Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENINGGAL KAN TANAH KELAHIRAN
Dania tertegun. Amarah mulai membakar rasa malunya. "Jadi benar... kau yang memasukkan sesuatu ke minumanku?"
"Tentu saja!" Gabriel mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Dania. "Aku muak melihatmu dipuja-puja. Aku ingin semua orang tahu bahwa Dania yang sok suci ini ternyata tidak lebih dari seorang wanita murahan yang menggoda pria di hotel demi kesenangan semalam."
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Gabriel. Suasana seketika hening. Teman-teman Gabriel ternganga, ponsel mereka hampir jatuh.
"Kau..." Gabriel memegangi pipinya yang panas, matanya menyalang merah. "Kau berani menamparku?!"
"Itu untuk harga diriku yang kau injak-injak," ucap Dania dengan suara bergetar namun tegas. "Dengarkan aku, Gabriel. Kau mungkin punya sejuta rencana busuk, tapi kau lupa satu hal. Aku tidak selemah yang kau kira. Jika rekaman atau berita apa pun tentang malam ini tersebar, aku pastikan kau dan keluargamu akan membusuk di penjara atas tuduhan pembiusan dan pencemaran nama baik. Aku punya uang, dan aku punya otak untuk menghancurkan mu tanpa harus menyentuhmu lagi."
Gabriel gemetar karena marah dan sedikit ketakutan melihat kilat di mata Dania. "Kau tidak punya bukti!"
"Oh, ya? Hotel ini punya CCTV, dan darahku masih menyimpan sisa obat yang kau berikan," Dania melangkah maju, membuat Gabriel mundur selangkah. "Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, atau kau akan menyesal pernah mengenalku."
Dania berjalan melewati Gabriel dengan kepala tegak, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia masuk ke dalam lift yang terbuka, meninggalkan Gabriel yang berteriak frustrasi di lorong.
Begitu pintu lift tertutup, pertahanan Dania runtuh. Ia merosot di lantai lift, terisak dalam diam. Ia berhasil mengancam Gabriel, tapi ia tahu, kenyataan bahwa ia telah menyerahkan kesuciannya pada pria asing di kamar 909 tidak akan pernah bisa dihapus.
🤍___________Calix &Dania____________🤍
Di dalam kemewahan kamar 909 yang masih berantakan, Calix Matthew Batrix perlahan membuka matanya. Denyut di pelipisnya perlahan memudar, digantikan oleh kepingan ingatan semalam yang menghantamnya secara brutal.
Wajahnya yang tampan seketika mengeras. Amarah mendidih dalam dadanya saat mengingat senyum licik Raka Anderson—tua bangka itu berani meracuninya. Namun, kemarahan itu sedikit mereda ketika ia merasakan aroma vanilla dan melati yang masih tertinggal di bantalnya.
Calix teringat wanita itu. Suaranya yang merdu saat mengerang kesakitan, sentuhannya yang lembut, dan wajah cantiknya yang tampak murni di bawah cahaya remang. Tanpa sadar, sudut bibir Calix terangkat tipis. Sebuah senyuman yang sangat langka.
"Senjata makan tuan, Raka," gumamnya dengan suara rendah dan serak.
Namun, senyum itu menghilang saat ia melihat noda darah merah yang mengering di atas seprai putih. Jantung Calix berdegup kencang. Wanita itu menyerahkan segalanya padanya dalam keadaan yang sama-sama tidak sadar.
Ia segera meraih ponsel di nakas dan menghubungi asisten pribadinya. "Samuel, ke kamarku sekarang. Dan siapkan mobil."
Lobi Batrix Group gempar pagi itu. Sang CEO, Calix Matthew Batrix, melangkah masuk dengan aura yang begitu mengintimidasi. Di sampingnya, Samuel berjalan dengan wajah siaga.
Kehadiran Calix seperti badai yang membekukan waktu. Para karyawan perempuan menahan napas, mata mereka mengikuti setiap gerak-gerik pria yang seolah berjalan di atas tumpukan dolar itu.
"Tuhan, kalau Engkau mau memberiku jodoh, yang speknya seperti Tuan Calix saja," bisik seorang karyawan di balik bilik kantornya.
"Mimpi! Lihat tatapannya, bisa membuatmu mati berdiri sebelum sempat disapa," timpal temannya.
"Tapi lihatlah... aura pria matang memang tidak ada lawan. Sayang sekali dia lebih dingin dari kutub utara," desah karyawan lain sambil memandangi punggung Calix yang tertutup jas custom-made mahal.
Begitu sampai di ruang kerjanya yang luas, Calix melepas jas dan melemparkannya ke kursi. Ia berbalik menatap Samuel dengan mata tajam yang tak terbantahkan.
"Sam, aku mau kau cari tahu siapa wanita yang bersamaku di kamar semalam. Aku mau datanya sudah ada di mejaku sebelum makan siang. Lengkap tanpa celah," perintah Calix dingin.
Samuel sempat tertegun sesaat—tuannya tidak pernah mempedulikan wanita—namun ia segera membungkuk. "Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."
Satu jam kemudian, Samuel kembali ke ruangan Calix dengan wajah pucat.
"Ada apa, Sam? Mana datanya?" tanya Calix tanpa beralih dari dokumen di depannya.
"Maaf, Tuan... terjadi sesuatu yang aneh," Samuel menyeka keringat dingin di keningnya. "Kami berhasil mengakses rekaman CCTV lantai sembilan dan mengidentifikasi wajahnya. Namun, saat tim IT mencoba meretas data kependudukan dan identitas penerbangannya... laptop mereka tiba-tiba berasap dan terbakar habis. Sebuah virus enkripsi menghancurkan seluruh sistem pencarian kami."
Calix meletakkan penanya. Ia menyandarkan punggungnya, matanya menyipit. "Siapa wanita ini sebenarnya?"
"Dia bukan orang biasa, Tuan. Dia sepertinya tahu kita sedang mencarinya. Dia sengaja meninggalkan virus untuk menghentikan kita."
Di sudut lain kota, Dania sedang menutup koper besarnya. Ia baru saja menyelesaikan aksinya di depan laptop—menghapus jejaknya dari sistem CCTV bandara dan memalsukan manifest penerbangan. Ia tahu Calix bukan orang sembarangan, dan pria itu pasti akan mencarinya.
Dania menatap kemeja putih milik Calix yang belum sempat ia cuci. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya. Ia benci kejadian semalam, tapi ia tahu pria itu juga korban dari kelicikan Raka Anderson.
"Pak Ujang," panggil Dania saat turun ke lantai bawah.
Pak Ujang, penjaga rumahnya yang setia, menghampiri dengan raut bingung. "Loh, Non Dania mau ke mana bawa koper besar begini?"
Dania tersenyum lembut, mencoba menyembunyikan luka di matanya. "Saya mau pergi sebentar, Pak. Mungkin cukup lama. Saya titip rumah ya. Untuk urusan toko, Metha yang akan mengurus semuanya."
"Tapi Non, ini mendadak sekali..."
"Semua akan baik-baik saja, Pak. Tolong jaga diri baik-baik," Dania memeluk pria tua itu singkat sebelum melangkah masuk ke taksi yang sudah menunggunya.
Di dalam pesawat yang mulai bergerak menuju landasan pacu, Dania menyandarkan kepalanya di jendela. Ia menatap daratan Negara A yang perlahan mengecil.
Ia telah meninggalkan segalanya—bisnisnya yang sedang berkembang, rumah kenangannya, dan pria yang telah mengambil kesuciannya. Di saku tasnya, ia menggenggam kartu nama bertuliskan Calix Matthew Batrix yang ia temukan di saku kemeja pria itu.
"Kita tidak seharusnya bertemu dengan cara seperti itu, Calix," bisiknya lirih pada awan di balik jendela.
Dania memejamkan mata nya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di Negara Y, namun satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan siapa pun menemukannya sampai ia siap menghadapi kenyataan dari malam yang terkutuk sekaligus tak terlupakan itu.
Selamat tinggal, masa lalu.
NTAR KELUAR DRAMA PENYESALAN DAN MAAF DENGAN AIR MATA BUAYA NYA..CKK