NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Firasat Sang Predator

Kegemasan di dalam pondok itu tiba-tiba terasa sangat kontras dengan ancaman yang merayap di luar sana. Setelah sesi tujuh menit yang berakhir menjadi hampir setengah jam, AL akhirnya duduk di meja makan sambil menghabiskan sup kambing pemberian Bang Togar. Wajahnya terlihat sangat cerah, namun bagi seorang Enigma, instingnya jauh lebih tajam daripada manusia biasa.

Tiba-tiba, AL berhenti mengunyah. Sendok kayunya tertahan di udara. Telinganya bergerak sedikit, menangkap frekuensi rendah yang tidak bisa didengar oleh telinga Esme.

"Moa," panggil AL, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan serius. "Ada suara burung besi yang tidak wajar di balik bukit."

Esme yang sedang mencuci piring membeku. "Burung besi? Maksudmu helikopter? Mungkin itu hanya tim penyelamat hutan atau patroli perbatasan, AL."

AL menggeleng perlahan. Dia berdiri, berjalan menuju jendela dan menatap ke arah puncak bukit dengan mata kuningnya yang menyempit. "Bukan. Suaranya dingin. Dan aku merasakan... bau logam dan bahan kimia yang sangat aku benci. Bau yang sama dengan tempat di mana aku selalu merasa kedinginan dan sendirian sebelum aku bertemu denganmu."

Jantung Esme mencelos. Tempat yang dingin dan sendirian... itu adalah Laboratorium Pusat. Tempat di mana AL diciptakan sebagai senjata pemusnah. Esme segera mendekat dan memegang lengan AL yang tegang. "Aleksander, dengarkan aku. Jika... jika terjadi sesuatu, kau harus lari ke gua tempat kau bersembunyi kemarin, mengerti?"

AL menoleh, menatap Esme dengan tatapan protektif yang sangat kuat. "Tidak. Bang Togar bilang, suami tidak boleh lari meninggalkan istrinya saat ada bahaya. Aku akan menjagamu, Moa. Aku akan merobek siapa pun yang mencoba menyakiti kita."

Esme memeluk pinggang AL dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Dia tahu, ramuan penawar yang dia berikan semalam memang mengembalikan kesadaran AL, tapi itu tidak menghilangkan kekuatan Enigma di dalam tubuhnya. Justru sekarang, AL adalah versi paling berbahaya: Predator yang memiliki sesuatu untuk dilindungi.

Sementara itu, di kaki bukit, tim taktis yang dipimpin oleh Kolonel Vane—mantan atasan Esme di laboratorium—mulai bergerak. Mereka menggunakan pakaian penyamaran termal agar tidak terdeteksi oleh indra penciuman AL.

"Target sangat berbahaya. Gunakan peluru penenang dosis tinggi untuk Enigma, dan amankan Dokter Esmeralda hidup-hidup. Dia masih punya data mentah yang kita butuhkan," perintah Vane melalui interkom.

Malam mulai turun menyelimuti desa. Penduduk desa sudah masuk ke rumah masing-masing, tidak menyadari bahwa di atas bukit sana, sebuah pertempuran besar akan segera pecah.

Di dalam pondok, Esme mulai mengemasi beberapa dokumen penting dan obat-obatan darurat ke dalam tas. Ocan tampak sangat gelisah, dia terus mengeong di depan pintu yang baru saja diperbaiki, cakarnya menggaruk kayu dengan kasar seolah memberi peringatan.

"Mereka sudah di pagar," bisik AL.

Cahaya lampu di dalam pondok tiba-tiba mati. Suasana menjadi gelap gulita. Esme berteriak kecil saat merasakan tangan besar AL menariknya ke balik meja kayu tebal.

"Tetap di sini, Moa. Jangan bersuara," perintah AL.

"PRANG!"

Kaca jendela depan pecah berantakan. Sebuah tabung gas air mata dilemparkan ke dalam ruangan. Asap putih mulai memenuhi pondok. Esme terbatuk-batuk, matanya perih luar biasa. Namun, di tengah asap itu, dia melihat sosok AL berdiri tegak.

AL tidak terpengaruh oleh gas air mata itu. Paru-parunya yang telah dimodifikasi secara genetik segera menyesuaikan diri. Matanya yang kuning berpendar terang di tengah asap, memberikan pemandangan yang sangat mengerikan sekaligus menakjubkan.

"Keluar kalian, pengecut!" raung AL.

Tiga pria berpakaian hitam menyerbu masuk melalui jendela dan pintu yang hancur. Mereka menembakkan peluru bius ke arah AL. "TAP! TAP! TAP!"

Tiga peluru menancap di dada dan bahu AL. Esme menjerit histeris dari balik meja. Namun, AL hanya menatap peluru-peluru itu, lalu mencabutnya satu per satu seperti mencabut duri kecil. Metabolisme tubuhnya yang luar biasa segera menetralisir racun penenang itu sebelum sempat mencapai otaknya.

AL menerjang. Dengan satu gerakan memutar, dia menghantam dua orang preman taktis itu hingga terpental menabrak dinding kayu pondok sampai jebol. Kekuatannya berkali-kali lipat lebih besar daripada saat dia melawan preman desa kemarin. Ini adalah amarah murni dari seorang pria yang rumah tangganya diganggu.

"AL, hati-hati!" teriak Esme saat melihat orang keempat masuk dengan senjata laras panjang yang lebih besar.

AL melompat, gerakannya sangat luwes menyerupai serigala. Dia menangkap laras senjata itu dan membengkokkannya seolah itu hanya terbuat dari plastik. Dia kemudian mencengkeram leher pria itu dan mengangkatnya ke udara.

"Siapa kalian?!," desis AL tepat di depan wajah pria yang ketakutan itu, "Aku adalah suami dari wanita ini. Dan aku akan membunuh siapa pun yang menyentuhnya."

AL melempar pria itu keluar melalui pintu yang hancur. Namun, di luar sana, Kolonel Vane sudah menunggu dengan sebuah alat pengendali frekuensi di tangannya. Alat itu mengeluarkan suara berdengung yang sangat tinggi, yang hanya bisa didengar oleh AL.

"AAAKKKHHHH!" AL jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang terasa seolah meledak. Suara itu menyerang langsung ke chip kontrol yang tertanam di dasar otaknya yang belum sempat dilepaskan oleh Esme.

"Aleksander!" Esme berlari keluar dari persembunyiannya, mencoba memeluk AL.

"Menjauh, Dokter Esmeralda," suara dingin Kolonel Vane terdengar dari arah kegelapan halaman. "Dia hanyalah aset milik negara. melindungi nya."

Esme berdiri di depan AL yang sedang merintih kesakitan, merentangkan tangannya lebar-lebar untuk melindungi suaminya. "Dia manusia! Dia punya perasaan! Kalian tidak akan membawanya kembali ke neraka itu!"

Vane tertawa meremehkan. "Manusia? Lihatlah dia sekarang. Dia hanyalah seekor binatang yang sedang kesakitan."

Vane menaikkan frekuensi alat kontrol itu. AL mulai mengerang liar, kuku-kukunya memanjang, dan dia mulai kehilangan kesadaran manusianya lagi. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, AL menggenggam tangan Esme yang gemetar.

"Moa... lari..." bisik AL dengan sisa kekuatannya.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" tangis Esme.

Tiba-tiba, dari arah jalan setapak, terlihat cahaya obor yang sangat banyak. "OI! APA YANG TERJADI DI RUMAH ALEKS?!"

Suara Bang Togar menggema. Ternyata suara keributan dan ledakan gas air mata tadi telah memancing warga desa untuk datang. Bang Togar, Paman Silas, dan puluhan pemuda desa datang membawa parang, cangkul, dan obor.

"Siapa kalian?! Berani-beraninya mengganggu pahlawan kami!" teriak Bang Togar sambil mengacungkan golok besarnya.

Kolonel Vane terkejut melihat massa yang begitu banyak. Dia tahu bahwa menarik perhatian publik adalah hal terakhir yang diinginkan laboratorium. "Mundur! Kita tidak bisa membuat keributan dengan warga sipil!" perintah Vane pada anak buahnya.

Para pria berseragam hitam itu segera mundur menuju helikopter mereka di balik bukit. Sebelum pergi, Vane menatap Esme dengan tajam. "Ini belum selesai, Esmeralda. Dia akan selalu menjadi monster, dan suatu saat kau akan menyesal telah melindungi nya."

Helikopter itu terbang menjauh, meninggalkan pondok yang kini hancur berantakan untuk kedua kalinya. AL jatuh pingsan di pelukan Esme karena kelelahan mental yang luar biasa.

Bang Togar dan warga desa segera berlari mendekat. "Nak Esme! Kau tidak apa-apa?! Siapa orang-orang kota itu? Kenapa mereka menyerang kalian?"

Esme hanya bisa menangis sambil memeluk AL yang tak sadarkan diri. Dia tahu, mulai malam ini, rahasia mereka bukan lagi sekadar kebohongan kecil. Mereka sedang berperang melawan raksasa yang sesungguhnya.

"Terima kasih, Bang... terima kasih semuanya..." ucap Esme terisak.

Malam itu, warga desa berjaga di sekeliling pondok. Bang Togar duduk di teras dengan goloknya, siap menebas siapa pun yang berani kembali. Di dalam kamar, Esme membersihkan luka-luka AL dengan air mata yang terus mengalir.

Saat AL terbangun di tengah malam, hal pertama yang dia cari adalah tangan Esme. "Moa... apakah mereka sudah pergi?"

"Sudah, Aleksander. Penduduk desa mengusir mereka. Kau aman sekarang," bisik Esme.

AL menarik Esme ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Esme bisa merasakan detak jantung AL yang mulai stabil. "Aku tidak peduli jika aku harus menjadi monster selamanya, asalkan aku bisa melindungimu. Tapi Moa... Bang Togar benar soal satu hal lagi."

"Apa lagi kali ini?" tanya Esme sambil tersenyum sedih.

"Dia bilang, dalam perang... ciuman dari istri adalah obat paling manjur untuk luka di hati. Bolehkah aku meminta obatku sekarang?" pinta AL dengan mata kuningnya yang kembali penuh dengan kejujuran dan cinta.

Esme tertawa di tengah tangisnya, lalu memberikan "obat" yang diminta AL. Di tengah kehancuran rumah mereka, cinta mereka justru tumbuh semakin kuat dan liar, siap menghadapi tantangan apa pun yang akan datang dari masa lalu.

Apakah Kolonel Vane akan kembali dengan pasukan yang lebih besar, ataukah Esme dan AL akan memutuskan untuk melarikan diri ke tempat yang lebih jauh lagi?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!