Cintanya, harga dirinya, dan ketulusannya, telah ia berikan pada pria itu, dan bahkan sampai rela tidak menginginkan, James Sebastian, tunangan yang di jodohkan Ibunya kepadanya.
Tapi, apa yang ia dapat? Eleanor Benjamin, di tinggalkan pria itu, Richard Marvin, saat mereka akan melangsungkan pernikahan, demi wanita lain!
Hingga sebuah mobil menabraknya, dan ia meregang nyawa, Richard tidak memperdulikannya!
Eleanor berharap, seandainya ada kesempatan kedua untuknya! ia akan mendengarkan Ibunya. Dan membalikkan keadaan! membalas apa yang ia rasakan pada Ricard.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12.
Suasana meja makan terasa hening, dan ada rasa canggung di antara dua orang, yang sedang duduk berhadapan menunggu makanan di sajikan.
"Ehem!"
Eleanor berdehem memecahkan suasana yang terasa begitu hening, saat ini mereka menunggu Olivia, sedang memeriksa makan malam untuk mereka di dapur.
James mengangkat wajahnya memandang Eleanor, kemudian ia mendorong gelas air minum ke depan Eleanor.
"Minum lah!" katanya setelah gelas air minum yang ia berikan tepat di depan Eleanor.
Eleanor tidak dapat berkata-kata melihat gelas air minum, yang di berikan James ke hadapannya. Ia hanya bermaksud untuk bicara, bukan karena tenggorokan nya perlu di basahi air minum.
"Terimakasih!" ucap Eleanor meraih gelas air minum, lalu meneguknya perlahan.
"Makan malam datang, mari kita makan!" Olivia datang bersama dua Pelayan membawa makan malam.
Mereka kemudian menyajikannya ke atas meja makan. Karena Eleanor baru saja datang, dan lelah, serta baru tiba setelah lima tahun tidak bertemu, Olivia tidak memperbolehkan Eleanor untuk melakukan apa pun untuk sementara.
Olivia melayani Eleanor dengan penuh perhatian. Selama lima tahun putrinya selalu ia rindukan, untuk makan bersama dengannya, akhirnya hari ini keinginan nya terpenuhi.
"Karena kamu baru datang, dan keadaan tubuhmu letih, Mama mengganti menu makan malam untuk memulihkan tubuh mu yang lelah!" kata Olivia tersenyum hangat.
"Terimakasih, Ma!" ucap Eleanor merasa terharu.
Ia memang sangat bodoh, meninggalkan Ibunya mengelola sendiri perusahaan mereka, dan Ayahnya yang masih terbaring sakit, yang tidak dapat melakukan pekerjaan lagi.
Demi pria seperti Ricard, ia mengabaikan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Dan dia sendiri yang akhirnya merasakan akibat dari perbuatannya sendiri.
Eleanor berdiri dari duduknya, lalu kembali memeluk Ibunya dengan erat. Ia akan mendengarkan apa yang akan di katakan Mamanya mulai sekarang.
"Kenapa kamu?" tanya Olivia heran, karena tadi mereka sudah saling berpelukan melepaskan rindu.
"Aku masih rindu pada Mama!" ucap Eleanor membenamkan wajahnya ke leher Olivia, dan ia pun menangis.
"Eh! ada apa denganmu? kenapa mengis lagi?" Olivia mengelus punggung Eleanor dengan penuh sayang.
"Maafkan aku, Ma!" ucap Eleanor di antara tangisnya.
"Sudah.. sudah, jangan menangis lagi, nanti kepalamu sakit!" Olivia menepuk-nepuk dengan lembut punggung Eleanor.
James mengisi kembali air minum ke dalam gelas, yang tadi telah di minum Eleanor, lalu memberikannya kepada Eleanor, setelah Eleanor kembali duduk di kursinya.
"Terimakasih" ucap Eleanor pelan menerima gelas yang di berikan James.
"Ayo, kita makan!" Olivia menyodorkan piring Eleanor, yang telah diisi Olivia dengan nasi.
"Terimakasih" ucap Eleanor, lalu menyeka air matanya dengan tangannya.
Selesai makan malam, Eleanor mengantar James sampai ke mobil James. Sepanjang mereka makan, James selalu mengatakan 'iya' apa yang di katakan Ibunya.
Eleanor selama ini belum pernah melihat pria, yang selalu menurut dan patuh seperti James. Kalau melihat dari wajah dan fisik James, tunangan yang diberikan Ibunya itu terpaut tiga atau lima tahun darinya.
"Eng... apakah kamu sudah memaafkan ku?" tanya Eleanor dengan hati-hati, saat James akan masuk ke dalam mobilnya.
James berdiri di depan pintu mobil memandang Eleanor, yang tampak berharap mendengar kata 'iya' darinya.
"Apakah kamu memang serius sudah memikirkan keputusan mu? jangan nantinya kamu menyesalinya di kemudian hari!"
James dengan tenang membalikkan pertanyaan dan pernyataan akan sikap Eleanor, yang tiba-tiba berubah setuju menikah dengannya.
Eleanor perlahan mendekat pada James, hingga jarak mereka nyaris bersentuhan. Karena tubuh James yang jangkung, Eleanor menengadahkan wajahnya menatap James.
"Aku salah dan buta selama ini, terlalu percaya dan menganggap dia serius padaku, dia pria bajingan yang tidak pantas mendapat cintaku, aku baru sadar setelah mengetahui pria seperti apa dia, dan aku pun tersadar akan sikap kasar ku padamu, aku merasa sangat bersalah sekali padamu!"
Dengan tenang Eleanor menjelaskan, apa yang terjadi antara dirinya dan Ricard, dan kesungguhan niatnya menyetujui keinginan Ibunya, untuk menikah dengan James.
Perlahan tangan Eleanor meraih jemari James, ia harus berani menunjukkan akan kesungguhan hatinya pada James.
James diam saja, saat jemarinya di raih Eleanor, dan membiarkan tangan Eleanor semakin menarik tangannya, dan berakhir dalam genggaman tangan Eleanor.
Eleanor tersenyum, karena James tidak menepis tangannya. Ia pun berjinjit pada ujung sepatunya, hingga wajahnya semakin dekat dengan wajah James.
Mata mereka saling menatap dengan lekat, "Apakah kamu memafkan ku, dan menerima ku menjadi istrimu?" tanya Eleanor lembut.
Perlahan kepala James mengangguk dengan pelan, "Ya" jawabnya dengan pelan juga. Semoga saja benar apa yang kamu katakan, Elea! bisik James kurang yakin.
Senyum Eleanor pun merekah, dan ia tanpa sungkan lagi memeluk tubuh James dengan erat.
Bersambung......