NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pulang dari klinik

KEMBALI POV JUNA

Aku dan Alana berjalan ke rumah, usai meninggalkan klinik. Liliana berdiri di teras. Ia menatap ke arah kami. Tatapannya begitu tak suka. Terutama terhadap Alana.

"Kamu habis kerja di kliniknya Mas Juna?" Liliana langsung melontarkan pertanyaan ke arah Alana, begitu kami sampai di hadapannya.

"Iya."

"Pakai baju kayak gitu?"

"Iya. Emang kenapa?" Jawaban Alana terlampau santai.

"Heh, kamu bisa ngaca nggak sih! Baju kamu itu nggak sopan. Terlalu ketat." Seperti kemarin, Liliana ngomel-ngomel masalah pakaian yang dikenakan Alana.

"Yaelah, Mbak. Aku pakai baju santai, salah, pakek kemeja, salah. Terus aku tuh harus pakai baju apa?" Alana tak kalah berani menanggapi omelan Liliana.

"Baju yang nggak perlu kamu pamerin bentuk tubuh kamu."

"Jadi aku harus pakai jilbab, terus pakai cadar, gitu?

"Kocak!!!!" umpat Alana.

"Apa kamu bilang?" Liliana geram. Sedang Alana, "nyeee ... nyeee ... nyeee ....!" Ia malah mengejek Liliana sambil berlalu pergi. Masuk ke dalam rumah.

"Dasar anakk bandel!!!" gerutu Liliana.

Aku berusaha mengabaikan pertengkaran mereka. Kuteruskan langkahku, juga masuk ke dalam rumah. Liliana mengikutiku. Ia berusaha mengiringi langkahku.

"Kenapa keluar dari kliniknya jam satu lebih?" ucap Liliana.

Kutengok jam di pergelangan tanganku. Waktu menunjukkan jam satu lebih dua puluh menit. Artinya aku hanya molor sebentar, tak terlalu lama. Seharusnya selesai praktekku jam satu tepat. Selanjutnya digantikan oleh Dokter gigi yang bekerja di klinikku.

"Tadi aku beres-beres dulu."

Aku menjawab sambil melangkah masuk ke kamar. Liliana masih mengikutiku.

"Kan, ada Rini. Ngapain perlu beres-beres sendiri."

Aku menarik nafas. Sedikit sebal dengan sifat Liliana yang seperti ini. Dia yang seolah memintaku untuk tak sudi melakukan pekerjaan kasar, selagi ada seseorang yang sudah kupekerjakan.

"Tak ada salahnya kan aku bantuin dia, dengan membereskan barangku sendiri."

"Pasti sebetulnya karena kamu asik mengobrol kan sama Alana."

"Maksudnya?" Aku yang semula sibuk melepas satu persatu kemejaku, langsung melihat ke arah Liliana.

"Ya itu. Kamu telat keluar klinik karena kamu asik ngobrol sama Alana."

Aku mengernyit. Apakah dia sedang cemburu dengan adiknya sendiri. Tapi tidak, bukankah dia tak akan mungkin memiliki perasaan itu.

"Ya, kami ngobrol sebentar. Kami sempat makan siang bersama di klinik." Aku menjawab apa adanya. Sambil kembali sibuk melepas kancing kemeja yang masih bersisa.

Liliana diam untuk beberapa saat. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

"Kamu nggak nanya soal yang tadi pagi?" Dia akhirnya bersuara kembali. Tapi mengenai hal lain.

"Tadi pagi apa?"

"Aku yang salah kirim chat."

"Memangnya apa yang harus aku tanyakan?" Aku pura-pura tak begitu memikirkan hal tersebut. Lebih tepatnya, aku memang sedang berusaha seperti itu.

"Harusnya chat itu kukirimkan ke temanku. Dia yang kemarin di mall. Dia membelikanku kemeja ini.

Katanya sebagai ucapan terimakasih karena aku sudah menemaninya membeli sebuah barang." Liliana menjelaskan tanpa aku meminta.

"Oh. Yasudah." Tanggapanku hanya seperti itu. Liliana seperti kesal.

"Kenapa reaksimu hanya seperti ini?"

"Memangnya aku harus bereaksi seperti apa?"

"Kamu nggak marah?"

"Sejak kapan aku diizinkan untuk marah?"

Liliana tertegun. Syok dengan kalimatku. Untuk beberapa saat ia kembali tak berkata-kata. Sedang aku, begitu sibuk memilah-milah baju yang akan kukenakan.

"Nanti sore aku ingin ngajakin kamu," celetuknya sesaat kemudian.

"Ke mana?" Aku menimpalinya tanpa melihat ke arahnya.

"Bertemu teman-temanku."

Kegiatanku berhenti. Aku seperti mendengar kalimat yang selama ini begitu mustahil. Kutatap dia. Tampaknya dia tidak sedang berbohong, atau bercanda.

"Kamu mau kan?"

Aku mengangguk pelan. Reaksiku terlihat biasa saja, tetapi sesungguhnya di dalam hatiku, aku sedang begitu girang.

***

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!