NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Pagi ini Alya kembali ke rutinitas asalnya, hanya seputar kantor dan rumah, tidak lagi transit sebentar ke rumah sakit, semuanya berangsur normal.

Seperti pagi ini, ia bangun lebih awal memasak untuk orang tua dan adiknya yang masih dalam mode libur hingga beberapa bulan ke depan.

Alya menyalakan playlist favoritnya dari ponselnya, memasang earphone kemudian langsung fokus pada bahan masakan.

Tidak ada yang istimewa, hanya saja kemampuan masaknya yang semula nol besar kini berangsur baik, kalau kata Viko, masakannya sekarang sudah lebih layak makan dibanding sebelumnya.

Dulu, mana pernah Alya mau berkutat di dapur, mengerjakan pekerjaan rumah saja harus sampai di paksa atau mamanya marah-marah terlebih dahulu baru jalan.

Tapi semuanya berubah sejak hari itu, hari dimana mamanya lebih sering pingsan dan dinyatakan mengidap tumor otak, dan kondisinya kian memburuk kala itu.

Hingga prosedur medis dan operasi dilakukan, Alya masih ingat berapa kali ia harus menginap di rumah sakit saat itu.

Semua pekerjaan rumah otomatis beralih pada Alya yang saat itu masih berkuliah dikarenakan mamanya tidak boleh kelelahan.

Alya merasa ini hukuman buatnya yang tak pernah mau membantu mamanya mengerjakan pekerjaan rumah, seperti penyakit itu datang agar mamanya istirahat penuh.

Lima tahun berlalu, kini mamanya sudah baik-baik saja, tapi imbas dari situasi dan kondisi tiba-tiba itu Papanya juga mengidap sakit.

Tangannya yang masih memotong sayuran tiba-tiba berhenti dan menertawakan keadaannya, tapi kembali lagi kini semuanya sudah baik-baik saja meski harus tetap dengan kontrol, Alya merasa ini bagai jeda untuknya.

Alya sudah menyelesaikan sop ayam buatannya saat Viko mendekat.

“Kakak kenapa gak bangunkan aku?” tidak ada jawaban dari Alya, tangannya masih sibuk membuat bulatan-bulatan kentang yang akan jadi perkedel.

“Aku bantu ya?” tawar Viko lagi, Alya membuka earphone yang sejenak lalu membuntu pendengarannya.

“Tidak perlu, kamu bantu kakak jaga mama dan papa selama kakak kerja ya” Viko mengangguk.

Meski dilarang Viko tetap pada pendiriannya, diam-diam dia membantu menata makanan yang sudah matang dan piring ke meja.

Alya membiarkan itu, tak lama kedua orang tuanya bangun, kemudian mereka makan bersama-sama, sarapan sederhana tapi ada banyak kehangatan disana.

Waktu menunjukkan pukul 7 saat Alya sudah sampai di depan kantornya, tak langsung masuk Alya masih berdiri diam menatap gedung tinggi di depannya.

Alya berdiri beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena ragu, melainkan karena ia sedang memastikan dirinya sendiri bahwa hari ini ia masuk kerja bukan sebagai pelarian, tapi sebagai bagian dari hidup yang kembali berjalan.

Ia melangkah masuk.

Suasana kantor pagi itu tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Beberapa pegawai sudah duduk di meja masing-masing, sebagian masih berdiri di pantry dengan cangkir kopi di tangan. Alya menyapa seperlunya, lalu duduk di mejanya.

Ia membuka komputer, memeriksa agenda hari ini. Tidak terlalu padat. Tidak terlalu longgar. Ritme yang bisa ia kendalikan.

Sekitar setengah jam kemudian, notifikasi email masuk.

Bukan sesuatu yang mendesak. Undangan rapat koordinasi lanjutan untuk program yang sedang ia tangani. Nama Reyhan tercantum sebagai salah satu pihak yang akan hadir, bersama dua nama lain dari pihak akademisi.

Alya membaca detailnya dengan saksama, lalu menyimpan agenda itu ke kalender digitalnya.

Hari berjalan dengan tenang.

Hingga menjelang siang, ketika Alya diminta mengantarkan dokumen ke ruangan rapat lantai tiga. Ia membawa map biru di tangannya, melangkah cepat tapi tidak tergesa, tangga darurat menjadi pilihan Alya, sekalian olahraga.

Di depan ruang rapat, pintu masih tertutup. Alya berhenti, mengecek jam tangannya. Ia datang lima menit lebih awal.

Kemudian pintu lift terbuka.

Reyhan keluar, mengenakan kemeja sederhana dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya rapi, tas kerja disampirkan di bahu. Mereka saling tatap.

Reyhan yang tidak menyangka pertemuan ini memilih menyapa Alya duluan.

Dan senyuman itu, senyuman Alya sudah lebih ringan, sama seperti saat pertama mereka bertemu.

Tidak ada percakapan tambahan. Keheningan itu tidak canggung, lebih seperti jeda yang sama-sama diterima.

“Bagaimana kabar orang tuamu?” tanya Reyhan akhirnya, pelan.

“Sudah lebih stabil, terimakasih sudah bertanya” jawab Alya.

Reyhan tersenyum tipis. “Itu kabar baik.”

Perlahan semua orang dalam undangan hadir dan Alma tiba-tiba diminta mengikuti rapat.

Rapat berlangsung efektif. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Reyhan berbicara seperlunya, Alya mencatat poin penting, sesekali menyampaikan klarifikasi teknis. Tidak ada momen yang menonjol, tidak ada tatapan berlebihan.

Namun Alya menyadari satu hal kecil: setiap kali diskusi menyentuh jadwal atau beban kerja, Reyhan selalu memastikan ada opsi bukan tuntutan.

“Kalau bagian ini terlalu mepet, kita bisa geser satu-dua hari,” katanya pada peserta rapat lain, tanpa menoleh ke arah Alya, tapi cukup jelas agar ia mendengar.

Setelah rapat selesai, orang-orang beranjak keluar. Alya membereskan mapnya, bersiap kembali ke mejanya.

“Kamu sudah makan?” tanya Reyhan tiba-tiba, saat mereka berjalan beriringan menuju koridor.

“Belum,” jawab Alya jujur.

“mau sarapan bersama?” Reyhan tidak berhenti berjalan. Nadanya sama seperti saat membicarakan pekerjaan.

Alya tampak sedang menimbang, tapi Reyhan tak putus asa, “Sebentar saja”

“Boleh,” katanya akhirnya.

Mereka turun bersama. Food court menjadi pilihan mereka berdua, itu sederhana beberapa meja plastik, menu rumahan yang ditulis di papan kecil. Tidak ada suasana yang bisa disebut romantis.

Mereka duduk berhadapan, memesan menu yang hampir sama.

Reyhan tidak banyak bicara. Ia makan pelan, sesekali bertanya hal-hal ringan bukan tentang keluarga, bukan tentang masa lalu melainkan tentang pekerjaan Alya, tentang ritme kantor, tentang hal-hal yang aman.

“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang,” katanya di sela makan.

Alya mengangkat wajahnya. “Mungkin karena nggak lagi lari.”

Reyhan mengangguk, tidak meminta penjelasan.

Setelah makan, mereka kembali ke kantor. Tidak ada ajakan lanjutan. Tidak ada pesan setelahnya. Semuanya berhenti di situ.

Namun sejak hari itu, kehadiran Reyhan terasa semakin nyata—bukan sebagai sosok yang selalu ada, tapi sebagai konstanta kecil.

Pesan singkat menanyakan kabar orang tua. Email kerja yang disusun lebih rapi dari biasanya. Jeda yang sengaja disediakan, tanpa pernah disebut sebagai bantuan.

Alya menyadarinya perlahan, tanpa euforia.

Alya pulang sedikit lebih cepat. Ia sampai rumah dan mendapati Papa sedang duduk di ruang tamu, Mama menyiram tanaman di halaman.

“Kamu pulang cepat,” kata Mama.

“Iya,” jawab Alya. “Hari ini nggak terlalu padat.”

Mama tersenyum. “Bagus. Hidup jangan selalu penuh.”

Alya mengangguk.

Malam itu, saat Alya membereskan dapur, ponselnya bergetar. Pesan masuk.

Dari Reyhan.

‘Besok jadwal kamu longgar? Ada perubahan kecil di program. Bisa kita bahas sepuluh menit saja.’

Alya membalas setelah mencuci tangan.

‘Bisa. Pagi atau siang?’

‘Bagaimana kalau siang? Sekalian makan siang, mungkin’

Alya membaca pesan itu lebih dari sekali. Ia tidak menafsirkannya terlalu jauh. Tapi ada sesuatu di sana kedekatan-kedekatan diantara mereka perlahan tampak mulai keluar jalur profesionalisme, tapi Alya tidak ingin menolaknya.

Alya menyadari, Reyhan tidak sedang mendekat dengan cara yang biasa ia kenal. Tidak ada gombal. Tidak ada intensitas mendadak. Tidak ada klaim apa pun.

Ia hanya hadir.

Berulang.

Dengan cara yang menghormati ruang Alya.

Dan Alya yang selama ini sibuk bertahan perlahan menyadari bahwa kehadiran seperti itu membuatnya merasa… nyaman.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!