Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Pertemuan Keluarga yang Dingin
Kapal cepat yang membawa mereka merapat di dermaga privat bawah tanah Menara Dewangga. Suasana remang dan lembab. Ryuga membantu Kiara turun dari kapal, tangannya melingkar protektif di pinggang Kiara yang tampak rapuh dengan Gaun Biru Safir yang kini hanya tinggal potongan kain tak beraturan, ternoda oli dan darah kering.
Bramasta melangkah keluar setelah mereka, menatap gedung pencakar langit itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bagaimana mungkin kau bisa bebas, Paman?" Ryuga bertanya tanpa menoleh, suaranya bergema di dinding beton dermaga. "Informasiku menyebutkan kau ditahan di fasilitas rahasia Konsorsium di Kepulauan Seribu."
Bramasta memperbaiki posisi jasnya yang kusam. "Seseorang membakar fasilitas itu beberapa jam yang lalu. Pria bermasker dengan bekas luka bakar di tangannya... dia yang mengeluarkanku dan membawaku menemui kalian di panti tadi. Dia yang memberitahuku bahwa kunci S-1945 sudah aktif di tangan asistenmu."
Kiara tersentak. Pria bermasker itu lagi. Sosok yang selalu muncul di saat mereka terdesak.
Mereka memasuki lift privat yang meluncur cepat menuju lantai Penthouse. Di dalam ruang sempit yang berdinding cermin itu, Kiara hampir limbung. Ryuga dengan sigap menariknya ke dalam pelukan, membiarkan kepala Kiara bersandar di dadanya yang bidang.
"Bertahanlah sedikit lagi, Kiara," bisik Ryuga. Ia bisa merasakan nafas Kiara yang tidak teratur. Ryuga mengecup puncak kepala Kiara sebuah tindakan impulsif yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
Kiara mendongak, matanya yang lelah menatap Ryuga. "Pak... jika kebenaran tentang ayah saya terungkap dan itu menghancurkan nama Dewangga, apakah Anda akan tetap memegang tangan saya seperti ini?"
Ryuga menatap pantulan mereka di cermin lift. CEO yang dingin itu kini tampak seperti pria yang siap berperang demi wanita di pelukannya. "Namaku sudah hancur sejak aku mengenalmu, Kiara. Dan aku tidak keberatan jika harus membangun dunia yang baru bersamamu. Kau bukan sekadar asisten. Kau adalah hidupku."
Dino, yang duduk di sudut lift sambil memeluk tas kameranya, sibuk dengan tabletnya. "Bos, aku baru saja menyalin data dari jam saku Kiara ke sistem cadangan. Tapi ada satu hal aneh. Jam ini mengirimkan sinyal ping balik ke sebuah koordinat di dalam ruangan kerja Anda. Ada sesuatu yang memanggilnya dari sana."
Pintu lift terbuka di lantai teratas.
Mereka masuk ke ruang kerja Ryuga yang megah. Kiara langsung menuju ke sebuah jam dinding kuno berukuran besar yang tertanam di dinding kayu jati. Hobinya sebagai pembuat jam membuatnya bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain.
"Ini bukan sekadar dekorasi," gumam Kiara. Ia meraba bingkai jam tersebut, menemukan celah kecil yang hanya bisa dibuka dengan alat presisi. Ia mengeluarkan obeng kecil dari balik saku rahasia gaunnya.
Dengan ketelitian luar biasa, Kiara memasukkan jam saku S-1945 ke dalam mekanisme pusat jam dinding itu.
KREEEEK... KLIK!
Suara roda gigi yang berputar terdengar berat dan agung. Dinding di balik jam itu bergeser, menampakkan sebuah ruang server mekanik teknologi 'analog' yang tidak bisa diretas oleh sinyal digital apa pun.
"Luar biasa. Aku selalu tahu Satria mendidik putrinya dengan sangat baik."
Sebuah suara dingin dari arah pintu membuat mereka berbalik. Seline berdiri di sana, mengenakan pakaian taktis hitam, memegang pistol dengan peredam. Di belakangnya, beberapa pengawal bersenjata lengkap telah melumpuhkan penjaga pintu.
"Seline," desis Ryuga, ia segera menarik Kiara ke belakang tubuhnya.
"Ryuga sayang, reuni keluarga ini harus berakhir sekarang," Seline tersenyum sinis. "Terima kasih sudah membuka akses server mekanik ini. Sekarang, berikan jam itu, atau asisten kesayanganmu ini akan berakhir seperti ayahnya: terbakar dalam ledakan."
Seline menarik pelatuk pengaman pistolnya. Namun, tepat saat itu, sebuah bayangan jatuh dari ventilasi langit-langit. Pria bermasker dengan bekas luka bakar mendarat di depan Kiara, menghalangi jalur tembakan Seline.
Suasana di dalam ruang kerja penthouse itu menjadi sangat mencekam. Asap tipis dari ledakan pintu masih menggantung di udara, bersaing dengan aroma mesiu dan wangi cendana yang tajam dari pria bermasker yang baru saja mendarat di depan Kiara.
Seline terkesiap, langkahnya mundur satu langkah. "Kau... tidak mungkin. Aku sendiri yang memastikan gedung laboratorium itu meledak sepuluh tahun lalu!"
Pria bermasker itu tidak bersuara. Ia berdiri tegak, melindungi Kiara dengan tubuhnya yang penuh luka. Di pergelangan tangan kirinya, terlihat sebuah jam tangan kuno dengan simbol burung Phoenix yang berdetak keras seirama dengan jam saku S-1945 yang masih tertancap di dinding.
"Satria?" Bramasta melangkah maju, suaranya bergetar. "Apakah itu benar kau?"
Pria itu perlahan membuka maskernya. Wajahnya tidak lagi seperti sepuluh tahun lalu; separuh wajahnya tertutup jaringan parut bekas luka bakar yang hebat, namun matanya mata yang sama dengan milik Kiara memancarkan ketegasan yang tak terpatahkan.
"Ayah..." bisik Kiara. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang kotor oleh oli.
"Jangan mendekat, Kiara," suara Satria berat dan parau. Ia menatap Seline dengan kebencian yang mendalam. "Seline, kau pikir kau bisa menguasai S-1945? Jam ini bukan senjata. Ini adalah bukti kejahatan ayahmu dan Konsorsium dalam menciptakan tentara genetik. Dan aku memegang detonator penghancur datanya."
Di sudut ruangan, Dino tidak tinggal diam. Sambil bersembunyi di balik sofa beludru, ia mengarahkan lensa kameranya ke arah Seline.
"Aku dapat semuanya!" bisik Dino ke arah radio kecilnya. "Wajah Seline, pengakuannya tentang laboratorium, dan bukti senjata ilegal. Ryuga! Aku sedang menyiarkan ini secara live ke server publik Dewangga Tower! Seluruh Jakarta sedang menonton kita sekarang!"
Seline menyadari hal itu. Matanya berkilat marah. "Matikan kameranya, Fotografer sialan! Atau aku akan menembak kepalamu!"
Ryuga melihat celah. Saat perhatian para pengawal Seline teralih oleh Dino, ia menyambar pinggang Kiara dan menariknya ke balik meja kerja kayu jati yang tebal.
"Dengar," Ryuga memegang wajah Kiara dengan kedua tangannya, memaksa Kiara untuk menatapnya di tengah kekacauan itu. "Ayahmu di sini. Kita akan keluar dari sini. Tapi aku butuh kau tetap tenang. Kau adalah jantung dari sistem ini, Kiara. Jika kau panik, frekuensi jam itu akan kacau."
Kiara mencengkram kemeja Ryuga yang kini sudah basah oleh keringat. "Ryuga... ayah saya hidup. Selama ini dia mengawasi saya..."
"Aku tahu," Ryuga mengecup dahi Kiara dengan lembut namun intens.
"Dan aku berjanji, setelah ini, kau tidak akan pernah kehilangan dia lagi. Tapi sekarang, bantu aku mengunci akses digital Seline."
Kiara mengangguk. Dengan tangan gemetar namun penuh tekad, ia merogoh kolong meja kerja Ryuga, menemukan terminal akses manual yang terhubung dengan jam dinding raksasa. Hobi mekaniknya kini menjadi senjata terakhir.
Ia memutar roda gigi kecil di terminal itu, menyinkronkan detak jantungnya sendiri yang terdeteksi lewat sensor pada jam saku dengan protokol keamanan gedung.
"Sistem terkunci," ucap Kiara tegas.
"Seline, kau tidak bisa keluar dari gedung ini. Semua pintu lift dan tangga darurat sudah tersegel secara mekanik. Hanya ada satu cara untuk membukanya: jika kau menyerahkan diri."
Seline tertawa histeris. Ia menodongkan pistolnya ke arah tabung server mekanik yang terbuka.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang bisa! Selamat tinggal, Keluarga Dewangga!"
Jari Seline mulai menarik pelatuk. Satria menerjang maju, namun Ryuga lebih cepat. Ia melemparkan sebuah pemberat kertas dari kristal ke arah tangan Seline.
DOR!
Peluru meleset, menghantam bingkai foto di dinding. Di saat yang sama, lampu seluruh Menara Dewangga padam total. Gelap gulita. Hanya suara detak jam yang terdengar semakin keras... Tik... Tok... Tik... Tok...
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?