Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehidupan baru
"Target melarikan diri, dibantu oleh pengkhianat, kita kehilangan banyak anggota", Riven terdiam sejenak mendengarkan suara seseorang dari balik ponselnya, "baik tuan."
Tut!
Riven menutup panggilan dalam ponselnya, "ck.. brengsek!."
Brakkk!
Kaki kanannya dengan sengaja menendang meja lapuk dalam rumah kosong tersebut, hingga patah berserakan. Amarah pria itu sedang berada di puncak. Rencananya gagal total, jika saja Sera berada di pihaknya, kemungkinan besar misi ini akan berjalan dengan lancar.
Namun kenyataannya Serra telah banyak berubah, gadis itu tak lagi sejalan. Ia benar-benar memutuskan pergi meninggalkan organisasi gelap yang telah membesarkannya.
"Mulai sekarang hidupmu ada di tanganku," geram Riven.
...----------------...
Mereka harus pergi sejauh mungkin. Itu hal terpenting yang bisa Serra pikirkan malam itu.
Setelah berhasil kabur dengan melompati jendela rumah kosong, kini mereka bersembunyi di balik semak, tak jauh dari pasar. Keduanya tengah terdiam menunggu kendaraan yang melintas.
Saat sebuah truk tua melintas di jalan tanah, Serra mulai melambaikan tangan, ia berteriak minta tumpangan. Truk itu berhenti, tampak lelaki paruh baya dari dalam kemudi.
"Kami baru selesai bekerja, boleh ikut menumpang?," tanya Serra ramah.
Si supir hanya mengangguk, ia mengira jika kedua orang berpenampilan kotor itu pekerja dari pemotongan hewan di pasar. Karena di perbolehkan, mereka pun naik di bagian belakang truk yang sebagian dipenuhi oleh banyak sayuran.
Di sepanjang jalan, mereka hanya saling terdiam. Tak ada lagi percakapan seperti hari-hari sebelumnya. Kondisi tubuh yang kelelahan, membuat keduanya perlahan terlelap.
"Hei, bangun!," seru seorang pria paruh baya menepuk pelan bahu Serra.
Gadis itu pun terbangun, matanya menyipit karena silau cahaya matahari. Pertanda jika hari mulai terang. Tepat di sampingnya, Ethan masih terlelap. Serra tak ingin mengganggu, namun mereka harus segera bergerak. Dengan ragu, Serra menyentuh pelan lengan Ethan, lalu sedikit menggoyang nya.
"Kita sudah sampai," bisik Serra.
Ethan mulai membuka matanya, sama seperti Serra, ia reflek menutupi wajah dengan satu tangan karena silau. Wajahnya tampak pucat namun tertutup oleh banyak noda. Mereka pun turun dari truk pengangkut sayur tersebut. Setelah berterimakasih, mereka bergegas meninggalkan tempat itu.
...----------------...
"Terimakasih nyonya."
Cklek!
Pintu apartemen kecil itu pun terkunci dengan rapat. Serra yang baru saja kembali dari mini market, mulai melangkahkan kaki ke arah dapur. Kedua tangannya cukup terampil menyusun sandwich yang akan menjadi sarapan mereka pagi hari ini.
Sedangkan di dalam ruang tamu yang tidak terlalu besar, Ethan masih menatap kosong ke arah jendela yang menampakkan pemandangan tak biasa. Sebagai seorang pemuda dari desa yang jauh, ia cukup asing melihat pemukiman padat yang seperti tanpa celah tersebut. Tak hanya itu, ia pun banyak mendengar suara-suara dari beraneka macam kendaraan yang melintas di bawahnya.
"Makanlah..," Serra meletakkan sepiring sandwich buatannya di atas meja, tepat di hadapan Ethan.
"Hari ini aku mulai kerja," Ethan tidak menjawab, ia tetap terdiam tanpa memperdulikan perkataan Serra.
Sudah seminggu ini, semenjak mereka menghuni apartemen kecil di pinggiran kota, sikap Ethan tak lagi sama seperti sebelumnya. Pemuda berambut sebahu itu, mengisi hari-harinya dengan diam. Perkataan ramah dan senyum kecil yang tulus, tak lagi ia tunjukkan.
Melihat sikap Ethan yang dingin, tidak membuat Serra berkecil hati. Gadis itu selalu mengajaknya berbicara, walaupun tak pernah ditanggapi. Serra mengerti jika saat ini kondisi Ethan jauh dari kata baik. Dan tak bisa dipungkiri jika semua itu adalah kesalahannya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Serra mulai bersiap. Ia meletakkan kunci cadangan di atas meja ruang tamu.Berharap jika Ethan sudi menggunakannya.
...----------------...
Udara pagi di pinggiran kota Bridgestone terpantau hangat dibanding dengan udara pagi di hutan Ashwood. Tentu cuaca memiliki perbandingan tersendiri karena letak lokasi yang berjauhan. Waktu lima jam perjalanan bukanlah hal yang sia-sia bagi Serra. Walau ia tahu jika Riven tidak akan mungkin melepaskan mereka begitu saja, namun setidaknya ia dan Ethan masih bisa sedikit bernapas diantara padatnya pinggiran kota ini.
"Selamat pagi nona Moore!".
Terdengar sapaan serentak dari anak-anak yang kebanyakan berusia 10 tahun dalam ruangan 8×10 meter tersebut —Dojang. Kini Serra bekerja sebagai pelatih seni bela diri taekwondo di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Tentu hal itu bisa terjadi karena bantuan tersembunyi dari Vian. Gadis cilik itu berhasil menghubungi Serra lewat manipulasi telepon umum, ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di kota ini. Tak hanya itu, identitas baru, penyewaan apartemen serta pekerjaannya saat ini juga masih berkaitan dengan Vian.
Serra sebagai seorang pembunuh bayaran berpengalaman, tentu memiliki banyak rancangan rencana tersendiri. Ia sudah mengira jika keputusannya untuk keluar dari organisasi akan menimbulkan berbagai macam masalah. Terlebih lagi ada sosok Riven yang sudah terlanjur kecewa padanya.
Riven dan Serra bukan hanya dua sosok mematikan, mereka adalah dua struktur penting dalam organisasi gelap tersebut. Misi paling sulit pun bisa terselesaikan dengan mudah, jika ada campur tangan mereka didalamnya. Hubungan mereka termasuk dekat dalam pekerjaan.
"Nona Moore, ini dari ibuku," seorang anak laki-laki menyodorkan sebuah amplop.
"Sampaikan terimakasih ku pada ibumu Miguele," ramah Serra mengusap pelan kepala anak tersebut. Undangan perjamuan batinnya.
Miguele adalah anak dari tetangga apartemen kecil tiga lantai yang ditinggalinya bersama Ethan. Hal yang wajar bagi ibu Miguele untuk mengundang Serra. Karena ia merupakan salah satu penanggung jawab apartemen selain si pemilik.
...----------------...
Malam harinya, Serra mulai bersiap menghadiri acara perjamuan tersebut. Seperti biasa, ia menoleh sebentar ke arah ruang tamu. Ethan tampak terbaring tenang di sofa panjang dekat jendela. Sepiring sandwich yang tadi pagi ia buat, masih terlihat utuh. Hanya ada bekas dua gigitan kecil pada ujung rotinya.
Sejujurnya Serra sudah mulai merasa lelah. Ia merasa tak sanggup menghadapi sikap Ethan yang semakin membuatnya khawatir.
"Jane, kemari!."
Seorang wanita muda berpakaian sopan menariknya ke dalam kerumunan. Wanita itu bernama Maryn, ia adalah ibu dari Miguele.
Plok plok!
"Semua.. tolong berhenti sebentar!," seru Maryn menginterupsi, "perkenalkan.. ini Jane Moore, dia adalah tetangga baru kita!."
Di apartemen kecil padat penduduk yang mereka tinggali, kerap kali mengadakan acara perjamuan kecil untuk menyambut tetangga baru. Entah itu tradisi atau bukan, namun termasuk salah satu perbuatan yang baik.
Serra mulai memperkenalkan dirinya sebagai Jane Moore. Seorang isteri dari pria bernama Lucas Moore (Ethan). Para tetangga pun menyambutnya dengan ramah.
Meja dan kursi panjang tampak berjajar rapih, dengan hidangan lokal yang bervariasi. Tak lupa alunan musik terdengar menghentak riang, seiring dengan semakin serunya suasana malam itu. Banyak diantara mereka yang mulai mabuk karena disediakan pula banyak minuman beralkohol.
Serra yang sedari awal memang sedang merasa gusar itu pun jadi sedikit terbawa suasana. Gadis itu terlihat duduk sendirian di ujung meja panjang.
"Halo nona Jane, dimana suamimu? tidak kelihatan hadir," tegur seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga lantai dua apartemen.
"Ah.. Lucas, dia sedang tidak enak badan," Serra tersenyum dengan rona wajah memerah.
"Ya tuhan, kasihan sekali. Besok kami akan menjenguknya," balas si wanita.
"Wahaha.. tidak nyonya, tidak perlu, dia hanya flu biasa," Serra berkata dengan intonasi asal, ia mulai merasakan efek dari 5 gelas bir yang belum lama ini memenuhi lambungnya.
"Kalau begitu ajaklah suamimu pada acara selanjutnya ya," si wanita berhenti berucap, ia melihat ekspresi Serra yang tersenyum manis dengan alis yang terangkat, "oh itu, acara festival tahunan," lanjut si wanita menatap canggung wajah Serra.
"Yayaya.. Aku akan mengajaknya, tapi harus tetap melindunginya karena..," kalimat Serra terhenti, membuat si wanita paruh baya menunggu.
Alih-alih menjawab langsung, Serra malah beranjak mendekati lawan bicaranya. "Karena dia tampan," bisiknya. Si wanita pun tersipu mendengar perkataan Serra, "ah.. kukira apa."
Hampir saja gadis itu mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia besar. Menyadari jika pandangannya sudah mulai tidak fokus, Serra pun berpamitan untuk kembali ke apartemennya. Ada beberapa yang ingin mengantarnya kembali, namun Serra menolak, ia tetap ingin pulang sendiri.