Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa
"Aaaaaaaaaarghhhhh"
Suara teriakan terdengar di kediaman Jeon Respati. Namira sang istri sedang menangis sambil berteriak kencang sambil meremas dadanya yang begitu sesak. Mereka memang sudah pulang kembali ke rumah setelah ibunda Jeon sembuh. Air mata tak berhenti turun dari wanita satu anak itu. Sungguh hatinya sangat sakit setelah menunggu suaminya yang tidak kembali hampir dua jam lamanya.
Apa sebenarnya yang terjadi sehingga dia dan putranya di tinggalkan begitu saja. Padahal dia berjanji akan menemani putra mereka seharian ini.Tanpa penjelasan apapun bahkan telpon nya sama sekali tak terjawab. Kesal, sedih dan malu bercampur menjadi satu.
Bahkan saat Nami mencoba menelpon kantor, sekertaris Jeon mengatakan atasannya belum kembali. Kemana sebenarnya pria itu, apakah memang urusannya benar-benar tidak bisa ditunda.
Beberapa asisten rumah tangga hanya bisa diam saat mendengar teriakkan yang terdengar dari arah kamar majikan mereka. Sedangkan putra Jeon sudah dibawa ke kamarnya oleh pengasuh supaya tidak mendengar keributan yang terjadi.
Baru kali ini mereka mendengar majikan perempuannya itu menangis sambil berteriak. Biasanya majikan mereka hanya terlihat melamun sembari merapihkan kebun bunga dibelakang kediaman mewah itu.
Tak ada kehangatan seperti sebelumnya,hanya terlihat sebuah keluarga yang terpaksa untuk tinggal bersama. Bahkan meja makan pun hanya di isi oleh majikan perempuan dan putra mereka. Jeon tidak pernah lagi terlihat membersamai keluarga kecilnya. Rumah selalu sepi karena tak ada canda tawa seperti beberapa tahun kebelakang.
Namira tersedu sembari menatap foto pernikahan mereka yang terpasang begitu besar di dinding kamar. Air matanya kembali menetes mengingat kebahagiaannya saat menikah dengan Jeon Respati. Pria tampan berhidung mancung, seorang Presdir yang berwibawa dan berwajah dingin.
Memang pernikahan mereka didasari oleh perjodohan. Tapi di lubuk hatinya dia sangat menyukai lelaki itu. Saat pertama kali ayah dan ibunya menentukan tanggal pernikahan, Namira begitu bahagia. Dia yakin suatu saat Jeon pasti akan mencintainya. Itu terlihat dengan sikap dan perilaku Jeon yang selalu memperlakukan dia dengan baik. Walaupun jika urusan ranjang Namira lah yang selalu memulai pertama kali.
Sampai putra mereka lahir dan berusia tiga tahun pernikahan mereka masih baik-baik saja. Sekarang semuanya benar-benar berubah,Jeon semakin jauh tak terjangkau olehnya. Bahkan sudah hampir setahun belakangan Jeon tidak pernah menyentuhnya lagi. Namira kembali terisak sembari menelungkupkan wajahnya di bantal guling yang sedang di peluknya.
Namira membuka matanya yang terasa perih,wanita itu tidak sadar sudah tertidur karena lelah menangis. Dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namira bergegas bangun untuk melihat anak semata wayangnya yang dia biarkan sedari sore tadi.
Dia mendengar suara pekikan putranya saat menuruni tangga. Di bawah sana Jeon sedang menggelitik perut putra mereka sampai anak laki-laki itu terpekik geli. Jeon hanya melirik sekilas Nami yang berdiri di ujung tangga.
"Sekarang Evan bobo ya..ini sudah malam"ucap Jeon sembari mencium kening putra semata wayangnya.
"Iya papa...ehh Daddy..."kekehnya berlari ke arah ibunya yang masih berdiri diam.
"Mommy... Evan tidul dulu ya,besok Daddy janji mau pelgi ke Playglound"tangan kecilnya memeluk kaki Namira.
Namira mengangguk dan sedikit membungkuk untuk mencium kepala putranya. Evan berlari di ikuti pengasuh untuk masuk ke dalam kamarnya. Jeon beranjak dari duduknya dan melewati Namira begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"Darimana kamu..?"ujarnya sedikit berbisik.
Jeon tidak menggubris ucapan Namira dan melanjutkan langkahnya memasuki kamar mereka. Namira mengikuti Jeon dari belakang dengan tergesa. Rasa sakit hatinya masih membara sehingga dia ingin segera melampiaskan kekesalannya pada Jeon.
"Kamu tidak berniat untuk meminta maaf padaku..?"
Tangan Namira menarik paksa jas yang dikenakan Jeon dari arah belakang. Jeon sedikit terhuyung ke belakang karena tidak siap dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Apa yang kamu lakukan "Sentak Jeon dengan suara keras.
""Harusnya aku yang bertanya,apa yang sudah kamu lakukan padaku dan Evan... kami menunggu selama dua jam di dalam resto untuk makan siang denganmu,tapi kamu tak kembali. Kamu meninggalkan kami disana Jeon... Kamu bahkan tidak meminta maaf padaku...?"suara Namira tercekat di tenggorokan,wanita itu menahan tangisnya.
"Sudahlah,jangan meributkan hal-hal kecil Namira.. tidurlah ini sudah malam,aku juga lelah.. Mengertilah..."
"Hahahaha mengerti...ya..benar,aku yang harus selalu mengerti.Aku yang selalu harus mengalah,aku yang harus selalu mengerti dan menerima. Aku yang harus selalu diam diperlakukan seperti ini.."Teriak Namira lagi.
"Siapa dia...Siapa dia Jeon Respati..? Siapa perempuan itu.."
Jeon terdiam mendengar pertanyaan dari istrinya. Dia hanya mendengus tak ingin memperpanjang pertengkaran mereka.
Jeon berlalu dari hadapan istrinya dan memasuki kamar mandi. Dia sudah sangat lelah hari ini. Pintu kamar mandi ditutup dengan keras oleh lelaki itu. Namira kembali menangis tersedu, sungguh dia sangat sedih dan merasa terhina di perlukan seperti ini oleh suaminya.
Namira masih menunggu suaminya untuk keluar dari kamar mandi. Dia benar-benar ingin tau apa yang terjadi pada pernikahan mereka sampai semuanya menjadi seperti ini.
Cklekkk...
Pintu kamar mandi terbuka,Jeon keluar dari sana sudah berpakaian lengkap.Pria itu begitu gagah dengan pakaian santainya.Namira terheran-heran sejak kapan suaminya memakai baju di dalam kamar mandi. Biasanya mereka akan saling menggoda karena tetesan air dari rambut dan tubuh Jeon.
"Ada apa Jeon...?ada apa dengan kita.."
Jeon menatap Namira sekilas,wanita itu terlihat begitu menyedihkan dengan mata yang bengkak dan baju yang masih sama seperti siang tadi.
"Mandilah,aku akan pergi ada urusan"
Jeon meninggalkan Namira yang terpekur sendiri. Air mata Namira turun begitu deras, hatinya sakit luar biasa.Apakah pernikahan mereka akan berakhir begitu saja..?