Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Bab 17 Bukan Seorang Pria Kalautidak Masuk
Revan mengelus pundak Merry dan berkata, "Kalau begitu, kita segera berangkat, urusan perusahaan ada Reza yang menangani, kita harus segera menangani masalah Fiona secepatnya."
Jarak antara Kota Samara dan Unifia tidak jauh, hanya sekitar lima ratus kilometer. Jika ditempuh dengan mobil, hanya butuh delapan sampai sembilan jam.
Revan bisa berhenti dan mencari tempat peristirahatan di tengah perjalanan. paling lambat besok sore dia akan sampai tujuan.
Saat ini Revan sangat marah sampai
Tanpa sadar, Fiona menyelimuti dirinya lebih erat, ketika dia akan melanjutkan tidurnya, tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Fiona langsung membuka matanya dan melihat tempat tidur sebelahnya kosong. Matanya melebar, dia segera bangun dari tempat tidur dan duduk.
"Gawat, Denzel masih di luar!"
Tanpa pikir panjang, Fiona segera bangun dari tempat tidur, lalu memakai sandal dan berjalan keluar.
Pada saat yang sama, Denzel yang sudah terjatuh berkali-kali dari kursi, akhirnya dia udah menyerah untuk memilih tidur di kursi yang panjang. Dia setengah tertidur dengan tangannya tergeletak di tepi meja makan, kepalanya berada di antara lengannya.
Hari ini, Denzel benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Sebelum tengah malam saja, dia sudah jatuh dari bangku sebanyak tiga kali. Sekarang, udara dingin di sekitarnya membuat dia semakin tak bisa tidur.
Pada saat ini, Fiona berjalan perlahan-lahan ke ruangan utama.
Melalui cahaya bulan yang masuk dari jendela, Fiona mengerutkan kening ketika pandangannya jatuh pada sosok Denzel yang meringkuk di dekat meja makan tanpa selimut apa pun.
"Gimana bisa tidur... "
Fiona berguman dengan suara kecil dan berjalan ke sebelah Denzel, hatinya terasa sakit.
Fiona berdiri terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya dia memutuskan
Untuk mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Denzel.
"Denzel ..."
Fiona memanggil nama Denzel beberapa kali.
Denzel yang memang masih belum terlelap, merasakan gerakan di bahu dan suara familier telinganya. Denzel mengangkat kepalanya perlahan dan membuka matanya.
Ketika Denzel menoleh, dia sedikit tertegun melihat sosok yang berdiri di sampingnya.
Setelah tertegun cukup lama, akhirnya Denzel sedikit tersadar. Dia kembali menatap sosok wanita kecil di sampingnya, lalu melihat langit di luar. Setelah itu Denzel bertanya kepada
Fiona, "Ada apa?"
Mengapa gadis ini masih belum tidur dan malah kemari.
Fiona menatap Denzel yang terlihat mengantuk. Fiona sedikit ragu, tapi akhirnya dia mengumpulkan segenap keberanian dan berkata kepada Denzel, "Di luar terlalu dingin, tidur di dalam kamar saja."
Setelah mendengar perkataan Fiona, Denzel menyadari bahwa gadis ini khawatir dia akan kedinginan di tengah malam.
Namun, harus Denzel akui, tidur di luar dengan udara dingin seperti ini, akan sangat tersiksa.
Tetapi jika Denzel masuk, dia khawatir akan membuat Fiona tidak bisa
Tidur.
Setelah berpikir sejenak, Denzel melambaikan tangannya dan kembali berbaring di atas meja. "Tidak apa-apa. Aku bisa tidur seperti ini. Kamu cepatlah tidur."
Fiona mengerutkan keningnya saat melihat Denzel kembali berbaring di atas meja, dan berkata, "Sudah kubilang, tidur di dalam kamar saja."
Denzel yang sedari tadi tak bisa tidur, saat ini sangat mengantuk.
Otaknya dari tadi terus memikirkan cara untuk menjaga jarak dan tidak membuat Fiona takut. Denzel menolak tanpa menolehkan kepalanya, "Sudah kubilang, aku nggak mau masuk... "
Ucapan Denzel terhenti, dia sedikit tertegun saat merasakan sentuhan di
Pergelangan tangannya. dia membuka matanya, dan menatap tangan ramping yang memegangnya.
Fiona tersipu malu, saat menarik pergelangan tangan Denzel. "Ikut ... ikut aku tidur di kamar," kata Fiona sambil menggigit bibirnya.
Sebenarnya Fiona masih takut Denzel akan berbuat macam-macam, tapi dia juga tidak tega melihat Denzel menderita.
Tetapi karena sikap Denzel saat ini yang selalu menjaga jarak, membuat Fiona merasa aman. Sepertinya Fiona mulai bisa memercayai Denzel kembali.
Denzel melihat tangan kecil yang memegang pergelangan tangannya. Setelah mendengar perkataan Fiona, Denzel yang tadi mengantuk menjadi
Sadar sepenuhnya dan darah dalam tubuhnya langsung mendidih.
Fiona justru berinisiatif mengajak Denzel untuk tidur bersama di kamar
Apakah Fiona sudah tidak takut lagi pada dirinya?
Fiona yang tidak tahu lonjakan batin Denzel saat ini, menarik pergelangan tangan Denzel dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Kali ini, Denzel mengikuti Fiona dan tidak lagi menolak. Dia membiarkan Fiona menariknya, bangkit dari bangku, dan pergi ke dalam kamar.
Lagi pula, Fiona yang berinisiatif mengajaknya masuk ke dalam kamar, mana mungkin, dia sebagai seorang pria, bisa menolak masuk.
Saat sudah berada di depan ranjang dalam kamar, Fiona segera melepaskan tangan Denzel. Dia lalu naik ke atas ranjang dan membungkus dirinya dengan selimut sambil terus menggeser tubuhnya ke arah tembok. Fiona berkata pada Denzel, "Cepat naik dan tidur."
Denzel tidak tahu harus menangis atau tertawa saat ini. Dia melihat tubuh kecil Fiona hampir menempel ke dinding,
Terlihat jelas dari sikap Fiona, bahwa dirinya masih takut kepada Denzel.
Denzel menghela napas diam-diam. Dia melepaskan sandal dan naik ke atas ranjang. Denzel lalu berbaring dan memakai selimut dirinya.
Belum lama Denzel berbaring, dia
Menoleh ke arah Fiona, keningnya mengernyit dan berkata, "Apa dindingnya nggak dingin?"
6
Fiona menggelengkan kepalanya. "Biasa saja, lagi pula aku 'kan pakai selimut."
Denzel berbalik ke samping dan menyangga kepalanya dengan satu tangan. Dia menatap Fiona dan berkata, "Kamu pakai selimut, lalu aku gimana? Selimutnya hanya bisa menutupi setengah tubuhku."
Fiona baru menyadarinya, lalu menggeser sedikit tubuhnya ke arah Denzel. "Apa sudah ketutup?"
Denzel menarik selimut itu. "Kurang sedikit, masih ada angin yang masuk."
Fiona menggeser tubuhnya lagi ke
Arah Denzel. "Sekarang gimana?"
6
Setelah Denzel melihat posisi Fiona sudah agak jauh dari tembok, dia baru mengangguk puas. "Sudah, kok. Tidurlah."
"Hmm."
Denzel dan Fiona pun berbaring di dalam selimut yang hangat. Tak lama, rasa kantuk kembali melanda dan mereka berdua pun tertidur...
Hari sudah terang, saat Denzel membuka matanya, Fiona juga sudah tidak ada di sebelahnya, mungkin Fiona sudah pergi bekerja.
Denzel duduk di atas ranjang sambil meregangkan tubuh. Saat sedang merengangkan tubuhnya, tanpa sadar
Mata Denzel melihat meja di samping ranjang.
Di atas meja samping tempat tidur, ada sebuah mangkuk putih yang di tutupi dengan piring.
Denzel segera bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah meja itu. Setelah membuka penutup mangkuk, dia melihat di dalamnya ada beberapa bakpao yang masih hangat.
Hati Denzel terasa hangat, tanpa dia sadari sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Denzel berjalan ke ruangan utama sambil membawa bakpao tersebut, lalu segera mandi dan menggosok giginya. Setelahnya Denzel kembali ke ruangan utama, lalu memakan bakpao dengan acar yang dibuat Fiona. Denzel memulai hari yang baru dan bersemangat.
Setelah selesai makan, Denzel membersihkan tangannya dengan cara menepuk kedua tanganya. Pikirannya sedikit tergerak, lalu masuk ke Ruang Cincin.
Sebenarnya, kemarin Denzel sudah mempersiapkan hatinya. Tetapi tetap saja, dia tak bisa menahan rasa gembiranya, saat melihat sawah di ruangan itu penuh dengan stroberi yang merah. Denzel tetap merasa terkejut setiap kali dia melihat keajaiban di ruangan ini.
Sekarang stroberi yang ditanam sudah matang, yang harus Denzel lakukan selanjutnya adalah menjual stroberi tersebut.
Denzel tidak mungkin akan menjual stroberi itu dengan harga murah, apalagi stroberi itu disiram dengan Mata Air
Ajaib, setidaknya satu stroberi lebih kurang seharga tiga puluh ribu rupiah.
Tingkat pembelian di kota umumnya tidak tinggi. Jika Denzel ingin menghasilkan uang, dia harus pergi ke kabupaten untuk menjualnya. Ada banyak kota kecil di sana dan pembelinya akan relatif lebih tinggi.
Denzel berdiri di ladang stroberi dan berpikir sejenak, lalu pikirannya tergerak lagi. Dia pun keluar dari Ruang Cincin.
Denzel tidak memiliki mobil, jika ingin ke kabupaten, maka dia harus meminjam mobil.
Untuk hari ini, Denzel tak bisa meminta bantuan Arvin. Lagi pula, Denzel juga harus ke kabupaten untuk menjual stroberinya. Selain itu, dia juga
Memerlukan beberapa alat.
Kebetulan Paman Daniel membuka sebuah toko di rumahnya, dia juga memiliki mobil van yang jarang digunakan.
Seharusnya tak masalah jika Denzel ingin meminjam mobil van itu sebentar, lagi pula saat bermain kartu di toko Paman Daniel, Denzel selalu membayar lebih dari harga teh yang dia minum.
Setelah keluar dari Ruang Cincin, Denzel termenung beberapa saat. Dia lalu bergegas keluar rumah, menuju toko milik Paman Daniel.