca spion.
“Suka,” jawabnya pelan.
Bukan cuma sebagai orang.
Tapi sebagai bagian hidup yang belum selesai.
Malam itu Kevin duduk sendirian.
Tapi sunyinya beda.
Bukan sunyi yang menyakitkan.
Lebih ke sunyi yang penuh kemungkinan.
Sementara di kamar lain, Siska memeluk bantal sambil tersenyum di sela air matanya.
Hari ini bukan tentang balikan.
Bukan tentang cinta.
Tapi tentang hadir.
Tentang nggak lari.
Dan mungkin…
ini bukan akhir luka.
Tapi awal penyembuhan.