NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

“Kamu ikut saya besok malam.” kata Arkan tiba-tiba.

Nara yang sedang membuat sketsa di ruang tengah menoleh cepat.

“Ke mana, Pak?” tanya Nara.

“Makan malam.”

“Oh.” Nara mengangguk refleks, lalu berhenti.

“Makan malam…?” tanya Nara.

“Undangan,” lanjut Arkan. "Acaranya formal.”

Nara menelan ludah. “Saya ikut pak?” Nara mencoba memastikan.

“Iya.” jawab Arkan tidak kalah serius.

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

“Saya tidak bisa, Pak,” ucap Nara cepat. “Saya tidak punya baju yang pantas.” lanjut Nara.

“Kita beli.” Jawab Arkan terlalu singkat.

“Itu… tidak perlu,” Nara mencoba tersenyum.

“Saya bisa menunggu di rumah.”

Arkan menggeleng. “Saya ingin kamu ikut.”

Kata ingin itu membuat jantung Nara berdegup tidak karuan.

“Tapi orang-orang di sana—” kata Nara.

“Urusan saya,” potong Arkan.

Nada suaranya tidak keras, tapi tegas. Tidak memberi ruang untuk mundur.

Hari itu juga, Arkan mengajak Nara pergi. Bukan ke toko biasa.

Mobil berhenti di depan butik yang bahkan papan namanya saja terlihat mahal. Begitu masuk, Nara ingin langsung berbalik. Lantai mengilap, pencahayaan lembut, dan deretan gaun yang terlihat seperti karya seni.

“Pak…,” bisik Nara.

“Ini terlalu—”

“Pilih,” kata Arkan singkat.

Pelayan butik menghampiri dengan senyum profesional.

“Untuk acara apa, Pak?” tanya pelayan butik.

“Makan malam formal.”

Pelayan itu langsung bergerak cepat.

Nara hanya berdiri kaku, membiarkan tubuhnya diukur, ditanya warna favorit, tinggi hak yang biasa dipakai, padahal ia hampir tidak pernah memakai sepatu hak.

Gaun demi gaun dicoba. Dan setiap kali Nara keluar dari ruang ganti, Arkan menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia baca.

Tenang. Fokus. Dan sedikit terkejut.

“Yang itu,” kata Arkan akhirnya, menunjuk satu gaun sederhana berwarna lembut.

“Cocok buat kamu.” kata Arkan lagi.

Nara melihat label harga dan hampir kehilangan napas.

“Pak,” suara Nara bergetar,

“Ini harganya—”

“Sudah dibayar.” jawab Arkan tanpa basa basi.

Belum selesai keterkejutan Nara, Arkan mengajaknya ke toko tas dan sepatu. Lalu perhiasan sederhana.

Setiap harga terasa tidak masuk akal. Dalam kepalanya, Nara menghitung cepat dengan uang sebanyak ini, ia bisa hidup setahun. Bisa bayar kos, makan, bahkan membantu orang tuanya.

“Pak Arkan,” kata Nara lirih,

“Ini terlalu banyak.”

Arkan menoleh. “Kamu tidak nyaman?”

“Bukan begitu,” Nara menggeleng.

“Saya tidak terbiasa.”

Arkan mengangguk “Saya juga tidak terbiasa membawa orang tapi gratis, anggap saja ini bayaran kamu.”

Kalimat itu menghentikan protes Nara.

Sore harinya, saat mereka kembali ke rumah, Nara mengira semuanya sudah selesai. Ternyata belum.

“MUA akan datang satu jam lagi,” kata Arkan sambil membuka laptop.

Nara membeku. “MUA?”

“Iya.”

“Pak, ini hanya makan malam.”

Arkan menoleh. “Di dunia saya, ini biasa.”

Nara terdiam. Dan mencoba mencerna kata dunia saya.

Nara merasa benar-benar berada di dunia yang berbeda sekarang.

Saat MUA datang, Nara semakin tidak bisa berkata apa-apa. Wanita itu ramah, profesional, dan jelas, mahal. Tangannya lincah, sentuhannya ringan.

“Kulit kamu bagus sekali,” kata sang MUA sambil tersenyum.

“Jarang ada yang semulus ini.”

Nara hanya tersenyum kaku.

Make up diaplikasikan perlahan. Natural. Bersih. Menyatu sempurna dengan wajah Nara.

Ketika selesai, Nara menatap bayangannya di cermin.

Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

"Cantik." kata Mua yang memoles Nara. sebuah kata yang jarang sekali Nara dengar, bahkan dari dirinya sendiri.

Arkan berdiri di ambang pintu kamar saat Nara keluar. Untuk beberapa detik, Arkan tidak berkata apa-apa.

Dan itu cukup membuat Nara gugup.

“Pak…?” panggil Nara pelan.

Arkan menghela napas kecil. “Kita berangkat.”

Di dalam mobil, Nara duduk kaku. Tangannya meremas tas kecil yang baru saja ia miliki. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu mahal untuk ia sentuh.

“Pak Arkan,” kata Nara akhirnya.

“Terima kasih.” kata Nara.

“Untuk apa?”

“Untuk… semuanya.” jawab Nara.

Arkan melirik sekilas. “Kamu pantas.”

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Nara, itu terasa lebih berat dari semua harga yang tertera hari itu.

Karena malam ini, bukan hanya gaun dan make up yang mengubah segalanya melainkan posisi Nara di dunia Arkan.

Nara tahu sejak langkah pertama memasuki ruang makan itu, ia bukan berasal dari dunia ini.

Meja panjang dengan taplak putih bersih, lampu kristal menggantung megah, dan orang-orang berpakaian rapi dengan bahasa tubuh yang penuh kepercayaan diri. Percakapan mereka berputar tentang investasi, proyek bernilai miliaran, dan nama-nama besar yang hanya Nara dengar lewat berita.

Nara merasa tangannya dingin. Namun Arkan berjalan di sampingnya dengan langkah tenang, seolah tempat ini hanyalah ruang tamu biasa.

“Tenang,” bisik Arkan pelan. “Kamu baik-baik saja.”

Entah bagaimana, kalimat itu cukup membuat Nara bernapas sedikit lebih lega.

Makan malam dimulai dengan formalitas yang terasa kaku bagi Nara. Ia tersenyum seperlunya, menjawab jika ditanya, dan lebih banyak mendengarkan. Beberapa pasang mata jelas menilai dari ujung rambut sampai sepatu yang ia pakai.

Namun Nara belajar satu hal malam ini yaitu diam bukan berarti kalah.

Saat hidangan utama belum selesai disajikan, seorang wanita mendekat. Cantik. Elegan. Dan sangat percaya diri.

Gaunnya mahal, riasannya sempurna, dan caranya berdiri seolah tempat ini miliknya.

“Halo, Arkan.” Suara itu lembut, namun penuh penekanan.

Arkan menoleh. “Hana.” kata Arkan pelan.

Nara mengangkat pandangan perlahan.

Wanita itu tersenyum, lalu menatap Nara dari atas ke bawah tanpa berusaha menyembunyikan penilaian.

“Kamu siapa?” tanyanya, seolah Nara tidak duduk tepat di samping Arkan.

Sebelum Arkan menjawab, wanita itu melanjutkan sendiri,

“Aku Hana,” katanya sambil menyilangkan tangan. “Mantan terindah Arkan.” lanjut Hana.

Beberapa orang di meja mulai memperhatikan.

Tekanan itu nyata. Nara bisa saja gugup. Bisa saja diam. Atau merasa kecil. Namun entah dari mana, keberanian Nara muncul. Nara tersenyum. Bukan senyum kaku. Bukan senyum terpaksa. Senyum tenang.

“Oh,” ucap Nara ringan. “Pantas.” lanjut Nara.

Hana mengernyit. “Pantas?” tanya Hana.

“Iya,” lanjut Nara santai. “Wajar kalau Arkan punya masa lalu yang cantik." Nara menoleh sedikit ke arah Arkan, lalu kembali menatap Hana.

“Tapi masa lalu, tetap masa lalu.” kata Nara yang membuat meja itu mendadak sunyi.

“Sedangkan saya,” lanjut Nara dengan suara lembut namun jelas, “adalah masa depan.” lanjut Nara dengan senyum manis, senyum yang menambah kesan cantik di wajah Nara.

Beberapa orang menahan napas. Hana tertawa kecil, sinis.

“Kamu percaya diri sekali.” kata Hana.

Nara mengangguk. “Karena saya tidak perlu bersaing dengan kenangan.” jawab Nara.

Arkan tidak menyukai arah pembicaraan Hana. Dan lebih dari itu Arkan tidak suka ada orang yang mencoba merendahkan sesuatu yang kini ada di sisinya.

Tanpa berkata apa-apa, Arkan menggenggam tangan Nara di atas meja.

Gerakan itu cukup membuat beberapa pasang mata melebar.

Namun Arkan belum selesai. Ia mengangkat tangan Nara perlahan, lalu mencium telapak tangan Nara dengan sengaja. Di depan semua orang.

Wajah Nara memanas seketika.

Ia ingin menarik tangannya, ingin menunduk, ingin menghilang. Jantungnya berdebar kencang, malu bercampur kaget.

Namun Arkan tetap menggenggamnya. Tatapan Arkan datar, tertuju pada Hana.

“Kenangan tidak pernah duduk di kursi ini,” ucap Arkan dingin.

“Dan tidak pernah saya bawa ke meja ini. Karena kamu memang bukan apa-apa untukku."

Hana membeku. Beberapa tamu saling berpandangan. Ada yang pura-pura sibuk dengan minuman, ada yang tersenyum tipis, ada pula yang jelas menikmati drama kecil itu.

Hana akhirnya menarik napas dan tersenyum paksa.

“Selamat,” katanya pada Nara. “Kamu menang.”

Nara menggeleng pelan. “Saya tidak sedang bertanding.” jawaban Nara kembali membuat Hana malu.

Setelah Hana pergi, suasana perlahan kembali normal. Percakapan dilanjutkan, makanan disajikan, namun bagi Nara, malam ini sudah terlalu penuh.

Di dalam mobil, Nara masih terdiam.

“Marah?” tanya Arkan akhirnya.

Nara menggeleng cepat. “Tidak.”

“Malu?” tanya Arkan.

Nara menunduk. “Sedikit, maaf ya pak, saya ngga berniat ngaku-ngaku." Nara merutuki kebohongannya sendiri, karena mengaku sebagai masa depan Arkan.

Arkan tersenyum tipis. “Saya juga minta maaf, dan terima kasih.”

Nara menoleh. “minta maaf?”

Arkan menatap lurus ke depan. “Karena saya mencium tangan kamu.”

"Tapi boleh juga sih, bagaimana kalau kita mencoba menjadi pasangan?" kata Arkan yang membuat Nara membeku.

1
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!