Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erina yang malang
Udara dingin seolah menyergap seisi ruangan itu. Erina terhenyak, ia hanya dapat melihat nama baiknya yang kini sudah hancur dalam semalam. Tak ada yang bisa perbaiki.
Kini hanya satu yang ada di kepalanya. Ia harus kabur. Gadis itu kini beranjak dari ranjangnya, ia dengan cepat mendekati lemari dan mengeluarkan koper. Dengan tergesa-gesa ia mengeluarkan satu-persatu pakaiannya dan memasukkan barang-barang itu ke dalam koper.
"Aku harus segera pergi," bisiknya.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya, gadis itu lekas meraih kunci apartemen dan mematikan lampu di setiap ruangan. Ia mengikat rambutnya, serta menutup wajahnya dengan masker dan topi.
Erina pun meninggalkan unit apartemennya dan bergegas turun ke lantai basement melalui lift. Tangannya bergetar hebat saat akan menekan tombol lift. Ia mencoba mengatur napasnya perlahan, berusaha menenangkan dirinya ditengah kepanikan.
"Tenang, Erina. Langsung ke mobil, dan tancap gas ninggalin tempat ini!" batin Erina.
Lift akhirnya turun di lantai basement. Tidak seorangpun disana. Erina dengan langkah cepat menghampiri mobilnya dan membuka bagasi untuk memasukkan koper.
Ia kemudian masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mobilnya. Namun mobil itu tak bisa bergerak. Erina semakin panik. Ia mencoba kembali menyalakan mobilnya, namun kendaraan itu tak bergeming.
"Sial! Ada apa dengan mobil ini?!"
Erina memukul kemudi dengan keras. Ia lalu keluar dan memperhatikan mobilnya. Ternyata ban mobil belakangnya kempes. Ia terkejut bukan main. Ia yakin kemarin setelah pulang dari photoshoot ban mobilnya masih baik-baik saja.
"Kok bisa kempes?"
Ia mulai mengacak-acak rambutnya frustasi, kalau begini ia tidak bisa kabur dari tempat ini.
Erina melihat pantulan dirinya di kaca jendela mobil, namun beberapa saat kemudian matanya menyipit. Ia melihat sosok samar-samar dari kejauhan, berdiri di balik sebuah tiang.
Jantungnya berdetak kencang. Erina merasakan seolah sosok itu mengamati gerak-geriknya dari kejauhan. Ia mulai berkeringat dingin.
Gadis itu mencoba untuk menoleh, melihat keadaan di sekitarnya. Namun begitu ia melihat ke belakang, tidak ada siapapun. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya halusinasi belaka.
Erina pun membuka kembali bagasi mobilnya dan mengeluarkan koper yang sebelumnya ia taruh dimana. Dengan langkah cepat ia bergegas pergi meninggalkan basement dan kembali ke lobby.
Erina berjalan dengan terburu-buru, namun tak jauh dari belakangnya dirinya mendengar suara langkah kaki yang seolah mengikutinya.
Erina mempercepat langkahnya, dan langkah kaki seseorang disana juga mengikuti ritmenya. Gadis itu tiba-tiba berhenti. Dan saat yang bersamaan, langkah kaki yang tak jauh dibelakangnya juga mulai tak terdengar.
Hening yang mencekam itu seolah menghisap oksigen di sekitar Erina. Perlahan, dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia memberanikan diri untuk memutar tubuhnya, memastikan bahwa ketakutannya hanyalah sisa-sisa paranoia.
Namun, tepat saat ia berbalik, sebuah bayangan hitam melesat maju.
Jleb.
Dunia seakan berhenti berputar. Sensasi dingin yang tajam menusuk punggungnya, menembus lapisan jaket hingga merobek kulit dan dagingnya. Erina terbelalak. Rasa sakit perlahan muncul di sekujur tubuhnya. Sebuah pisau kini tertancap di perutnya.
"Lo pikir bisa lari setelah semua ini?" sebuah bisikan rendah merayap di telinganya.
Erina mencoba berteriak, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah gumpalan cairan kental yang hangat.
Ia jatuh berlutut, tangannya menggapai-gapai udara, sementara rasa panas yang membakar mulai menjalar dari titik tusukan di punggungnya. Koper yang ia seret terlepas, isinya sedikit berhamburan ke lantai beton basement yang dingin.
Lampu basement yang berkedip-kedip menjadi saksi bisu saat tubuh Erina perlahan ambruk. Ia bisa merasakan aspal dingin menyentuh pipinya. Di hadapannya, sepasang sepatu bot hitam berdiri kokoh, tidak bergerak sedikit pun.
Erina mencoba mendongak, melihat sosok yang kini memegang pisau yang bersimbah darah miliknya. Sosok itu tetap diam, hanya berdiri menatapnya dengan dingin di balik masker hitam.
"Ini baru permulaan, Erina," ucap sosok itu sambil melangkah mundur, membiarkan Erina tersengal-sengal di antara sisa-sisa harga diri dan nyawanya yang kian menipis.
Dunia tidak berhenti berputar saat jantung Erina melambat. Di atas sana, di luar beton basement yang lembap, kota masih berpijar dengan lampu-lampu neon yang tak peduli.
Erina terbaring miring. Napasnya pendek dan berbunyi, seperti kertas yang diremas.
Rasa sakit yang tadinya membakar kini berubah menjadi dingin yang menjalar ke ujung jari. Ia menatap kopernya yang terbuka sedikit; sehelai gaun sutra putih menyembul keluar, kini ternoda oleh percikan merah yang pekat.
Ironis. Gaun itu seharusnya ia kenakan untuk merayakan kesuksesannya besok. Kini, gaun itu hanya menjadi saksi bisu berakhirnya segalanya.
Sosok itu sudah menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan suara langkah kaki yang semakin menjauh dan akhirnya hilang ditelan sunyi. Erina ingin memanggil bantuan, namun suaranya terkunci di tenggorokan. Matanya perlahan meredup, menatap lampu langit-langit basement yang berkedip, hingga semuanya menjadi hitam sempurna.
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁