Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Kind Of Obsession
Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.
Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah.
Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.
Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang kelihatannya biasa saja, tanpa aksesori mewah yang melekat pada tubuh mereka. Mereka menatap Fraya dengan seruan semangat dukungan yang diberikan secara terang-terangan.
"Kalau orang seperti Fraya saja bisa menggaet dewa nomor satu kita di Milford Hall, pasti kita juga punya kesempatan untuk bisa menggaet anggota lainnya juga!" celetuk salah satu murid yang Fraya sendiri tidak tahu namanya siapa ketika dirinya melintasi koridor utama.
"Aku mau Louis, ya! Dia incaranku dari kelas sepuluh!" sahut siswi lain dengan nada girang, seolah mereka sedang sibuk berunding menentukan siapa anggota favorit mereka pada Boyband Korea yang saat ini tengah naik daun.
"Kalau aku sih, tetap dengan Robby si paling menawan dan badboy itu," timpal suara lain yang terdengar begitu yakin. Suara itu datang dari seorang gadis yang pernah Fraya temui di perpustakaan saat ia tengah bertugas menjadi staf tambahan perpustakaan.
Sebelum Fraya sempat menjauh, seruan lain kembali terdengar. Kali ini lebih heboh nan berisik, "Berarti jangan ada yang incar Russo dan Axel, ya! Aku bingung pilih yang mana dari kedua cowok seksi itu. Tapi yang jelas, kalau dua-duanya mau sama aku, aku tidak akan keberatan!"
Mereka lalu sibuk cekikikan, begitu girang dengan angan-angan mereka yang membuat Fraya seketika ingin memijat pelipis guna mengurangi kepalanya yang berdenyut pening.
Siang itu, pada jam periodik kedua, Fraya merasakan ponsel di saku jas sekolahnya bergetar, menghentikan langkahnya yang bergegas akan ke kelas Fisika. Ia menghela napas panjang sejenak sebelum memberanikan diri melirik layar, memastikan pada dirinya sendiri barangkali yang sedang menghubunginya saat ini bukan si brengsek rambut pirang itu.
Tapi harapannya hanyalah harapan. Nama Damian masih jadi yang paling gigih menghubunginya sejak beberapa hari yang lalu.
Dengan meluapkan kekesalan yang sejak kemarin coba diredamnya, Fraya tekan tombol merah dilayarnya dengan begitu keras. Masih dengan kekesalan yang sama, ia putuskan untuk mematikan ponselnya agar sisa harinya hari ini berjalan dengan semestinya.
"Alexa!"
Fraya mendongak dan menemukan Florence diujung koridor tengah berjalan untuk masuk ke kelas periodik ketiga yang kebetulan jadwalnya berbarengan dengan Fraya.
Fraya segera memasukkan kembali ponselnya kedalam saku lalu berjalan memasuki kelas bersama Florence yang kini merangkulnya.
"Belum mau kamu angkat juga?" Florence mengangkat kedua alisnya, waktu menyadari gurat kekesalan masih tampak begitu jelas di wajah Fraya.
Fraya hanya mengedikkan bahu dengan malas seraya meletakkan tasnya di deretan meja kayu paling depan. "Buat apa juga? Toh aku sudah tidak punya urusan apa-apa sama dia. Aku sudah bilang kalau dia tidak perlu repot-repot lagi untuk jadi tutorku. Besok aku akan minta Mrs. Crabtee untuk mencari pengganti nya yang lain saja." timpal Fraya dengan ketus seraya mengeluarkan buku Fisika untuk mempersiapkan tugas tabel periodik yang sudah ia kerjakan dari semalam.
Florence duduk di samping Fraya dengan raut wajah cemas. "Alexa, yang sedang kamu hindari mati-matian itu adalah malaikat mautnya Milford Hall. Kami yakin sanggup melawan Damian?"
Florence memutar tubuh menghadap sahabatnya yang tetap bersikap cuek seolah tidak ada badai yang sedang dihadapinya dengan susah payah ini.
"Damian itu manusia yang paling tidak bisa ditantang. Kalau hidupmu mau aman di sini, setidaknya jangan bikin dia merasa harus meladeni tantanganmu."
Fraya berdecak, melempar tatapan kecewa sekaligus jengah kepada teman sebangkunya ini. "Terus maksud kamu, aku harus nurutin semua keinginan konyol dia itu selama aku jadi murid di Milford? Lagian ya, siapa juga sih yang menantang dia? Dia-nya saja yang merasa semua hal yang tidak bisa dia miliki akan otomatis menjadi tantangan buat dia."
Florence hanya terdiam. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Fraya Alexandrea memang bukan bagian dari deretan cewek pemuja Damian Harding yang biasanya dengan sukarela melakukan apa pun demi menyenangkan hati Damian. Fraya adalah gadis berbeda yang sedang menantang maut tanpa ia sadari sepenuhnya.
"Oh my fucking God," gumam Florence tiba-tiba seraya menutup mulut dengan telapak tangan. Matanya membelalak kaku menatap ke arah depan kelas.
"What?" Fraya mengernyit heran melihat Florence yang membeku, sebelum ia menyadari suasana sekitarnya juga ikut berubah sunyi seiring dengan tatapan para murid perempuan yang seolah tersihir.
Fraya akhirnya menjatuhkan pandangannya ke depan kelas. Kedua alisnya naik bebarengan ketika menatap seseorang didepan kelas sana yang Fraya yakini belum pernah dilihatnya mengajar dikelas Fraya manapun.
Seingatnya, guru fisika mereka juga bukan seorang pria, tampan sekali pula. Terakhir Fraya masuk ke kelas Fisika, yang mengajar adalah Mrs. Lockwood yang sedang mengandung hampir 9 bulan.
Ia melihat sosok pria dengan tinggi menjulang, berambut hitam legam yang kontras dengan tatapan mata cokelat terangnya. Pria itu berdiri tegap dengan senyum lebar yang sukses menciptakan lenguh kekaguman instan. Sosok pria dewasa dengan usia yang diperkirakan memasuki akhir dua puluhan itu tersenyum sumringah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menonjolkan tubuh bagian atasnya yang terlihat atletis.
"Good morning, everyone. Perkenalkan, nama saya Henry Harrington, guru baru Fisika kalian hari ini. Saya yang akan menggantikan Mrs. Lockwood untuk sementara waktu."
°°°°
Damian terbangun dengan dada yang masih naik turun kasar, seolah dentuman bass klub semalam belum benar-benar berhenti mengguncang tubuhnya.
Langit-langit tinggi kamar tidurnya menyambut dengan kemewahan yang dingin dan tak berperasaan. Ukiran klasik di tepian plafon itu biasanya tampak megah, tapi pagi ini terasa seperti dinding penjara yang membungkam.
Cahaya matahari menembus tirai besar setinggi hampir empat meter, jatuh tepat di wajahnya tanpa belas kasihan.
Beberapa detik ia hanya terbaring diam di atas ranjang king-size yang terlalu luas untuk satu orang. Seprai sutra itu kusut, menyisakan bekas kekacauan semalam.
Lalu ingatan itu menyambar.
Gaun berkilau.
Rambut tergerai.
Bibir yang ia lumat dengan rasa hampir putus asa.
Nama yang ia bisikkan di sela napas memburu.
Fraya.
Hanya seprai kusut dan bekas lekukan tubuh seseorang yang tadi malam ada di sana. Aroma parfum yang tersisa menusuk hidungnya. Tajam. Manis. Asing.
Bukan vanila ringan yang selalu melekat pada Fraya.
Kesadarannya menghantamnya lebih keras dari mabuk apa pun.
Itu bukan Fraya.
Itu namanya rindu, Darling,"
Suara wanita di sebelahnya memecah keheningan dengan nada serak yang sengaja dipelintir manja.
Wanita berambut merah itu sudah terjaga sepenuhnya. Ia menopangkan kepala pada lengannya, menatap Damian dengan mata sayu yang dipaksakan menggoda-meski maskaranya luntur dan lipstiknya berantakan, menyisakan wajah lelah yang jauh dari kata memikat.
"Mungkin semua yang kamu lakukan tadi malam itu adalah proyeksi dari rasa rindumu akan gadis bernama Fra... Fre... aduh, siapa namanya? Ah, Fraya ya, kalau tidak salah?"
Nama itu menghantam Damian lebih keras daripada cahaya matahari yang menelanjangi kamar.
Ia tersentak. Rahangnya mengeras. Garis wajahnya berubah dingin dalam sepersekian detik. Ketika ia bertanya bagaimana wanita itu bisa tahu nama tersebut, suaranya rendah-namun cukup tajam untuk membekukan udara.
Tidak ada nada panik. Hanya ancaman tipis yang mengendap.
Wanita itu justru tertawa ringan. Renyah. Seolah ini hanya percakapan santai di pagi yang menyenangkan.
"Sweetheart, kamu sudah menyebutkan nama itu ratusan kali dalam semalam, bahkan ketika kamu sedang menyetubuhi aku gila-gilaan, seolah-olah kamu sedang memohon pada Tuhan melalui namanya."
Sejenak, dunia terasa berhenti.
Damian memejamkan mata rapat-rapat. Urat di pelipisnya menegang.
Ia bisa merasakan darahnya berdesir tidak teratur. Malu. Muak. Jijik pada dirinya sendiri. Ia-Damian Harding-yang selalu memegang kendali, ternyata berubah menjadi pria menyedihkan yang memanggil nama perempuan lain di ranjang orang asing.
"Aku sih tidak keberatan, toh aku menikmati apa pun yang kamu berikan tadi malam, walaupun harus sambil mendengar kamu memanggil-manggil nama Fraya itu ribuan kali," lanjut gadis berambut merah itu dengan suara yang nyaris memekik senang.
Kalimat itu menusuk. Bukan karena hinaannya.
Tapi karena kebenarannya.
Dengan gerakan kasar, Damian menurunkan kakinya dari ranjang. Tubuhnya terasa berat, kepalanya berdenyut seperti dipukul palu godam tanpa jeda. Ia memunguti celana kremnya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dengan gerakan tergesa dan penuh frustrasi.
Lantai kamar itu kacau. Botol-botol alkohol kosong menggelinding tak beraturan. Pil-pil berwarna mencolok berserakan di atas karpet mahal. Bau alkohol masih menggantung di udara, bercampur parfum murahan dan sisa malam yang tak ingin ia ingat.
Ia mencari ponselnya dengan pandangan kabur, hingga wanita itu mengacungkannya dengan senyum manis yang terasa dibuat-buat.
"Here, Darling. You're looking for this, aren't you?"
Damian merampasnya tanpa ucapan terima kasih. Begitu layar menyala, jarinya langsung menekan satu nama yang sudah terukir terlalu dalam di benaknya. Ia bahkan tidak perlu melihat daftar kontak.
Fraya.
Nada tunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu suara operator kembali menyambutnya dengan dingin-tanpa ampun.
Tawa kecil terdengar dari ranjang.
Sindiran tentang betapa bodohnya Fraya karena menolak pria "sesempurna" Damian meluncur ringan, tapi cukup untuk membuat sesuatu dalam diri Damian patah.
Bukan egonya.
Kesabarannya.
Kemarahan yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.
"Then why are you still here? I don't need you anymore. Get out!"
Suara Damian menggelegar, parau dan mentah, memenuhi setiap sudut kamar besar itu. Nada itu bukan sekadar perintah. Itu pengusiran.
Gadis berambut merah itu langsung membeku, lalu bergerak panik. Ia turun dari ranjang, mengumpulkan pakaiannya dengan tangan gemetar, dan berlari keluar tanpa berani menoleh lagi. Pintu tertutup dengan bunyi keras yang menyisakan gema panjang.
Sunyi kembali turun.
Damian berdiri beberapa detik tanpa bergerak, lalu akhirnya menjatuhkan diri duduk di tepi ranjang. Ia membungkuk, kedua siku bertumpu pada lutut, telapak tangan menutup wajahnya.
Napasnya berat. Dadanya terasa sesak.
Di tengah denyut hangover yang menyiksa, ia dipaksa mengakui sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada mabuk.
Fraya bukan sekadar gadis yang menolaknya. Ia sudah menjadi kebutuhan. Candu.
Dan candu tidak peduli seberapa besar harga diri yang harus dikorbankan.
Sebuah ide muncul-liar, nekat, dan penuh risiko. Jalan terakhir. Satu-satunya celah yang mungkin bisa ia gunakan untuk menembus dinding yang Fraya bangun.
Dengan jemari yang masih bergetar-entah karena marah atau karena takut pada dirinya sendiri-ia membuka daftar kontak dan menekan satu nama yang paling enggan ia hubungi.
Nada sambung terdengar singkat.
Lalu suara congkak Axel Rosewood menjawab dari ujung sana.
"I need Florence's number, now."
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit