NovelToon NovelToon
Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 KEDIAMAN DARMAWANGSA.

Beberapa detik berlalu. “…Sedikit saja,” tambahnya lirih.

Revan tidak menanggapi. Tapi ia memperlambat laju mobil.

Perjalanan menuju ibu kota memakan waktu hampir empat jam. Jalanan sempat macet di beberapa titik, namun Revan mengemudi dengan tenang. Sesekali Khay tertidur, kepalanya miring ke arah jendela. Rambutnya tergerai, wajahnya polos.

Revan melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.

Menjelang sore, gedung-gedung tinggi mulai terlihat. Udara terasa berbeda lebih panas, lebih sibuk. Ibu kota menyambut mereka dengan klakson dan deru mesin.

Khay membuka mata perlahan. “Kita sudah sampai?”

“Hampir,” jawab Revan.

Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elit. Rumah Revan berdiri kokoh, modern, dan tenang kontras dengan rumah Khay di kampung yang hangat dan ramai.

Begitu mobil berhenti, Khay menghela napas panjang. “Akhirnya.”

Revan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Khay. “Masuk.”

Di dalam rumah, suasana terasa rapi dan minimalis. Tidak banyak dekorasi. Semuanya tertata rapi, nyaris terlalu rapi.

“Kamu tinggal di sini sendirian?” tanya Khay.

“Iya,” jawab Revan. “Bas kadang datang.”

“Oh,” Khay mengangguk. “Pantesan rapi.”

Revan meliriknya. “Maksudnya?”

“Kalau ada perempuan biasanya ada sentuhan berantakan yang manis,” jawab Khay polos.

Revan terdiam sejenak. “Sekarang sudah ada.”

Khay membeku. “Hah?”

“Kamu,” lanjut Revan singkat. “Sekarang kamu di sini.”

Jantung Khay berdetak lebih cepat. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Aku… kelelahan.”

Revan mengangguk. “Makanya.” Ia menunjuk ke arah tangga. “Kamar tamu di lantai bawah. Kamar utama di atas.”

Khay ragu. “Aku di mana?”

Revan menatapnya. “Di rumah.”

Jawaban itu membuat Khay terdiam. “Maksudku… kamarku.”

Revan menghela napas pelan. “Untuk sementara, kamu pakai kamar tamu dulu.”

Khay mengangguk lega. “Oh.”

“Kamu butuh istirahat,” lanjut Revan. “Malam ini kamu tidur di rumah. Besok baru kembali ke kampus.”

Khay menatapnya. “Aku bisa kok langsung ke asrama.”

“Kamu capek,” potong Revan. Nadanya tegas, tapi tidak keras. “Dan kamu istriku.”

Khay membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Baik.”

Revan mengambil tas Khay. “Istirahat. Nanti aku panggil kalau makan malam.”

Khay melangkah menuju kamar tamu, lalu berhenti. “Mas Revan.”

Revan menoleh. “Makasih… sudah perhatian.”

Revan mengangguk kecil. “Istirahat.”

KAMAR.

Khay berdiri di ambang pintu kamar tamu, mulutnya sedikit terbuka tanpa ia sadari. Matanya berkeliling, menyapu setiap sudut ruangan yang terasa lebih pantas disebut suite hotel daripada sekadar kamar tamu.

Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal keemasan. Dinding marmer bermotif halus, tempat tidur besar dengan headboard empuk berwarna krem, sofa elegan di sudut ruangan, hingga lantai mengilap yang memantulkan cahaya sore. Semuanya terasa… terlalu mewah.

“Kamar tamu aja bisa sebagus ini,” gumam Khay pelan, hampir tak terdengar. “Apalagi kamar utama.”

Ia melangkah masuk perlahan, seakan takut lantai mahal itu akan retak kalau diinjak terlalu keras.

Tangannya menyentuh seprai putih bersih yang terasa lembut di ujung jarinya. Belum sempat ia melanjutkan kekagumannya, suara pintu terdengar terbuka.

“Maaf aku tidak mengajak kamu tidur di kamar utama,” ucap suara datar yang kini sudah mulai akrab di telinganya.

Khay menoleh cepat.

Revan berdiri di ambang pintu, setelan kasualnya masih rapi, ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Seolah mengagetkan orang bukanlah sebuah dosa baginya.

“Kamar utama sedang aku renov,” lanjut Revan sambil melangkah masuk.

“Oh…” Khay mengangguk-angguk kecil, masih sedikit linglung. “Pantesan.” Ia hendak kembali menoleh ke arah tempat tidur ketika satu kalimat Revan berikutnya membuatnya mematung.

“Kenapa Mas Revan bisa masuk?” tanya Khay refleks, matanya membesar.

Revan berhenti melangkah. Menoleh. “Karena aku juga akan tidur di sini.”

“Hah?” Khay benar-benar melongo kali ini. “O-oh…” suaranya nyaris tak keluar. “Tidur… di sini?”

Revan mengangguk seolah itu hal paling wajar di dunia. “Iya.”

Khay menatap ruangan itu lagi, lalu menatap Revan, lalu kembali ke tempat tidur besar di tengah kamar. Otaknya bekerja keras mencerna informasi barusan.

Jadi… bukan hanya dia.

Kamar utama direnovasi. Maka kamar tamu dipakai. Dan kamar tamu ini… akan mereka tempati berdua.

Tenang, Khay. Di desa juga tidur satu kamar, batinnya mencoba menenangkan diri. Bahkan satu kasur.

Tapi ini berbeda.

Ini rumah Revan. Di ibu kota. Dengan suasana yang asing. Dan entah kenapa lebih membuat jantungnya berdebar.

Revan berjalan ke arah sofa, duduk dengan tenang, lalu membuka laptop di atas meja kecil. Gerakannya santai, profesional, seolah ini hanya malam biasa setelah pulang kerja.

“Aku menyuruh kepala koki menyiapkan makan malam untuk kita,” ucapnya tanpa menoleh. “Sebaiknya kamu mandi sekarang.”

Khay berkedip. “Kepala… koki?”

“Iya.”

“Oh,” jawab Khay singkat. Tentu saja kepala koki, pikirnya. Aku lupa ini rumah orang kaya. Ia mengangguk pelan. “Baik.”

Namun kakinya belum bergerak.

Revan melirik sekilas. “Ada yang salah?”

Khay menggaruk tengkuknya. “Bukan salah sih… cuma… aku pikir kamar tamu itu kamar kecil.”

Revan menatap sekeliling. “Ini kecil?”

Khay terkekeh kaku. “Di kampung, kamar sebesar ini sudah bisa buat hajatan.”

Sudut bibir Revan terangkat tipis. Hampir tak terlihat. “Maaf. Aku tidak bermaksud pamer.”

“Aku tahu,” balas Khay cepat. “Aku cuma kaget.”

Ia menarik napas, lalu melangkah ke arah koper kecilnya. “Aku mandi dulu ya.”

“Kamar mandi di dalam,” kata Revan singkat.

“Iya.” Khay masuk ke kamar mandi, menutup pintu pelan. Begitu sendirian, ia langsung menyandarkan punggung ke pintu, menutup wajah dengan kedua tangan.

“Ya ampun, Khay…” gumamnya. “Satu kamar lagi.”

Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. Santai. Mas Revan bukan orang aneh.

Air hangat mengalir, membantu merilekskan tubuh dan pikirannya. Saat keluar dari kamar mandi, rambut Khay masih basah, dibalut handuk. Ia mengenakan piyama sederhana kaus lengan panjang dan celana panjang longgar.

Begitu keluar, ia mendapati Revan masih di sofa, fokus pada laptopnya. “Oh,” ucap Khay pelan. “Masih kerja?”

“Iya,” jawab Revan. “Sebentar.”

Khay mengangguk. Ia berjalan ke arah tempat tidur, duduk di tepinya, lalu mengibaskan rambutnya perlahan. Ia melirik ke arah Revan laki-laki itu tampak begitu tenang, seolah tidak ada hal yang canggung sama sekali.

“Mas Revan,” panggilnya.

“Hmm?”

“Kalau aku mendengkur, bilang ya.”

Revan berhenti mengetik. Menoleh. “Kamu mendengkur?”

“Kadang,” jawab Khay jujur. “Kalau capek.”

Revan menggeleng kecil. “Tidak masalah.”

“Kamu yakin?” Khay mengangkat alis. “Aku bisa keras.”

“Aku biasa tidur di tempat yang bising,” jawab Revan datar.

Khay nyengir. “Berarti aku setara mesin pabrik.”

Revan menahan senyum.

Tak lama kemudian, pintu diketuk. Makan malam diantar. Meja kecil di dekat jendela dipenuhi hidangan hangat sup, lauk, nasi, dan buah segar.

Mereka makan dengan jarak sopan. Khay mencoba bersikap santai, meski sesekali kikuk saat menyadari ia duduk berhadapan dengan suaminya di kamar tidur.

“Enak?” tanya Revan.

“Enak,” jawab Khay sambil mengangguk. “Koki kamu jago.”

“Kepala koki,” koreksi Revan.

“Oh iya,” Khay terkekeh. “Kepala.”

Setelah makan, Revan kembali ke sofa. Khay merapikan tempat tidur sedikit, lalu berdiri canggung di tengah kamar.

“Aku… tidur duluan nggak apa-apa?” tanyanya.

“Iya,” jawab Revan. “Aku masih kerja sebentar.”

Khay naik ke atas tempat tidur, menarik selimut, lalu berbaring miring menghadap jendela. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu tidur yang temaram.

Beberapa menit berlalu.

Suara ketikan laptop terdengar pelan. Khay memejamkan mata, tapi pikirannya masih aktif.

“Mas Revan,” panggilnya lagi.

“Iya?”

“Kamu nggak keberatan satu kamar sama aku?”

Revan menutup laptopnya, lalu berdiri. Ia berjalan mendekat, berhenti di sisi tempat tidur. “Kamu keberatan?”

Khay menggeleng cepat. “Nggak. Aku cuma… nanya.”

Revan mengangguk. “Kalau kamu tidak keberatan, aku juga tidak.” Ia mengambil bantal dan selimut, lalu naik ke sisi lain tempat tidur, menjaga jarak yang sama seperti malam sebelumnya.

Khay merasakan kasur sedikit bergerak. Jantungnya ikut bergerak juga.

“Tidur saja,” ucap Revan pelan. “Besok kamu kuliah.”

“Iya,” jawab Khay lirih.

Hening kembali menyelimuti kamar. Namun kali ini, tidak terasa asing. Ada kehadiran lain di ruangan itu tenang, stabil.

Khay memejamkan mata. Tangannya menarik selimut sedikit lebih tinggi.

“Mas Revan,” katanya mengantuk.

“Ya?”

1
erma irsyad
lanjutt thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
siapa yang ngawasin..harusnya Khay terus terang saja kalau udah nikah,kan jadi fitnahan nantinya
Drama Queen
Lanjut kak💪
Drama Queen
apa yang kamu pegang khay🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Khay mulai ada perasaan sama suaminya 🥰🥰
erma irsyad
dtunggu Up selnjutnya🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Jaga suamimu Khay jangan ada valak kor diantara kalian
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Revan cemburu🥰🥰🥰
erma irsyad
thor Up ny jgn lama2 😄
Bungatiem: lanjutkan lagi Doong
total 2 replies
Bungatiem
lanjutkan
Bungatiem
di dunia nyata ada suamiku ga pernah bangunin aku walopun aku tidur sampai siang 😍 Alhamdulillah pernikahan kami sudah berjalan 26 thn 😍
Marchel: Alhamdulillah.. Semoga pernikahannya bahagia terus ya kak 🤗😍
total 1 replies
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Marchel: Terimakasih kak
total 1 replies
Drama Queen
Revan perhatian banget sih ama istri kecilnya.. 😍😍😍
Drama Queen
lanjut💪
Drama Queen
Revan sangat perhatian ama istri kecil nya😍😍😍
Drama Queen
khay jangan banyak alasan bilang aja kamu takut tidurmu kebablasan dan peluk-peluk suamimu. tenang khay kalian sudah sah jadi bebas 🤣🤣
Drama Queen
gak sabar nunggu mereka malam pertama😄
Drama Queen
kenapa khay setiap bangun pasti kamu kaget dan menjerit 🤣🤣
Drama Queen
Revan sabar ya.. kalian masih masa perbekalan dan pendekatan jadi malam pengantinnya di undur sampai kalian benar-benar dekat🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!