NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK DI PETA YANG TERSEMBUNYI

Langit senja memerah ketika Liang Chen akhirnya menemukan tempat berhenti.

Ia berjalan hampir tanpa jeda sejak keluar dari celah batu. Setiap langkah terasa berat. Luka di rusuknya terus merembes, dan punggungnya yang tersayat mulai mengeras oleh darah yang mengering di balik pakaian.

Di lereng perbukitan kapur itu, ia menemukan gua kecil yang nyaris tertutup semak liar. Mulutnya sempit, cukup untuk satu orang masuk dengan menunduk. Bagian dalamnya tidak dalam, tetapi kering dan terlindung angin.

Tempat yang layak untuk bertahan satu malam.

Liang Chen masuk perlahan, memeriksa setiap sudut sebelum akhirnya duduk bersandar pada dinding batu yang dingin. Ia membuka pakaian bagian atas, mengamati luka-lukanya di bawah cahaya redup senja yang masuk dari celah mulut gua.

Luka di rusuk cukup dalam. Jika dibiarkan tanpa perawatan, ia akan melemah sebelum mencapai kota berikutnya.

Ia merobek kain cadangan, membersihkan darah dengan sisa air di tabung bambunya. Rasa perih membuat napasnya tersendat, tetapi tangannya tetap stabil. Ia menaburkan bubuk obat sederhana—hasil barter di pasar dua hari lalu—lalu membalut luka seerat yang mampu ia tahan.

Saat selesai, keringat membasahi pelipisnya.

Ia tidak menyalakan api. Cahaya hanya akan mengundang perhatian.

Gelap turun perlahan, membungkus perbukitan dalam keheningan.

Liang Chen menyandarkan kepala dan menutup mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk mengatur napas dan menenangkan detak jantung yang masih terlalu cepat.

Pertarungan hari ini membuktikan satu hal: mereka tidak lagi sekadar menguji. Mereka mulai mengirim orang yang memang bertugas menghentikannya.

Dan jika benar ada struktur berlapis di balik semua ini, maka seseorang di puncaknya sudah mulai merasa terganggu.

Tengah malam.

Suara kecil terdengar dari luar gua.

Bukan langkah berat seperti kemarin.

Lebih ringan. Lebih hati-hati.

Liang Chen membuka mata.

Tangannya bergerak pelan meraih pedang, tetapi ia tidak bangkit.

Bayangan muncul di mulut gua.

Seseorang berdiri di sana, siluetnya ramping, mengenakan jubah perjalanan berwarna gelap. Rambut panjangnya diikat sederhana di belakang.

Suara itu akhirnya terdengar.

“Kau terlihat lebih buruk dari yang kubayangkan.”

Liang Chen mengenali nada itu sebelum wajahnya terlihat jelas dalam cahaya bulan.

“Mei Lin.”

Perempuan itu melangkah masuk tanpa ragu, menutup sebagian mulut gua dengan kain gelap yang ia bawa agar cahaya bulan tidak terlalu menyorot ke dalam.

“Aku mendengar tentang pasar Qingshui,” katanya pelan. “Lalu tentang celah batu. Rupanya kau benar-benar berniat membuat wilayah ini gempar.”

“Aku hanya berjalan,” jawab Liang Chen lemah.

Mei Lin mendekat, berlutut di depannya tanpa meminta izin. Matanya cepat memeriksa balutan di rusuk dan lengan.

“Balutanmu rapi,” gumamnya. “Tapi tekananmu kurang tepat.”

Ia mengeluarkan botol kecil dari dalam jubahnya.

“Apa itu?”

“Ramuan dari utara. Menghentikan pendarahan dan mencegah demam.”

Liang Chen menatapnya sesaat. “Kenapa kau mencariku?”

Mei Lin tidak langsung menjawab. Ia membuka balutan di rusuknya dengan hati-hati, membuat Liang Chen mengatupkan rahang menahan nyeri.

“Karena struktur itu bukan rumor,” katanya akhirnya. “Dan namamu sudah masuk daftar.”

“Tingkatan berapa?”

“Setidaknya tingkat ketiga. Setelah hari ini, mungkin keempat.”

Liang Chen terdiam.

Mei Lin menuangkan cairan ramuan pada lukanya. Sensasi panas menyebar cepat, diikuti rasa kebas perlahan.

“Kau tahu apa artinya tingkat keempat?” tanyanya.

“Bahwa yang berikutnya bukan lagi penguji.”

Mei Lin mengangguk tipis. “Melainkan penentu.”

Hening mengisi gua sempit itu.

Setelah selesai membalut ulang luka dengan teknik yang lebih kuat dan presisi, Mei Lin duduk bersandar di seberangnya.

“Aku tidak datang hanya untuk mengobati,” katanya.

“Aku tahu.”

Ia mengeluarkan gulungan kecil dari dalam pakaiannya dan melemparkannya pelan ke arah Liang Chen.

Liang Chen membukanya.

Di dalamnya ada sketsa kasar wilayah perbukitan dan jalur-jalur yang saling bersilangan. Beberapa titik diberi tanda tinta merah.

“Apa ini?”

“Rute pergerakan mereka,” jawab Mei Lin. “Orang-orang yang mengejarmu bukan satu perguruan. Mereka jaringan. Longgar, tapi terkoordinasi.”

Liang Chen mempelajari tanda-tanda itu.

Salah satu titik merah berada di depan, sekitar dua hari perjalanan dari sini.

“Dan ini?” tanyanya.

“Tempat pertemuan.”

Liang Chen mengangkat kepala.

“Pertemuan siapa?”

“Orang yang memimpin lapisan keempat.”

Sunyi kembali turun.

Jika ia menuju titik itu, artinya ia melangkah langsung ke sarang.

Jika ia memutar, pengejaran akan terus berlanjut tanpa akhir.

“Apa kau menyarankan aku menyerang lebih dulu?” tanyanya.

Mei Lin menatapnya tajam. “Aku menyarankan kau berhenti terus bereaksi. Selama ini kau hanya menjawab serangan. Itu membuat mereka mengatur tempo.”

Liang Chen menyandarkan punggung ke batu.

Ia lelah. Tubuhnya penuh luka. Namun pikirannya justru semakin jernih.

“Kalau aku datang ke titik itu,” katanya pelan, “kau tahu risikonya.”

“Aku tahu.”

“Dan kau tetap memberiku peta.”

Mei Lin tersenyum tipis. “Dunia persilatan selalu bergerak karena orang-orang yang berani mengubah arah arus. Jika kau terus dikejar, mereka akan memerasmu sampai habis. Tapi jika kau mendatangi sumbernya…”

“Setidaknya aku memilih medan.”

Mata mereka bertemu.

Tidak ada janji. Tidak ada rayuan.

Hanya pemahaman sunyi bahwa langkah berikutnya akan mengubah segalanya.

“Kenapa kau membantuku?” Liang Chen akhirnya bertanya.

Mei Lin menatap pintu gua yang gelap. “Karena jika struktur seperti itu dibiarkan tumbuh tanpa tandingan, wilayah netral tidak akan lagi netral.”

Jawaban yang masuk akal.

Dan cukup jujur.

Di luar, angin malam berdesir lebih kencang.

Liang Chen menggulung kembali peta itu dan menyimpannya di dalam ransel, di samping kitab yang selama ini menjadi pusat pusaran.

“Besok aku bergerak ke sini,” katanya, menunjuk titik merah paling dekat.

Mei Lin berdiri. “Aku tidak akan ikut.”

Liang Chen mengangguk. Ia tidak memintanya.

Sebelum melangkah keluar, Mei Lin berhenti.

“Liang Chen.”

Ia mengangkat kepala.

“Jangan mati dengan sia-sia.”

Sudut bibirnya terangkat tipis. “Aku belum berniat mati.”

Mei Lin menghilang dalam gelap secepat kemunculannya.

Liang Chen kembali sendirian di dalam gua.

Namun untuk pertama kalinya sejak pengejaran dimulai, ia tidak merasa sekadar mangsa.

Ia memiliki arah.

Titik di peta itu bukan hanya lokasi pertemuan.

Itu kemungkinan untuk memotong rantai.

Liang Chen menutup mata perlahan.

Besok, ia tidak lagi berjalan menjauh dari pemburu.

Ia akan berjalan menuju mereka.

Dan apa pun yang menunggunya di sana, ia sudah memilih untuk menghadapinya di depan, bukan dari balik bayang-bayang.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!