NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Second Breath on a Silk Bed

Dingin. Hal terakhir yang Jennie ingat adalah rasa dingin yang menusuk tulang di sebuah gudang kotor, bau anyir darahnya sendiri, dan tawa mengejek Choi Reynard yang baru saja menjualnya seperti rongsokan.

Namun, rasa sakit itu tiba-tiba lenyap. Tergantikan oleh kehangatan selimut bulu yang lembut dan aroma sandalwood bercampur maskulin yang sangat ia kenal. Aroma yang selama ini ia hindari, namun diam-diam ia rindukan di saat-saat terakhir nyawanya.

Jennie tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahi. Matanya menyisir sekeliling kamar seluas ratusan meter persegi itu. Lampu kristal yang megah, furnitur kayu mahoni, dan foto pernikahan besar di dinding.

"Aku... belum mati?" bisiknya parau. Tangannya yang gemetar menyentuh kulit lehernya. Tidak ada bekas luka. Tidak ada tanda-tanda kehamilan yang dipaksakan. Ia tampak... sempurna.

"Jennie? Kamu mimpi buruk lagi?"

Suara berat dan datar itu membuat jantung Jennie seolah berhenti berdetak. Ia menoleh perlahan. Di ambang pintu walk-in closet, berdiri seorang pria tanpa atasan, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang atletisnya. Tato besar di punggungnya yang kokoh terlihat sangat mengintimidasi di bawah remang lampu kamar.

Limario Thomas Vincentius.

Suaminya. Pria yang ia khianati habis-habisan. Pria yang ia sebut "iblis" hanya karena sifat posesifnya, tanpa menyadari bahwa obsesi pria itu adalah bentuk perlindungan paling murni.

Tanpa memedulikan rasa gengsi yang dulu selalu ia agungkan, Jennie melompat dari ranjang. Ia berlari bertelanjang kaki dan langsung menubruk dada bidang Limario, memeluknya begitu erat seolah pria itu akan menguap jika ia lepaskan.

Limario membeku. Tubuhnya yang keras seperti karang tidak bergerak. Biasanya, Jennie akan memalingkan wajah jika ia mendekat, atau setidaknya mencaci-makinya karena pulang terlalu larut.

"Kenapa?" tanya Limario pendek. Tangannya yang besar ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mendarat di pinggang Jennie, mendekapnya posesif. "Mau minta cerai lagi? Atau pria kecilmu itu berbuat ulah lagi?"

Mendengar nama Reynard disebut, Jennie mempererat pelukannya. Isak tangisnya pecah di dada Limario. "Maaf... maafkan aku, Lim. Aku bodoh... aku minta maaf."

Limario mengernyitkan alis. Matanya yang tajam bak elang menatap istrinya dengan penuh selidiki. Apakah ini taktik baru Jennie agar bisa bertemu selingkuhannya? Namun, isak tangis ini terasa terlalu nyata. Terlalu menyakitkan.

"Lim, jangan lepaskan aku. Tolong, jangan pernah biarkan aku pergi lagi," racun Jennie dalam tangisnya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Seorang gadis kecil dengan piyama bergambar kelinci mengintip malu-malu. "Mummy menangis?"

Jennie menoleh. Jantungnya serasa mencelos melihat sosok mungil itu. Kenzhi. Putrinya yang dulu ia telantarkan demi mengejar laki-laki lain. Di kehidupan lalu, Kenzhi tumbuh menjadi anak yang pendiam dan takut pada ibunya sendiri.

"Kenzhi... kemari, Sayang. Kemari pada Mummy," Jennie merentangkan satu tangannya, memanggil putrinya.

Kenzhi ragu sejenak, menatap ayahnya seolah meminta izin. Setelah Limario mengangguk kecil, bocah itu berlari kecil dan masuk ke dalam pelukan Jennie.

Di pagi itu, di dalam dekapan suami "mafia"-nya dan putri kecilnya, Jennie Ruby Jane bersumpah: Jika ini adalah mimpi, jangan bangunkan aku. Jika ini adalah kesempatan kedua, maka aku akan memastikan Choi Reynard membusuk di neraka sebelum dia sempat menyentuh keluargaku.

Limario masih terpaku. Dekapan Jennie terasa begitu putus asa, sangat kontras dengan Jennie yang biasanya dingin dan selalu menuntut cerai. Ia melirik Kenzhi yang kini menyusup di antara mereka, wajah kecilnya tampak bingung namun berbinar karena ibunya akhirnya mau menyentuhnya.

"Kenzhi, Sayang..." Jennie menciumi puncak kepala putrinya berkali-kali. Air matanya membasahi rambut legam bocah itu. "Maafkan Mummy. Mummy sangat menyayangimu."

Kenzhi mendongak, matanya yang bulat mengerjap polos. "Mummy tidak marah lagi karena Kenzhi memecahkan vas bunga kemarin?"

Hati Jennie mencelos. Ia ingat kejadian itu di kehidupan sebelumnya. Ia membentak Kenzhi hingga bocah itu menangis tersedu-sedu hanya karena sebuah vas murah, padahal saat itu Jennie sedang kesal karena Choi Reynard tidak membalas pesannya.

"Tidak, Sayang. Mummy tidak marah. Mummy yang salah," bisik Jennie seraya memeluk Kenzhi lebih erat.

Limario menghela napas berat. Ia melepaskan pelukan Jennie perlahan, lalu berlutut agar sejajar dengan tinggi putrinya. "Kenzhi, pergilah ke kamar mandi. Bersiaplah, Grandma sudah menunggumu untuk sarapan."

"Baik, Daddy!" Kenzhi memberikan kecupan singkat di pipi Jennie—hal yang jarang ia lakukan—sebelum berlari keluar kamar dengan riang.

Kini, hanya tersisa Jennie dan Limario di kamar yang luas itu. Suasana mendadak menjadi dingin. Limario berdiri, menatap Jennie dengan tatapan tajam yang bisa mengintimidasi musuh bisnis manapun.

"Ada apa, Jennie?" suara Limario terdengar rendah dan mengancam. "Perubahan sikapmu ini... apakah ini karena pria itu lagi? Apa dia butuh uang lagi?"

Jennie menggeleng cepat. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tajam suaminya. Ia meraih tangan besar Limario yang kasar karena bekas latihan menembak, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri.

"Aku serius, Lim. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk Kenzhi. Dan..." Jennie menjeda kalimatnya, tenggorokannya tercekat. "...aku ingin minta maaf pada Ibu."

Limario menyipitkan mata. "Ibuku? Kamu bahkan tidak mau memanggilnya 'Ibu' selama dua tahun ini."

"Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku gila karena terobsesi pada orang yang salah," Jennie menatap langsung ke mata kelam Limario tanpa rasa takut. "Mulai hari ini, aku akan membuktikan padamu bahwa aku milikmu. Hanya milikmu, Limario."

Limario terdiam cukup lama. Sebagai bos Mafia, ia dilatih untuk tidak mempercayai siapapun, termasuk istrinya sendiri yang sudah berulang kali menusuknya dari belakang. Namun, melihat binar kejujuran dan ketakutan kehilangan di mata Jennie, ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar.

Drrttt... Drrttt...

Ponsel Jennie yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.

Choi Reynard: "Sayang, aku menunggumu di kafe biasa jam 10. Aku butuh bantuanmu untuk biaya kuliahku bulan ini. I love you."

Mata Limario melirik sekilas ke arah ponsel itu. Rahangnya mengeras. Ia bersiap untuk mendengar Jennie berbohong dan meminta izin keluar seperti biasanya.

Namun, di luar dugaan, Jennie mengambil ponsel itu, membacanya di depan Limario, lalu tertawa sinis. Tanpa ragu, ia memblokir nomor tersebut dan menghapus pesannya.

"Lim," ucap Jennie sambil menunjukkan layar ponselnya yang sudah bersih dari kontak Reynard. "Bisakah kita sarapan bersama Ibu hari ini? Aku ingin membuatkan sesuatu untuk kalian."

Limario tertegun. Ini bukan Jennie yang ia kenal. Namun, bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat langka. "Pakai pakaian yang sopan. Ibu tidak suka melihatmu memakai baju kurang bahan saat sarapan."

Jennie tersenyum lebar—senyum tulus pertama yang ia berikan pada suaminya dalam bertahun-tahun. "Siap, Bos Mafia-ku!"

Jennie segera bersiap. Ia memilih gaun midi berwarna krem yang sopan namun elegan, sangat kontras dengan pakaian mini dan ketat yang biasa ia kenakan untuk memikat Reynard di kehidupan lalu. Ia menghapus riasan tebalnya, membiarkan wajah cantiknya memancarkan aura keibuan yang selama ini ia kubur.

Saat melangkah ke ruang makan, aroma nasi goreng mentega dan kopi tercium kuat. Di sana, di kursi kebesarannya, duduk Ny. Maurel Vincentius. Wanita itu sedang membujuk Kenzhi makan, wajahnya yang teduh tampak sedikit lelah namun tetap penuh kasih.

Langkah Jennie terhenti. Bayangan tubuh Maurel yang tergeletak bersimbah darah di jalan raya akibat dorongannya sendiri berputar seperti film horor di kepalanya. Tangan Jennie gemetar hebat.

"Mummy!" seru Kenzhi ceria.

Maurel menoleh, matanya sedikit membelalak melihat Jennie. Ia bersiap untuk menerima ketus atau sindiran tajam dari menantunya itu, seperti hari-hari biasanya. Namun, yang ia dapati justru Jennie yang berjalan cepat ke arahnya, lalu berlutut di samping kursinya.

"Ibu..." suara Jennie pecah. Ia meraih tangan keriput Maurel dan menciumnya berkali-kali. "Maafkan Jennie. Maaf karena selama ini Jennie menjadi menantu yang buruk. Maaf karena Jennie sering membantah Ibu."

Suasana ruang makan mendadak hening. Para pelayan yang sedang menata piring sampai menjatuhkan sendok karena terkejut. Limario, yang baru saja masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung, terhenti di ambang pintu. Matanya terpaku pada pemandangan asing itu.

Maurel tertegun, tangannya yang bebas mengelus rambut Jennie dengan ragu. "Jennie... ada apa, Nak? Apa kamu sakit? Lim, apa yang terjadi pada istrimu?"

Limario tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, menarik kursi di kepala meja, dan duduk dengan tenang meski batinnya berkecukupan tanda tanya. "Dia bilang ingin berubah, Bu. Biarkan saja."

"Aku serius, Bu," Jennie mendongak dengan mata sembab. "Mulai hari ini, biar Jennie yang menyiapkan keperluan Ibu. Jennie ingin kita berbelanja bersama nanti siang. Kenzhi juga ikut. Aku ingin membelikan Ibu bros berlian yang pernah Ibu lihat di katalog bulan lalu."

Maurel tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak butuh berlian, Sayang. Melihatmu tersenyum pada Lim dan menyayangi Kenzhi sudah lebih dari cukup bagi Ibu."

Sakit. Dada Jennie terasa sesak mendengar ketulusan itu. Bagaimana bisa ia dulu tega membunuh malaikat seperti ini demi pria sampah seperti Reynard?

Di tengah momen hangat itu, ponsel Limario bergetar. Ia membacanya sekilas, lalu melirik Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Salah satu mata-mataku melaporkan ada tikus kecil yang berkeliaran di depan gerbang mansion sejak tadi pagi," ucap Limario dingin sambil memotong steaknya. "Dia mencari 'istri tercintanya'."

Jennie tahu siapa yang dimaksud. Choi Reynard. Pria itu pasti nekat datang karena pesannya diabaikan dan nomornya diblokir.

Jennie meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap Limario dengan senyum tipis yang mematikan. "Lim, jangan biarkan penjaga mengusirnya. Suruh mereka membawanya ke gudang belakang. Aku ingin menyapanya... dengan caraku sendiri."

Limario berhenti mengunyah. Ia menatap istrinya dalam-dalam, mencari celah kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kebencian murni di mata Jennie terhadap pria itu.

"Tentu," jawab Limario pendek, suaranya berat dan penuh otoritas. "Apapun untuk istriku."

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!