Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianat Ketiga
Tiga bulan telah berlalu sejak malam di kediaman Narendra. Jakarta tampak lebih bersahabat bagi Aira. Ia kini tinggal bersama Aristhide di sebuah griya tawang (penthouse) baru yang tidak lagi dipenuhi bayang-bayang masa lalu Sofia. Mereka mencoba membangun normalitas di atas reruntuhan drama yang hampir menghancurkan mereka. Aristhide mulai belajar untuk tersenyum, dan Aira mulai belajar untuk mempercayai bahwa ia layak dicintai tanpa syarat.
Namun, di balik jeruji besi penjara Cipinang, Bramantyo duduk menatap sebuah foto yang baru saja dikirimkan kepadanya melalui sipir yang korup. Foto itu bukan foto Aira atau Aina. Itu adalah foto Yudha—asisten kepercayaan Aristhide—yang sedang berjabat tangan dengan seorang pria misterius di sebuah dermaga terpencil, sepuluh tahun yang lalu.
Bramantyo tertawa, suara tawa yang menyerupai batuk kering. "Begitu ya? Jadi selama ini, musuh terbesar Aristhide ada di sampingnya sendiri."
Pagi itu di griya tawang, Aira sedang menyiapkan kopi ketika Aristhide menerima telepon darurat. Wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Ada apa, Aris?" tanya Aira cemas.
"Ada pergerakan saham aneh di Malik Group. Seseorang sedang melakukan hostile takeover (pengambilalihan paksa) dengan menggunakan data internal yang seharusnya hanya diketahui olehku dan... Yudha." Aristhide segera mengambil jasnya. "Aku harus ke kantor. Yudha sudah menunggu di bawah dengan tim auditor."
Aira merasakan firasat buruk yang tiba-tiba menusuk dadanya. "Aris, tunggu! Jangan pergi sendirian."
"Aku tidak sendirian, Sayang. Ada tim keamanan. Tetaplah di sini, jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali pengawal Narendra yang ada di luar," Aristhide mencium kening Aira dengan cepat, lalu bergegas pergi.
Setelah Aristhide pergi, Aira tidak bisa tenang. Ia teringat kata-kata ayahnya di penjara tentang "pemilik papan catur". Ia mulai mengacak-acak kembali berkas-berkas digital yang pernah ia salin dari Kamar 404. Ia mencari satu nama yang selalu muncul di pinggiran dokumen namun tidak pernah diperhatikan: Y. Prasetya.
"Yudha Prasetya," bisik Aira.
Aira segera menghubungi nomor darurat yang diberikan oleh ayahnya, Adipati Narendra. "Ayah, aku butuh bantuan. Periksa latar belakang Yudha sebelum dia bergabung dengan Aristhide. Cari hubungannya dengan malam pertukaran bayi itu."
Tidak butuh waktu lama bagi intelijen Narendra untuk memberikan jawaban. Satu jam kemudian, sebuah berkas masuk ke ponsel Aira. Isinya membuat jantung Aira nyaris berhenti.
Yudha adalah keponakan dari dokter yang melakukan pertukaran bayi dua puluh tahun lalu. Dokter itu tidak meninggal karena kecelakaan seperti yang dilaporkan; dia menghilang setelah menerima transferan besar dari rekening atas nama Y. Prasetya—sebuah rekening perwalian yang dibuat oleh Bramantyo untuk menyembunyikan uang suap dari Sofia Malik.
Yudha tidak setia pada Aristhide. Dia mendekati Aristhide sepuluh tahun lalu untuk memastikan Aristhide tetap berada di jalur yang benar—jalur yang pada akhirnya akan membawa kehancuran pada keluarga Malik dan Narendra secara bersamaan, demi membalaskan dendam pamannya yang dijadikan kambing hitam oleh Bramantyo.
Tiba-tiba, lampu di apartemen itu padam. Sistem keamanan yang canggih itu mendadak mati total. Pintu depan yang dikunci secara elektronik terbuka dengan bunyi klik yang dingin.
Sesosok pria masuk dengan santai. Bukan Aristhide. Itu Yudha. Ia memegang sebuah alat peretas kecil di tangannya, dan di tangan lainnya, sebuah senjata api berperedam.
"Nona Aira," ujar Yudha dengan suara yang biasanya ramah, namun kini terdengar sangat datar dan hampa. "Tuan Aristhide sedang terjebak di lift kantor yang macet. Sepertinya kita punya waktu sekitar tiga puluh menit untuk bicara sebelum semuanya berakhir."
Aira mundur perlahan menuju balkon. "Kenapa, Yudha? Aristhide sudah menganggapmu seperti saudara sendiri. Dia memberikan segalanya padamu."
Yudha tertawa sinis. "Saudara? Dia memberiku posisi asisten untuk menutupi rasa bersalahnya karena keluarganya menghancurkan hidup pamanku. Pamanku bukan pencuri bayi, Nona. Dia dipaksa oleh Bramantyo dan ayah Aristhide untuk melakukan itu. Ayah Aristhide tahu Sofia berselingkuh dengan Adipati, dan dia ingin bayi itu disingkirkan agar aset Malik tidak jatuh ke tangan orang luar."
Aira tertegun. Jadi ayah Aristhide juga terlibat?
"Aristhide tidak tahu apa-apa tentang itu," lanjut Yudha. "Tapi dia harus membayar dosa ayahnya. Dan kau... kau adalah umpan terbaik. Adipati Narendra akan memberikan apa pun untukmu, termasuk seluruh aset Narendra Group. Jika aku membunuhmu hari ini di rumah Aristhide, Adipati akan menghancurkan Aristhide dan Malik Group sampai rata dengan tanah. Dan aku? Aku akan menghilang dengan semua saham yang sudah kupindahkan ke luar negeri."
Yudha mengarahkan senjatanya ke arah Aira. "Maafkan aku, Nona. Kau hanya berada di waktu yang salah dengan darah yang salah."
Tepat saat Yudha akan menarik pelatuknya, suara tembakan pecah dari arah balkon bawah. Bukan dari senjata Yudha, melainkan dari helikopter yang tiba-tiba muncul di balik gedung pencakar langit itu.
Seorang penembak jitu dari tim keamanan Narendra berhasil melumpuhkan tangan Yudha. Senjata Yudha terlempar ke lantai. Detik berikutnya, pintu apartemen didobrak dari luar. Aristhide masuk dengan napas memburu, pakaiannya berantakan, diikuti oleh pasukan elite Narendra.
Aristhide segera menerjang Yudha, menghajarnya dengan amarah yang meledak-ledak. "Kau pengkhianat! Kau mencoba menyentuhnya?!"
"Aris, berhenti!" teriak Aira, berlari dan memeluk punggung Aristhide. "Jangan biarkan dia membuatmu menjadi pembunuh! Dia ingin kita hancur, jangan berikan apa yang dia mau!"
Aristhide terengah-engah, tinjunya berhenti tepat di depan wajah Yudha yang sudah bersimbah darah. Ia menatap asistennya dengan kekecewaan yang tak terlukiskan. "Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai diriku sendiri, Yudha."
"Kepercayaan adalah mata uang yang salah di dunia ini, Tuan," bisik Yudha sambil terbatuk.
Polisi segera menyeret Yudha keluar. Namun, sebelum ia pergi, ia menoleh ke arah Aira. "Periksa kotak deposit nomor 77 di Bank Pusat, Aira. Ada rekaman di sana. Rekaman suara ibumu saat dia tahu siapa yang sebenarnya memerintahkan pertukaran itu. Aristhide mungkin mencintaimu, tapi darah yang mengalir di nadinya adalah darah pria yang mencuri masa kecilmu."
Setelah ruangan itu kosong, Aristhide terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan tangan. Aira berlutut di depannya, memeluknya erat.
"Apa kita akan pergi ke bank itu?" tanya Aristhide pelan. "Apa kita akan membuka kotak pandora terakhir itu?"
Aira menatap mata Aristhide yang penuh luka. "Tidak sekarang. Kita sudah cukup banyak berurusan dengan masa lalu. Jika kita terus menggali kuburan orang mati, kita tidak akan pernah punya waktu untuk hidup."
Aira mengambil ponselnya dan menelepon ayahnya, Adipati. "Ayah, ambil alih kotak deposit nomor 77. Hancurkan isinya tanpa membacanya. Aku tidak ingin tahu lagi. Aku ingin memulai hidup baru sebagai Aira, bukan sebagai pewaris dendam."
Aristhide menatap Aira dengan rasa kagum yang mendalam. Di titik inilah, Aira telah benar-benar melampaui semua orang yang pernah mencoba mengendalikannya. Ia telah memutus rantai kebencian yang telah mengikat dua keluarga selama dua dekade.
Epilog: Satu Tahun Kemudian
Di sebuah pantai pribadi di Bali, Aira duduk di atas pasir sambil melukis pemandangan matahari terbenam. Tidak ada warna merah darah di kanvasnya kali ini; hanya ada warna jingga, ungu, dan emas yang hangat.
Aristhide berjalan mendekatinya, membawakan dua gelas air kelapa dingin. Ia tidak lagi mengenakan jas mewah, hanya kemeja linen putih yang santai.
"Bagaimana lukisannya?" tanya Aristhide.
"Sudah selesai," jawab Aira sambil tersenyum. "Aku memberinya judul 'Bebas'."
Aristhide duduk di sampingnya, memandang laut yang tenang. "Yudha dijatuhi hukuman seumur hidup. Bramantyo dan Ratna tidak akan pernah keluar dari penjara. Dan Aina... kudengar dia sekarang bekerja sebagai buruh cuci di pinggiran kota. Dia menolak semua bantuan darimu."
"Biarkan saja," sahut Aira. "Dia harus belajar menjadi manusia dari nol, tanpa topeng."
Aristhide meraih tangan Aira, mencium jemari yang ternoda cat itu. "Terima kasih telah memilihku, Aira. Padahal kau punya segala alasan untuk pergi."
"Aku tidak memilihmu karena aku berutang, Aris. Aku memilihmu karena di dunia yang penuh dengan orang-orang yang ingin menjualku, kau adalah satu-satunya yang berani mempertaruhkan segalanya untuk memberiku pilihan."
Di kejauhan, Adipati Narendra berdiri di balkon villanya yang tak jauh dari sana, melihat putrinya dari kejauhan melalui teropong. Ia tersenyum tipis, lalu menutup teropongnya. Ia tahu, putrinya tidak lagi membutuhkannya untuk melindunginya. Aira telah menemukan pelindungnya sendiri, dan yang lebih penting, ia telah menjadi pelindung bagi dirinya sendiri.